Arsip untuk Oktober, 2008

Hidayah

Oktober 28, 2008

CAMPUR TANGAN ALLAH ITU NYATA

Puput Puji Lestari

Masa kecilku kuhabiskan dengan banyak kegiatan dari pagi hingga malam. Sekolah, membungkus tempe, ke sawah, mengaji, belajar, dan tentu bermain. Sejak kecil aku suka sekali begadang, sulit tidur karena sebelum tidur selalu membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupku kelak. Bebicara pada diri sendiri tentang mimpi.

Aku terlahir bukan dari keluarga agamis. Islam kukenal dari masjid di belakang rumahku. Yang kuingat, ibuku selalu menyuruhku mengaji ke masjid dan sholat bersama-sama. Aku juga tahu ibuku hanya sholat beberapa kali dalam setahun. Sholat id.

Bapakku adalah seorang pegawai kereta api yang jadwal kerjanya 24 jam. Artinya siang malam harus siap untuk bekerja. Karena lokasinya jauh dari rumah kami, Doplang.

Bapak lebih sering mengabiskan waktu di Stasiun Cepu. Jika ibuku sholat beberapa kali dalam setahun, dan bersedia menemani anak-anaknya puasa, bapakku tidak sama sekali.

Waktu kecil, sering timbul pertanyaan dalam hatiku, kenapa orangtuaku menyuruh aku mengaji dan sholat ke masjid jika mereka sendiri tidak melaksakannya. Aku tidak pernah menanyakannya. Aku menikmati hari-hariku. Karena di rumah tidak akan ada yang marah jika aku tidak sholat atau mengaji. Saat yang menyenangkan saat itu.

Pernah suatu hari raya Idul Fitri, aku dan Ibu sholat id di lapangan. Ketika menengok ke kanan, aku melihat Bapak pulang dari sawah dan berjalan pulang. Aku juga tidak bertanya pada Ibu kenapa Bapak tidak ikut Sholat Id. Hanya dalam hatiku aku merasa malu. Malu karena Bapak tidak ikut bergabung kami di deretan Sholat Id hari itu. Tapi memang Bapak adalah lelaki pekerja keras, jika tidak sedang bekerja di stasiun bapak mengerjakan sawahnya.

Dalam malam, aku bertanya Siapa Allah? Kenapa aku harus menaatiNYA, sedang orangtuaku tidak? Hari bergulir hingga SMP. Aku tak semangat lagi membaca huruf arab yang konon katanya disebut sebagai kitab Suci Al Qur’an. Aku protes, kenapa aku membaca huruf yang tidak kupahami maknanya? Guru ngajiku selalu bilang “Membaca saja kita sudah dapat pahala.’’ Aku tidak puas, aku kecewa.

Tidak boleh, aku tidak boleh membaca tanpa tahu maknanya. Lalu kutabungkan uangku. Tujuannya adalah membeli Al Quran terjemah. Setelah cukup aku berangkat ke Cepu bersama sahabatku, Nurul. Waktu itu dia ingin membeli kaset Siti Nurhaliza yang lagunya “Betapa Kucinta Padamu”. Naik bis kami ke Cepu. Lantas aku membeli Al Qur’an terjemah. Harganya Rp 19.000 aku ingat betul itu. Biru tua sampulnya.

Setiap malam menjelang tidur, aku membaca artinya. Adakalanya aku mengacak setiap membuka halaman. Entahlah, aku begitu mudah tersentuh oleh kata-kata indah yang terangkum dalam sampul biru tua itu. Sering menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa kata-kata indah itu tercipta? Dari buku-buku perpus yang kubaca, tak ada satupun yang bisa kusandingkan dengan makna-makna Al Quran itu. Bahkan biarpun maknanya menggambarkan sejarah, aku tetap suka. Aku menikmatinya tanpa bosan.

Buaian kata-kata indah itu menawan hatiku. Amat sangat!!! Aku menstruasi sejak kelas 2 SMP, artinya aku sudah akhir baliq, semestinya berjilbab. Kuutarakan maksudku untuk menutup aurat, Bapakku tak setuju. Ah biarlah.

Awal SMA aku meminta lagi, tapi Bapak tetap tak mengijinkan. Bapak khawatir orang akan menyangka anak perempuannya gundul atau tak punya daun telinga sehingga harus ditutup. Aku juga tak protes.

