Arsip untuk Oktober, 2009

PEREMPUAN PEREMPUAN DALAM PURI

Oktober 31, 2009

Judul: Rara Mendut, Sebuah Trilogi
Nama: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Gramedia
Halaman: 799
Tahun Terbit: 2008

raraSeorang perempuan kulit sawo matang duduk berjongkok dengan dua kaki njinjit. Ia berjarik batik dan berkemben, terpancar gairah kehidupan pada dada mudanya. Satu tangannya terletak pada paha, satu tangan yang lain memegang rokok gulungan klobot, asap mengepul dari mulutnya. Di belakang perempuan itu para lelaki melarikan kuda pada satu arah, tangan mereka mengayun senjata.
Berikut tadi adalah gambar yang tertera dalam sampul novel Rara Mendut, Sebuah Trilogi karya Y.B Mangunwijaya, seorang sastrawan, pastor, sekaligus akademisi kelahiran Ambarawa. Sebelum di bukukan novel sejarah zaman Sultan Agung ini (abad XVII) telah diterbitkan oleh Kompas sebagai cerita bersambung pada tahun 1982. Pada tahun 1983 novel ini divisualisasikan dalam film.
Perempuan dalam puri
Rara Mendut adalah gadis desa di kampung nelayan Telukcikal. Dia adalah anak seorang janda dengan tujuh saudara. Rara Mendut kecil adalah bocah pengembara. Dia seriangkali ikut bapak angkatnya melaut. Satu masa nasib berkata lain, Rara Mendut yang biasa bebas lepas memandang laut harus masuk dalam kaputren Kadipaten Pati, menjadi selir Adipati Pragola, Sang Waringin Pengayum seluruh Siti Ageng.
“ Lho kok panjenegan tahu tentang Mendutku ini?” Tanya ibu angkat Mendut karena sebenarnya tidak rela anak angkatnya dijemput.
Dan pengawal-pengawal itu bilang; “Keindahan selalu bersinar dalam matahari dan bulan, kecantikan selalu diwartakan angin dan awan-awan.
Saat Rara Mendut sedang di boyong ke kaputren kadipaten Pati, Pati sedang mendapat serangan dari Mataram. Bantuan tentara yang dijanjikan Tuban dan Surabaya tidak kunjung datang, sehingga pasukan Mataram yang dipimpin langsung oleh panglima besarnya Wiraguna mengamuk, meremukkan pagar-pagar dinding istana. Kepala Adipati Pragola dipenggal sebagai bukti penaklukan.
Rara Mendut melawan. Prajurit-prajurit kesulitan menangkap Rara Mendut, dan Wiraguna sendiri harus turun tangan. Rara Mendut, Genduk Duku, rewang kecilnya, Ni Semangka, embannya dan perempuan-perempuan lain diboyong menuju Mataram. Kecuali Permaisuri Pati, ia memilih menghujamkan keris tepat di ulu hati.
Oleh Raja Mataram, Rara Mendut dihadiahkan kepada Wiraguna, nasib Rara Mendut selanjutnya terkurung dalam kaputren Wiragunan. Novel ini adalah novel tentang perang dan kekuasaan Raja-raja Jawa dengan sudut pandang perempuan. Maka tak mengherankan jika gambran tentang kaputren cukup dominan. Rara Mendut di Kaputren Pati, Wiragunan, Genduk Duku di puri Pahitmadu, dan Lusi Lindri dalam puri Singoranu, puri Purbayan.

Perempuan-perempuan yang berbeda
Tradisi poligami dalam masyarakat priyayi Jawa juga tergambar dalam novel ini. Di kalangan atasan aristokrasi lama sistem poligami masih cukup kuat. Seperti dikemukaan oleh Sartono Kartodirjo dkk. (1987), di samping isteri pertama (garwa padmi) priyayi Jawa kemudian secara berturut-turut mengambil beberapa garwa ampil (selir, ampeyan). Ada kalanya perkawinan-perkawinan yang berikut dimaksud untuk menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh daerah, maka diambilnya anak lurah, pemuka Samin, putri seorang kyai, pemuka agama, dan lain sebagainya. Dengan demikian terbentuk jaringan hubungan yang lebih merakyat serta strategis untuk meluaskan pengaruh di kalangan luar priyayi. Selain itu masuklah darah baru ke dalam golongan priyayi.
Masyarakat priyayi pada umumnya bersifat patriarkhal dengan menonjolkan peranan dominan kaum pria, sedang kaum wanita memperoleh kedudukan serta peranan yang tidak terlalu (kurang) terkemuka. Pada hakekatnya dalam masyarakat patriarkhal dominasi pria meliputi pelbagai aspek kehidupan, antara lain bidang bio-sosial, politik, sosio-kultural, religius, Dalam lingkungan keluarga pria menjadi kepala keluarga mempunyai kekuasaan sebagai pemberi keputusan, sebagai pencari nafkah; jabatannya menentukan status keluarga, penentu garis keturunan, pemimpin kerabat. Tambahan pula, peranan seksualitas dominan dengan adanya lembaga poligami. Oleh karena itu sebagai model ditegaskan sifat-sifat otoriter, kejantanan fisik, (kuat dan trampil), dinamis dan aktif. Pihak pria dengan demikian lebih banyak berkomunikasi ke luar, bertindak bertanggungjawab, dan produktif.
Gambaran tradisi priyayi di atas juga lekat dalam novel ini. Namun, Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri ditampilkan berbeda dari perempuan-perempuan yang lain. Mereka hadir sebagai perempuan tangguh walaupun akhirnya bernasib nestapa. Rara Mendut adalah perempuan yang tidak betah di dalam kaputren, sebuah tempat yang digambarkan indah, serba ada, pemandian dengan air jernih melimpah, sebuah tempat yang menjadi impian kebanyakan perempuan. Rara Mendut lebih senang memandang laut luas, pandangannya lepas, bebas. Hal yang mengejutkan adalah sikapnya yang menolak dengan gigih lamaran Sang Panglima besar Wiraguna. Ia menolak menjadi selir, hal yang juga menjadi impian perempuan kebanyakan pada saat itu. Wiraguna yang biasanya mudah mendapatkan perempuan merasa tertantang, dia semakian kepencut gadis liar dari pantai ini.
Waraguna ingin menakhlukan Rara Mendut tidak dengan paksaan yang kasar. Segala upaya dipatahkan oleh gadis ingusan ini. Sampai akhirnya Wiraguna tidak dapat menahan amarah setelah diketahuinya, Rara Mendut melarikan diri dari puri dengan pemuda belahan hatinya, Pranacitra, pemuda anak saudagar kapal dari Pekalongan.
Berhari-hari Wiraguna mencari Rara Mendut dan Pranacitra hingga pada suatu hari dia menemukannya di dekat muara Sungai Oya-Opak. Pranacitra memilih menghadapi Wiraguna. Pranacitra berkata pada kekasihnya “Saat ini, Adikku Mendut, Pranacitra tidak punya pilihan lain. Melawan artinya masih punya harapan hidup. Itulah, Adikku, salah satu cara juga membela kehidupan”.
Wiraguna mengamuk penuh nafsu menikamkan kerisnya ke arah dada Pranacitra. Mendut maju spontan bermaksud membela kekasih-nya. Tanpa sengaja keris Wiraguna menusuk jantung Mendut di atas kekasihnya.
Sebuah gelombang besar dari laut merenggut kedua kekasih bermandikan darah saling merangkul itu.
Genduk Duku pergi menuju Pekalongan, mengabarkan warta tentang kisah Pranacitra dan kekasihnya kepada sang Ibu. Setelah dari Pekalongon Genduk Duku hendak ke Telukcikal mengabarkan nasib Rara Mendut kepada orangtua kandung dan angkatnya. Oleh ibu Pranacitra Genduk Duku dititipkan pada nelayan Telukcikal yang kemudian menjadi suaminya, namanya Slamet.
Nasib membawa Duku dan Slamet kembali lagi ke Mataram. Saat mereka mampir di puri Pahitmadu, kakak perempuan Wiraguna yang menolongnya saat melarikan diri dari puri Wiragunan, seorang bocah yang ternyata pangeran calon pemangku tahta menginginkannya. Perlu strategi untuk menolak seorang pangeran pemilik kekuasaan. Pada malam-malam saat pangeran yang sebenarnya masih bocah itu menemuinya dan mengajaknya tidur bersama, di seretnya pangeran itu menunggang kuda berdua. Dan pangeran terperanjat karena ternyata masuk diarea pekuburan.
Nasib yang tidak kalah mimilukan dialami oleh Tejurukmi. Dia adalah gadis yang menjadi rebutan antara si tua Wiraguna dan Si bocah putra mahkota pangeran Jibus. Jibus mencuri Tejarukmi dari puri Wiragunan. Ada yang lapor pada raja sehingga Pangeran Jibus terkena marah. Dia diusir oleh bapaknya untuk sementara waktu. Setelah habis masa hukuman Jibus mengembalikan Tejarukmi kepada Wiraguna selayak mayat. Tejarukmi didandani seperti mayat, dan diantarkan seperti mengantarkan mayat. Melihat Tejarukmi yang dikembalikan dengan cara demikian, Sang Tumenggung marah, kewibawaannya sebagai panglima perang terkoyak. Dia hunus keris dan dia hujamkan di dada Tejarukmi. Sungguh pilu nasib perempuan disarang priyayi Jawa (Muhajir Arrosyid)

