Kemenakan

31 Jaunuari 2008

Si Fikri Naik Sepeda

 

Hari ini adalah ujung dari bulan pertama di tahun 2008. Sekitar satu minggu yang lalu si Fikri keponakan saya berhasil menunggang sepeda. Si Fikri itu umur tiga tahun. Belum masuk sekolah taman kanak-kanak. Perjuangan agar dapat di atas sedel sepeda dengan sepeda berjalan tanpa di pegangi ini sudah dari hari-hari berikutnya. Si Fikri ini adalah pejuang sejati. Tidak terhitung berapa kali dia jatuh, menabrak sepeda motor yang sedang diparkir, menabrak dinding rumah. Setelah jatuh dia akan segera bangkit lagi tanpa mempedulikan sakit sedikitpun sambil berkata “Masak gak bisa-bisa, ayo-bisa”. Akibatnya kakinya luka-luka.

            Akhirnya perjuangan Si Fikri berhasil juga di hari ketiga usaha latihannya.  Seharian dia naik sepeda keliling kampung. Bolak-balik, kesana kamari tidak dapat lepas dari sepedanya. Si Fikri sampai lupa makan apalagi mandi.

            Sepeda itu bukan sepeda baru, itu sepeda milik Ida, keponakanku yang lain. Sepada itu hari-hari yang lalu mendongrok di gudang. Oleh bapaknya sepeda itu di bawa di reparasi dan jadilah sipikri menunggang sepeda. Tentu hari ini adalah hari yang bahagia. Namun bagi kami sebenarnya agak menyemaskan. Dia bersepeda dengan kecepaatan tinggi di jalan yang juga dilalui sepeda motor. Untung dia termasuk anak yang waspada. Setiap berpapasan dengan orang dia menyingkir dan menghentikan sepedanya kemudian dengan raut muka serius melanjutkan perjalananya lagi.

            Habis magrib. Si Fikri merintih kesakitan di pangkuan ibuku, nenenknya. Tampaknya dia kelelahan karena seharian bersepeda. Oleh ibuku, aku dan Nia adik perempuanku, dan Ida keponakanku yang lain dia di pijiti. Kami memeriksa dan menobati luka di sekujur kakinya. Pahanya gosong. Bawah lulut bagian belakang tergoses, mata kaki dan bagian yang lain juga ada luka. Namun sebelum tidur dia sempat berdo’a “Semoga nanti malam dan besuk tidak hujan aku bisa bermain sepeda.” Paginya Si Fikri bermain sepeda, sudah lupa dengan luka-lukanya.

 

            Tadi malam aku tidak pulang. Aku tidur di kantor. Karena sore kemarin saat waktunya pulang hujan lebatdan aku tidak membawa jas hujan. Pagi tadi dalam HP ku ada pesen diterima, rupanya dari adikku “Mas di rumah banjir, sudah masuk rumah. Minta doanya saja.” Seketika aku teringat Si Fikri, dia hari ini tidak bisa mainan sepeda. Aku telp dia.

“ Fik, banjir ya?

“ Ya mas!”

“ Tidak bisa main sepeda dong?”

“ Iya”

“ Tadi malem lupa berdo’a ya”

“ Iya lupa.”

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 31, 2008, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: