Arsip untuk ‘buku harian’ Kategori

BENALU DI POHON INDONESIA

November 5, 2009

benalu-belimbing copyBaru musim ini aku beli buah mangga. Hal itu karena dua pohon mangga di depan rumahku tidak berbuah. Biasanya pohon mangga itu berbuah banyak dan besar-besar. Pohon mangga itu berjenis manalagi. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga tetapi kami juga dapat membagikannya kepada para tetangga dan handai taolan baik dekat maupun jauh.

Pohon mangga depan rumah itu sungguh sangat terkenal di antara teman dan handaitaolan. Setiap kali saya bepergian dan bertemu teman lama, mereka hampir pasti menanyakan kabar si pohon mangga. Seorang teman beberapa hari yang lalu datang ke rumah. Ia kecewa karena mendapati pohon mangga tidak berbuah. Padahal ia sudah membawa bagor, tempat untuk membawa mangga ketika nanti pulang.

Sungguh. Pohon itu seperti tidak memiliki arti saat tidak berbuah. Ia tidak lagi dipuji-puji.

Dengan pohon itu aku dapat berbagi kepada sesama. Pohon dan buah ini telah melancarkan komunikasi saya dengan para saudara dan tetangga.

Pada suatu sore aku duduk di bawah pohon itu. Mendongakkan kepada ke atas sambil merenungi, kenapa pohon itu tidak mau berbuah. Pohon itu aku tanam sepuluh tahun yang lalu. Dua tahun setelah kami tanam, ia telah menghadiahkan buahnya. Pohon itu aku beli dari penjual pohon bersepeda yang lewat depan rumah.

Betapa tidak enak hati saya, setiap kali teman bertanya tentang pohon mangga itu, aku hanya bisa menjawab, “ Entah ya musim ini tidak berbuah.”

Aku mendongak ke atas. Aku menyaksikan satu benalu menempel di pohon itu. Ternyata tidak hanya satu. Aku baru sadar, daun-daun hijau itu rupanya bukan daun mangga tetapi daun  benalu.

Aku telah menemukan sebab kenapa pohon mangga tidak berbuah, karena pohon itu telah dipenuhi benalu. Benalu hidup melalui pohon lain. Mula-mula sedikit tetapi lama-lama memenuhi seisi pohon. Pada akhirnya jika dibiarkan, benalu akan dapat membunuh pohon induk. Saat tidak ada lagi tempat bagi daun mangga untuk tumbuh, dan hanya benalu yang menghijau maka hanya dalam hitungan minggu dengan pelan namun pasti pohon itu akan mongering. Benalu memang mati tetapi pohon mangga juga mati.

Maka saya harus berbuat untuk menolong pohon mangga. Ia tidak dapat melepas benalu-benalu itu dari tubuhnya sendiri. Segera aku ambil gergaji dan kampak membabat benalu benalu itu. Semoga lekas tumbuh dan berbuah lagi kau buah mangga.

Kasus pohon mangga dan benalu itu mirip yang terjadi dengan Bangsa dan Negara Indonesia saat ini. Indonesia adalah pohon mangga yang penuh benalu. Penyuap dan koruptor itu telah mengambil alih dan mendominasi tubuh sang pohon Indonesia. Tidak lama lagi jika benalu-benalu itu tidak segera dibabat kemungkinan sang pohonakan layu. Kita lihat saja, Indonesia sudah lama tidak berbuah, berbagai prestasinya berhenti.

Apa bedanya antara Indonesia dan pohon mangga? Pohon mangga tidak dapat menyingkirkan benalu ditubuhnya. Indonesia dapat membuang koruptor, penyuap dari tubuhnya. Mari singkirkan benalu pada tubuh Indonesia, jangan malah menjadi benalu! (Muhajir Arrosyid)

TAK ADA MENU GENGSI DI KUCINGAN

September 30, 2009

Saat itu sekitar pukul 7 malam. Aku menjemput suamiku yang sedang pulang dari acara pelatihan. Tempatnya di gedung BLPT, sekitar kawasan Brotojoyo, Semarang. Ku jemput ia menggunakan sepeda motor Grand Astrea hijau tahun 1997.

Pelan, sepeda motor kami melaju melewati jalan kota. Kami berusaha menikmati suasana malam yang berangin. Dari Brotojoyo, kami lewati kawasan Johar, Tlogosari, dan Arteri untuk kembali ke rumah, Karangawen. Sengaja kami berputar-putar ke kawasan kota terlebih dahulu karena malam menawarkan hawa yang sejuk.

