Arsip untuk ‘Cerita Pendek’ Kategori

Sumur

Februari 6, 2009

KERINGNYA SUMUR KAMI

Cerpen R. Hernawan

Tiga lokal kamar mandi berderet. Dua kakus menambah deretan. Di antara keduanya terdapat sumur. Orang-orang mandi bergantian. Tiga puluh timba masing-masing bagi yang hendak mandi. Lima orang lelaki setengah baya antre di depan pintu kakus. Anak-anak bercengkerama memercik-mercikkan air. Masih dengan kepolosannya meriuhkan sore di kampung itu.

Sepuluh tahun silam orang-orang bahu-membahu membangun kamar mandi dan kakus. Tempat mereka membersihkan badan. Menggali tanah sampai berwujud sumur. Mencuci pakaian, perabot dapur, dan setahun sekali usus hewan kurban mampir di sana. Sumur yang menopang hidup. Tanpa kenal lelah mengeluarkan air.

Kamar mandi yang dulu kokoh kini mulai rapuh. Atap sudah bocor. Daun-daun banyak tergenang ke kolam. Kakus pun sudah sering mampet. Orang-orang malas menguras kakus. Mereka kini tidak menimba dengan ember. Pompa buatan Jepang tertambat di sisi sumur. Bibir sumur tidak lagi licin. Tertutup rapat beton semen. Anak-anak enggan meneriakkan gundah gulana ke lubang sumur.

Angina kencang meluluhlantakkan atap kamar mandi dan kakus. Beruntung, tembok tidak turut roboh. Hanya retak-retak. Orang-orang hanya mengeluh mengapa bisa terjadi. Memprotes Tuhan yang meniupkan angin. Syahdan, mereka mandi dan berak tanpa atap. Kalau burung walet dan sriti punya birahi mungkin tempat itu penuh sarang. Sayang keduanya lebih suka terbang menikmati alam tenang. Membuat sarang di tempat sunyi.

Untuk kedua kalinya angin kencang melanda kampung itu. Tembok kamar mandi dan kakus runtuh separuh. Ketinggian tembok berkurang. Ketebalan menipis sejangka bentangan antara ibu jari dan kelingking. Orang-orang tetap acuh tak acuh seolah tidak terjadi apa-apa. Tetap mandi sepuasnya. Masih bisa ngobrol berita selebritis. Pompa buatan Jepang meraung-raung mengisi bak mandi. Menuruti kemalasan kaum miskin bertingkah hedonis.

Sang lurah, Sanusi, nyaman dengan kondisi kamar mandi dan kakus miliknya. Sumur berlogo PDAM melunturkan perhatian yang dulu dicurahkan untuk warga. Orang-orang berkali-kali datangi Pak Basori, ketua RT agar menyampaikan kepada lurah. Menjelang masa berkuasanya purna, dia asyik menyiapkan hari-hari tua. Perintah membangun kamar mandi dan kakus belum juga turun.

Pak RT, kapan lurah merehab pemandian ini?” Ucap Saman lantang. Suara pengiring berkumandang melanjutkan. Ya, kapan nih. Kapan.

Sabar, bapak-bapak. Ibu-ibu. Sabar. Sudah saya sampaikan apa yang kalian bicarakan tempo hari. Saya juga tidak tega kalian mandi dan berak dengan tempat semacam ini. Pak lurah bilang menunggu rekapitulasi pengeluaran bulan lalu. Masih banyak tugas yang belum terselesaikan. Proyek jembatan masih belum tuntas. Beliau masih banyak urusan. Jadi saya mohon bapak-bapak dan ibu-ibu bersabar lagi.

*****

Dua bulan menjelang Sanusi lengser dari jabatannya sebagai lurah orang-orang sudah diributkan tentang siapa yang bakal mencalonkan diri menjadi lurah baru. Para makelar suara mulai sibuk bergerilya mengobral janji calon yang dijagokan. Nafas-nafas dusta berhembus ke seluruh penjuru desa. Orang-orang punya tambahan bahan ngobrol di luar gosip selebritis. Desas-desus siapa saja yang maju dalam pencalonan lurah menjadi buah bibir menggeser rating gosip selebritis.

