Arsip untuk ‘Tokoh Kita’ Kategori

POPPY DHARSONO:

Oktober 20, 2008

POPPY DHARSONO:

BERPOLITIK KARENA PANGGILAN HATI

SETELAH mengenyam asam-garam dunia desain dan fashion yang telah membesarkan namanya, saat ini Poppy Dharsono mulai memasuiki dunia politik. Perempuan ayu usia baya yang awet muda ini tidak tanggung-tanggung memasuki panggung politik.

Salah satu pemrakarsa Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini sebelumnya ikut pencalonan pilkada kepala daerah Jawa Tengah melalui partai, meski akhirnya gagal di tingkat Komisi Pemilihan Umum. Tahun depan Poppy berencana mengikuti hajatan politik mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Daerah Jawa Tengah.

Apa yang melatarbelakangi Poppy terjun ke dunia politik? Seberapa jauh kesiapannya? Berikut wawancara Kustiah dengan perempuan kelahiran Garut, 57 tahun lalu ini di sela-sela acara pembukaan sebuah galeri di Jakarta Selatan beberapa pekan lalu.

1. Apa yang membuat Anda tertarik terjun ke dunia politik?

Mungkin lebih karena panggilan hati. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang serius untuk membesarkan bangsanya. Memang political will dari pemerintah sudah ada, hanya saja masih ada hambatan. Soal skill dan sumber daya manusia. Di negara kita ini banyak politisi, tapi jarang yang benar-benar berbuat konkret untuk masyarakat. Semua mengatasnamakan rakyat, tapi ujung-ujungnya lebih mementingkan kepentingan pribadi.

Saya berniat membantu masyarakat lemah. Selain dengan perbuatan nyata, ada kebijakan yang lebih memihak kehidupan mereka. Khususnya pemberdayaan orang-orang lemah, membantu orang-orang yang secara ekonomi dan sosial belum terbantu. Misalkan saja usaha industri kecil. Saat ini belum banyak yang mengelola.

2. Apakah untuk tujuan itu harus melalui dunia politik?

Saya ingin memberikan sumbangsih bagi bangsa ini. Membantu secara langsung. Sebenarnya apa yang saya lakukan saat ini adalah melanjutkan apa yang sudah saya lakukan kemarin-kemarin. Mendirikan usaha kecil untuk masyarakat yang memiliki skill dan (merupakan) sumber daya masyarakat yang bagus tapi, tidak ada yang mewadahinya. Mengembangkan usaha-usaha kecil. Kebetulan saya kan terlibat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia yang sudah melakukan pendampingan terhadap usaha-usaha industri kecil. Ada 150 orang anggota lebih yang melanjutkan program ini. Dan sudah berjalan dengan baik.

3. Bagaimana respons keluarga dan teman-teman Anda saat mengetahui Anda terjun ke politik?

Mereka sangat mendukung. Salah satunya membantu mempersiapkan buku dan peluncurannya. Sharing tentang bagaimana usaha-usaha kecil bisa berkembang dan membantu mengerjakannya. Mereka sangat men-support.

4. Persiapan apa saja yang sudah Anda lakukan untuk rencana pencalonan Anda di DPD tahun depan?

Yang pertama fokus dengan buku. Saya ingin mendokumentasikan perjalanan 30 tahun berkarya sebagai desainer. Buku saya lebih banyak bercerita tentang sejarah kain-kain Nusantara. Kain yang kita olah ternyata masih up to date dengan fashion-fashion yang sedang ngetren saat ini. Tiga Desember nanti akan di-launch.

Selain tetap mempersiapkan kampanye. Satu tahun mengurusi persiapan pilkada yang gagal tahun lalu cukup membuat saya terbantu. Meski gagal, saya masih bisa melanjutkan network yang saat itu sudah saya bangun, konstituen-konstituen juga masih intens. Kami sudah mempersiapkan semuanya.

