Arsip Kategori: Buku
SEKALI LAGI, GUSDUR
Buku Biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid
Beberapa menit keluar dari toko buku Toga Mas Bangkong untuk membeli buku Biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid aku mendapat SMS yang mengabarkan meninggalnya Gus Dur. Setelah SMS pertama, datang berutubi SMS berikutnya dengan kabar yang sama. Buku yang ditulis oleh Greg Barton dan diterbitkan oleh LKis ini berada dalam tumpukan keranjang. Terdapat dua jenis terbitan, dengan cover tebal dan cover biasa. Yang cover tebal seharga tujuh puluh ribu, yang cover biasa seharga empat puluh lima ribu, aku membeli yang cover biasa. Sebuah harga yang sangat murah untuk buku tentang tokoh sebesar Gus Dur, buku ini lumayan tebal, 560 halaman, 15,5 kali 23 cm. Jika dilihat dari sudah berapa kali cetak buku ini cukup memiliki daya tahan. Buku ini dicetak pertama kali pada Juni 2003, dan buku yang aku beli ini adalah cetakan ke sembilan dengan tanda waktu April 2008.
Membeli buku tentang Gus Dur bertepatan dengan waktu meninggal beliau hanyalah kebetulan belaka. Kebetulan malam itu aku mampir toko buku, kebetulan buku itu dijual dengan harga murah, kebetulan dikantongku ada uang sejumlah harga buku, kebetulan aku tertarik dengan tokoh ini. Aku adalah anak yang hidup disekeliling orang-orang yang mengagumi Gus Dur dan NU. Sampai hari ini ada di antara mereka yang masih mengakui bahwa presiden mereka adalah Gus Dur, mereka tidak mau mengganti foto presiden walaupun presiden telah diganti dua kali.
Aku mungkin lebih beruntung dibanding para tetanggaku yang juga menggumi beliau. Apa satu penggal hidupku pernah bertemu beliau, aku pernah mencium tangan beliau. Waktu itu Sabtu 22 Mei 2004, setelah dijatuhkan dari kursi kepresidenan Gus Dur hendak mencalonkan diri lagi. Tetapi keinginannya itu ditolak oleh KPU yang diketuai oleh Mulyana orang yang kemudian tertangkap basah korupsi dan anggotanya antara lain Anas Urbaningrum yang sekarang jadi politisi Partai Demokrat, partainya SBY, partai pemenang pemilu 2009.
Aku dengan teman-teman yang mencintainya tidak terima. Aku merasa tokoh kami itu dizalimi. Alasan KPU adalah karena kesehatan Gus Dur buruk. Aku diajak teman-teman turun ke jalan. Diajak, karena inisiatif memang bukan dariku. Tetapi aku bersuka hati. Dari aksi turun ke jalan itu akhirnya aku dan teman-teman memutuskan mogok makan di KPU Jawa Tengah yang berada di Semarang. Aksi itu tidak hanya dilaksanakan di Semarang di beberapa tempat lain seperti di Solo, Wonosobo juga dilakukan aksi serupa. Senin aku memulai aksi, hari Jum’at aku dengan satu teman yang bernama Syukron dilarikan ke rumah sakit. Hari Sabtu Gus Dur datang kelokasi mogok makan dan menjengukku di rumah sakit. Aku masih ingat pesan Gus Dur waktu itu. Kira-kira demikian, “Aku tahu perasaan kalian, tetapi tolong hentikan aksi mogok makan ini. Berjuang demi tegaknya demokrasi di negeri ini tidak boleh dengan kekerasan. Mari berjuang terus untuk demokrasi di negeri ini. Meskipun kita tidak menikmati hasilnya. Biarlah nanti anak cucu kita yang menikmati. Jangan berhenti berjuang.” Read the rest of this entry
PENJAJAHAN LIDAH DI INDONESIA
Judul : Jejek Pangan; Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan
Penulis : Andreas Maryoto
Halaman : 250
Tahun terbit : April 2009
Penerbit : Kompas
ISBN : 078-979-709-413-3
Mungkin kita jenis manusia yang tidak tahu diri. Hanya ingat pentingnya pangan setelah perut kita lapar. Kita mendapat buah-buhan di supermarket atau toko buah tidak pernah berfikir darimana buah itu berasal bagaimana menanam. Bahkan seringkali tidak tahu bagaimana wujud pohon dari buah tersebut.
Buku berjudul Jejak Pangan; Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan karya Andreas Maryato ini membahas segala hal tentang pangan. Mulai tentang rempah-rempah yang menentukan peta dunia hingga serangga sebagai tawaran makanan alternatif.
Orang Eropa penasaran dengan keberadaan rempah-rempah. Orang Arab yang menjual rempah kepada orang eropa hanya menuturkan bahwa kayu manis, salah satu rempah, yang diperdagangkan itu berasal dari sarang burung. Burung telah membawa potongan kayu manis itu dari suatu tempat yang tidak diketahui dan menjadikan benda itu sebagai bagian dari sarangnya. Soal asal kayu manis itu, hanya burung yang tahu. Begitu berharganya rempah-rempah hingga informasi mengenai asal usulnya pun disembunyikan. Pada masa itu, pedagang asal Arab diduga mendapat rempah-rempah melalui tiga jalur. Pertama melalui China. Rempah-rempah dari Nusantara memasuki China melalui jalur laut. (hal. 14)
Portugis kemudian membuat ekspedisi yang secara serius melacak asal usul rempah-rempah dengan menyusuri pantai selatan Eropa, kemudian Afrika hingga memasuki Asia. Penemuan tempat itu makin mendapati kenyataan ketika Portugis menguasai Pelabuhan Malaka pada tahun 1511. Di sisi lain, Spanyol yang tidak mau kalah dengan Portugis mencari jalur rempah-rempah melalui jalur darat hingga akhirnya menemukan Benua Amerika. Petualangan yang paling spektakuler adalah perjalanan lima kapal Ferdinand Magellan (1480-1521) yang dimulai dari Pelabuhan Sevila, Spanyol, pada tahun 1519.