LENGAN BENGKOK SUM DARI RANTAU

Oktober 16, 2009

DSC_0850 copy

Ini adalah kali kedua kami menyaksikan pementasan Teater Garasi. Kali pertama dulu kami saksikan di Gedung Wanita Kabupaten Jepara dengan naskah Waktu Batu.  Kali ini (13/10) pukul 18.00 WIB, Teater Garasi yang bekerjasama dengan Yayasan TIFA, Rumah Seni Yaitu, dan LRC-KJHAM mengangkat naskah karya Andri Nur Latif yang berjudul “Sum; Cerita dari Rantau” (SCDR)

            SCDR bercerita tentang nasib Sum, Ning, Supi, dan Par Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negeri perantauan. Dalam pementasan monolog itu, tokoh-tokoh tersebut dipentaskan oleh B. Verry Handayani. Cerita dimulai dengan suara musik dangdut dari radio di pojok ruangan. Di panggung terdapat satu bale dan satu meja dan dua kursi. Di balakang meja kursi itu terpampang foto-foto para TKW; ada yang sedang tersenyum, ada yang sedang tertunduk,  TKW yang sedang menunggu travel di bandara, dan TKW yang sedang dilatih bahasa.

            Seorang perempuan duduk di atas bale. Namanya Sum. Ia mendapat panggilan untuk menjadi TKW di Arab. Sum bergembira atas kabar tersebut. Pergi menjadi TKW adalah impiannya. Katanya di rumah tidak ada pekerjaan untuk lulusan SMA sepertinya. Mau bekerja di pabrik, Sum harus menyediakan sejumlah uang hanya untuk ”menyogok” agar menjadi buruh.  Padahal upah yang didapat per bulan hanya 700 ribu rupiah.

Kegembiraan juga dirasakan oleh keluarga Sum saat ia akan berangkat ke Arab untuk menjadi pembantu rumah tangga. Ibunya berkata, “Orang Arab itu agamanya Islam toh? Wah tentu mereka baik-baik.”  Ibu Sum lega setelah mendengar Sum akan pergi ke Arab. Dalam benaknya orang Arab itu memiliki agama yang sama dengan Sum, jadi mereka tidak akan berbuat jahat dan Sum akan aman di negeri itu. Kepergian Sum ke Arab itu atas dorongan keluarga. “Mumpung masih muda Sum, dan belum menikah mending ke luar negeri, mencari uang banyak, itung-itung untuk modal,” kata Pak Lik-nya.   

            Akhirnya dia masuk tempat pelatihan sebelum diberangkatkan ke Arab. Di pelatihan dia mendapatkan pelajaran Bahasa Arab sederhana.

