Arsip Kategori: Puisi
NYEPI
Muhajir Arrosyid
Adalah sebuah sore gunung-gunung bisu berjajar
Dan seorang tua menawari kita sate kelinci
Adalah sebuah malam hening kamar temaram yang mengabaikan arah kiblat
Di mana adzan magrib, isya’, dan subuh tidak terdengar
Adalah malam lenyap
Dan matahari tiba-tiba dibalik jendela
Adalah sebuah pagi perempuan renta menggendong mawar merah dan putih
Lalu lalang kuda-kuda dan gunung-gunung mengigil
Adalah siang dalam kolam puncak bukit
Kita dua jam berendam
Kekasih, mari kita lanjutkan perjalanan!
Bandungan 16 Maret 2010
Jarak dan Keberadaan
JARAK
Muhajir Arrosyid
Siang yang mendung kau kirim SMS
“Kangen”
Aku juga kangen
Kenapa kangen itu hadir?
Karena ada jarak
Jarak waktu dan jarak tempat
Sehari kita tidak bertemu
Untuk dapat melihat dengan jelas, kita membutuhkan jarak
Untuk menangkap keindahan, kita membutuhkan jarak
Jarak untuk saling pandang
Jarak untuk saling bayang
Segala cinta yang masing-masing ingin saling kita persembahkan
Kata Seno Gumira Ajidarma;
“ Jadi memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas – apakah yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yan terlalu dekat, sehingga tek berjarak, keremangan dengan cahaya lembut yang berusaha menembus korden?
Mungkin itu sebabnya aku lebih sering ingat gorden daripada wajahnya, karena hanya dari balik gorden itu datang cahaya yang membuat ruang menjadi temaram.”
Kata Seno Juga;
“Perpisahan sering tidak berarti apa-apa – seperti tidak pernah ada perpisahan bagi orang yang saling mencintai. Mereka saling memaki ketika bertemu tetapi tetap mengenang ketika berpisah. Perpisahan sebenarnya akan terjadi ketika kita tidak pernah ingat lagi kepada seseorang meskipun kita hidup bersamanya.”
Karena jarak tercipta puisi ini.
Semarang 31 Desember 2008