Buku ini menyadarkan kita bahwa urusan perut tidak dapat diremehkan. Pasukan perang yang gagah berani tidak akan berangkat berperang jika perutnya tidak diisi. Maka salah satu strategi perang kerajaan mataram adalah menutup jalur pangan pasukan musuh. Atlit dalam olinpiade tidak akan menunjukkan prestasi optimal jika menu yang disajikan tidak cocok dengan selera.
Negara akan menjadi negara kokoh jika tersedia pangan yang cukup. Sejarah membuktikan peralihan kekuasaan secara paksa karena terjadi kemelut pangan. Pergantian Sukarno dan Suharto cukup menjadi bukti. Kewibawaan penguasa ditentukan oleh kemampuan mereka mengambil keputusan politik mengenai pangan.
Saat ini salah satu negara yang serius mengembangkan teknologi pangannya adalah India. India menjaga dan mengembangkan enam pilar sektor pertanian. Enam pilar itu adalah tanah, air, iklim, benih, peralatan, dan petani.
Penjajahan lidah
Globalisasi pangan telah menjadikan hidangan yang ada di meja makan terasa asing dan makin jauh asal usul bahan bakunya. “Penjajahan”lidah telah merasuk hingga kita tidak memahami kisah komoditas yang disantap. Apabila mau kembali ke desa, kita akan menemukan kuliner sesungguhnya.
Nasi yang dihidangkan pun bisa dilacak mulai dari meja makan, tempat menyimpan, tempat penggilingan gabah, tempat untuk menyimpan gabah, tempat pengeringan gabah, hingga sawah tempat lokasi menanam. Apabila mau merunut lagi, kita akan menemuan asal usul benihnya, asal usul airnya, hingga asal usul pupuknya. Sebuah rangkaian proses produksi pangan yang sangat komplet, sementara bagi kebanyakan orang di perkotaan nasi hanya diketahui ketika sampai dimeja makan saja.
Kemolekan globalisasi telah mengaburkan kekayaan kuliner kita. Globalisasi pangan pula telah menjauhkan hidangan di meja makan kita dari asal-usulnya. Selama ini kita berusaha sok akrab dengan makanan di meja makan meski kita tidak mengetahui asal-usul roti, pizza, mentega, dan lain-lain. Makanan itu sebenarnya adalah makanan asing di lidah yang dipaksakan diterima dengan alasan gengsi.
Pekarangan Kita
Di salah satu bagian dalam buku ini juga membahas tentang pekarangan yang pada masa lalu berfungsi sebagai basis pangan rumah tangga dibandingkan sebagai sumber ekonomi. Hasil pekarangan baru dijual bila sebuah keluarga membutuhkan pangan lain dan alat-alat rumah tangga yang tidak bisa dibuat sendiri.
Pekarangan sudah ada pada 860 Masehi dan Jawa Tengah merupakan tempat asal usul pekarangan.
Pada tahun 1937 publikasi yang dikeluarkan oleh Ochse memperlihatkan ada hubungan yang kuat antara kualitas pekarangan dan status gizi rumah tangga. Penelitian sebelumnya bersama Terra di Kutowinangun, Kabupaten Purworejo, menunjukkan, sebesar 18 persen asupan kalori dan 14 persen asupan protein penduduk setempat berasal dari pekarangan.
Isi pekarangan juga bermacam-macam hewan dan tanaman. Ada penelitian yang menarik, secara umum ciri pekarangan di Jateng selalu ada tanaman obat. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Jawa yang suka minum jamu. Di Jawa Barat pekarangan dicirikan dengan tanaman sayuran karena orang Sunda suka dengan lalapan.
Petani yang di korbankan
Dalam pengantarnya Siswono Yodo Husodo menyampaikan, selama ini petani yang dikorbankan dalam kebijakan pangan pemerintah. Penderitaaan petani kecil dan petani gurem bertambah ketika pemerintah dalam mengundang investor asing, memberi daya tarik Indonesia sebagai tempat dengan upah tenaga kerja amat murah.
Dan, agar upah buruh tetap murah, harga pangan harus ditekan. Sedikit saja harga pangan/beras me-ningkat, pemerintah langsung menekan dengan operas! pasar.
Bagi Indonesia, porsi pendapatan yang dibelanjakan masyarakat untuk kebutuhan pangan memang masih besar, dan menjadi salah satu faktor pembentuk inflasi yang penting. Karena itu, setiap pemerintahan berusaha menekan inflasi dengan menekan harga pangan; antara lain dengan mengadakan impor beras, operasi pasar, dan program beras miskin.
Padahal, pada waktu bersamaan, harga-harga kebutuhan yang lain naik signifikan. Akibatnya nilai tukar petani (NTP) terus mengalami penurunan dan kesejahteraan petani terus menurun dibandingkan profesi lain.