Masa pendaftaran calon lurah dibuka. Calon yang maju sebagai kandidat yakni Broto, Sulaiman, Damanhuri, dan Endang. Yang disebut terakhir ini satu-satunya figur perempuan yang percaya diri memperjuangkan hak-hak perempuan. Tim sukses dari masing-masing calon melakukan pendekatan ke warga. Pendekatan yang digunakan macam-macam, keluarga; agama; maupun latar belakang pekerjaan. Tim sukses dari calon satu menjelek-jelekkan calon yang lain.

Kamar mandi dan kakus menjadi komoditas politik yang paling laku. Tidak heran jika keempat kandidat menghubungkan kampanyenya dengan perbaikan sarana kesehatan yang satu itu. Lain orang tentu lain pula kebiasaan dan wataknya. Begitu juga masing-masing dari mereka menyiasati dengan cara yang berbeda untuk memenangkan pemilihan lurah nanti. Tentunya latar belakang pendidikan, ekonomi dan klan turut memengaruhi cara para kandidat dalam berkampanye. Di benak para kandidat dan kaki tangannya hanya ada satu kata: menang!

Broto dan Damanhuri dulu dikenal sebagai preman. Keduanya menguasai puluhan copet pasar. Seiring berjalannya waktu mereka menginsyafi kemunkaran yang membawa mereka di balik jeruji penjara. Setelah dibebaskan mereka kembali ke sanak keluarga. Menjalani kehidupan sebagaimana orang pada umumnya. Masyarakat tidak lagi mengenal mereka yang preman. Sampai pada akhirnya keduanya mencalonkan diri menjadi lurah.

Broto yang asli kampung itu merasa paling layak menjadi lurah baru. Dalam setiap kampanye ia selalu menggunakan slogan “lurah pribumi pilihan rakyat sejati”, sebagai senjata ampuh mempropaganda masyarakat. Broto menganggap hal itu dapat menutup lembaran hitam masa lalunya. Tidak sedikit orang yang membenarkan slogan itu. Tidak terkecuali pengguna pemandian umum. Mereka berseloroh:

Kapan lagi kita punya lurah asli sini”, ujar Saman.

Betul itu”, yang lainnya menimpali.

Kita usul saja kepada Broto agar merehab pemandian ini”, kalau dia benar-benar minta dukungan. Ucap orang yang baru saja selesai mandi.

Damanhuri tidak kalah strategi. Mengetahui masyarakatnya senang hiburan ia menggelar konser dangdut beberapa kali. Tidak hanya itu di sela-sela penyanyi mendendangkan lagu Damanhuri menyempatkan berorasi sekenanya. Ia pun membagikan door prize. Tak ayal masyarakat menyambut gembira. Terutama para pemuda tongkrongan yang bertahun-tahun tidak mendapat izin menggelar hiburan dangdut. Mereka pun menilai:

Wah, kalau Damanhuri yang jadi lurah bakalan seperti dulu lagi”, kata salah satu pemuda.

Mudah-mudahan saja ucapanmu benar.” Pemuda yang lain mengamini.

Berbeda dengan Broto dan Damanhuri, Sulaiman berangkat dari latar belakang pribadi taat agama. Ia dikenal baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Hanya saja kurang disenangi pemuda tongkrongan. Pada awalnya ia enggan mencalonkan diri dengan alasan bukan penduduk asli. Garis keluarga tidak terhubung di antara masyarakat di kampung itu. Namun berkat dorongan tokoh agama dan masyarakat Sulaiman tidak mampu menolak aspirasi mereka.

Para jama’ah pengajian bersuka hati mendengar Sulaiman menjadi kandidat calon lurah. Harapan meluncur dari mereka:

Saya risih dengan pemuda yang suka mabuk,” kata seorang ibu setengah baya.

Saya yakin Sulaiman mampu memberantas kemunkaran di kampung ini,” yang satunya semangat.

