Arsip untuk Mei, 2008

PEREMPUAN KERETA

Mei 29, 2008

PEREMPUAN PERKASA DI TENGAH KERETA

Kustiah

PEREMPUAN paruh baya itu berjalan terseok-seok. Di kepalanya ada rantang berisi sambal. Tangan kirinya menenteng tampah yang berisi pecel dan peyek, sedangkan tangan kanan menjinjing teko. Seakan tak ingin ada ruang yang kosong, punggungnya pun menggendong bakul besar berisi nasi. Toh ia terus berusaha merangsek, menembus penumpang yang berimpit di gerbong kereta api kelas ekonomi jurusan Semarang-Cepu. Kain kebaya yang dikenakan seakan tak pernah menghalanginya bergerak maju. “Pecel Mbak, pecel. Mas pecel, Mas,” teriaknya yang terdengar timbul tenggelam karena harus beradu riuh dengan suara kereta api yang menderu-deru.

Tidak semua orang sanggup membawa begitu banyak beban dan berjalan di antara penumpang yang berdesak-desakan. Tapi perempuan itu terlihat mahir melakukannya. “Saya sudah 15 tahun berjualan pecel di dalam kereta,

Mbak,” tutur Bu Yati, nama enjual pecel gendong itu. “Gaji suami tidak cukup untuk membiayai sekolah anak-anak. Jadi, saya harus mencari akal dan ikut kerja keras untuk mencukupi kebutuhan,” kata perempuan yang ternyata merupakan istri dari salah satu maitanance di PT Kereta Api Indonesia. Semua kesulitan itu ia lewati hingga tak terasa anaknya telah lulus dari perguruan tinggi.

Jerih payahnya sungguh tidak sia-sia. Anak sulungnya saat ini telah menjadi akuntan di sebuah perusahaan swasta di Semarang. “Saya tidak mau menyerah dengan kemiskinan yang saya hadapi, karena anak-anak harus tetap sekolah,” katanya, bersemangat. Meskipun usianya mendekati kepala enam, semangatnya untuk mengadu nasib di tengah jejalan penumpang belum surut. Sebab, masih ada anaknya yang harus dibiayai untuk menamatkan SMA, syukur-syukur bisa menjadi sarjana seperti kakaknya.

“Sekarang anak saya yang pertama bisa membantu membiayai sekolah adiknya. Jadi saya tidak terlalu ngoyo seperti dulu. Lima tahunan yang lalu saya sanggup menjual nasi pecel dalam sekali jalan. Sekarang nasi pecel baru habis kalau bolak-balik jalan,” ujarnya sembari menghapus keringat di dahi dengan ujung selendang gendongnya. Yang dimaksud sekali alan adalah perjalanan kereta ekonomi dari Semarang menuju Cepu.

Dalam perjalanan itu, ia akan menyusur dari gerbong satu menuju gerbong lainnya. Perjuangannya menjadi tambah berat, karena pedagang pecel bukan hanya ia seorang. Ada belasan pedagang lainnya yang ratarata perempuan kategori paruh baya. “Teman saya banyak. Jadi, untung-untungan, Mbak. Tapi ada beberapa penumpang yang sudah menjadi langganan.” Di sela-sela penumpang yang berjejal itu, menurut Bu Yati, nasib baik akan berpihak kepada para pedagang, termasuk kepada penjual nasi pecel.

Memang, semakin banyak penumpang, semakin banyak calon pembeli. Pecel yang dijual Bu Yati itu dinamai sego pecel gambringan. Pecel ini sudah tidak asing lagi bagi penumpang kereta di jalur tersebut. Bukan saja karena rasanya yang enak, tetapi juga karena harganya yang murah. Harga tiap pincuk nasi pecel adalah Rp2000, sudah termasuk peyek. Dalam sehari, Bu Yati rata-rata bisa menjual sampai 50 pincuk.

“Biasanya tidak ada nasi yang saya bawa pulang, paling yang tersisa hanya peyek,” katanya.

Tidak semua pecel pincuk itu terjual di kereta api. Begitu sampai Cepu, kalau masih ada sisa, Bu Yati dan kawan-kawannyaakan menjajakan dagangannya di sekitar Rumah Sakit Cepu, pasar, ataupun menyusuri jalanan protokol. Sosok seperti Bu Yati di Tanah Air kita ini, dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, selalu hadir untuk menyelamatkan rumah tangga dari keruntuhan akibat himpitan ekonomi. Rasa hormat patut disematkan pada mereka. Bisa jadi, satu di antara mereka itu adalah ibu Anda.

Jender

Mei 27, 2008

PEREMPUAN TIDAK LEBIH RENDAH DARI PADA LAKI-LAKI

Oleh Tri Umi Sumartyarini

Saya masih ingat sekali saat itu. Maghrib, sekitar pukul 6 baru pulang dari kuliah. Sesampai di rumah, kamar mandi adalah tempat tujuan pertama yang saya tuju. Mandi dan mengambil wudlu harus didahulukan sebelum menuju tempat makan. Takut waktu shalat maghrib keburu habis.

Setelah sholat saya menuju ruang makan. Di sana sudah menunggu adik sepupu saya yang juga akan makan. Kebetulan sekali, lumayan bisa diajak teman ngobrol, pikir saya. Kami bicara ngalor-ngidul. Tentang teman, cowok, makanan, tentang semua-muanya yang bisa diobrolkan malam itu. Perbincangan kecil itu pun akhirnya menjadi perbincangan besar bagi saya.

Sepupu saya ini perempuan. Aslinya Salatiga. Dia tinggal di rumah saya karena dia menimba ilmu di salah satu sekolah akademik di Semarang yang mayoritas mahasiswanya perempuan. Hanya beberapa orang saja laki-laki.

