Sepuluh orang yang masuk daftar orang berjasa dalam hidupku salah satunya adalah tukang becak. Setiap kali aku bebepergian di mana saja. Aku selalu saja ngerpoti bapak tukang becak. Sebenarnya tidak enak juga, tetapi selalu saja mereka menjawab dengan senang hati dengan senyum yang ramah, dengan bahasa yang halus, “Oh jalan kepodang? Sampean lurus saja terus, setelah perempatan ke dua ada rambu-rambu lalulintas bangjo ke kanan sekitar seratus meter.” Selama hudup saya mungkin lebih dari seratus kali meminta bantuan tukang becak. Betapa baiknya bapak tukang becak, belum pernah sekalipun menolak permohonanku dan belum pernah sekalipun berbohong menunjukkan jalan yang salah.
Tidak hanya itu kebaikan bapak tukang becak terhadap hidupku. Suatu kali aku menyabrang di jalan raya depan RS. Pantiwiloso Citarum Semarang. Siang hari sekitar pukul 14.00.WIB. jalanan ramai. Aku harus ekstra hati-hati. Saat lengang aku menyebrang. Tidak disangka-sangka sebuah motor menyenggol bagian belakang motorku. Untung aku dan orang yang menyenggol tidak sampai jatuh. Aku melanjutkan menyabrang dan memeriksa motor, tidak ada bagian yang lecet. Aku lihat orang yang menyenggol motorku juga tidak apa-apa, hanya sandalnya yang terjatuh. Sebenarnya aku bisa saja langsung menjalankan motor.
Bapak tukang becak yang nagkring di pinggir jalan berkata padaku berkata, “ Di hadapi saja Mas, sampean tidak salah, nanti tak bela.
Aku menunggu di sebrang jalan. Sama sekali aku tidak takut. Badannya tidak besar, masih setara denganku. Aku lirik jenis motornya juga masih setara dengan motorlu.
Ia mengomel-ngomel. Setelah benar-benar dekat ia menyorongkan dadanya ke dadaku. Aku geli melihatnya. Ia menantangku berkelahi. Aku meredanya dan menanyakan apa maksudnya dengan baik-baik. Ia meminta ganti rugi. Saya tanyakan lagi ganti rugi atas apa? Motor saja masih berdiri baik tidak kurang suatu apa. Sandalnya yang jatuh juga masih dapat dipakai. Ia mengatakan kakinya pegel. Geli juga tetapi sungguh aku tahan untuk tidak tertawa. Takut menyinggung perasaannya.
Dan bapak tukang becak teriak, “Kamu salah malah meminta ganti rugi, tahu ada orang menyebrang ya motornya dikurangi kecepatannya.” Bapak tukang becak menyalahkan si penyenggol dengan bahasa Jawa.
Sang penyenggol berteriak, “Jangan ikut campur”. Seorang bapak tukang becak yang lain mendekat pada saya dan bilang “Mas, ke pos polisi saja, saya mau jadi saksi. Sampean yang benar.”
Sang penyenggol menyatakan bahwa dia membawa surat-surat kendaraan dan surat izin mengemudi lengkap. Ia menanyakan kepadaku apakah surat-suratku lengkap. Aku jawab lengkap. Setelah itu dia mengajak berdamai dan mengajakku bersalaman. Akupun mengajak bersalaman bapak tukang becak sambil mengucapkan terimakasih. (Muhajir Arrosyid)

Malam-malam berikutnya Sum tidur dengan mendekap Al-Quran. Karena tidak berhasil memperkosa, Sum selalu menjadi bulan-bulanan kekecewaan majikannya itu. Ia sering dimarahi majikannya karena kesalahan-kesalahan kecil. Puncak dari kekecewaan majikannya, Sum dipukul habis-habisan hingga lengan kanannya bengkok. Sum akhirnya pualng ke Indonesia dengan membawa lengan kanannya yang bengkok itu.
Bandara adalah ladang empuk bagi ”calo-calo” berseragam. Terminal 3 adalah tempat pemerasan TKW-TKW yang baru datang dari rantau. Biaya administrasi, wartel sampai jasa travel menjadi alasan para calo-calo itu untuk memeras para TKW. Padahal di pintu gerbang, sambutan spanduk ucapan “Selamat Datang Pahlwan Devisa Negara” terpampang untuk menyambut mereka. Namun ternyata tulisan itu tidak mencerminkan pelayanan bandara di dalam. Di tempat administrasi membayar 150 ribu, menelepon di wartel 5 menit 150.000, dan jasa travel 150 ribu. Pokoknya serba 150 ribu dengan pelaanan yang ala kadarnya dan tidak jelas itu. Menrut kabar yang beredar, terminal 4 juga akan dibangun untuk ’menyambut’ para TKW sepulang dari luar negeri. Entah untuk tujuan apa terminal 4 itu belum jelas kabarnya. Semoga saja terminal 4 dibangun bukan untuk menjadi tempat pemerasan yang lebih panjang. Oh, TKW nasibmu.