Yang satunya lagi menambahi: “Kita sama-sama berdo’a agar Tuhan meridloi.”

Satu-satunya kandidat perempuan, Endang, menggunakan pendekatan emansipasi wanita. Kontan saja ibu-ibu muda dan remaja putri yang terhimpun dalam PKK mendukung sepenuh hati atas majunya Endang pada pemilihan lurah. Setiap kali acara PKK ia gunakan kesempatan menyampaikan: jangan lupa pilih saya sebagai lurah baru yang memperhatikan hak-hak perempuan.

Seminggu sebelum pemungutan suara, tanda gambar masing-masing calon diundi. Broto mendapat padi, Sulaiman jagung, Damanhuri ketela dan Endang kelapa. Masyarakat semakin yakin akan pilihan dan harapannya masing-masing. Harapan terbesar setelah pemilihan nanti yakni rehabilitasi pemandian umum.

Tiba kini waktu pemungutan suara. Keempat calon lurah duduk di kursi yang dipasang berjejer. Pemilih mendatangi tempat pencoblosan ada yang sendiri-sendiri dan rombongan. Setelah selesai pemungutan suara para calon kembali ke rumahnya masing-masing diiringi pendukung.

Penghitungan suara disaksikan pengunjung dari seluruh penjuru kampung. Mereka merubung tempat penghitungan suara layaknya menyaksikan pertunjukan topeng monyet. Melingkar menutup batas arena pemilihan. Kejar-mengejar perolehan suara antara Damanhuri dan Sulaiman berlangsung ketat. Sedangkan Endang dan Broto tertinggal jauh. Terdengar di pengeras suara: Jagung, ketela, jagung, ketela, jagung, beberapa kali baru kemudian kelapa, padi, hanya sesekali saja sebagai suara menyelingi perolehan antara jagung dan ketela.

Kira-kira tinggal seratus surat suara yang tersisa di kotak suara, Damanhuri dengan ketelanya tertinggal dua ratus angka perolehan suara jagungnya Sulaiman. Melihat kekalahan pihak Damanhuri yang sudah di depan mata, para pendukungnya menyusun strategi kerusuhan agar penghitungan kacau. Pemuda tongkrongan yang disiapkan mengobrak-abrik tempat penghitungan suara. Papan pencatat perolehan suara dirobohkan, dirusak menggunakan clurit. Kotak suara dimuntahkan. Surat suara dibakar. Orang-orang yang menyaksikan lari ketakutan. Penghitungan suara berakhir.

Sore itu menjadi kelabu. Kampung sunyi senyap. Hujan badai melanda. Keesokan harinya masyarakat digemparkan berita pemandian roboh rata dengan tanah. Sumur juga demikian. Musim kemarau pun tiba. Orang-orang masih menggunakan sumur namun dengan timba serta kedalaman yang menyusahkan. Di tengah-tengah kemarau itu sumur mengering. Pada saat yang sama pemerintah kabupaten mengumumkan bahwa pemilihan lurah tidak sah dan akan ada pemilihan ulang pada waktu yang belum dapat ditentukan.

Januari 2006

Januari 15, 2009

Anak Yatim

Cerita Pendek: Kustiah

Aku tunggu ya. Besok datang ke rumah pukul satu siang. Ingat kan rumahku blok A4 nomor 6. Tahu kan perumahan seberang?”

Insya allah bu, besok saya ke sana. A4 nomor 6 ya,” katanya dengan mata bulatnya, meyakinkan

Delapan pagi selepas bangun tidur aku langsung menuju dapur. Rumah sepi. Nur, yang biasa menanak nasi dan bertugas belanja pergi ke pasar pagi sekali untuk kulakan barang dagangannya. Kulongokkan kepalaku ke kamar sebelah. Kulihat Soleh masih tidur terlelap. Mungkin dia masih kelelahan setelah bulu tangkis semalam, pikirku. Mengurungkan niat untuk membangunkannya.

