Arsip untuk September, 2009

TAK ADA MENU GENGSI DI KUCINGAN

September 30, 2009

Saat itu sekitar pukul 7 malam. Aku menjemput suamiku yang sedang pulang dari acara pelatihan. Tempatnya di gedung BLPT, sekitar kawasan Brotojoyo, Semarang. Ku jemput ia menggunakan sepeda motor Grand Astrea hijau tahun 1997.

Pelan, sepeda motor kami melaju melewati jalan kota. Kami berusaha menikmati suasana malam yang berangin. Dari Brotojoyo, kami lewati kawasan Johar, Tlogosari, dan Arteri untuk kembali ke rumah, Karangawen. Sengaja kami berputar-putar ke kawasan kota terlebih dahulu karena malam menawarkan hawa yang sejuk.

Di sepanjang jalan kota itu berjajar berbagai restoran mewah menyajikan menu-menu masakan ala luar negeri. Ada masakan ala Jepang, Korea, dan Western. Restoran-restoran itu tertata mewah dan cantik. Dari luar nampak warna-warni lampu menghiasi beranda restoran.

Di beranda restoran Korea terpasang lampu-lampu lampion dengan warna merah menyala. Di depan restoran Jepang, tampak gambar perempuan Jepang berkimono mengangkat nampan berisi masakan Jepang. Bagian depan resto lainnya dihiasi berbagai macam ornamen cantik dan menarik. Desain interior bangunannya ditata sebegitu apiknya untuk menarik para pelanggan mencicipi masakan di dalamnya. Sangat beda sekali dengan warung makan pinggir jalan seperti angkringan kucingan. Yang hanya diterangi lampu 5 watt, yang nyalanya kriyip-kriyip. Tidak ada desain interior yang mencolok gimanaaa gitu. Semuanya biasa saja.

Pada halaman restoran Jepang itu tampak sepi. Hanya ada 2 mobil yang terparkir. Di beranda resto terlihat baby sitter menyuapi anak majikan. Tak ada aktifitas keramaian layaknya tempat makan. Ramai oleh pelanggan yang minta menu ini itu misalnya. Tenang-tenang saja. Sepi saja.

Mungkin pemilik restoran sengaja membikinnya begitu. Menjual sepi. Jadi yang berkunjung ke resto itu orang-orang yang ingin kesepian. Atau bisa jadi orang-orang yang ingin mengeksklusifkan diri. Eksklusif berarti membeli sesuatu yang tidak semua orang bisa memiliki, tidak bisa membeli. Eksklusif di restoran artinya bisa membayar dengan harga mahal dan orang lain tidak bisa membayarnya selayaknya kemampuan dia.

Lalu aku buka obrolan dengan suamiku yang sedang mengendarai motor di depan.

“Ada ya, orang yang bersedia beli masakan di resto itu? Padahal sepengetahuanku, harga masakan-masakan itu sangat mahal. Porsinya kecil. Beda di kucingan atau penyetan. Dengan uang 10.000 kita bisa makan dengan kenyang.”

“Tentu ada, ” jawabnya.

“Siapa?“

“Ya…restoran-restoran itu menyediakan orang-orang kaya. Kalau kita mana mau? mana mampu?”

“Kenapa harus ke situ? Kan masih banyak tempat makan yang murah dan enak? Penyetan misalnya,” (yang ini tempat makan favorit saya hehehe).

“Hoeh…kamu ini lugu amat. Mereka, yang bermobil, mana mau ke kucingan? Gengsi to ya?”

Hmmmm…jadi permasalahannya gengsi. Ya, sekarang aku tahu. Restoran-restoran itu penuh dengan menu gengsi. Ada shabu-shabu gengsi, yakiniku gengsi, spaghetti gengsi, fried chicken gengsi, pizza gengsi. Dan aku tahu. Kata gengsi itu yang menarik mereka untuk datang ke restoran itu.

Jangan dibikin pikiran setelah baca obrolan kami ini. Bisa jadi obrolan ini hanya sekedar luapan protes karena tidak mampu mencicipi masakan-masakan eksklusif itu. Lha protes sama siapa? Protes sama Tuhan? Rasanya tidak fair. Wong kami juga tidak pernah meminta sama Tuhan agar dapat makan di restoran itu.

Atau protes sama orang-orang kaya yang suka makan di restoran itu? Rasanya lebih tidak fair lagi. Wong mereka cari duit sendiri untuk beli masakan mahal itu. Dan kami juga tidak pernah direpoti untuk dapat menghasilkan uang untuk mereka.

Atau protes kepada orang miskin saja yang selalu menjadi pembanding orang-orang kaya. Yang selalu dipersalahkan atas kemalasannya mencari uang lalu mereka jadi miskin dan tidak mampu membeli masakan mahal itu?

Atau bisa jadi selama ini kami tidak makan di restoran itu  karena memang menahan diri untuk tidak memakirkan motor jelek kami ke restoran itu. Menahan diri untuk tidak membikin cemburu saudara-saudara kami yang tidak mampu makan di restoran itu. Bertahan menikmati makan di kucingan dan penyetan yang tidak ada menu gengsinya. (Tri Umi Sumartyarini)

Semarang-Demak, Akhir Ramadhan 1430 H

angkring1

OBROLAN TENTANG TETANGGA

September 6, 2009

Muhajir Arrosyid

muhajirar_rosyid@yahoo.co.id, www.wartademak.wordpress.com, www.tunu.wordpress.com

(Demak – Jum’at 04 September 2009) Sahabat sekalian, mari ngobrol tentang tetangga di pagi ini. Meskipun berita tetang keusilan tetangga kita sudah sedikit redup terkalahkan dengan kabar perceraian Anang dan Krisdayanti, dan tambah tenggelam karena terkejutnya kita dengan gempa.

