Bukan Tiba-Tiba

Sesudah berkelak-kelok menelusuri jalan raya, kami sampai ke tempat itu. Turun dari bis, saya tidak sendiri. Bersama-sama mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa IKIP PGRI Semarang, saya berjalan kaki sebentar. Jam menunjuk kira-kira pukul satu. Matahari menyengat di awal bulan Juli. Tanah dan debu cukup gerah kepanasan. Beberapa keringat meleleh di leher.  

            Memasuki area itu, keteduhan mulai terasa. Setidaknya, dua pohon sangat besar memayungi. Pastilah ia lebih tua dari usia saya. Oleh Bu Ambarini, rekan sesama pengajar, saya diperkenalkan dengan Pak Bina, ah, maksud saya Heru Kesawa. Wajahnya terasa akrab dan sangat santun. Di memori saya, pada masa tv Yogya masih berjaya, kira-kira saya masih SD atau SMP begitu, Pak Bina dan Den Baguse Ngarso menjadi tontonan yang sangat ditunggu-tunggu. Sekitar tahun 80 atau 90 an. Mungkin karena TVRI masih menjadi tontonan satu-satunya, belum memiliki saingan tv swasta seperti sekarang ini. Wah, jika itu terjadi pada masa kini, mereka sudah menjadi selebritis, dengan bintang yang sangat bersinar.

            Inilah padepokan Bagong Kusudiarjo. Diselingi dialog seputar seni. Di aula terbuka, beberapa cantrik menyuguhkan tarian. Para cantrik berasal dari berbagai negara. Ada yang berasal dari Timor Leste. Gerakannya sudah luwes dan prigel. Bahasa Indonesia nya juga fasih.  Musik rancak, khas pak Bagong. Kadang dari kaset, kadang dari bunyi gamelan yang ditabuh dari belakang. Gerakan tari juga rancak. Beberapa tetangga yang berada si seputar lingkungan ikut menonton.

            Pak Heru menjelaskan lagi perihal ini-itu. Ia yang memandu. Tiba-tiba bunyi mobil mainan terdengar keras. Rupanya dari mainan seorang anak kecil yang kebetulan ikut nonton. Di sebelahnya, temannya main sepeda. Ia segera didekati oleh seorang perempuan. Kejadian itu tidaklah di atas panggung, tetapi justru di belakang – atau seputar aula tadi.

            Sambil menyaksikan beberapa tarian itu, Aura yang saya rasakan adalah begitu tulus dan cintanya almarhum Bagong Kusudiarjo dan teman-teman komunitas itu terhadap seni. Saya mengenal nama mereka sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka sudah sangat terkenal. Keterkenalan itu mewujud pada kesederhanaan dan kewibawaan dalam kurun waktu yang tidak pendek. Rumah atau padepokan atau sanggar yang justru dekat dengan lingkungan masyarakat. Tidak terpisah angkuh dengan tetangga kanan-kiri sebagaimana komunitas masyarakat kita.

            Fenomena ini yang tampak bergeser pada masa ini. Masyarakat ingin menjadi bintang terkenal, selebritis dengan bintang yang sangat bersinar dalam waktu singkat sesingkat-singkatnya. Pada masyarakat yang lebih luas, keinginan itu berwujud untuk menjadi kaya raya sebisa mungkin dalam waktu yang mendadak. Tiba-tiba. Karenanya, jangan heran manakala banyak sms (short messege service) tentang undian jutaan rupiah. Juga perusahaan-peusahaan yang menawarkan keuntungan berlipat-lipat jika Anda menyetor sekian modal. Anda cukup ongkang-ongkang, tidur dan duduk di rumah saja. Keuntungan itu tinggal Anda raih begitu saja. Fenomena ini juga ditawarkan dan disebarluaskan via e-mail.

            Menjadi kaya, saya kira bukanlah sesuatu yang tabu. Mimpi dan kenyataan itu bukan sesuatu yang patut untuk dilarang. Kaya itu indah. Kaya itn enak. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana prosen menjadinya. Ia membutuhkan kerja cerdas dan ketekunan. Jika ada yang menawarkannya dalam rumus yang singkat, sebaiknya malah kita curiga. Mungkin ada sesuatu yang tidak beres di belakangnya.

            Tidak terasa. Mungkin karena sangat menikmati dan waktu yang mengajak berlari. Bis meninggalkan Yogya. Beberapa mahasiswa terlelap dalam mimpi. Lampu-lampu jalan bersinar sangat terang. Kadang-kadang menyilaukan dan menggoda seperti kunang-kunang. Saya terjaga dan semoga tetap bisa terjaga menembus kehenngan malam.

 

Drs. Harjito, M.Hum.

Pimpinan Redaksi Suara Kampus; Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah IKIP PGRI Semarang.

.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 17, 2007, in Opini. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Pak Harjito

    Mohon bantuan bagi para mahasiswa jur. Bahasa yang skripsinya masih tertunda.

    Ardy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: