Arsip Kategori: Film/Sinetron
SUDAHKAH KITA BERSUNGGUH-SUNGGUH?
Awal bulan lalu, sebuah film baru diputar berj
udul ‘Negeri 5 Menara’. Sebuah film gubahan dari novel dengan judul yang sama karya A. Fuadi. Film ini seperti mutiara dalam sampah film horor yang memenuhi papan reklame biaoskop Indonesia seperti Kuntilanak Dalam Kubur, Suster Ngesot, Hantu datang Bulan, dan film sejenis lainnya.
Dari pemilihan setting, tema, hingga pemain semua berbeda. Oh ya, mungkin film ini adalah kelanjutan dari tradisi film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Film yang dihadirkan untuk memotivasi anak-anak agar gigih berjuang meraih mimpinya. Bahwa kemiskinan, keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih cita-cita.
Adalah Alif, seorang bocah dari Maninjau yang mulanya tidak mau mondok di pondok pesanteran. Alif lebih senang sekolah ke SMA. Ia ingin menjadi insinyur, masuk ITB seperti sahabatnya Randai.
“Alif, nanti siapa yang akan menjadi penurus Hamka? Siapa yang akan menjadi penyiar agama?” kata ibunya pada suatu ketika. Alif yang mula-mula menolak akhirmya memahami kemauan ibunya, pergi ke Jawa Timur belajar di sebuah pondok modern, pondok madani.
Hari pertama masuk kelas, seorang ustad datang membawa sebatang kayu yang cukup besar dan pedang yang berkarat. Ustad itu setelah salam dan memperkenalkan diri menghantamkan pedangnya dengan sebatang kayu. Cukup lama dan susah payah akhirnya sebatang kayu itu patah “Saya mematahkannya bukan menggunakan pedang yang paling tajam, tetapi dengan pedang yang karatan. Yang sungguh-sungguhlah yang akan berhasil.” Kemudian sang ustad memperkenalkan sebuah kalimat yang kemudian menjadi mantra yang selalu dibuat semangat sepanjang anak-anak menyelesaikan pendidikan di pondok itu. Mantra itu adalah ‘Man jadda wajada’ siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil.
Tentang kesungguhan meraih cita-cita inilah yang ingin disampaikan dalam film ini, meskipun menurut saya kurang berhasil. Film ini hanya bercerita tentang persahabatan lima sahabat yang menamakan diri Shohibul Menara karena mereka sering istirahat di bawah menara. Mereka adalah Alif dari Maninjau, Raja Lubis dari Medan, Sain Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa.
Sedangkan kesungguhan mereka meraih mimpi-mimpi, menguasai Bahasa Arab, menakhlukkan ujian kurang tersajikan dengan apik. Saya menganggap film ini hanyalah etalase, bagi yang ingin melihat keseluruhan kisah-kisah menarik dalam pondok madani, Anda perlu membaca langsung cerpen.
Tentu saja beda antara film dengan ruang yang pendek dibanding novel yang berhalaman-halaman. Penulis skenario harus memilih adegan-adegan yang bagus divisualkan, alur juga ditata sedemikian rupa agar indah secara visual.
Apapun hasil dari film ini telah menjukkan kepada mata kita bahwa ternyata ada lembaga pendidikan pesantren yang seperti ini. Sebuah lembaga pendidikan yang seringkali kita curigai kolot, kampungan, bahkan sarang teroris. Pondok ini adalah lembaga pendidikan yang luas dengan ruang kelas yang bersih, seragam yang rapi, pengembangan kemampuan bahasa yang cukup modern, kemampuan bermusik, jurnalistik, olahraga, bahkan teater terwadahi di sini. Sebuah ketrampilan yang di sekolah umum saja belum tentu terwadahi. Dan jangan salah, dari ribuan pendaftar di pondok ini hanya ratusan saja yang diterima. Ini fiksi tapi berdasarkan kenyataan.
Satu pesan dari film dan novel ini yang perlu kita pertanyakan kepada diri kita, apakah kita sudah bersungguh-sungguh untuk membela mimpi-mimpi kita? Mari kita perjuangkan. Salam. (Muhajir Arrosyid).
SRINTHIL YANG TERALIENASI
Resensi oleh Tri Umi Sumartyarini
Sang Penari merupakan film yang terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) karya Ahmad Tohari. Sang Penari disutradari oleh Ifa Ifansyah. Srinthil adalah tokoh sentral dalam film ini. Ia adalah seorang perempuan ronggeng yang tinggal di Dukuh Paruk, sebuah dukuh di Kabupaten Banyumas. Dalam film ini Srinthil tergambar sebagai perempuan yang teralienasi.