Aku ingat. Aku punya janji bertemu seseorang siang ini. Maka setelah bersih-bersih di kamar mandi, segera kunyalakan kompor untuk memasak menyiapkan sarapan sekaligus membuatkan bakwan untuk tamuku nanti.

Sepanjang memasak jantungku berdebar campur haru. Masih terngiang-ngiang suara anak perempuan kecil itu.

Assalamualaaikuuuuuuuum”.

Assalamualaikuuuuuuuuum”.

Di sudut hati seperti mengumpul air dan merembeskannya ke dalam mataku. Di sudut mataku tiba-tiba terasa perih karena muncul rembesan air.

Ah, apa mungkin aku mau menstruasi setelah jeda tiga bulan?,” aku membatin.

Apa mungkin aku tidak hamil. Tentu tidak”. Aku tersenyum kecut. Sadar betul bahwa itu tidak mungkin. Begitu dua bulan tidak menstruasi aku dan suami langsung membeli tespek. Lagi-lagi aku harus menerima kenyataan dan kekalahan. Entah dengan suamiku. Yang kulihat dari raut mukanya adalah dia sedang berusaha menenangkan dan mendamaikanku dengan keadaan. Hasilnya jelas, negatif.

Lalu kurasa sedikit mulas.

Ah, keluarlah jika ingin keluar. Aku siap melihat warna merah di celana dalamku”.

Kulihat Soleh masih juga belum keluar dari kamar. Dan aku membangunkannya untuk sholat subuh.

Aku mendengar langkah kaki terseret di luar rumah. Kubuka pintu. Dan kudapati Nur baru pulang dari pasar dengan jagungnya.

Dengan Nur aku ceritakan pertemuanku dengan anak perempuan kecil itu. Tengah malam begitu aku pulang dari pertemuan RW di rumah tetangga seberang.

Aku tak cukup kuat menahan haruku seorang diri. Juga aku ingin mengatakan ke Nur bahwa hidup kita sebenarnya sangat beruntung dan banyak diberikan berkah.

Bersyukurlah kita Nur, masih memiliki orang tua lengkap di saat kita belum siap jika ditinggalkan. Dan kita masih tahu dan mengenal wajah bapak ibu kita,” kataku ke Nur dengan mata merembes dan hati pahit.

Aku nggak bisa membayangkan Mbak. Hatiku juga seperti tersayat mendengar cerita Mbak Tik tadi,” kata Nur.

Lalu kami diam di saat malam telah menjelang pagi. Mataku masih juga terjaga, tak merasakan kantuk sedikit pun.

Mbak, aku tidur di luar aja ya.Biar besok bisa kulakan pagi-pagi sekali. Kalau tidur di dalam kamar biasanya aku susah bangun pagi. Siang biar aku bisa menemui anak perempuan kecil itu,” kata Nur sedikit meminta izin dan berpesan.

Dia tahu. Aku akan melarangnya tidur di luar ruangan. Tanpa kasur dan selimut. Selain aku tak mau seluruh ruangan rumah yang hanya ada tiga ruang ini menjadi tempat tidur. Tidur ya di ruang tidur. Ruang keluarga yang juga sebagai ruang tamu tak boleh digunakan sebagai ruang tidur kecuali terpaksa. Misal jika ada tamu yang mesti tidur di dalam ruangan, otomatis dua saudara sepupu laki-itu mesti tidur di luar. Untung sampai saat ini belum pernah ada tamu yang menginap.

Ya,” jawabku singkat sambil menutup mata dengan selimut dan bantal memaksa tidur di dalam kamar.

Sebelum Nur pulang dari pasar aku ingin menceritakan pertemuanku dengan anak perempuan kecil itu kepada Soleh. Antara iya dan tidak karena berbagai pertimbangan. Karena hati ini tak bisa menahan haru dan senang akan pertemuanku siang ini aku berhasil memulai mengatakannya. Meski aku bisa menebak apa yang akan di katakan Soleh.

