LES ITU TIDAK PERLU

Ketua Yayasan Gunadharma, Nuhadi Subroto

 LES ITU TIDAK PERLU

 

 

Langit mendung menyertai perjalanan Vokal menuju Jl. Mugas dalam No.8 (28/02). Sedianya pagi ini Vokal akan menemui seorang pensiunan pendidik SMA Loyola yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Gunadharma.     Pukul 09.00 tepat, Vokal sudah berada di depan rumah sang ketua yayasan yang asri. Sesuai waktu yang telah disepakati kemarin.

Seorang perempuan sepauh baya keluar dari rumah asri itu. Membukakan pintu untuk Vokal. Ternyata ia adalah istri dari ketua yayasan gunadharma. “Silakan masuk, bapak sedang mandi. Tunggu sebentar ya,” katanya. Tak seberapa lama ketua yayasan tersebut keluar menemui. Berpakaian rapi baju batik ia menemui Vokal.

Nuhadi Subroto, nama ketua Yayasan Gunadharma. Yayasan Gunadharma adalah sebuah yayasan pendidikan katolik yang didirikan sejak tahun 1938. Kini, dua sekolah Katolik di Semarang berdiri di bawah naungannya yaitu SMK Ignatius dan SMP Bellarminus.

Ia memiliki pandangan tersendiri tentang guru les. Menurutnya les itu tidak begitu diperlukan jika anak didik sudah pintar. Belajar di sekolah pagi sudah cukup. Ia bercerita pula tentang sekolah-sekolah katolik yang tidak memperbolehkan guru memberi les kepada anak didiknya sendiri. Berikut hasil wawancara dengan Nuhadi.

Vokal               : Di yayasan yang bapak pimpin, apakah siswa diperbolehkan les privat?

Nuhadi             : Kalau les privat di luar diperbolehkan tetapi tidak diperbolehkan jika siswa minta les kepada gurunya sendiri. Di dalam sekolah  menerapkan peraturan bahwa guru tidak boleh mengelesi siswanya sendiri. Kalau memang kurang paham memahami pelajaran di sekolah pagi, nanti sekolah memberi tambahan sendiri.

Vokal               : Tambahan itu memang ada dari sekolah?

Nuhadi             : Ada.

Vokal               : Tambahan diberikan untuk anak didik kelas berapa?

Nuhadi             : Biasanya kelas 3. Kalau kelas 1 dan 2 dirasa perlu tambahan pelajaran, nanti diadakan tambahan les.

Vokal               : Kalau dari pandangan Katolik, guru itu harus bagaimana kalau mengajar anak didik?

Nuhadi             : Guru itu bukan hanya mengajar tetapi mendidik. Justru tekanannya lebih kepada mendidik daripada mengajar. Pengajaran itu khusus menransfer ilmu. Kalau mendidik itu menjadikan manusia bertanggung jawab dimulai dari dirinya sendiri. Pendidikan harus bisa membuat orang itu bisa mandiri dan bertanggung jawab atas apa yang ia kerjakan. Untuk mendidik seorang guru harus mencintai muridnya, mengetahui situasi murid, sistem mengajarnya sesuai dengan kebutuhan. Itu intinya.

Vokal               :  Mengapa guru di yayasan Gunadharma tidak boleh memberikan les privat terhadap muridnya sendiri. Alasannya?

Nuhadi             : guru yang memberikan les terhadap muridnya sendiri, itu kan bisa saja permainan antara guru dan murid. Murid yang meminta les terhadap gurunya sendiri akan sedikit berpengaruh pada pemberian nilai dari guru itu.

Vokal               : Apakah ada peraturan tertulis tentang larangan memberikan les itu ?