Di sepanjang jalan kota itu berjajar berbagai restoran mewah menyajikan menu-menu masakan ala luar negeri. Ada masakan ala Jepang, Korea, dan Western. Restoran-restoran itu tertata mewah dan cantik. Dari luar nampak warna-warni lampu menghiasi beranda restoran.

Di beranda restoran Korea terpasang lampu-lampu lampion dengan warna merah menyala. Di depan restoran Jepang, tampak gambar perempuan Jepang berkimono mengangkat nampan berisi masakan Jepang. Bagian depan resto lainnya dihiasi berbagai macam ornamen cantik dan menarik. Desain interior bangunannya ditata sebegitu apiknya untuk menarik para pelanggan mencicipi masakan di dalamnya. Sangat beda sekali dengan warung makan pinggir jalan seperti angkringan kucingan. Yang hanya diterangi lampu 5 watt, yang nyalanya kriyip-kriyip. Tidak ada desain interior yang mencolok gimanaaa gitu. Semuanya biasa saja.

Pada halaman restoran Jepang itu tampak sepi. Hanya ada 2 mobil yang terparkir. Di beranda resto terlihat baby sitter menyuapi anak majikan. Tak ada aktifitas keramaian layaknya tempat makan. Ramai oleh pelanggan yang minta menu ini itu misalnya. Tenang-tenang saja. Sepi saja.

Mungkin pemilik restoran sengaja membikinnya begitu. Menjual sepi. Jadi yang berkunjung ke resto itu orang-orang yang ingin kesepian. Atau bisa jadi orang-orang yang ingin mengeksklusifkan diri. Eksklusif berarti membeli sesuatu yang tidak semua orang bisa memiliki, tidak bisa membeli. Eksklusif di restoran artinya bisa membayar dengan harga mahal dan orang lain tidak bisa membayarnya selayaknya kemampuan dia.

Lalu aku buka obrolan dengan suamiku yang sedang mengendarai motor di depan.

“Ada ya, orang yang bersedia beli masakan di resto itu? Padahal sepengetahuanku, harga masakan-masakan itu sangat mahal. Porsinya kecil. Beda di kucingan atau penyetan. Dengan uang 10.000 kita bisa makan dengan kenyang.”

“Tentu ada, ” jawabnya.

“Siapa?“

“Ya…restoran-restoran itu menyediakan orang-orang kaya. Kalau kita mana mau? mana mampu?”

“Kenapa harus ke situ? Kan masih banyak tempat makan yang murah dan enak? Penyetan misalnya,” (yang ini tempat makan favorit saya hehehe).

“Hoeh…kamu ini lugu amat. Mereka, yang bermobil, mana mau ke kucingan? Gengsi to ya?”

Hmmmm…jadi permasalahannya gengsi. Ya, sekarang aku tahu. Restoran-restoran itu penuh dengan menu gengsi. Ada shabu-shabu gengsi, yakiniku gengsi, spaghetti gengsi, fried chicken gengsi, pizza gengsi. Dan aku tahu. Kata gengsi itu yang menarik mereka untuk datang ke restoran itu.

Jangan dibikin pikiran setelah baca obrolan kami ini. Bisa jadi obrolan ini hanya sekedar luapan protes karena tidak mampu mencicipi masakan-masakan eksklusif itu. Lha protes sama siapa? Protes sama Tuhan? Rasanya tidak fair. Wong kami juga tidak pernah meminta sama Tuhan agar dapat makan di restoran itu.

Atau protes sama orang-orang kaya yang suka makan di restoran itu? Rasanya lebih tidak fair lagi. Wong mereka cari duit sendiri untuk beli masakan mahal itu. Dan kami juga tidak pernah direpoti untuk dapat menghasilkan uang untuk mereka.

Atau protes kepada orang miskin saja yang selalu menjadi pembanding orang-orang kaya. Yang selalu dipersalahkan atas kemalasannya mencari uang lalu mereka jadi miskin dan tidak mampu membeli masakan mahal itu?

Atau bisa jadi selama ini kami tidak makan di restoran itu  karena memang menahan diri untuk tidak memakirkan motor jelek kami ke restoran itu. Menahan diri untuk tidak membikin cemburu saudara-saudara kami yang tidak mampu makan di restoran itu. Bertahan menikmati makan di kucingan dan penyetan yang tidak ada menu gengsinya. (Tri Umi Sumartyarini)

Semarang-Demak, Akhir Ramadhan 1430 H

angkring1