Hari-hari di sekolah SMA adalah hari yang sangat menyenangkan. Sholat dhuha menjadi kebiasaan, apalagi dhuhur dan ashar berjamaah di sekolah, aku suka sekali. Aku mulai peduli jika orangtuaku tidak sholat.

Aku protes selulus SMA, bapak tidak mengizinkanku berjilbab. Aku tak peduli. Dengan baju seadanya dan mengandalkan jaket, aku menutup aurat. Kakak perempuanku, Mbak Pur tidak melarang. Kuingat dia mengatakan “Jika keputusan sudah diambil harus bisa mempertanggungjawabkannya.’’

Protesku berlanjut ketika aku tidak lulus SPMB. Aku marah pada ibuku, yang kutuding tidak mau sholat dan mendoakanku. Sehingga aku gagal. Tak kusangka pernyataanku memicu debat panas. “Aku orangtuamu selalu mendoakan. Apa perlunya aku mengatakan bahwa aku mendoakanmu?’’ Tak mau kalah aku katakan doa itu harus dengan sholat. Ibuku berang, marah. Aku tak mau berhenti, kuteruskan mendebat jawaban ibu.

Kakak lelakiku, Mas Budi, mendamaikan kami. Tak berhasil, pembicaraan melebar. “Aku kuatir jika tak bisa mendoakan ibu kelak, aku kuatir jika aku mati lebih dulu. Siapa yang akan mendoakanmu, ibu?’’ suara ibuku tertambah tinggi, “Kamu pengin aku mati lebih dulu?” Aku menangis, kakakku menangis, ibuku melotot. Selesai, pamanku datang ke rumah karena mendengarkan pertengkaran kami. Diam semua.

Tahun-tahun selanjutnya kuhabiskan untuk kuliah di Semarang. Setiap malam aku berdoa supaya Allah membuka pintu hidayah. Setiap sholat tahajud kukirimkan Alfatehah untuk mereka. Menangis lagi. Mengulang tangisan yang sama seperti dulu. Tak bersolusi.

Hingga pada suatu malam kutemukan cerita Nabi Muhammad yang memohon supaya pamannya Abu Tholib diberi hidayah di Al Qur’an. Allah tak mengabulkannya, bahkan hingga ajal menjemput sang paman. Hidayah itu rahasia Allah, tak ada campur tangan hamba di dalamNYA. Hancur hatiku, tumpah seluruh tangisku.

“Gusti, sangkang paringe dumadi. Jika Muhammad saja tak kau penuhi pintanya kenapa aku harus menangis? Punya hak apa aku menuntutMU? Sekarang kutegarkan hati, dan kupandang Engkau dengan berani. Tuhan, jika memang takdirku harus menerima orangtuaku kafir, maka kuatkan aku menerima semua takdirMU dengan ikhlas.” Setiap tahajud aku tak lagi menangis. Aku tegar menerimanya.

Teman laki-lakiku (dulu) ingin pulang bersamaku ke Doplang. Kami naik motor Semarang-Doplang. Sampai di rumah tidak kudapati bapakku. Kupikir sedang bekerja. Hingga sore, pamanku bertanya. “Sudah menjenguk bapak ke kantor polisi Cepu?” Hah, syok. Ada apa dengan bapakku?

Kebakaran kereta pengangkut minyak karena pengendara mobil yang lalai. http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0509/24/utama/2073755.htm dan http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/25/nas01.htm ternyata berhubungan dengan bapakku. Salah satu petugas yang bertangung jawab pada perjalanan kereta itu adalah pria kekar yang dulu suka memboncengkanku dengan sepeda. Yang sampai sekarang tetap setia pada sepedanya itu. Meskipun sudah ada motor untuknya sendiri.

Bergegas kuajak teman lelakiku ke Cepu. Menemui bapakku. Ah syukurlah, cuma dimintai keterangan. Sementara tidak boleh pergi, tinggal di samping mushola Polsek Cepu. Lelaki paruh baya itu kutemui dalam duduknya yang tenang. Sebelum pulang memintaku membelikan rokok, air mineral, dan marning. Untuk teman ngobrol katanya. Memang Bapak tak sendiri, ada tujuh orang kawannya. Semua ditunggui istri dan anak. Pria tegar itu tak mengijinkanku berlama-lama di sana. Juga tak mengijinkan satu orang keluarganya mendampingi, termasuk Ibu. “Sudah ada pengacara dari kantor, tenanglah.” Gumam Bapak mencoba menenangkan perasaanku yang galau.