            Sesampai di perantauan, keadaan Sum tidak seperti yang ia bayangkan. Di Arab, ia mendapat majikan yang suka memukul. Bahkan pada suatu malam, Sum hampir diperkosa oleh majikan lelakinya. Ia datang ke kamar dan menyelipkan uang ke bawah pintu. Saat iu Sum takut skali, ia tahu majikannya itu akan berbuat jahat. Ketika majikannya berhasil membuka pintu kamar, Sum menyerahkan kembali uang itu. Sum tidak sudi menerima uang dari majikannya itu. Tubuhnya menggigil ketakutan. Ia dekap erat-erat Al-Quran agar majikannya tidak berani mendekat dan memperkosanya.

DSC_0853 copyMalam-malam berikutnya Sum tidur dengan mendekap Al-Quran. Karena tidak berhasil memperkosa, Sum selalu menjadi bulan-bulanan kekecewaan majikannya itu. Ia sering dimarahi majikannya karena kesalahan-kesalahan kecil. Puncak dari kekecewaan majikannya, Sum dipukul habis-habisan hingga lengan kanannya bengkok. Sum akhirnya pualng ke Indonesia dengan membawa lengan kanannya yang bengkok itu.

Cerita lain tentang TKW di Malaysia. Par, pandai menari dan pernah disuruh menari di forum-forum terhormat, disaksikan para pejabat-pejabat kedubes Indonesia yang ada di Malaysia. Nasib Par sedikit lebih beruntung dari pada Sum.  Par dipenjara selama 2 bulan karena ternyata berkas-berkas yang membawanya ke Malaysia palsu. Di penjara, ia menyaksikan narapidana Indonesia diperlakukan lebih kejam daripada narapidana negara lain. Di penjara, mereka dipanggil Indon.

            Penderitaan TKW tidak hanya sampai di situ. Pulang ke Indonesia penganiayaan terhadap mereka juga dialami lagi. Pemerasan oleh aparat tingkat atas sampai sopir jasa travel yang mengantarkan sampai rumah juga terjadi.

DSC_0868 copyBandara adalah ladang empuk bagi ”calo-calo” berseragam. Terminal 3 adalah tempat pemerasan TKW-TKW yang baru datang dari rantau. Biaya administrasi, wartel  sampai jasa travel menjadi alasan para calo-calo itu untuk memeras para TKW. Padahal di pintu gerbang, sambutan spanduk ucapan “Selamat Datang Pahlwan Devisa Negara” terpampang untuk menyambut mereka. Namun ternyata tulisan itu tidak mencerminkan pelayanan bandara di dalam. Di tempat administrasi membayar 150 ribu, menelepon di wartel 5 menit 150.000, dan jasa travel 150 ribu. Pokoknya serba 150 ribu dengan pelaanan yang  ala kadarnya dan tidak jelas itu. Menrut kabar yang beredar, terminal 4 juga akan dibangun untuk ’menyambut’ para TKW sepulang dari luar negeri. Entah untuk tujuan apa terminal 4 itu belum jelas kabarnya. Semoga saja terminal 4 dibangun bukan untuk menjadi tempat pemerasan yang lebih panjang. Oh, TKW nasibmu.

Sayangnya ketika kami menonton acara ini kami hanya duduk bersama sebagian besar pegiat teater lainnya dan mahasiswa. Kami membayangkan seandainya pementasan ini  ditonton oleh presiden, aparat, dan oleh masyarakat luas. Tentu mereka akan mendapat pelajaran berharga merasakan betapa perihnya nasib para TKW di luar negeri.

Dengan begitu Pak Presiden akan semakin memperhatikan nasib TKW dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada para TKW. Untuk para aparat tentunya mereka akan sadar selama ini telah salah memperlakukan para TKW. Dan kepada para masyarakat akan semakin sadar bahwa bekerja di luar negeri itu tidak selamanya indah dan bergelimang harta. Bekerja ke luar negeri juga menawarkan kepedihan seperti yang dialami Sum. Seandainya mereka memang ingin bekerja di luar negeri seharusnya mereka membekali dirinya dengan pendidikan dan  kemampuan memadai sehingga derajat dan haknya tidak diinjak-injak. (Muhajir Arrosyid dan Tri Umi Sumartyarini)