Arsip untuk ‘Opini’ Kategori

OBROLAN TENTANG TETANGGA

September 6, 2009

Muhajir Arrosyid

muhajirar_rosyid@yahoo.co.id, www.wartademak.wordpress.com, www.tunu.wordpress.com

(Demak – Jum’at 04 September 2009) Sahabat sekalian, mari ngobrol tentang tetangga di pagi ini. Meskipun berita tetang keusilan tetangga kita sudah sedikit redup terkalahkan dengan kabar perceraian Anang dan Krisdayanti, dan tambah tenggelam karena terkejutnya kita dengan gempa.

Memang, kadang kita mendapat kabar, memberi kabar, dan kadang menjadi kabar. Mungkin sahabat kita di Tasik baru saja mendapat kabar tentang tetangga kita yang rese’, beberapa menit kemudian mereka gentian menjadi  kabar.

Apasih arti kata tetangga? Berasal dari bahasa apa kata tetangga itu? Terus terang saya tidak tahu sahabat sekalian, dan belum sempat mencari tahu, maka jika di antara sehabat sekalian ada yang tahu, beritahu saya. Karena ini hanya ngobrol maka sah-sah saja mengartikan ‘tetangga’ dengan pengetahuan kita sendiri.

Tetangga sepanjang yang saya ketahui adalah keluarga yang rumahnya berdekatan dengan rumah kita. Bebarengan dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan berkembang pula makna dari istilah tetangga. Sekarang kita mengenal tetangga facebook, tetangga blog, tetangga kantor, dan Negara tetangga.

Kata Pak Kyai, kita harus berbaik-baik dengan tetangga karena merekalah yang akan membantu kita jika kita tertimpa musibah.  Ternyata sahabat sekalian, karakter para tetangga kita itu berbeda-beda. Ada yang baik, ada yang aneh, ada yang suka jail, ada yang suka pinjam tidak dikembalikan, ada yang suka mengambil barang kita tanpa bilang-bilang, dan ada yang meng-klaim milik kita sebagai miliknya. Termasuk tetangga di facebook dan blog, ada saja yang usil di dinding kita, kadang juga ada yang mengambil foto, tulisan tanpa izin, bahkan ada yang memasang lagi dengan hanya mengubah ini-itu dan menyertakan namanya. Demikian pula tetangga desa, dan Negara tetangga, seringkali ada yang jail dan menjengkelkan.

Berikut adalah kisah seoarang tetangga. Dulu dia dnompleng di rumah kita. Di kamar depan ia membaringkan anak-anaknya. Sekarang rumahnya sudah lebih bagus dari rumah kita. Lantainya kramik, dindingnya tembok kokoh. Di dalam rumahnya terdapat mebel-mebel mahal. Tiga motor keluaran terbaru diparkir di emper rumah, sepeda motor untuk ketiga anaknya.

Tetangga kita itu sekarang sudah kaya. Lebih kaya dari kita. Orang kaya memang tidak dosa. Dan menerima, mengakui orang lain lebih sukses memanglah bukan perkara mudah. Sikap iri memang dilarang agama, tetapi mencari-cari keburukan orang lain seringkali hadir tanpa sengaja.

Tetangga kita itu memang rajin. Baginya tidak ada hari Minggu. Dia bekerja berangkat pagi pulang malam. Apa yang di‘iri’kan jika memang dia lebih rajin? Bukankah kita dari dulu tahu rajin pangkal kaya?

Sebenarnya dia kaya tidak ada apa. Tetapi kekayaan harusnya tidak dilanjutkan dengan perubahan sikap. Dulu dia jika berjalan menunduk, jika berbahasa mengunakan bahasa halus. Sekarang setelah dia agak kaya tersenyumpun dia sering lupa.

Kekayaan itu dekat dengan kesombongan, sudah kewajaran. Seringkali orang ingin kaya karena agar bisa sombong, bisa pamer. Maka jika ingin menjadi orang yang tidak sombong saya anjurkan untuk tidak usah kaya.