Nuhadi             : Itu sudah ditetapkan kepada guru. (Nuhadi bercerita tentang keadaan pendidikan di lingkungan Katolik) Dulu sekolah katolik terkenal sekolah yang baik. Putra – putra tokoh Islam yang terkenal sekarang banyak yang sekolah di katolik. Sekarang ini sekolah-sekolah islam juga tidak kalah. Karena mereka banyak menyadap sistem sekolah katolik. Pendidikan dimulai dari penjajahan. Kalau pendidikan formal di Jawa dahulu ada perguruan, ilmu, silat. Kalau di sekolah Katolik itu yesuit namanya, kelompok rohaniawan. Sistem pendidikan yang teratur dari barat kita sadap. Sekolah katolik itu mendidik tetapi tidak mengharuskan anak didik itu masuk katolik. Di Loyola banyak guru dan anak-anak dari kalangan Islam. Dan mereka juga bagus – bagus. Sekolah katolik memang disiplin. Disiplin dalam hal-hal yang wajib seperti pengajaran dan pelajaran. Tapi ada juga hal-hal yang sifatanya bebas misalnya pakaian. Pernah ketika sedang mengajar saya menemukan siswa laki-laki yang memakai pakaian sport (kaos tidak berlengan). Saya tidak langsung menegurnya. Saya bilang kepada siswa perempuan lain bagaimana jika ada pacarmu yang memakai pakaian seperti ini di tempat formal. Mereka semua menjawab keberatan dan selanjutnya siswa itu tidak berpakaian seperti itu lagi. Sekolah katolik dulu tidak pakai seragam. Dipakai paling kalau ada upacara. Sebab dalam masyarakat itu ada sesuatu yang seragam dan tidak seragam. Malah banyak yang tidak seragam. Meskipun bebas, harus bisa memilih dari sekian itu. Suatu yang wajib itu harus, tetapi bebas bisa memilih untuk membiasakan diri memilih yang baik

Vokal               : Berkaitan dengan disiplin, ada yang sekolah memberlakukan jam pelajaran dari pagi hingga sore. Tujuannya agar anak didik konsentrasi penuh di pelajaran. Kalau di Yayasan Gunadharma, bagaimana memberlakukan jam pelajaran ?

Nuhadi             : Kalau di Yayasan Gunadharma jam pelajaran biasa saja. Murid di yayasan saya kebanyakan berasal dari kelas menengah ke bawah dan cita-cita ke Perguruan Tinggi tidak begitu banyak.

Vokal               : Dengan pelajaran yang biasa saja. Biar tambah jelas biasanya orangtua mengeleskan saja, bagaimana menurut bapak ?

Nuhadi             : Kalau les luar itu haknya, tapi kalau les privat pada gurunya tidak boleh. Menghadapi masalah ini di sekolah kami sekolah mengadakan tambahan pelajaran sendiri.

Vokal               : Biasanya kelas 3 pak ?

Nuhadi             : Ya kelas 1,2 tapi intesifnya kelas 3 karena menghadapi ujian.

Vokal               : Karena jangka waktu yang tidak banyak, guru les tidak sempat mendidik anak didiknya. Mereka cenderung mengajar saja. Bagaimana menurut bapak?

 Nuhadi            :Les itu semata-mata tambahan ilmu, tetapi mendidik juga harus diperhatikan. Misalnya sopan santun, ketika ada anak didik yang mengangkat kakinya naik meja maka guru les harus mengingatkan. Ya, kalau guru itu dimanapun juga figurnya adalah figur pendidik bukan pengajar. Jadi guru les juga harus mendidik.

Vokal               : Selama ini kan kalau guru les orientasinya dibayar dengan jam sekian dibayar sekian. Menurut bapak seharusnya bagaimana?

Nuhadi             : Kalau itu memang tujuannya bisnis. Tapi itu kan bukan sekolah, itu namanya lembaga les.

Vokal               : Apakah berbeda antara sekolah dengan lembaga bimbel?

Nuhadi             Sekolah itu mendidik. Kalau bimbel tidak.

Vokal               : Lalu, kenapa guru-guru di Loyola  tidak memutuskan sebagai guru les?

Nuhadi             : Di sana ada guru negeri dan guru swasta. Guru negeri digaji oleh negara, sedangkan guru swasta gajinya disamakan dengan negeri. Kalau dibedakan akan menimbulkan keirian dan pastinya akan mempengaruhi semangat mengajar guru swasta. Guru swasta di sini juga dipotong pensiun. Nanti juga ada pensiun sendiri. Bukan hanya satu sekolah tapi gabungan sekolah katolik Se-Indonesia, jadi mampu untuk membangun guru pensiun itu. Di Loyola ada uang jalan, kalau datang dibayar kalau tidak datang tidak dibayar. Kesejahteraan guru itu utama.

Vokal               : Kalau menurut Bapak perlu atau tidak anak-anak diberi les, padahal mereka sudah belajar di sekolah pagi cukup lama?

Nuhadi             : Menurut saya itu tidak perlu. Kalau sudah intensif itu tidak perlu. Jam itu kan sudah diatur dan dirancang sesuai dengan kebutuhan anak. Anak ada yang dapat nilai 7,9,8,5,4 dan lainnya. Yang mendapat nilai kurang itu perlu mendapat tambahan belajar bersama dan guru itu memberi les. Kalau di Loyola guru ngelesi tidak boleh.

