Arsip untuk Juli, 2008

Al Amin Nasution

Juli 26, 2008

APALAH ARTI SEBUAH NAMA?

 

“Apalah artinya sebuah nama?” demikian grenengan Pak De Tunu bersama istri tercintanya di belakang rumah sambil memandang ikan lele peliharaannya.

“ Mawar meski tidak bernama mawar tetap elok di pandang, lele meski bukan lele namanya tetap enak di panggang, Tunu meski bukan Tunu namanya mesti ganteng dan tampan. Kamu Sun, meski namanya Bukan Sun tetap menawan.”

“ Heleh kamu itu lho Pak Ne, sudah tua masih merayu. Hati-hati kalau terdengar cucu!” Bentak Bu De Sun Istri Pak De Tunu. Bu De Sun memukul-mukul pundak Pak De Tunu.

“ Nama itu kan hanya nama ya Bu ne? Meskipun namanya Al Amin yang memiliki arti dapat dipercaya, namun kalau sifatnya maling ya tetap korupsi. Nama itu tidak selaras dengan sifat.”

“Nasution, orang ingat Nasution pasti ingat pahlawan revolusi. Seorang jendral besar yang gagah berani. Tapi kalau ingat Nasution saat ini kita ingat tikus yang mengrogoti kayu milik orang banyak.”

“ Nama itu do’a Pak ne, Orang Tua memberi nama Al Amin adalah do’a agar dia nanti menjadi orang yang dapat dipercaya rakyat. Kalau jadi RT adalah RT yang dapat di percaya, kalau jadi pegawai bank adalah pegawai bank yang dapat dipercaya, kalau menjadi Anggota Dewan adalah Anggota Dewan yang dapat dipercaya.”

“ Mungkin waktu korupsi dia tidak ingat orang tuanya yang membesarkan dan mendoakannya. Sekarang ini ada banyak yang punya nama Tunu, ada yang jadi pemulung, ada yang jadi pengemis, tapi ada juga yang baik, ganteng, dermawan seperti aku.”

“ Takabur, takabur, tobat Pak Ne, tobat!!” Bu De Sun teriak-teriak.

 

PILKADES

Juli 17, 2008

 

TUNU KALAH PILKADES

 

Muhajir Arrosyid

Pak De Tunu menyanyikan lagu Aku Bukan Pilihan, lagu yang biasa di lantunkan Iwan Fals dengan serak-serak enak.

“ Aku lelaki bukan tuk dipulih….”

Tunu menyanyikan lagu itu bukan karena habis putus cinta atau di tolak cintanya oleh kekasihnya. Dia sakit hati kepada para tetangga-tetangganya karena menghianatnya. Pak De Tunu terpuruk mengurung diri di dalam kamar karena habis kalah dalam PILKADES kemarin. Sebenarnya dia tahu kalau dalam persaingan itu wajar. Dia berfikir, kalah-ya kalah tapi jangan se memalukan seperti sekarang ini. Pak De Tunu mendapat suara paling buncit. Kira-kira yang milih dia cuma satu RT. Dia merasa di khianati. Kemarin orang-orang mendorong-dorong supaya dia nyalon lurah. Kata Bur ketua karang taruna dia pantas jadi lurah . “ Wah sayang kalau tidak nyalon Pak De, lha ada kesempatan. Pak De Tunu juga sudah banyak dikenal, pokoknya nanti saya dan anggota karang taruna semua mendukung jika Pak De Tunu jadi nyalon, anggota saya banyak lho Pak De, apalagi kalau mereka bergerak”

Lha setelah benar nyalon kok mok plekentus, tidak ada yang milih. Padahal dia sudah keluar duet banyak. Setiap ada orang mengajukan proposal pembangunan masjid, jembatan, jalan, tanggul selalu dia beri. Karena melayani proposal-proposal itu sekarang Tunu juga terbelit hutang.

Waktu sebelum pemilihan orang-orang banyak datang ke rumah, mereka menyalami dengan senyum ikhlas. Pak De Tunu sakit hati mengingat wajah-wajah itu. Wajah-wajah penipu. Rasanya mau mati saja, orang-orang di desanya tidak memilihnya “Aku lelaki bukan pilihan” katanya sambil menjerit-jerit.