Rajin pangkal kaya, kaya pangkal sombong. Maka jangan rajin jika tidak ingin menjadi orang sombong. Maka mumpung masih miskin mari niatkan hati sejak dini. Saya rajin bekerja, tetapi nanti jika sudah kaya saya tidak akan sombong.

Tidak berhenti sampai di situ. Karena sekarang dia merasa lebih kaya, selanjutnya dia merasa lebih terhormat dan menghina-hina kita. Dia koar-koar kepada khalayak bahwa baju yang kita pakai adalah pemberiannya, karena kebaikan hatinya. Dia koar-koar bahwa sepeda yang kita kendarai adalah sepedanya. Kuarangajar.

Semoga Anda tidak menjadi tetangga yang demikian. Semoga sahabat sekalian masuk dalam golongan tetangga yang baik, yang dicintai tetangga, dan tetangga yang tidak menyakiti hati tetangganya.

Bagaimana cara menghadapi tetangga yang demikan menjengkelkan? Kita boleh marah-marah, mengutuk-ngutuk tetapi jangan berlebihan, karena kemungkinan reaksi marah itu yang dia harapkan. Kita mengumpat-umpat, mengutuk-ngutuk tetapi mereka tertawa melihat tingkah polah kita.

Apa reaksi yang paling tepat? Kita harus bekerja keras untuk segera lebih kaya. Lebih sukses. Saya yakin jika dia butuh hutangan dari kita maka tidak akan lama lagi dia akan kembali menunduk-nunduk. Memang mentalnya demikian, tidak percaya? Mari kita buktikan.

OBROLAN TENTANG ‘SHODAKOH ILMU’

September 6, 2009

Muhajir Arrosyid

(muhajirar_rosyid@yahoo.co.id,

www.wartademak.wordpress.com,

www.tunu.wordpress.com )

Demak, Jumat 4 September 2008.

Sahabat sekalian, saat saya memulai obrolan kali ini hujan baru saja reda. Kiranya ini adalah hujan pertama di bulan Rhamandan. Lepas Tarawih. Terdengar dari mushola Kang Najib dan dari masjid Kang Muh tadarus.

Kali ini saya mengajak Anda ngobrol tentang ‘Shodakoh Ilmu’. Walaupun temanya kelihatan agak serius tetapi ini hanya obrolan, drajatnya sama dengan obrolan di warung kopi. Mungkin Anda sekalian bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba saya religius, mau ngubrol masalah agama segala.

Mendengar Kang Muh mengaji di masjid dan Kang Najib mengaji di mushola saya jadi berfikir siapa yang mengajari mereka mengaji. Siapa yang mengajari dia mengenal huruf-huruf Arab itu. Pertanyaan berlanjut, siapa yang mengajari mereka berwundu, siapa yang mengajari mereka sholat, siapa yang mengajari mereka puasa dan lain sebagainya.

Sekitar tiga belas tahun yang lalu, Kang Najib belajar mengaji di mushola. Dia satu perguruan dengan saya. Dia murid paling kecil. Kang Toha adalah yang mengajari kami mengaji. Di kampung kami terdapat tiga tempat mengaji, di mushola untuk anak laki-laki sudah agak dewasa, di masjid untuk anak laki-laki yang masih kecil, dan di rumah saya yang mengajari bapak saya untuk anak perempuan. Sampai sekarang proses belajar mengaji ini masih berlangsung, dilaksanakan setelah sholat magrib jika hari biasa, dan dilaksanakan habis dhuhur jika bulan puasa.

