Arsip untuk Desember, 2008

REFLEKSI AKHIR TAHUN

Desember 30, 2008

MENJADI PEMENANG

Muhajir Arrosyid

Di antara batas akhir tahun 1429 menuju awal tahun 1430 Hijriah ini di desaku dan sebagian desa lain se Kabupaten Demak sedang dilaksanakan pemilihan kepala desa atau di singkat PILKADES. Hiruk pikuk dukung mendukung ramai. Tempelan foto tampang tersebar di mana-mana. Satu keluarga bisa saling mendiamkan untuk semantara demi keperluan ini. Sang kakak menjadi gapit, pendukung dan membagikan uang saku dari salah satu calan, sang adik bisa saja menjadi gapit calan yang lain. Malam sebelum pencoblosan, warga tidak tidur, menunggu serangan fajar.

Serangan fajar adalah uang dari calon untuk membeli suara pemilih yang biasanya dilakukan fajar-fajar. Sebenarnya bermain uang begini tidak boleh, tapi sudah menjadi rahasia umum, calon satu dengan calan yang lain juga saling mengetahui. Uang yang diberikan dari hanya lima ribu rupiah hingga seratus rupiah lebih. Biasanya, calon yang modalnya paling banyak inilah nanti yang terpilih menjadi kepala desa, meskipin ada juga yang menyumbang sedikit tapi terpilih, kasus seperti ini langka.

Menjadi pemenang adalah gengsi. Maka berapapun uangnya akan dikeluarkan, kalau perlu cari pinjaman sana-sini. Kalah adalah tanggungan malu yang tidak habis-habisnya. Maka calon tidak segan menjual mobil hingga rumah. Mereka para calon tidak menghitung penghasilan yang nanti diterima ketika menjadi kepala desa mungkin saja tak sebanding.

Berhari-hari sebelum acara pemilihan, para calon menerima tamu, memberi hidangan layaknya orang mantu. Mereka memasang tenda dan membunyikan sound sistem. Pagi menuju tempat pencoblosan para calon di iring sebelum kemudian didudukkan di kursi yang telah disediakan oleh panitia. Di kursi itu sampai nanti sore penghitungan selesai mereka duduk menunggu. Saya melihat wajah wajah mereka, kadang tersenyum, kadang suntuk.

Pukul 14.00 penghitungan di mulai. Ini adalah saat panas-panasnya. Perlu menjaga mulut kalau tidak punya nyali. Menjelang magrib kita melihat siapa pemenangnya. Ada yang pinsan karena kalah, ada yang dipanggul karena menang.

Karena saya muslim, saya masih memperhatikan MUI. Tapi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan golput mungkin tidak pernah membanyangkan masalah yang saya hadapi. Sungguh, saya bingung memilih satu di antara empat calon yang ada. Dua calan adalah orang yang pernah menjabat menjadi kepala desa di periode sebelumnya dan terbukti gagal. Satu calon yang lain masih muda, masih suka marah-marah. Satu calon terakhir berbicara saja susah.

Tapi karena menurut MUI golput haram aku harus memilih di antara yang jelek-jelek ini. Tanya tetangga, mereka bilang, “ Pilih saja yang memberi uang banyak!” dan ternyata dua calon memberi uang sama banyak. Pusing toh?

Dalam PILKADES yang menang adalah uang. Para calon sebenarnya tidak ada yang layak pilih, kalaupun ada yang layak pilih tapi tidak mengelurkan uang lebih jangan harap menang. iklim demikian harus segera diubah. Bagaimana desa akan maju jika dipimpin orang-orang yang hanya tunduk kepada gengsi? Terkait dengan judul, apakah demikian pemenang sejati? Kemenangan karena uang adalah kemenangan semu.

Menjelang asyar, ada tiga SMS ucapan slamat tahun baru hijriah dari dua nomor yang tak dikenal dan satu dari Puput Puji Lestari, teman seperjuangan yang sekarang berdomisili di Jakarta. Begini SMS dari puput itu “ Ketika lazuardi menghias langit sore ini, maka datanglah tahun baru Hijriah 1930. Selamat tahun baru Hijriah, semoga semangat menuju hari esok lebih baik selalu terjaga.”

