Arsip Kategori: Kritik Sastra

ESTETIKA SURAT DUA LELAKI ANGKUH

Ilustrasi cerpen Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang karya Benny Arnas yang dimuat oleh Jawa Pos edisi Minggu 18 Agustus 2013 menunjukkan gambar lelaki tua menutup mata, ada surat, dan rumah. Cerpen ini memang bercerita tenang hal-hal usang. Betapa tidak usang? Di zaman email begini masih membicarakan surat berprangko.

            Cerpen ini bercerita tentang seorang renta sebatang kara. Konflik antara bapak dan anak laki-lakinya. Kamu tahu sendiri pembaca, bagaimanakah watak para lelaki. Keras kepala, saling angkuh. Meskipun sebenarnya cinta. Keangkuhan seorang bapak dan anak laki-lakinya itulah yang membuat mereka berpisah sekian lama hingga satu di antara mereka mati.

Tanjung, renta dalam cerita ini adalah seorang pejuang kemerdekaan, veteran. Ia dulu pernah memiliki keluarga yang indah. Sayang sekali kebahagiannya goyah setelah istrinya meninggal saat melahirkan anaknya. Maksud baik tak selalu diterima dengan baik. Ia kamin lagi, maksudnya adalah agar ada yang bisa merawat anak laki-lakinya yang bernama Misral. Sayang sekali ia tidak cocok dengan istri keduanya sehingga hubungan pernikahannya berakhir dengan perceraiaan. Ia kawin cerai sampai kelima kali.

Misral anaknya yang enam belas tahun malu diperolok oleh teman-temannya sebagai anak kucing jantan yang gemar menelantarkan jalang. “Tabiat Bapak umpama pohon tanjung. Makin tua makin gemar menumbuhkan cabang dan menggugurkan daun mati,” begitu sindir Misral kepada bapaknya. Read the rest of this entry

MEMPEROLOK PAWANG HUJAN

Catatan  Cerpen Minggu (CCM) 4 Agustus 2013

Setelah dosa kita sudah habis dan tinggal nol, setelah kenyang makan opor lontong, mari kita lanjutkan mengunyah-ngunyah cerpen. Cerpen Minggu lalu baru sempat saya baca sekarang. Minggu 4 Agustus 2013, Kompas memuat sebuah cerpen karya Aba Mardjani yang berjudul Mbah Simbad Si Pawang Hujan.

            Cerpen ini bercerita tentang tokoh yang menguasai ilmu memindahkan hujan atau biasa disebut pawang hujan. Dalam kehidupan sehari-hari kemampuan pawang hujan ini antara dipercaya dan tidak dipercaya. Meskipun diragukan kemampuannya banyak orang menggunakan jasanya. Dari mulai konser musik hingga kampanye calon presiden jasa pawang hujan selalu dibutuhkan. Negeri ini memang tidak bisa lepas dari ilmu-ilmu gaib. Bahkan sekarang jasa pawang hujan ditawarkan melalui iklan dan media sosial. Bahkan ada yang memberikan diskon dan garansi segala.

            Dalam cerpen ini pawang hujan disewa oleh seorang pemborong proyek. Ia berkepentingan agar hujan tidak turun selama pengerjaan proyeknya. Jika hujan turun maka proyek garapannya akan menghabiskan biaya sekian kali lipat. Ia harus memberi upah kepada tenaga kerja dan mengeluarkan segala biaya lain terkait dengan mundurnya proyek.

            Endingnya adalah sang pawang gagal melaksanakan tugas dengan berbagai alasan setelah sekian bulan melaksanakan tugas dengan baik. Sang pawang juga kedapatan hangus disambar oleh petir. Read the rest of this entry