Arsip untuk ‘Berita’ Kategori

SAKSI YANG BAIK HATI

November 12, 2009

becakSepuluh orang yang masuk daftar orang berjasa dalam hidupku salah satunya adalah tukang becak. Setiap kali aku bebepergian di mana saja. Aku selalu saja ngerpoti bapak tukang becak. Sebenarnya tidak enak juga, tetapi selalu saja mereka menjawab dengan senang hati dengan senyum yang ramah, dengan bahasa yang halus, “Oh jalan kepodang? Sampean lurus saja terus, setelah perempatan ke dua ada rambu-rambu lalulintas bangjo ke kanan sekitar seratus meter.” Selama hudup saya mungkin lebih dari seratus kali meminta bantuan tukang becak. Betapa baiknya bapak tukang becak, belum pernah sekalipun menolak permohonanku dan belum pernah sekalipun berbohong menunjukkan jalan yang salah.

Tidak hanya itu kebaikan bapak tukang becak terhadap hidupku. Suatu kali aku menyabrang di jalan raya depan RS. Pantiwiloso Citarum Semarang. Siang hari sekitar pukul 14.00.WIB. jalanan ramai. Aku harus ekstra hati-hati. Saat lengang aku menyebrang. Tidak disangka-sangka sebuah motor menyenggol bagian belakang motorku. Untung aku dan orang yang menyenggol tidak sampai jatuh. Aku melanjutkan menyabrang dan memeriksa motor, tidak ada bagian yang lecet. Aku lihat orang yang menyenggol motorku juga tidak apa-apa, hanya sandalnya yang terjatuh. Sebenarnya aku bisa saja langsung menjalankan motor.

Bapak tukang becak yang nagkring di pinggir jalan berkata padaku berkata, “ Di hadapi saja Mas, sampean tidak salah, nanti tak bela.

Aku menunggu di sebrang jalan. Sama sekali aku tidak takut. Badannya tidak besar, masih setara denganku. Aku lirik jenis motornya juga masih setara dengan motorlu.

Ia mengomel-ngomel. Setelah benar-benar dekat ia menyorongkan dadanya ke dadaku. Aku geli melihatnya. Ia menantangku berkelahi. Aku meredanya dan menanyakan apa maksudnya dengan baik-baik. Ia meminta ganti rugi. Saya tanyakan lagi ganti rugi atas apa? Motor saja masih berdiri baik tidak kurang suatu apa. Sandalnya yang jatuh juga masih dapat dipakai. Ia mengatakan kakinya pegel. Geli juga tetapi sungguh aku tahan untuk tidak tertawa. Takut menyinggung perasaannya.

Dan bapak tukang becak teriak, “Kamu salah malah meminta ganti rugi, tahu ada orang menyebrang ya motornya dikurangi kecepatannya.” Bapak tukang becak menyalahkan si penyenggol dengan bahasa Jawa.

Sang penyenggol berteriak, “Jangan ikut campur”. Seorang bapak tukang becak yang lain mendekat pada saya dan bilang “Mas, ke pos polisi saja, saya mau jadi saksi. Sampean yang benar.”

Sang penyenggol menyatakan bahwa dia membawa surat-surat kendaraan dan surat izin mengemudi lengkap. Ia menanyakan kepadaku apakah surat-suratku lengkap. Aku jawab lengkap. Setelah itu dia mengajak berdamai dan mengajakku bersalaman. Akupun mengajak bersalaman bapak tukang becak sambil mengucapkan terimakasih. (Muhajir Arrosyid)

 

LENGAN BENGKOK SUM DARI RANTAU

Oktober 16, 2009

DSC_0850 copy

Ini adalah kali kedua kami menyaksikan pementasan Teater Garasi. Kali pertama dulu kami saksikan di Gedung Wanita Kabupaten Jepara dengan naskah Waktu Batu.  Kali ini (13/10) pukul 18.00 WIB, Teater Garasi yang bekerjasama dengan Yayasan TIFA, Rumah Seni Yaitu, dan LRC-KJHAM mengangkat naskah karya Andri Nur Latif yang berjudul “Sum; Cerita dari Rantau” (SCDR)

            SCDR bercerita tentang nasib Sum, Ning, Supi, dan Par Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negeri perantauan. Dalam pementasan monolog itu, tokoh-tokoh tersebut dipentaskan oleh B. Verry Handayani. Cerita dimulai dengan suara musik dangdut dari radio di pojok ruangan. Di panggung terdapat satu bale dan satu meja dan dua kursi. Di balakang meja kursi itu terpampang foto-foto para TKW; ada yang sedang tersenyum, ada yang sedang tertunduk,  TKW yang sedang menunggu travel di bandara, dan TKW yang sedang dilatih bahasa.

            Seorang perempuan duduk di atas bale. Namanya Sum. Ia mendapat panggilan untuk menjadi TKW di Arab. Sum bergembira atas kabar tersebut. Pergi menjadi TKW adalah impiannya. Katanya di rumah tidak ada pekerjaan untuk lulusan SMA sepertinya. Mau bekerja di pabrik, Sum harus menyediakan sejumlah uang hanya untuk ”menyogok” agar menjadi buruh.  Padahal upah yang didapat per bulan hanya 700 ribu rupiah.