Vokal               : realita di masyarakat, anak TK sudah dileskan. Apakah ini keraguan orangtua terhadap sekolah resmi ?

Nuhadi             : TK itu kan bukan sekolah tetapi taman bermain anak-anak, kegiatannya ya bermain. Les itu kan pelajaran. Kenyataannya Di TK sendiri juga ada pelajaran, itu salah. Tapi kalau masuk SD saja anak TK di tes macam-macam jadi orangtua mengelesi anak Yang masih TK itu. Kalau iti berlebihan.

Vokal               : Les sekarang menjamur, ada yang datang ke rumah, ada bimbel. Ini gejala apa Pak ?

Nuhadi             : Lembaga les itu, kan, pandai. Mereka tahu peluang. Mereka menyelidiki soal-soal ujian dan mereka menawarkan solusi. Jadi ketika musim ujian akan datang bimbel-bimbel ini ramai. Mereka mengkaji soal-soal yang diprediksi akan keluar di ujian. Lalu dibahas bersama-sama. Ya, bimbel mengajarkan hanya sebatas itu. Tidak membuat anak didik pandai. Tapi hanya membuat anak paham soal itu saja. Kelebihan lembaga les di situ. Jadi les itu kadang juga ada gunanya. (Tim Fokus Utama)

Published in: on June 2, 2009 at 3:34 am Leave a Comment

Anak Pertama

 untitled4

MIMPIKI DARI KAMPUNG

 

Judul : Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami

Penulis : Muhajir Arrosyid

Penerbit: Kontak Media

Tebal: 100 Halaman

 

 

Tulisan ini adalah hantaran kepada teman dan sahabatku untuk anak rohaniku. Meminjam istilah yang digunakan oleh Pramudiya Ananta Toer bahwa buku adalah anak-anak rohani dan mereka akan mengalami nasibnya masing-masing. Maka aku persilahkan lahir anak pertamaku dan kau akan memiliki nasibmu sendiri.

Buku ini, kumpulan Cerita Pendek “ Di Atas Tumpukan Jerami ini adalah mimpi yang setiap lelap hinggap. Mimpi dari pertama kali rasaku bersentuhan dengan keindahan kata.

Buku ini bermula dari cerita tentang seorang bocah.

Bermula pada seorang bocah berdiri di atas panggung, di hadapannya ratusan orang duduk dan berdiri. “Aku, Buah karya Chairil Anwar,” bocah itu mulai melafalkan sebuah puisi.

Selesai membaca puisi hadirin bertepuk tangan. Seorang ibu menghampirinya menggendongnya mengajaknya pergi.

Acara itu adalah acara khafalah akhirsanah. Serangkaian perhelatan yang diselengarakan di bulan ruwah. Dan pagi itu adalah puncak acara. Dalam acara itu akan dibagikan hadiah untuk pemenang lomba. Si bocah gemetar pada detik-detik pembacaan puisi itu, terperanjat lagi menyaksikan orang banyak dengan seksama memperhatikannya. Dia selamat sampai puisi itu selesai, dan bungah setelah orang-orang memberi tepuk tangan.

Sejak acara itu, tepuk tangan adalah candu bagi bocah kecil. Dia selalu mencari saat-saat membacakan puisi di depan khalayak. Setiap kali ada koran atau majalah, yang dicarinya adalah rubrik puisi. Puisi yang bagus dipotongnya dan dikliping. Buku dan pelajaran yang paling dia suka adalah pelajaran bahasa Indonesia. Karena dalam buku Bahasa Indonesia biasanya terdapat puisi, dan pada jam pelajaran Bahasa Indonesia kadang para siswa diberi kesempatan membaca puisi.

Bocah itu bukan tergolong bocah pemberani. Setiap kali ibu gurunya dulu di SD Tegowanu 3 menawarkan, “Siapa yang mau membaca puisi di depan kelas?” Dia hanya berharap-harap cemas, “Semoga aku yang ditunjuk”. Dia akan kecewa jika yang ditunjuk siswa lain. Dia akan gembira dan membaca dengan penuh kesungguhan jika kesempatan itu datang, dan dia menikmati tepuk tangan itu.