Memang, kadang kita mendapat kabar, memberi kabar, dan kadang menjadi kabar. Mungkin sahabat kita di Tasik baru saja mendapat kabar tentang tetangga kita yang rese’, beberapa menit kemudian mereka gentian menjadi  kabar.

Apasih arti kata tetangga? Berasal dari bahasa apa kata tetangga itu? Terus terang saya tidak tahu sahabat sekalian, dan belum sempat mencari tahu, maka jika di antara sehabat sekalian ada yang tahu, beritahu saya. Karena ini hanya ngobrol maka sah-sah saja mengartikan ‘tetangga’ dengan pengetahuan kita sendiri.

Tetangga sepanjang yang saya ketahui adalah keluarga yang rumahnya berdekatan dengan rumah kita. Bebarengan dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan berkembang pula makna dari istilah tetangga. Sekarang kita mengenal tetangga facebook, tetangga blog, tetangga kantor, dan Negara tetangga.

Kata Pak Kyai, kita harus berbaik-baik dengan tetangga karena merekalah yang akan membantu kita jika kita tertimpa musibah.  Ternyata sahabat sekalian, karakter para tetangga kita itu berbeda-beda. Ada yang baik, ada yang aneh, ada yang suka jail, ada yang suka pinjam tidak dikembalikan, ada yang suka mengambil barang kita tanpa bilang-bilang, dan ada yang meng-klaim milik kita sebagai miliknya. Termasuk tetangga di facebook dan blog, ada saja yang usil di dinding kita, kadang juga ada yang mengambil foto, tulisan tanpa izin, bahkan ada yang memasang lagi dengan hanya mengubah ini-itu dan menyertakan namanya. Demikian pula tetangga desa, dan Negara tetangga, seringkali ada yang jail dan menjengkelkan.

Berikut adalah kisah seoarang tetangga. Dulu dia dnompleng di rumah kita. Di kamar depan ia membaringkan anak-anaknya. Sekarang rumahnya sudah lebih bagus dari rumah kita. Lantainya kramik, dindingnya tembok kokoh. Di dalam rumahnya terdapat mebel-mebel mahal. Tiga motor keluaran terbaru diparkir di emper rumah, sepeda motor untuk ketiga anaknya.

Tetangga kita itu sekarang sudah kaya. Lebih kaya dari kita. Orang kaya memang tidak dosa. Dan menerima, mengakui orang lain lebih sukses memanglah bukan perkara mudah. Sikap iri memang dilarang agama, tetapi mencari-cari keburukan orang lain seringkali hadir tanpa sengaja.

Tetangga kita itu memang rajin. Baginya tidak ada hari Minggu. Dia bekerja berangkat pagi pulang malam. Apa yang di‘iri’kan jika memang dia lebih rajin? Bukankah kita dari dulu tahu rajin pangkal kaya?

Sebenarnya dia kaya tidak ada apa. Tetapi kekayaan harusnya tidak dilanjutkan dengan perubahan sikap. Dulu dia jika berjalan menunduk, jika berbahasa mengunakan bahasa halus. Sekarang setelah dia agak kaya tersenyumpun dia sering lupa.

Kekayaan itu dekat dengan kesombongan, sudah kewajaran. Seringkali orang ingin kaya karena agar bisa sombong, bisa pamer. Maka jika ingin menjadi orang yang tidak sombong saya anjurkan untuk tidak usah kaya.

Rajin pangkal kaya, kaya pangkal sombong. Maka jangan rajin jika tidak ingin menjadi orang sombong. Maka mumpung masih miskin mari niatkan hati sejak dini. Saya rajin bekerja, tetapi nanti jika sudah kaya saya tidak akan sombong.

Tidak berhenti sampai di situ. Karena sekarang dia merasa lebih kaya, selanjutnya dia merasa lebih terhormat dan menghina-hina kita. Dia koar-koar kepada khalayak bahwa baju yang kita pakai adalah pemberiannya, karena kebaikan hatinya. Dia koar-koar bahwa sepeda yang kita kendarai adalah sepedanya. Kuarangajar.

Semoga Anda tidak menjadi tetangga yang demikian. Semoga sahabat sekalian masuk dalam golongan tetangga yang baik, yang dicintai tetangga, dan tetangga yang tidak menyakiti hati tetangganya.

Bagaimana cara menghadapi tetangga yang demikan menjengkelkan? Kita boleh marah-marah, mengutuk-ngutuk tetapi jangan berlebihan, karena kemungkinan reaksi marah itu yang dia harapkan. Kita mengumpat-umpat, mengutuk-ngutuk tetapi mereka tertawa melihat tingkah polah kita.

Apa reaksi yang paling tepat? Kita harus bekerja keras untuk segera lebih kaya. Lebih sukses. Saya yakin jika dia butuh hutangan dari kita maka tidak akan lama lagi dia akan kembali menunduk-nunduk. Memang mentalnya demikian, tidak percaya? Mari kita buktikan.