Aku tak menjenguknya lagi, karena di Semarang aku punya tanggungan kerja. Bergantian kakak dan ibuku menjenguk Bapak. Kami berkabar lewat telepon saja. Seminggu sudah, Bapak pulang. Ah lega, murni kesalahan pengendara mobil. Bukan kelalaian pekerja kereta.

HP ku berdering, SMS dari Mas Budi. Masih kuingat jelas kata-katanya, dan takkan pernah kulupa. “Dik nek bali tumbas baju koko, sarung, dan peci ya”. Seminggu sebelum puasa kiranya waktu itu. Aku tak sabar membalas sms, kutelepon.

“Halo, Mas buat siapa? Bukannya baju kok buatmu udah banyak?”

“Buat Bapak,” singkat jawab mas Budi. Aku lemas, takjub, heran, cemas, entahlah.

“Buat Bapak?” tanyaku menyakinkan.

“Iya, sepulang dari kantor polisi Bapak sholat. Katanya minta dibelikan baju koko”

“Alhamdulillah. Ya ya kubelikan. Sabtu besuk aku pulang.”

Tutttttttttttttttttttttttttttttttttt………………………. Telepon kumatikan.

Aku tak ingat untuk sujud syukur. Aku menangis terharu di depan kosku. Kututup bantal. Allah, campur tanganMU itu nyata,” Aku menangis lagi, sholat tarawih pertama di masjid belakang rumahku. Bapak berdiri tepat di depanku.

Jakarta, 27 Oktober 2008

POPPY DHARSONO:

Oktober 20, 2008

POPPY DHARSONO:

BERPOLITIK KARENA PANGGILAN HATI

SETELAH mengenyam asam-garam dunia desain dan fashion yang telah membesarkan namanya, saat ini Poppy Dharsono mulai memasuiki dunia politik. Perempuan ayu usia baya yang awet muda ini tidak tanggung-tanggung memasuki panggung politik.

Salah satu pemrakarsa Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini sebelumnya ikut pencalonan pilkada kepala daerah Jawa Tengah melalui partai, meski akhirnya gagal di tingkat Komisi Pemilihan Umum. Tahun depan Poppy berencana mengikuti hajatan politik mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Daerah Jawa Tengah.

Apa yang melatarbelakangi Poppy terjun ke dunia politik? Seberapa jauh kesiapannya? Berikut wawancara Kustiah dengan perempuan kelahiran Garut, 57 tahun lalu ini di sela-sela acara pembukaan sebuah galeri di Jakarta Selatan beberapa pekan lalu.

1. Apa yang membuat Anda tertarik terjun ke dunia politik?

Mungkin lebih karena panggilan hati. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang serius untuk membesarkan bangsanya. Memang political will dari pemerintah sudah ada, hanya saja masih ada hambatan. Soal skill dan sumber daya manusia. Di negara kita ini banyak politisi, tapi jarang yang benar-benar berbuat konkret untuk masyarakat. Semua mengatasnamakan rakyat, tapi ujung-ujungnya lebih mementingkan kepentingan pribadi.

Saya berniat membantu masyarakat lemah. Selain dengan perbuatan nyata, ada kebijakan yang lebih memihak kehidupan mereka. Khususnya pemberdayaan orang-orang lemah, membantu orang-orang yang secara ekonomi dan sosial belum terbantu. Misalkan saja usaha industri kecil. Saat ini belum banyak yang mengelola.

2. Apakah untuk tujuan itu harus melalui dunia politik?

Saya ingin memberikan sumbangsih bagi bangsa ini. Membantu secara langsung. Sebenarnya apa yang saya lakukan saat ini adalah melanjutkan apa yang sudah saya lakukan kemarin-kemarin. Mendirikan usaha kecil untuk masyarakat yang memiliki skill dan (merupakan) sumber daya masyarakat yang bagus tapi, tidak ada yang mewadahinya. Mengembangkan usaha-usaha kecil. Kebetulan saya kan terlibat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia yang sudah melakukan pendampingan terhadap usaha-usaha industri kecil. Ada 150 orang anggota lebih yang melanjutkan program ini. Dan sudah berjalan dengan baik.