Dia bercerita bahwa tadi siang dia baru saja menghadiri forum besar. Forum itu adalah forum penentuan siapa yang berhak menduduki jabatan sebagai ketua senat mahasiswa (organisasi tertinggi kampus tersebut). Ada tiga kandidat yang dicalonkan pada forum tersebut. Salah satunya perempuan. Singkat cerita, sebagian besar yang hadir pada forum itu memilih kandidat perempuan sebagai ketua baru.

Tapi apa yang terjadi? Salah seorang mahasiswa laki-laki mengacungkan jari ke atas. ”Interupsi!” Kata laki-laki itu menyela pimpinan forum. Ia mengungkapkan pendapatnya bahwa ia tidak setuju kalau satu-satunya kandidat perempuan itu menjadi pemimpin. Dengan mengeluarkan sejumlah dalil-dalil Al-quran, dia mengharamkan perempuan menjadi pemimpin. Akan ada bencana sebagai balasan dari Tuhan kalau perempuan menjadi pemimpin. Singkat cerita, kandidat perempuan itu akhirnya batal menjadi pemimpin.

Saya tertegun mendengar cerita adik sepupu saya itu. Nasi di piring yang tinggal dua suapan tidak saya masukkan dalam perut. Selera makan saya hilang. Menguap bersama penolakan teman laki-laki sepupu saya yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin.

Konon, Hawa diciptakan dari doa dan harapan Adam. Adam berdoa kepada Tuhan agar dirinya diberi teman untuk menemaninya dalam surga yang masih sepi. Maka terciptalah Hawa. Lebih lanjut dasar penciptaan Hawa ini menjadikan dasar pemikiran untuk pengenyampingan posisi kaum perempuan dalam berbagai sektor. Lelaki harus selalu di depan. Lelaki itu harus yang jadi pemimpin. Karena yang diciptakan terlebih dahulu adalah Adam, kaum Hawa hanyalah pelengkap, kaum Hawa hanyalah pendamping bagi laki-laki. Bahkan dulu sempat ada ujaran yang populer tentang perempuan; suarga nunut, neraka katut.

Tidak dipungkiri bahwa agama diturunkan Tuhan di tengah-tengah manusia untuk menegakkan kemaslahatan, kasih sayang, hak dan keadilan secara tidak pandang bulu. Namun, di sisi lain agama dijadikan sebagai dasar pelanggaran itu semua dengan cara penafsiran yang salah atas ajaran agama.

Jika ditengok lagi pandangan teologi yang dianut selama ini akan menemukan pamahaman yang berurat dan berakar bahwa pemahaman kekuasaan laki-laki atau hierarkhis pada perempuan adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat. Hal semacam ini biasanya terbentuk oleh pemahaman atas penafsiran firman Tuhan bahwa laki-laki adalah qawwamun bagi perempuan. Kata qawwamun oleh beberapa mufassir diartikan sebagai pemimpin, penanggung jawab, pelindung, penguasa, dan sejenisnya.

Demikianlah hierarkis kekuasaan laki-laki atas perempuan mendapatkan pembenaran teologis. Pada gililirannya implikasi atas penafsiran ini menjadikan laki-laki adalah kaum superior, perempuan inferior. Hal ini menyebabkan penyampingan hak-hak perempuan baik dalam wilayah sosial, politik, ekonomi, maupun domestik. Lebih melebar lagi keyakinan ini akan menimbulkan kekerasan terhadap perempuan secara fisik maupun mental.

Dengan demikian keyakinan keagamaan yang selama ini ada memberikan andil yang besar terhadap pelanggaran ide normatif Islam itu sendiri. Agaknya perlu kerendahan hati untuk mengkaji ulang dalam menafsirkan firman-firman Tuhan yang membenarkan terlanggarnya hak-hak perempuan. Beberapa mufassir telah melakukan hal ini. Belakangan diketahui qawwamun laki-laki atas perempuan hanya berlaku pada wilayah domestik atau rumah tangga saja.

Kalau alasannya perempuan itu memiliki keterbatasan pada beberapa hal seperti perempuan itu adalah makhluk yang lemah dan selalu mengandalkan perasaan, saya kira itu hanyalah stereotype atau pandangan yang salah saja tentang perempuan. Perempuan adalah makhluk lemah hanyalah stereotype yang diciptakan laki-laki saja. Yang disayangkan, kaum perempuan itu sendiri juga merasa enjoy diberi label ”makhluk lemah”. Mereka mengakui kalau dirinya adalah makhluk lemah. Merasa tidak bisa melakukan ini, tidak pantas melakukan itu, karena perempuan kodratnya ya masak, macak, manak. Wah, parah ini kalau perempuan –perempuan masih berpikir seperti itu.

Sudah banyak perempuan yang memiliki kemampuan seperti yang dimiliki laki-laki. Perempuan harus mulai bisa menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Jangan terlena oleh stereotype dan keyakinan yang salah atas ajaran agama tentang perempuan. Mulailah membuka mata. Perempuan bisa menjadi apa saja. Buktinya? perempuan bisa menjadi presiden, bupati, pilot, polisi, bahkan petinju sekalipun.

Kiranya reinterpretasi seperti ini sangat perlu dikembangkan sebagai upaya pemenuhan hak-hak perempuan atas nilai-nilai kemanusiaan. Karena perempuan diciptakan di dunia ini dengan jenis manusia, bukan dari jenis yang lain yang bisa dilanggar hak-haknya. Jangan coba melegalisasikan agama sebagai senjata ampuh untuk mengenyampingkan hak perempuan. Perempuan tidak lebih tinggi dari pada laki-laki dan perempuan tidak lebih rendah dari pada laki-laki.