Berbeda dengan Nur yang hatinya lembut dan kata-katanya tersususn enak dan menenangkan, Soleh justru sebaliknya. Sifatnya keras. Antara kritis dan kesoktahuannya tipis sekali dibedakan. Kata-kata yang diucapkannya seperti tanpa peduli dengan hati yang mengajaknya bicara. Biasa ceplas-ceplos tapi minim wawasan. Dan hatinya sangat sensitif. Jika diluruskan Soleh segera masuk kamar mengabaikan penjelasan apa pun.Tapi dia banyak ide dan mau mencoba banyak hal meski kadang sering menyepelekan orang lain. Jarang aku berkata-kata dengannya jika tidak penting setelah berkali-kali mendapat jawaban dan respons yang tidak mengenakkan. Hanya Nur saja yang mampu menjadi teman dekatnya meski tidak jarang konflik terjadi. Untung Nur tahu itu. Diam baginya adalah jawaban tepat.

Iya kang Soleh. Anak perempuan kecil itu nanti siang mau ke sini. Aku memintanya datang jam satu siang,” kataku.

Iya kalau yang dikatakannya itu benar. Bisa saja sampeyan ditipu. Mbak percaya saja begitu,” jawabnya.

Aku tahu apakah anak perempuan itu menipuku, jujur atau tidak. Aku bisa melihat kebohongan dan kejujuran dari matanya,” kataku lagi.

Ooo, jadi mbak tahu kalau ada orang tidak jujur. Tapi takut mengatakannya. Tidak berani bilang ke orang itu kalau dia bohong”

Sudahlah,,malas saya membahasnya. Iya, mungkin aku orang bodoh yang gampang percaya orang lain. Sudah, sudah, tak perlu dilanjutkan lagi pembicaraan ini. Aku sudah menduga itu yang akan kau katakan kepadaku.”

Lalu Soleh masuk kamar. Entah apa yang dilakukannya. Dan Nur datang.

Waktu merayap. Akhirnya selesai juga aku memasak. Dan kami sarapan bersama.

Jam berapa dia datang Mbak,” tanya Nur sambil menyuapkan nasi pertama ke mulutnya.

Nanti jam satu,” jawabku.

Hatiku sempat ragu apakah dia bisa datang siang ini atau tidak. Mendung tebal. Dan aku tidak yakin dia ingat alamat rumah ini.

Pertemuan pertama. Mengingat alamat orang yang tidak ia kenal. Tentu dia tidak akan hapal mukaku. Sayang,,malam itu aku tidak membawa pulpen untuk mencatatkan alamatku. Sebelumnya aku menawarkan agar anak perempuan itu menelponku. Tapi apa mungkin. Biasanya telpon ke HP kan mahal, pikirku malam itu.

Ah, aku hanya bisa berharap.

Azan zuhur berkumandang. Itu artinya jam satu siang tinggal sejam lagi. Hujan mulai rintik. Dan Nur kembali masuk rumah setelah menanam pohon singkong dan kangkung di lahan taman yang belum terurus di samping rumah..

Aku mondar-mandir. Membuka pintu dan menutupnya kembali. Mengambil kain pel dan mengelapkannya ke lantai yang basah karena hujan.

Jam bergerak. Dan saat ini pukul satu tet. Nur kulihat keluar. Dia meminta izin untuk menjemput anak perempuan itu di depan gang perumahan setelah merasa telah melihat anak kecil berkerudung lewat saat Nur menanam kangkung.

Tadi aku melihat anak kecil berkerudung lewat. Apakah anak itu Mbak?”

Kenapa tak kau tanya dia mau ke mana?”

Kau itu jangan keterlaluan diamnya. Lihat, jika kelihatannya dia bingung tanya dia mau ke mana,” pekikku tak tertahan. Dan Nur segera keluar setelah aku berkata tinggi.

Anak perempuan itu mungkin tak akan kutemui lagi. Setelah niatku ingin memintanya bekerja dan tinggal bersamaku. Atau memasukkanya ke sekolah menengah pertama di daerah Tebet sana. Sama seperti yang kulakukan terhadap dua saudara sepupuku laki-laki ini.