3. Bagaimana respons keluarga dan teman-teman Anda saat mengetahui Anda terjun ke politik?

Mereka sangat mendukung. Salah satunya membantu mempersiapkan buku dan peluncurannya. Sharing tentang bagaimana usaha-usaha kecil bisa berkembang dan membantu mengerjakannya. Mereka sangat men-support.

4. Persiapan apa saja yang sudah Anda lakukan untuk rencana pencalonan Anda di DPD tahun depan?

Yang pertama fokus dengan buku. Saya ingin mendokumentasikan perjalanan 30 tahun berkarya sebagai desainer. Buku saya lebih banyak bercerita tentang sejarah kain-kain Nusantara. Kain yang kita olah ternyata masih up to date dengan fashion-fashion yang sedang ngetren saat ini. Tiga Desember nanti akan di-launch.

Selain tetap mempersiapkan kampanye. Satu tahun mengurusi persiapan pilkada yang gagal tahun lalu cukup membuat saya terbantu. Meski gagal, saya masih bisa melanjutkan network yang saat itu sudah saya bangun, konstituen-konstituen juga masih intens. Kami sudah mempersiapkan semuanya.

5. Berapa banyak dana yang Anda gunakan untuk pendaftaran calon kepala daerah tahun lalu dan persiapan pencalonan DPD tahun depan?

Untuk pencalonan pilkada tahun lalu saya habis banyak. Cost politic memang tidak sedikit. Kurang lebih saya habis satu miliar. Ini untuk cost politic lho, bukan money politic. Tidak ada pelican-pelicin. Yang begitu-begitu lebih baik saya tidak usah aja deh. Ya namanya juga berpolitik. Kalau untuk pencalonan DPD ini saya baru habis 400 juta (Rupiah). Untuk ongkos pergi ke daerah bersama teman-teman. Saya kan perginya tidak sendiri. Ada teman-teman pendukung yang menemani.

6. Apa penyebab Anda gagal di pilkada Jawa Tengah tahun lalu?

Wah, saya sebenarnya ingin cerita. Tapi of the record aja ya …. Biasa, politik itu kan selalu identik dengan biaya mahal. Nah, ini yang membuat saya lebih baik tidak melanjutkan saja. Kalau untuk kebutuhan konkret membantu masyarakat mungkin saya masih toleransi, ini sudah lain ceritanya. Kalau secara kualifikasi saya tidak ada masalah. Ya karena faktor lainnya itu, yang bagi saya bermasalah.

7. Apa saja aktivitas Anda selain bergiat di dunia politik?

Masih seputar persiapan peluncuran buku Redifining Heritage. Ada rencana buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar mudah diakses. Judul dalam bahasa Indonesia “Memakna Ulang Pusaka Budaya”. Saat ini saya kan banyak waktu. Kalau dulu bekerja perlu waktu panjang, sekarang sudah tidak lagi. Apalagi waktu yang saya habiskan tidak sedikit, 30 tahun. Masak (saya) masih tetap membutuhkan waktu 12 jam untuk bekerja.

Dunia desain bagi saya adalah profesi karena hobi. Saat ini saya melakukannya di waktu-waktu sela. Kan tidak perlu waktu lama. Kalau ada waktu 12 jam saya hanya membutuhkan waktu enam jam untuk menyelesaikannya. Kalau teman-teman selesai bekerja waktunya digunakan untuk bermain golf, saya menggunakannya untuk bekerja. Sekarang kebalikannya.

8. Program apa saja yang sudah Anda siapkan jika Anda terpilih di DPD nanti?

Mengembangkan industri kecil. Pasca-gempa di Yogyakarta dan Klaten beberapa tahun lalu membuat industri kecil kain pertenunan di Klaten terpuruk. Saya sudah memulainya dengan membantu industri usaha ini agar bisa bergerak kembali. Yang kedua, saya ingin menerapkan program Grameen Bank. Di Indonesia program ini sangat dibutuhkan.