Kegembiraan juga dirasakan oleh keluarga Sum saat ia akan berangkat ke Arab untuk menjadi pembantu rumah tangga. Ibunya berkata, “Orang Arab itu agamanya Islam toh? Wah tentu mereka baik-baik.”  Ibu Sum lega setelah mendengar Sum akan pergi ke Arab. Dalam benaknya orang Arab itu memiliki agama yang sama dengan Sum, jadi mereka tidak akan berbuat jahat dan Sum akan aman di negeri itu. Kepergian Sum ke Arab itu atas dorongan keluarga. “Mumpung masih muda Sum, dan belum menikah mending ke luar negeri, mencari uang banyak, itung-itung untuk modal,” kata Pak Lik-nya.   

            Akhirnya dia masuk tempat pelatihan sebelum diberangkatkan ke Arab. Di pelatihan dia mendapatkan pelajaran Bahasa Arab sederhana.

            Sesampai di perantauan, keadaan Sum tidak seperti yang ia bayangkan. Di Arab, ia mendapat majikan yang suka memukul. Bahkan pada suatu malam, Sum hampir diperkosa oleh majikan lelakinya. Ia datang ke kamar dan menyelipkan uang ke bawah pintu. Saat iu Sum takut skali, ia tahu majikannya itu akan berbuat jahat. Ketika majikannya berhasil membuka pintu kamar, Sum menyerahkan kembali uang itu. Sum tidak sudi menerima uang dari majikannya itu. Tubuhnya menggigil ketakutan. Ia dekap erat-erat Al-Quran agar majikannya tidak berani mendekat dan memperkosanya.

DSC_0853 copyMalam-malam berikutnya Sum tidur dengan mendekap Al-Quran. Karena tidak berhasil memperkosa, Sum selalu menjadi bulan-bulanan kekecewaan majikannya itu. Ia sering dimarahi majikannya karena kesalahan-kesalahan kecil. Puncak dari kekecewaan majikannya, Sum dipukul habis-habisan hingga lengan kanannya bengkok. Sum akhirnya pualng ke Indonesia dengan membawa lengan kanannya yang bengkok itu.

Cerita lain tentang TKW di Malaysia. Par, pandai menari dan pernah disuruh menari di forum-forum terhormat, disaksikan para pejabat-pejabat kedubes Indonesia yang ada di Malaysia. Nasib Par sedikit lebih beruntung dari pada Sum.  Par dipenjara selama 2 bulan karena ternyata berkas-berkas yang membawanya ke Malaysia palsu. Di penjara, ia menyaksikan narapidana Indonesia diperlakukan lebih kejam daripada narapidana negara lain. Di penjara, mereka dipanggil Indon.

            Penderitaan TKW tidak hanya sampai di situ. Pulang ke Indonesia penganiayaan terhadap mereka juga dialami lagi. Pemerasan oleh aparat tingkat atas sampai sopir jasa travel yang mengantarkan sampai rumah juga terjadi.

DSC_0868 copyBandara adalah ladang empuk bagi ”calo-calo” berseragam. Terminal 3 adalah tempat pemerasan TKW-TKW yang baru datang dari rantau. Biaya administrasi, wartel  sampai jasa travel menjadi alasan para calo-calo itu untuk memeras para TKW. Padahal di pintu gerbang, sambutan spanduk ucapan “Selamat Datang Pahlwan Devisa Negara” terpampang untuk menyambut mereka. Namun ternyata tulisan itu tidak mencerminkan pelayanan bandara di dalam. Di tempat administrasi membayar 150 ribu, menelepon di wartel 5 menit 150.000, dan jasa travel 150 ribu. Pokoknya serba 150 ribu dengan pelaanan yang  ala kadarnya dan tidak jelas itu. Menrut kabar yang beredar, terminal 4 juga akan dibangun untuk ’menyambut’ para TKW sepulang dari luar negeri. Entah untuk tujuan apa terminal 4 itu belum jelas kabarnya. Semoga saja terminal 4 dibangun bukan untuk menjadi tempat pemerasan yang lebih panjang. Oh, TKW nasibmu.

Sayangnya ketika kami menonton acara ini kami hanya duduk bersama sebagian besar pegiat teater lainnya dan mahasiswa. Kami membayangkan seandainya pementasan ini  ditonton oleh presiden, aparat, dan oleh masyarakat luas. Tentu mereka akan mendapat pelajaran berharga merasakan betapa perihnya nasib para TKW di luar negeri.

Dengan begitu Pak Presiden akan semakin memperhatikan nasib TKW dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada para TKW. Untuk para aparat tentunya mereka akan sadar selama ini telah salah memperlakukan para TKW. Dan kepada para masyarakat akan semakin sadar bahwa bekerja di luar negeri itu tidak selamanya indah dan bergelimang harta. Bekerja ke luar negeri juga menawarkan kepedihan seperti yang dialami Sum. Seandainya mereka memang ingin bekerja di luar negeri seharusnya mereka membekali dirinya dengan pendidikan dan  kemampuan memadai sehingga derajat dan haknya tidak diinjak-injak. (Muhajir Arrosyid dan Tri Umi Sumartyarini)