Kenapa usiamu sekecil ini meminta-minta,” tanyaku menatap mata anak perempuan yang tampak lelah itu.

Ke mana orang tuamu? Berapa saudaramu?”.

Rumah di mana? Masih sekolah”

Rentetan pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di sudut kepalaku.

Dan hatiku merembes jika ingat jawabannya yang lugu yang aku yakin dia tidak berbohong.

Awalnya aku hanya ingin mengamati apa saja dan bagaiman yang dilakukan peminta-minta. Kuamati dia dari jarak tiga rumah di depanku. Aku tahu, anak perempuan itu pasti tahu telah aku amati.

Assalamualaikuuuuum”

Assalamualaikuuuuum”

Anak perempuan itu berdiri di depan rumah jauh dari pintu. Jika rumah itu berpagar dia cukup berdiri di luar pagar. Jika rumah belum berpagar maka dia akan berdiri di lima langkah dari pintu rumah. Suara salam dikeraskan. Jika nasib baik, pintu pemilik rumah akan terbuka dan tangan dengan uang yang saya tak tau nilainya menjulur. Lalu anak perempuan itu akan mendekat dan mengucapkan terima kasih.

Mataku masih mengamati tapi juga tak melepaskan pandanganku ke ponsel yang sedang mengirim pesan. Aku ada janji dengang pengurus RW di rumah temanku malam itu. Karena ini pertama kali aku ke rumahnya dan belum tahu alamatnya maka kukirim pesan agar ia mengirimkan alamatnya segera.

Anak perempuan itu sudah berdiri di lain rumah. Kali ini sudah tiga rumah tak membukakan pintu dan memberinya uang.

Dan ia melewatiku yang berdiri di tengan jalan gang yang sepi. Pintu rumah di blok ini memang telah tertupup semua. Maklum malam itu udara cukup dingin dan waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Tiga langkah di depanku, entah kenapa kakiku mengikutinya.

Dik, aku mau tanya”.

Tiba-tiba mulutku kubuka. Ponsel masih di tangan. Belum aku masukkan ke saku karena masih menunggu balasan dari temanku.

Rumahnya mana?,” tanyaku.

Leuwipanjang bu.”

Mana itu. Jauh dari sini?”

Ya jauh bu.”

Berapa ongkos dari sini ke rumah?”

Dua puluh ribu bu, naik angkot.”

Terus berangkatnya jam berapa dari rumah”.

Mulai jalan jam satu siang”.

Jalan kaki dari jam satu siang,” mataku mendelik tidak percaya. Tapi berusaha percaya dan mendengaranya.

Iya”

Masih punya kakak, orang tua?”

Bapak sudah meninggal waktu saya tuju bulan di dalam kandungan. Ibu sakit lumpuh di rumah, ditungguin sama kakak yang berusia 19 tahun. Kakak yang kedua 24 tahun dan kakak pertama 29 tahun bekerja diajak temannya di Jakarta.”

Mulutnya rapat setelah menjelaskan panjang lebar kepadaku. Tak kalah rapatnya, mulutku bahkan terkunci menelan ludah. Terasa pahit.

Lalu kamu-minta-minta. Sekecil ini?”

Dia diam. Kepalanya tetunduk. Badannya bergoyang sedikit. Dan otomatis tas rangsel yang menggantung menutupi dada dan perutnya ikut bergoyang. Tangannya memegang lembaran kertas, seperti peminta pada umumnya. Membawa kertas bertuliskan berapa ribu yang pemberi berikan. Kerudungnya tidak kumal amat, meski lusuh sedikit. Rok panjangnya menutupi mata kaki dan hanya terlihat sendal dan kakinya yang hitam. Bajunya panjang dan longgar.

Kulihat wajahnya kecokelatan matang. Mungkin karena jalan siang sepanjang hari terkena sinar matahari. Matanya sendu dan bulat. Tubuhnya kurus, persis seperti adik perempuanku sewaktu duduk di kelas satu SMP. Secepat kilat aku merasa kangen ke adikku yang sedang menempuh sekolah menengah atas di sebuah pondok pesantren di ujung Pati sana.