Saya sudah memulai di Jawa Barat yang teman-teman namakan “Kawan Cempaka”. Yang kami bantu kebanyakan perempuan semua. Di Subang hampir 2.000 perempuan yang sudah menerima pinjaman model Grameen Bank ini. Membantu orang kan tidak melihat daerah. Meski saya pencalonanya nanti di Jawa Tengah, saya melihat di daerah Subang banyak sekali masyarakat yang membutuhkan. Rencananya nanti akan diperluas. Industri usaha kecil di Klaten kan sudah mulai bergerak. Tinggal nanti kita lihat daerah lainnya lagi yang membutuhkan bantuan. Sebenarnya di Indonesia banyak banget SDM yang sudah memiliki skill bagus. Hanya pemberdayaannya saja yang belum maksimal.

9. Pendapat Anda tentang keterlibatan perempuan dalam dunia politik dewasa ini?

Penting sekali. Nasib sebuah bangsa tidak akan baik jika mengabaikan kaum perempuan. Saat ini banyak kok perempuan Indonesia yang memiliki skill bagus. Tingkat pemahaman dan pendidikan terhadap politik juga tak kalah dengan laki-laki. Kalau ada kesempatan kenapa tidak diambil. Perempuan di Indonesia jika diberdayakan dan diberi kesempatan yang sama seperti laki-laki, (maka) saya yakin persoalan bangsa tidak akan (jadi) sepelik ini.

Kita perlu dukung kemauan dan upaya pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan. Caranya, pendidikan politik terhadap kaum perempuan harus digalakkan. Pengelolaan usaha industri kecil ditingkatkan. Umpamanya begini, kalau ingin membuat hancur sebuah bangsa caranya gampang, timpangkan saja kaum perempuannya. Artinya, betapa pentingnya keterlibatan perempuan. Bangsa ini tidak akan pernah berhenti ditimpa masalah dan krisis jika para perempuannya tidak ikut terlibat menyelesaikannya.

Nama: Poppy Dharsono

Tempat/Tanggal Lahir: Garut, 8 Juli, 1951

Pendidikan: Akademi Sinematografi, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) Ecole Superieur de la Mode (ESMOD), Guarre-Lavigne, Paris, Prancis.

Karier: Designer Poppy Dharsono Studio (1977). Direktur dan Pemilik of Poppy Dharsono Fashion Studio (1977 – sekarang). Komisaris PT Panin Nusamas (1980 – Sekarang). Presiden Komisaris PT Rana Sankara (1986 – sekarang). Presiden Direktur PT Poppy Dharsono Cosmetics (1989 – sekarang). Presiden Komisaris PT Prima Garis Moda (1998 – sekarang). Presiden Komisaris PT Indotex LaSalle International College (1999 – sekarang). Presiden Komisaris Indonesia International Fashion Institute (2004 – sekarang).

Organisasi: Vice President Indonesian Apparel Manufacturers Association (1987 – 1991) Chairperson of the Compartement of Small Scale Businessman and Industry,
The Indonesia Chamber of Commerce and Industry (1988 – 1998). Anggota Dewan Pertimbangan – Federation of Citizen Entrepreneurs of Indonesia (1988 – 1955). Ketua – Indonesia House Foundation (1990 – sekarang). Ketua – Society of International Development (SID) (1990 – sekarang). Ketua – Asosiasi Fashion Desainer Indonesia (1993 – sekarang). Chairperson of the Indonesian Garments & Accessories Suppliers Association (1995 – sekarang). Koordinator Tourism and Trade Development, Indonesia Chamber of Commerce and Industry US Committee (1995 – sekarang). Vice Presiden The Indonesian Chamber of Commerce & Industry, Coordinating Social Welfare Affairs (1998 – sekarang).

Penghargaan: Penghargaan oleh Departemen Pendidikan & Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Kejuruan. Penghargaan oleh Lembaga Kerja sama Ekonomi Sosial & Budaya Indonesia-China untuk kontrisbusinya. Penghargaan oleh Surabaya Stock Exchange atas kontribusinya sebagai pembicara di ‘Stock Market & Venture’ Seminar. Adikarya Wisata penghargaan oleh Departement Pariwisata, Jakarta atas dedikasinya sebagai fashion desainer. Penghargaan oleh Metropolitan Mal Bekasi Management atas kontribusinya dalam Eksebisi Industri Kecil. Penghargaan oleh DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia atas kontribusinya dan dedikasinya sebagai entrepreneur. Penghargaan oleh KADIN atas kontribusi dan komitmen-nya dalam bisnis. (dimuat di Jurnas/Jumat,17 Oktober 2008)