Arsip untuk ‘Kisah Tunu’ Kategori

Puasa Paceklik

Agustus 28, 2008

“Puasa ini puasa paceklik” Kata Pak De Tunu pada istrinya.

“Semua barang mahal, minyak tanah yang dikonfersimenjadi gas, sekarang gas elpigi harganya juga naik. Apa-apaan ini? Kita tunggu, alasan apalagi yang diberikan terhadap kenaikan harga gas. Orang-orang miskin seperti kita nasibnya hanya dijadikan bahan olok-olokan. Di jadikan permainan belaka! Di jadikan pasar yang dipaksa membeli barang-barang mereka! Hargapun tidak boleh ditawar. Apa bedanya mereka itu dengan kolonial?”

Al Amin Nasution

Juli 26, 2008

APALAH ARTI SEBUAH NAMA?

 

“Apalah artinya sebuah nama?” demikian grenengan Pak De Tunu bersama istri tercintanya di belakang rumah sambil memandang ikan lele peliharaannya.

“ Mawar meski tidak bernama mawar tetap elok di pandang, lele meski bukan lele namanya tetap enak di panggang, Tunu meski bukan Tunu namanya mesti ganteng dan tampan. Kamu Sun, meski namanya Bukan Sun tetap menawan.”

“ Heleh kamu itu lho Pak Ne, sudah tua masih merayu. Hati-hati kalau terdengar cucu!” Bentak Bu De Sun Istri Pak De Tunu. Bu De Sun memukul-mukul pundak Pak De Tunu.

“ Nama itu kan hanya nama ya Bu ne? Meskipun namanya Al Amin yang memiliki arti dapat dipercaya, namun kalau sifatnya maling ya tetap korupsi. Nama itu tidak selaras dengan sifat.”

“Nasution, orang ingat Nasution pasti ingat pahlawan revolusi. Seorang jendral besar yang gagah berani. Tapi kalau ingat Nasution saat ini kita ingat tikus yang mengrogoti kayu milik orang banyak.”

“ Nama itu do’a Pak ne, Orang Tua memberi nama Al Amin adalah do’a agar dia nanti menjadi orang yang dapat dipercaya rakyat. Kalau jadi RT adalah RT yang dapat di percaya, kalau jadi pegawai bank adalah pegawai bank yang dapat dipercaya, kalau menjadi Anggota Dewan adalah Anggota Dewan yang dapat dipercaya.”

“ Mungkin waktu korupsi dia tidak ingat orang tuanya yang membesarkan dan mendoakannya. Sekarang ini ada banyak yang punya nama Tunu, ada yang jadi pemulung, ada yang jadi pengemis, tapi ada juga yang baik, ganteng, dermawan seperti aku.”

“ Takabur, takabur, tobat Pak Ne, tobat!!” Bu De Sun teriak-teriak.