Kata ‘semangat’ dalam SMS itu mencuri perhatianku. Aku jawab SMS dari sahabatku itu dengan kalimat “Makasih, aku memang sering naik turun semangat.” Di rentetan liburan natal, tahun baru hijriah, tahun baru nasional yang aku kerjakan hanya tidur dan makan melulu. Dulu di saat sibuk mengajar, sibuk kuliah aku selalu mengandaikan waktu luang, tapi ternyata setelah adanya waktu luang aku juga seperti kerbau dalam kandang. Setiap laptop aku buka tidak ada satu katabun yang berbunyi hingga akhirnya aku tutup lagi. Sebenarnya aku hanya ingin bercerita tentang bocah pengembla kambing di tengah belantara jagung. Kenapa aku selalu ngorok dan tidak segera menyelesaikan ceritaku? Tidak lain karena hilangnya semangat, hilangnya motivasi.

Memang, semangat itu penting. Semangat menentukan berhasil tidaknya kita menggenggam sesuatu dan menjadi pemenang sejati.

Kita dapat melihat bahwa semangat mengalahkan segalanya dari tim Sepak Bola Vietnam. Dalam AFF SUZUKI CUP 2008, mereka menumbangkan tim-tim yang di atas kualitas jauuh di atasnya. Di semifinal mereka mengalahkan Singapura. Singapura yang ingin menjadi pemenang rela menyingkirkan pemain aslinya dan diganti enam pemain naturalisasi dari berbagai negara takhluk terhadap Vietnam. Di final, Thailand kalah dihadapan pendukungnya sendiri.

Sekarang ini tercatat ada tiga tim yang pernah menjuarai pila AFF yang dulu dinamakan piala tiger ini. Thailand, Singapura, dan dan terakhir Vietnam. Dan dari ketiganya kita dapat belajar, tapi yang mungkin dapat kita contoh adalah Vietnam.

Singapura tidak layak ditiru. Kemenangan Singapura tidak jauh berbeda dengan kemenangan kepala desa. Kali ini mereka kalah dengan permainan dengan hati dan semangat.

Untuk menjadi pemenang, untuk dapat mengalahkan musuh pertama kali yang harus kita lakukan adalah mengalahkan virus yang terdapat dalam diri sendiri. Virus itu dapat kita basmi dengan obat pembasmi virus jahat ber merk ‘semangat’. Mari menjadi pemenang.

Muhajir Arrosyid – Penulis cerita pendek dari Demak

BAJU DAN TUBUH

Desember 22, 2008

 CELANA SIMPANG LIMA

Muhajir Arrosyid

 

Minggu, aku selalu bangun pagi-pagi. Setelah Sholat Subuh tanpa do’a, aku lajukan motor menuju Simpang Lima Semarang. Dari kos menuju tempat tujuan membutuhkan waktu tidak lebih dari sepuluh menit. Aku parkir di Masjid Baiturrahman. Zikir masih terdengar dari dalam masjid. Aku parkir di halaman Masjid Baiturrahman kerena aman sekaligus murah, hanya seribu rupiah.

Simpang Lima masih sepi. Sebagian pedagang mempersiapkan dagangannya, sebagian yang lain masih ngorok di antara dagangan tertutup plastik. Mereka sudah datang dan menjajakan dagangannya mulai kemarin sore dan akan mengkutnya lagi nanti pukul sembilan. Apa yang dapat dinikmati di Simpang Lima?

Semakin meninggalkan subuh, Simpang Lima semakin ramai, jadilah Simpang Lima penuh sesak. Orang-orang berdempet-dempetan mengelilingi lapangan. Ada banyak alasan minggu pagi ke Simpang Lima. Setiap orang memiliki alasan masing-masing. Keluarga muda yang memiliki anak kecil bisa mengajak anaknya mengelilingi Semarang mengunakan andong. Remaja naik motor mengelilingi lapangan, remaji yang diboncengkan memeluk dari belakang. Setelah puas berputar-puutar, mereka parkirkan motor ikut rombongan tawaf mengelilingi lapangan sambil melihat-lihat barang-barang yang dijajakan. Sesekali menawar, dari kaset bekas, VCD bajakan, mainan, sampai meja dan keranjang pakaian kotor ada di sana.

