Arsip Kategori: Kritik Sastra
SASTRA POSTCHAOS MARTIN ALEIDA
Kritik Cerpen Batu Asah dari Benua Australia (BABA) karya Martin Aleida oleh Muhajir Arrosyid
Batu asah adalah hal yang remeh, tapi terdengar spesial karena berasal dari bedua Australia. Mungkin terpidana juga biasa, tapi kita akan merinding saat mendengar pulau buru, tukang asah pisau juga pekerjaan yang remeh tapi mengejutkan jika tukang asah pisau lulusan master dari Jepang, fasih berbahasa Jepang. Kiranya hal-hal inilah yang saya temui saat membaca Cerpen Martin Aleida yang terbit di Koran Kompas Minggu 12 Februari 2012 yang berjudul Batu-Asah dari Bedua Australia.
Cerpen ini berkisah tentang seorang tokoh yang berprofesi sebagai tukang asah pisau. Saya sebut tokoh itu dengan sebutan (Si Aku) saja karena saya tidak menemukan nama sang tokoh utama sepanjang perjalanan mata saya membaca. Sangat mungkin karena sudut pandang penceritaan cerpen ini ‘Akuan’. Cerpen ini bercerita tentang Si Aku yang baru keluar dari hukuman. Tiga belas tahun dia mendekam di pengasingan. Ia adalah seorang wartawan di Koran milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat kerusuan 65 terjadi, dia ikut masuk penjara. Si Aku gelisah, kemana kaki melangkah. Saat bertemu dengan anaknya dia meminta kepada anaknya itu mencarikan batu asah. “Bilang sama ibumu, dia tahu.” Si Aku menyeru kepada anaknya. Read the rest of this entry
MITOS DAN RASIO DALAM CERPEN
Kritik Cerpen Runtuhnya Sasembadabada Karya Dian Mardika oleh Muhajir Arrosyid
Indonesia memiliki warisan cerita yang cukup banyak dari nenek moyang. Mulai dari asal muasal desa, kisah terjadinya danau, kisah terjadinya candi, dan masih banyak lagi cerita sejenis. Cerita-cerita tersebut sedikit banyak mempengaruhi karya sastra kita seperti cerpen berjudul Runtuhnya Sasembadabada Karya Dian Mardika yang terbit di Koran Jawa Pos edisi 5 Februari 2012.
Cerita pendek karya Dian ini mengisahkan tentang asal usul kampung, tentang leluhur, tentang pantangan-pantangan, dan kutukan. Lebih baik saya menceritakan cerpen ini terlebih dahulu secara singkat. Dua tokoh sentral adalah Ki Suralambada dan Nini Sitinembada. Pada suatu masa penduduk kampung menderita sebuah penyakit aneh. Kulit mereka bersisik, suara mereka berdengung seperti lebah, mata mereka bersinar merah. Dua orang suami istri Ki Sura Lambada dan Ni Sitinembada melakukan upaya untuk mengatasi penyakit aneh yang diderita oleh penduduk. Penyakit aneh itu telah memisahkan penduduk Salambada dengan penduduk-penduduk lain disekitar kampung. Dua orang tua itu bertapa mencari pentunjuk dari penguasa alam semesta. Tuhan memberikan petunjuk melalui mimpi, mereka diamanatkan untuk naik ke puncak bukit dan merawat bukit dengan menanaminya pepohonan. Mereka melaksanakan amanat tersebut sehingga bukit itu menjadi rimbun dengan pohon-pohon yang menghutan. Setelah bukit menghutan berangsur-angsur penyakit yang diderita penduduk itu mulai menghilang. Penduduk kembali hidup normal dan diterima oleh masyarakat luas. Atas kesembuahan itu mereka merasa berhutang budi dengan dua orang suami istri yang telah merimbunkan bukit, Ki Suralambada dan Nini Sitinembada.
Para penduduk naik ke puncak bukit mencari dua orang itu. Penduduk hanya mendapati tempat tinngalnya saja. Watak masyarakat kita hingga zaman internet sekarang ini adalah biasa menebak-nebak, kemudian menyimpulkan dengan segera. Demikian pula masyarakat dalam cerpen ini, mereka menyimpulkan bahwa dua orang yang mereka cari itu telah menyatu dengan dua bukit itu. Dua bukit itu kemudian mereka yakini sebagai jelmaan dua orang suami istri yang mereka cari. Mulai saat itu seluruh penduduk dilarang untuk menebang pohon. Menikmati hasil pohon boleh, akan tetapi tidak boleh sampai mencerabut hingga akarnya. Read the rest of this entry