Jadwal mengaji juga sudah diatur sedemikian rupa dan antara di mushola, di masjid, dan di rumah jadwalnya sama. Hari Senin dan Kamis adalah waktunya berzanji atau istilah lainnya diba’an. Hari Selasa dan Rabu, jadwalnya mengaji Al Qur’an. Murid-murid secara bergantian membaca Al Qur’an dan sang guru mengingatkan jika mendengar kesalahan. Hari Sabtu jadwalnya fasholatan, para murid diajari bagaimana caranya wundhu, sholat, baik bacaan maupun praktiknya. Do’a – do’a juga di ajarkan di hari ini. Hari yang paling menyenangkan adalah hari Minggu, hari ini adalah jadwalnya tarikh. Kami mendengarkan cerita-cerita sejarah dari guru. Sejarah para nabi, para sahabat nabi, sampai para wali. Meskipun tarikh tetapi kadang cerita-cerita fiksi karangan sang guru juga hadir. Kisah Abu Nawas adalah salah satu cerita yang kami tunggu-tunggu.

Di kampung kami tempat belajar yang lebih (sedikit) modern dilakukan di madrasah. Meskipun modern tetapi para murid juga tidak memakai seragam, yang penting mereka mengenakan baju dan peci, sarung seringkali hanya di taruh membalut leher, tidak dikenakan. Guru-gurunya juga tidak bersergam, malah tidak jarang memakai sandal jepit. Madrasah adalah sekolah yang didirikan atas prakarsa masyarakat sendiri. Pembiayaan juga atas iuran masyarakat.

Pendidikan dilaksanakan di dalam kelas meskipun sederhana, di dalam kelas terdapat bangku-bangku panjang, satu bangku untuk empat sampai lima orang. Berlantai tekel yang sering rusak dan berdebu. Jika hujan gentengnya bocor di sana-sini. Bel masuk madrasah dipukul tepat pukul 14.00.WIB. Istirahat sekalian sholat asyar pulul 15. 30. WIB, dan bel pulang di pukul tepat pukul 16.30. WIB.

Mata pelajaran yang diajarkan di madrasah antara lain tajwid, tauhid, tarikh, Al’Qur’an, Hadis, Aswaja, Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, dan masih banyak lagi, karena setiap kelas memiliki mata pelajaran yang berbeda.

Mari kembali kepertanyaan ini, siapa sih guru-guru ngaji Kang Najib, Kang Muh? Guru ngaji dan guru madrasah kami adalah tetangga-tetangga kami sendiri. Mereka mendapat ilmu dari guru ngaji sebelumnya. Dari mereka ada yang mendapatkan ilmu dari pondok pesantren. Serupiahpun mereka tidak dibayar. Kami mendapat shodakoh ilmu dari mereka. Mereka adalah para dermawan ilmu. Ada orang yang mau mengaji saja mereka sudah senang. Belajar ngaji di kampung kami sangat murah, bahkan gratis. Untuk mendengarkan pengajian juga gratis, untuk mendengar petuah-petuah bijak juga kapanpun bisa kami dengar.

Tentu hal ini berbeda dengan di kota. Di kota ngaji harus bayar, harus mendatangkan guru ke rumah, les membaca Al Qur’an istilahnya. Maka jangan kaget jika orang-orang kere di kota pada jadi preman, mereka tidak memiliki kesempatan luas untuk mengaji.

Di kota untuk dapat membaca Al Qur’an ada yang menggunakan metode digital, Al Qur’an yang jika di sentuh hurufnya mengeluarkan bunyi, dan harganya tentu tidak murah. Untuk mendapatkan petuah harus beli HP merek tertentu atau SMS ketik rek spasi petuah.

Melihat begitu mahalnya kesempatan untuk dapat membaca Al Qur’an di kota, kami tambah dapat bersyukur karena telah didatangkan di sekitar kami, ahli-ahli shodakoh ilmu. Kami tambah mengetahui betapa pemurahnya mereka. Mereka adalah orang orang yang berjiwa kaya.

Keseharian guru ngaji kami adalah membalik tanah dan berkubang dengan lumpur di sawah, memanggul panen menuju rumah. Akan tetapi tangan-tangan kasar mereka tetap kami cium di manapun kami bertemu. Terimakasih guru,