5. Berapa banyak dana yang Anda gunakan untuk pendaftaran calon kepala daerah tahun lalu dan persiapan pencalonan DPD tahun depan?

Untuk pencalonan pilkada tahun lalu saya habis banyak. Cost politic memang tidak sedikit. Kurang lebih saya habis satu miliar. Ini untuk cost politic lho, bukan money politic. Tidak ada pelican-pelicin. Yang begitu-begitu lebih baik saya tidak usah aja deh. Ya namanya juga berpolitik. Kalau untuk pencalonan DPD ini saya baru habis 400 juta (Rupiah). Untuk ongkos pergi ke daerah bersama teman-teman. Saya kan perginya tidak sendiri. Ada teman-teman pendukung yang menemani.

6. Apa penyebab Anda gagal di pilkada Jawa Tengah tahun lalu?

Wah, saya sebenarnya ingin cerita. Tapi of the record aja ya …. Biasa, politik itu kan selalu identik dengan biaya mahal. Nah, ini yang membuat saya lebih baik tidak melanjutkan saja. Kalau untuk kebutuhan konkret membantu masyarakat mungkin saya masih toleransi, ini sudah lain ceritanya. Kalau secara kualifikasi saya tidak ada masalah. Ya karena faktor lainnya itu, yang bagi saya bermasalah.

7. Apa saja aktivitas Anda selain bergiat di dunia politik?

Masih seputar persiapan peluncuran buku Redifining Heritage. Ada rencana buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar mudah diakses. Judul dalam bahasa Indonesia “Memakna Ulang Pusaka Budaya”. Saat ini saya kan banyak waktu. Kalau dulu bekerja perlu waktu panjang, sekarang sudah tidak lagi. Apalagi waktu yang saya habiskan tidak sedikit, 30 tahun. Masak (saya) masih tetap membutuhkan waktu 12 jam untuk bekerja.

Dunia desain bagi saya adalah profesi karena hobi. Saat ini saya melakukannya di waktu-waktu sela. Kan tidak perlu waktu lama. Kalau ada waktu 12 jam saya hanya membutuhkan waktu enam jam untuk menyelesaikannya. Kalau teman-teman selesai bekerja waktunya digunakan untuk bermain golf, saya menggunakannya untuk bekerja. Sekarang kebalikannya.

8. Program apa saja yang sudah Anda siapkan jika Anda terpilih di DPD nanti?

Mengembangkan industri kecil. Pasca-gempa di Yogyakarta dan Klaten beberapa tahun lalu membuat industri kecil kain pertenunan di Klaten terpuruk. Saya sudah memulainya dengan membantu industri usaha ini agar bisa bergerak kembali. Yang kedua, saya ingin menerapkan program Grameen Bank. Di Indonesia program ini sangat dibutuhkan.

Saya sudah memulai di Jawa Barat yang teman-teman namakan “Kawan Cempaka”. Yang kami bantu kebanyakan perempuan semua. Di Subang hampir 2.000 perempuan yang sudah menerima pinjaman model Grameen Bank ini. Membantu orang kan tidak melihat daerah. Meski saya pencalonanya nanti di Jawa Tengah, saya melihat di daerah Subang banyak sekali masyarakat yang membutuhkan. Rencananya nanti akan diperluas. Industri usaha kecil di Klaten kan sudah mulai bergerak. Tinggal nanti kita lihat daerah lainnya lagi yang membutuhkan bantuan. Sebenarnya di Indonesia banyak banget SDM yang sudah memiliki skill bagus. Hanya pemberdayaannya saja yang belum maksimal.

9. Pendapat Anda tentang keterlibatan perempuan dalam dunia politik dewasa ini?

Penting sekali. Nasib sebuah bangsa tidak akan baik jika mengabaikan kaum perempuan. Saat ini banyak kok perempuan Indonesia yang memiliki skill bagus. Tingkat pemahaman dan pendidikan terhadap politik juga tak kalah dengan laki-laki. Kalau ada kesempatan kenapa tidak diambil. Perempuan di Indonesia jika diberdayakan dan diberi kesempatan yang sama seperti laki-laki, (maka) saya yakin persoalan bangsa tidak akan (jadi) sepelik ini.