Di kampungnya, panggung semakin sempit. Khaflahakhirsanah diselengarakan setahun sekali, itupun tidak setiap penyelengaraan dia ditunjuk baca puisi. Kelas juga semakin jarang menyediakan waktu untuknya membacakan puisi. Tapi dia terlanjur cinta terhadap puisi. Di kamar, di ladang, di pereng kali, di gubuk tengah sawah, di belakang sekolah saat rehat, di pemakaman, dia membaca puisi. Kadang dia ikut larut sampai berteriak keras dan tertawa tidak sadar orang lain memperhatikannya. Kadang dia larut dalam tangis ngilu ikut irama puisi itu.

Lama-lama dia dapat menikmati puisi, dan membaca puisi tidak sekedar mengharap tepuk tangan.

Saat kelas tiga SD adalah saat ia mulai menulis puisi sendiri. Waktu itu dia merasakan kehilangan yang amat sangat. Seorang teman bermainnya namanya Sugeng meninggal karena sakit setelah beberapa hari menginap di rumah sakit. Dia masih ingat sebait puisi pertamanya “ Sugeng pulang dengan ambulan// Kami menyambutnya dengan riang// Sugeng pulang// Sugeng pulang// ternyata Sugeng pulang ke rumah Tuhan//.

Kelas lima SD listrik masuk desa. Peristiwa ini juga dicatatnya dalam puisi. // Hei kau bulan dapat saingan.//Hai bintang-bintang kau turun di pinggir-pinggir jalan//.

Dengan puisi dia mencatat segala peristiwa, kesediahan dan kegembiraan. Ada juga puisinya tentang baju dan sepatu rombeng, itu karena dia suka meminta dibelikan baju dan sepatu robeng. Dia menulis juga tentang jalannya yang selalu becek.

Pada upacara Khaflahakhirsanah sekitar lima tahun berikutnya dia terkejut karena dipanggil untuk menerima hadiah. Dia tidak merasa menang apapun. Dia dipanggil setelah pembacaan peringkat tiga, kelas tiga madrasah yang bapaknya adalah kepala sekolah. Dia sebagai juara harapan. Dia ambil hadiah itu yang ternyata terdiri dari tiga buku, satu bullpen. Dia menangis di belakang masjid.

Bocah itu berfikir lagi tentang kebanggaan. Sekarang ini dia bukanlah bocah yang membanggakan. Dia ‘maksud’ dengan pemberian hadiah oleh bapaknya. Bapaknya mengharapkannya dia dapat peringkat dan membanggakan.

Peristiwa itu menjadi tulisan yang lebih panjang dibanding tulisan-tulisan yang pernah dia tulis.

Tulisan yang lebih panjang lagi dia tulis pada saat di kelas dua Madrasah Tsanawiah. Saat lulus SD dia bilang dengan ibunya. “Ibu aku ingin melanjutkan sekolah yang pelajarannya hanya menggambar, kesenian, Bahasa Indonesia. Aku ingin melanjutkan sekolah yang tidak ada matematikanya.”

Kata ibunya tidak ada sekolahan yang seperti dia inginkan. Masuklah dia di sekolah pada umumnya. Jadilah dia siswa bodoh yang selalu saja dapat rengking dua puluh ke atas dari tigapuluh siswa.

Datanglah Om Maskuri, adik dari ibunya membantu membimbing. Sebenarnya dia ogah-ogahan. Namun melihat kesunguhan Om Maskuri memberinya tambahan belajar, dia jadi ikut semangat belajar. Om Maskuri memberikannya janji, jika nanti dia bisa rengking sepuluh besar dia akan dibelikan sepatu baru ber merk terkenal yang biasa diiklankan di TV.

Dia seperti kuda dicambuk. Setiap hari dia melototi buku-buku. Bukan sepatu barunya yang ingin dia raih, dia hanya ingin membalas kesunguhan dengan kesunguhan. Yang ada dalam benaknya waktu itu adalah, Omnya waktu itu bekerja sebagai TU di sekolah, penghasilannya tidak seberapa, mau memberinya hadiah sebuah sepatu yang harganya pasti mahal.

Dia layu dan tidak bangun seminggu setelah menerima raport dan rengkingnya tetap saja duapuluh tujuh.

Bocah bodoh itu saya ternyata teman. Melalui buku ini, bocah itu ingin bercerita. Tentang hal-hal yang dia lihat dan dia rasakan. Selamat membaca.

 

 

Published in: on March 2, 2009 at 6:03 am Comments (3)