Lalu pulangnya jam berapa”

Nanti jam sembilan jam sepuluh bu”

Sudah dapat berapa”.

Delapan ribu”.

Delapan ribu dari jam satu siang?,” mataku kembali mendelik.

Lalu ongkosnya nanti bagaimana, kan itu belum cukup”.

Kulihat tirai jendela rumah di depanku dibuka. Mungkin karena percakapan kami agak terdengar keras. Dan aku memelankan suaraku.

Mau kerja?”

Di mana bu?”

Ya di rumahku,” diam aku berpikir. Mulutu sekonyong-konyong menawarinya kerja tanpa aku tahu apa yang akan dikerjakannya nanti.

Kerja apa bu?”

Em,,emmm…pokoknya kerja. Bisa membantu saudaraku jualan jagung atau mau jualan jus?,” serta merta aku mencoba mencari ide.

Nanti setiap minggu bisa pulang menengok ibu. Dan aku gaji”.

Sebulan sekali aja bu. Biar uangnya ngumpul. Kira-kira gajinya berapa bu”.

Emm,emm tiga ratus ribu. Adik makan dan kebutuhan hidupnya ibu tanggung.”

Atau mau sekolah. Sudah sekolah?”

Lulus SD. Tidak punya ongkos buat sekolah”.

Ooo, ya sudah. Nanti aku sekolahkan. Emmm,,em, gampanglah itu. Atau supaya lebih jelas bagaimana jika besok adik ke rumah”.

Boleh, jam berapa bu”.

Bisanya jam berapa? Jam satu siang juga boleh. Gimana?”

Insya allah saya ke sana. Rumahnya di mana bu?”

O ya,. Tahu kan perumahan seberang,,Blok A, sama dengan perumahan ini.”

Ooo yang seberang jalan bu ya.”

Ya,ya”.

Biasanya semalam dapat uang berapa”

Tidak tentu bu, kadang dua puluh. Tapi di perumahan seberang stasiun, ada ibu yang meminta saya datang setiap tanggal 20. Ngasih 200 ribu. Ada yang meminta saya datang tanggal 30 ngasih seratus”

Tiap bulan datang ke sana?” ah lega, pikirku. Berarti dia masih bisa makan enak. Paling tidak selama sebulan sekali.

Ya.”

Sudah makan?” aku berniat mengajaknya makan ke rumah. Atau aku ajak ke lapak tempat dua saudara sepupuku laki-laki berjualan. Memberinya roti bakar atau jagung bakar. Atau memberinya uang saku untuk pulang.

Tapi dia menolaknya. Dan memilih melanjutkan perjuangannya. Kulihat dari belakang baju dan rok yang besar menutupi tubuhnya yang kurus. Dan mungkin juga kakinya yang kecil tapi kuat karena jalan berkilo-kilo meter sepanjang hari.

Bagaimana nasibmu ke depan nak. Sedang di usiamu yang belia engkau harus mengabiskan waktumu untuk terus berjalan dan meminta orang mengasihanimu.

Tubuhnya perlahan-lahan lenyap. Tapi suaranya masih bisa kudengar. Tentu isakan tangisku tak mampu kau dengar. Karena malam telah menelannya. Dan hanya hatiku saja yang merasakan pedih dan mataku yang perih.

Tuhan aku titip kebaikan untuk anak perempuan yatim ini. Aku janji akan memeliharanya dan menengok ibunya yang lumpuh. Aku janji, akan kusekolahkan anak yatim ini jika esok ia datang kepadaku.,” doaku penuh harap sementara kakiku terus melangkah.

Hujan tak juga reda. Nur juga telah kembali dari depan gang menunggu anak perempuan itu muncul. Kutengok jam di dinding telah menunjukkan pukul tiga. Kulihat langit masih mendung. Hati berdebar masih menyisakan harapan akan terdengarnya sapaan anak perempuan yatim itu ,,”Assalamialaikuuuuuuum”.