KAMPUS DAN DANGDUT

Sebut saja namanya Tunu. Tahun 2000-an ia membeli kaset pita  Laksmana Raja di laut yang dilantunkan Iyet Bustami. Ia seperti anak culun di kelas. Ia ditertawakan. Selera musik yang aneh menurut teman-temannya. Teman-temannya mengidolakan Padi dengan lagu hitnya Semua Tak Sama atau Dewa dengan lagu hitnya Arjuna Mencari Cinta. Tapi sekarang, saat ia menjadi dosen, ia mendengar para mahasiswanya akrab dengan lagu berjudul Sayang, Bojoku Galak, Ditinggal Rabi, Suket Teki yang dipopulerkan oleh penyanyi-penyayi panggung semacam Via Valen, Nella Kharisma.

Kampus adalah tempat berkumpulnya kawula muda. Mereka punya selera musik, pakian, bahkan logat bicara yang mencerminkan anak muda. Mereka adalah representasi zaman kekinian. Sedangkan dangdut adalah musik rakyat, diundang di acara-acara hajatan perkawinan, dijogetkan dengan saweran di panggung sedekah bumi. Mungkinkah kedua hal yang (seolah) bertolak belakang ini saling menyapa? Read the rest of this entry

Iklan

MENJAGA AMANAH

Seorang anak diantar oleh bapaknya ke sekolah. Si anak meminta berhenti agak jauh dari halaman sekolah. Kamu tahu alasannya? Si anak malu jika dilihat oleh teman-temannya. Ia malu dengan bapaknya yang pakaiannya tidak bagus, ia juga malu karena diantar menggunakan motor yang buruk.

Cerita itu diceritakan oleh Habib Anis Sholeh Ba’asyin di sebuah forum yang dihadiri masyarakat desa di daerah Rembang. Cerita ini menurut pengakuan beliau membuat beliau berlinang air mata. Bib Anis mengajak untuk meningkatkan kepercayaan diri. Mengapa malu diantar menggunakan motor dan baju jelek jika itu milik sendiri? Terus bangga diantar menggunakan mobil tapi hasil korupsi? Apa jadinya Indonesia kedepan jika generasinya seperti itu? Read the rest of this entry