Bagi orang sepertiku, yang belum masuk golongan keluarga dan tidak lagi dapat dikatakan remaja, kenikmatan yang dapat aku raih adalah memperhatikan semuanya. Aku suka mencari buku-buku bekas, majalah bekas. Ada juga buku-buku yang sedang laris manis karya Andrea Hirata dan Kang Abik. Dijamin harganya terjangkau, tentu karena bajakan. Yang ingin menikmati buku itu tapi eman-eman modal, beli saja di Simpang Lima. Sedikit tawar menawar, ‘Kena deh’…

Keasyikanku adalah memperhatikan semuanya. Memperhatikan para pedagang menata barang dagangannya. Memperhatikan penjual dan pembeli tawar menawar, keluarga bahagia menumpang andong dengan anak-anaknya.

Dari sekian banyak hal yang menarik perhatian, rupanya harus aku akui celana yang paling menarik perhatianku. Bukan celana yang dipajang para pedagang, bukan pula celana dalam yang dijajakan dengan harga sepuluh ribu tiga, tapi celana-celana pendek yang berjalan bersama pemakainya. Celana pendek ini demikian indah membalut paha-paha gadis dan gadis plus, maksudnya gadis dengan umur plus. Mereka asyik saja melenggang tanpa risih. Aku yakin tidak hanya aku yang mencuri-curi pandang. Aku juga yakin si pemilik paha juga sadar pahanya jadi santapan para mata.

Pacar lelaki yang menggandengnya apakah tidak cemburu? Ibu yang menggandeng gadis pemakai celana apakah tidak risih anaknya dinikmati secara gratis? Kalau aku yang punya pacar pemakai celana begitu, aku cemburu. Tapi pada kenyataannya pacar mereka cuek aja, paha pacar mereka dipelototi banyak orang, atau malah bangga. Atau mereka memiliki pikiran memperlihatkan paha sebagian dari shodaqoh.

Pakean dikenakan atas dasar keindahan. Orang-orang dulu bilang, ‘ajining rogo ono ing busono’. Mungkin mereka beranggapan tubuhnya akan bernilai tinggi jika memakai celana pendek yang memperlihatkan paha bagian atas.

Bagian paha yang sekarang diperlihatkan itu dulu adalah bagian yang diintip-intip. Bagian yang paling ingin dilihat. Kenapa diintip-intip? Karena bagian ini adalah bagian yang memiliki magnet. Berhubung muka, tumit, rambut, kaki sudah tidak menarik lagi, maka paha dibuka sebagai senjata pamungkas. Saya membayangkan kalau paha juga sudah kehilangan daya tariknya, maka beberapa tahun yang akan datang akan kita saksikan di Simpang Lima terlihat gadis-gadis hanya memakai celana dalam. Jika bagian itu sudah kehilangan daya tarik, maka, jangan diteruskan.

Kalau orang-orang sudah tidak mau berpakaian, ini berbahaya. Stabilitas nasional akan terganggu. Ekonomi macet. Pabrik kain dan garmen tutup, butik, toko kain, dan toko pakaian tutup. Jutaan buruh dan karyawan kena PHK. Macetlah roda pemerintahan, lapangan kerja masih terbatas masih lagi ditambah PHK.

Maka untuk menghindari itu semua dibuatlah Undang-undang harus pakai baju, UU harus menutup seluruh anggota badan.

Terjadi pro-kontra tentang Undang-undang baju ini, untuk sementara yang menang adalah yang pro. Yang pro berdalih tubuh harus ditutup karena mengakibatkan tindak kriminal di mana-mana, membuka-buka tubuh bukanlah budaya kita. Mereka memprakarsa pembuatan Undang-undang sebagai cara cepat menutup tubuh-tubuh menjelang bugil di Simpang Lima. Cepat dan instant adalah teman dekat, terlalu banyak makan mi instant tidak baik untuk kesehatan. Demikian juga dengan menutup tubuh remaja-remaji secara instant juga tidak baik untuk kesehatan Negara.

Baju adalah produk kebudayaan, selayaknya dijawab dengan pendekatan kebudayaan. Mengatasi masalah tanpa kekerasan. Sampai ketemu lagi di Simpang Lima.

 

Muhajir Arrosyid – Penulis Cerita Pendek dari Demak