“Ronggeng ki duniaku, Sus. Wujud baktiku kepada Dukuh Paruk,” kata Srinthil kepada pacarnya, Rasus, pada suatu malam. Itu adalah jawaban Srinthil kepada Rasus saat Rasus meminta kepada Srinthil untuk meninggalkan dunia ronggeng dan menjadi istrinya. Srinthil menolak. Baginya ronggeng adalah dunianya. Dukuh Paruk akan memiliki “nyawa” kembali jika mempunyai seorang ronggeng. Ronggeng merupakan kebanggaan Dukuh Paruk dan Srinthil ingin menjadi bagian dari kebanggaan itu.
Motivasi Srinthil menjadi ronggeng menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah mempunyai kesempatan memilih apa yang diinginkan. Ann Forman dalam bukunya Feminity as Alienation: Women and the Family in Marxism a Psychoanalysis menyatakan bahwa alienasi yang terjadi pada perempuan lebih mengkhawatirkan karena pengalaman hidup perempuan lebih dirasakan sebagai hanya kelengkapan bagi orang lain. Hidup perempuan terus diperuntukkan untuk orang lain atau menjadi bagian dari orang lain sehingga sebetulnya ia telah kehilangan jati dirinya. Ia tidak dibiarkan menjadi manusia utuh .
Srinthil merupakan representasi perempuan yang “dipilih”. Ia sebenarnya tidak memiliki daya untuk “memilih”. Menjadi ronggeng dimaknai Srinthil sebagai wujud “bayar hutang”. Srinthil ingin berbakti kepada Dukuh Paruk karena ingin membalas kesalahan orang tuanya sebelas tahun lalu. Orang tua Srinthil menjadi penyebab kematian belasan penduduk Dukuh Paruk karena keracunan tempe bongkrek buatan orang tua Srinthil. Ia ingin “memutihkan” nama orang tuanya kembali. Artinya, keputusan Srinthil adalah karena tekanan untuk mengembalikan nama baik orang tuanya.
Sebagaimana kehidupan desa di Jawa, penduduk Dukuh Paruk sangat percaya akan kekuatan roh leluhur yang menjaga keselamatan desa. Menjadi ronggeng adalah takdir bagi Srinthil sebagai syarat agar desa selamat dalam naungan Ki Secamenggala yang kuburannya dikeramatkan warga. Dalam hal ini Srinthil dipilih oleh tradisi. Hidupnya diperuntukkan untuk keselamatan warga desa.
Menjadi ronggeng, membuat Srinthil menanggung resiko demi resiko. Hal ini menjadikan Srinthil sebagai perempuan yang kehilangan jati dirinya dan harapan-harapannya. Resiko tersebut tergambar saat peristiwa bukak klambu, ritual pelelangan keperawanan ronggeng. Alih-alih menyerahkan keperawanan pada laki-laki yang membayar dengan harga tinggi, Srinthil melakukan hubungan intim pertamanya dengan Rasus. Karena kecewa tubuh Srinthil dinikmati laki-laki lain, Rasus pergi meninggalkan desa saat malam “bukak klambu”. Jauh di lubuk hati Srinthil, sebenarnya ia ingin menikah dengan Rasus dan memiliki anak darinya. Namun, cengkeraman tradisi menghempaskan keinginannya.
Suatu kali Srinthil mogok menari. Namun, lagi-lagi karena ikatan tradisi yang mengharuskan Srinthil tunduk, ia mau menari lagi. Kali ini Srinthil menari di kecamatan pada acara yang diadakan Partai Komunis. Oleh sebab inilah Srinthil dituduh terlibat gerakan partai Komunis. Latar film ini adalah tahun 1965, saat huru-hara gerakan Partai Komunis terjadi. Akhirnya, Srinthil ditangkap dan dipenjara. Pada akhir film, Srinthil menari di pasar dengan dandanan menor mirip orang yang kehilangan kejiwaan. Srinthil menari tanpa naungan Ki Secamenggala. Kejayaan ronggeng Dukuh Paruk pun runtuh. Ending di film sang Penari lebih sederhana dibanding pada novel RDP. Pada RDP Srinthil mengalami gangguan jiwa dan diserahkan Rasus di rumah sakit jiwa.
Srinthil adalah representasi perempuan yang teralienasi oleh masyarakat sekaligus tradisi yang mengikat. Srinthi tidak sepenuhnya diam. Film ini menyuguhkan dengan apik bagaimana Srinthil jatuh dan bengun menghadapi alienasi itu.