Kita perlu dukung kemauan dan upaya pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan. Caranya, pendidikan politik terhadap kaum perempuan harus digalakkan. Pengelolaan usaha industri kecil ditingkatkan. Umpamanya begini, kalau ingin membuat hancur sebuah bangsa caranya gampang, timpangkan saja kaum perempuannya. Artinya, betapa pentingnya keterlibatan perempuan. Bangsa ini tidak akan pernah berhenti ditimpa masalah dan krisis jika para perempuannya tidak ikut terlibat menyelesaikannya.

Nama: Poppy Dharsono

Tempat/Tanggal Lahir: Garut, 8 Juli, 1951

Pendidikan: Akademi Sinematografi, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) Ecole Superieur de la Mode (ESMOD), Guarre-Lavigne, Paris, Prancis.

Karier: Designer Poppy Dharsono Studio (1977). Direktur dan Pemilik of Poppy Dharsono Fashion Studio (1977 – sekarang). Komisaris PT Panin Nusamas (1980 – Sekarang). Presiden Komisaris PT Rana Sankara (1986 – sekarang). Presiden Direktur PT Poppy Dharsono Cosmetics (1989 – sekarang). Presiden Komisaris PT Prima Garis Moda (1998 – sekarang). Presiden Komisaris PT Indotex LaSalle International College (1999 – sekarang). Presiden Komisaris Indonesia International Fashion Institute (2004 – sekarang).

Organisasi: Vice President Indonesian Apparel Manufacturers Association (1987 – 1991) Chairperson of the Compartement of Small Scale Businessman and Industry,
The Indonesia Chamber of Commerce and Industry (1988 – 1998). Anggota Dewan Pertimbangan – Federation of Citizen Entrepreneurs of Indonesia (1988 – 1955). Ketua – Indonesia House Foundation (1990 – sekarang). Ketua – Society of International Development (SID) (1990 – sekarang). Ketua – Asosiasi Fashion Desainer Indonesia (1993 – sekarang). Chairperson of the Indonesian Garments & Accessories Suppliers Association (1995 – sekarang). Koordinator Tourism and Trade Development, Indonesia Chamber of Commerce and Industry US Committee (1995 – sekarang). Vice Presiden The Indonesian Chamber of Commerce & Industry, Coordinating Social Welfare Affairs (1998 – sekarang).

Penghargaan: Penghargaan oleh Departemen Pendidikan & Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Kejuruan. Penghargaan oleh Lembaga Kerja sama Ekonomi Sosial & Budaya Indonesia-China untuk kontrisbusinya. Penghargaan oleh Surabaya Stock Exchange atas kontribusinya sebagai pembicara di ‘Stock Market & Venture’ Seminar. Adikarya Wisata penghargaan oleh Departement Pariwisata, Jakarta atas dedikasinya sebagai fashion desainer. Penghargaan oleh Metropolitan Mal Bekasi Management atas kontribusinya dalam Eksebisi Industri Kecil. Penghargaan oleh DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia atas kontribusinya dan dedikasinya sebagai entrepreneur. Penghargaan oleh KADIN atas kontribusi dan komitmen-nya dalam bisnis. (dimuat di Jurnas/Jumat,17 Oktober 2008)

Alex Komang

Juli 1, 2008

LEBIH BAIK TERUS BERKARYA

Wawancara Kustiah dengan Alex Komang

kPertanyaan buat Alex Komang

ALEX Komang bukan nama asing di dunia teater dan film Indonesia , tapi namanya kini nyaris tak terdengar. Ke mana gerangan  Pemeran Utama Pria terbaik dalam film Doea Tanda Mata arahan sutradara Teguh Karya ini? Rupanya peraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1985 ini sekarang sibuk belajar filsafat. “Tidak untuk mengejar master, tapi untuk belajar lebih banyak hal,” ujarnya malam itu.

Perbincangan dengannya pada malam pekan lalu di Teater Populer tak tak sekadar membahas kegandrungan baru Alex, juga tentang perkembangan dunia perfilman kontemporer. Menurut penggemar sastra dan teater ini, dunia perfilman harus diisi bukan hanya oleh popularitas dan tren saja, melainkan juga kematangan akting dan isi film itu sendiri. Berikut ini petikan dari perbincangan itu.

Lama tak muncul, ke mana saja Anda?

Saat ini saya sedang serius belajar filsafat di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta . Mencari ilmu, agar tercerahkan dan tidak bodoh dalam membaca setiap persoalan hidup. Saya tidak ingin jika ada seseorang atau suatu kelompok mengeluarkan pernyataan atau doktrin tentang suatu agama saya menelan mentah-mentah tanpa mengetahui kebenarannya atau kritis menyikapinya. Terlepas dari itu, saya memang lagi senang belajar.

Tak tertarik dunia perfilman lagi?

Tetap. Saya tidak meninggalkan aktivitas lama. Saya masih setia  mengikuti perkembangan film. Setia dengan film tidak berarti harus ikut di dalamnya. Jika ditanya bagaimana perkembangan film saat ini saya bisa menjawabnya. Tapi, kini saya lagi senang belajar, maka jadilah saya masuk universitas.

Bagaimana  perkembangan film saat ini?

Kita harus optimistis. Ternyata di antara kekelaman dunia  pertelevisian ada kemajuan pesat (di dunia perfilman-Red). Muncul sineas-sineas muda. Sineas perempuan juga tak ikut ketinggalan. Ya, idealnya, baik semua, mendidik semua, tapi kenyataannya kan tidak bisa begitu. Saya tidak mengatakan dunia perfilman dan pertelevisian buruk semua. Cuma kita perlu melihat dengan cermat siapa saja yang akan bertahan lama dengan kemampuannya. Siapa yang berkualifikasi, maka dia yang tidak akan pernah tenggelam. Publik yang akan menilainya.

Bagaimana tentang kontroversi BPPN (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional-Red)?  Beberapa sineas muda menganggapnya tidak berkontribusi banyak bagi perfilman kita?

Saya dapat telepon dari beberapa kawan tentang BPPN. Saya pikir pemerintah tidak seharusnya mengintervensi kreativitas anak muda. Biarkan yang muda-muda belajar dan mengaktualisasikan gagasan-gagasannya. Harus dipisahkan apa saja yang seharusnya di bawah pengawasan pemerintah dan apa yang tidak. Saya tahu di jajaran BPPN banyak seniorsenior perfilman. Ada Bang Deddy Mizwar, ada Bang Slamet Raharjo dan banyak senior lainnya. Tapi, bagi saya, berkreasi tetap dilakukan tanpa harus merasa terganggu kebijakan ini dan itu. Seharusnya memang ada wilayah di mana kaum muda dibebaskan berkreativitas. Baik buruknya film itu sangat subyektif. Saya tidak yakin film si A bagus jika dilombakan dengan juri si A. Atau film si A jelek jika difestivalkan dengan juri si B.

Berarti seorang juri itu banyak berpengaruh di luar bidang penjurian?

Benar. Tidak bebas nilai. Pasti ada unsur x. Taruhlah film Ekskul yang sutradaranya banyak menuai cercaan. Yang katanya filmnya jelek kok menang lah, yang tidak bagus lah. Itu kan namanya pembunuhan karakter. Yang begitu itu yang sebenarnya tidak boleh. Mana ada sutradara atau pekerja film meminta-minta supaya di menangkan dalam festival film. Yang ada tuh bagaimana mereka bisa berkreasi. Tidak bisa kita melakukan penolakan atas hasil karya orang lain. Menang kalah itu kan biasa. Lebih baik terus berkarya. Jadilah aktor, aktris atau pekerja film yang baik. Tidak perlu meremehkan, mencerca apalagi melakukan penolakan terhadap karya orang lain. Meski itu juga merupakan pilihan sikap. Sama seperti saat saya memutuskan harus belajar filsafat dan kenapa mesti diambil di universitas itu. Semua pilhan tentunya punya alasan.

Aktor atau aktris yang bagus itu seperti apa?

Yang selalu mau belajar. Memiliki keinginan untuk maju dengan cara bekerja keras. Biasanya orang-orang seperti inilah yang populer di masyarakat. Masyarakat kita kan semakin cerdas menilai mana aktor dan aktris yang hebat.

Realitas aktor dan aktris kita saat ini?

Bagus. Saya lihat banyak pendatang baru yang menunjukkan  kebolehannya. Memiliki potensi menjadi orang besar. Tapi, sayangnya tidak semua. Banyak juga yang hanya mengandalkan popularitasnya.

Tapi, secara umum saya acungi jempol pada aktris-aktor kita saat ini. Mereka luar biasa. Saya juga lihat banyak di antara mereka yang keinginan belajarnya tinggi. Jika saja emua aktris aktor kita seperti itu, kan hebat.

Siapa yang menginspirasi Anda terjun ke dunia film?

Bapak saya. Figur pertama yang saya contoh ya bapak saya. Tidak jauh-jauh. Yang lain-lainnya ya mendukung, menambah referensi hidup saya dalam menentukan pilihan. Misal, saya diajak Bang Teguh Karya belajar seni teater. Lalu saya menekuninya. Saya banyak belajar dari beliau. Kemudian yang lain-lainnya adalah efek dari apa yang saya kerjakan.

Siapa aktor-aktris yang dikagumi dan kapan Anda muncul lagi di perfilman?

Tentu para senior saya yang sampai sekarang namanya masih dikenal masyarakat. Yang total berkarya. Teguh Karya, Slamet Raharjo, Deddy Mizmar. Mereka orang-orang hebat yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dicapainya. Karya adalah orientasi hidupnya. Bukan ingin berkompetisi atau ingin populer. Saya tidak menganggap yang lain-lainnya jelek. Tapi, itu tadi, masyarakat dan alamlah yang akan menyeleksinya. Soal muncul di film, tunggu saja. Sekarang saya fokus belajar dulu. Untuk maju itu banyak caranya. Apakah itu aktif di perfilman, terus terlihat di televisi atau belajar giat seperti yang saat ini saya lakoni. Kustiah

Biodata

Nama : Syaiful Nuha/Alex Komang

Lahir : Jepara, Jawa Tengah, 17 September 1961.

Agama : Islam

Alamat Rumah : Pejaten Elite, Jl. Amil II/ 4, Pejaten Barat, Jakarta Selatan.

Pendidikan

  • SD 2 Pecangaan, Jepara (1973)

  • SMP Wali Songo Pecangaan, Jepara (1976)

  • SMA Wali Songo Pecangaan, Jepara (1979)

  • Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, jurusan filsafat.

Karier

Aktor teater, antara lain bersama Teater Koma dalam lakon Opera Primadona (2000), Aktor film di bawah arahan sutradara Teguh Karya, antara lain Secangkir Kopi Pahit (1984), Doea Tanda Mata (1985), Ibunda (1986), Pacar Ketinggalan Kereta (1988), _ Bermain sinetron, antara lain dalam Bila Esok Tiba (1997), Bingkisan untuk Presiden (2000), Cinta Terhalang Tembok (2002), dan lain-lain.

Penghargaan

Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 1985, sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik untuk film Doea Tanda Mata dan lain-lainnya