Mobil dan Bencana

GLOBALISASI IBU

———————————————————————————————————–

Harjito

 

MARI membicarakan peran ibu di era globalisasi.

Seorang remaja, kelas 2 SLTA berumur 16 tahun, memamerkan kepada teman foto bugil wanita yang terdapat di dalam hand phone-nya. Seorang siswa kelas 6 SD bermain internet tanpa pengawasan orang tua. Daftar kejadian seperti ini bisa dibuat lebih panjang lagi. Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena informasi yang meluber di era globalisasi.

Globalisasi merupakan imperialisme dunia Barat di abad modern karena secara struktur mereka lebih kuat dibandingkan negara-negara dunia ketiga. Daya gerak imperialisme, menurut  Lenin, adalah eksploitasi ekonomi. Karenanya, imperialisme merupakan perpanjangan tangan dari ideologi kapitalisme. Kapitalisme berupaya mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

 

Kapitalisme Informasi

KAPITALISME, merujuk pendapat Sargent (1987), bercirikan tiga hal. Pertama, kepemilikan kekayaan oleh individu. Kedua, tidak ada pembatasan dalam pengumpulan kekayaan. Ketiga, pemerintah tidak campur tangan dalam perekonomian dan karenanya  berlaku sistem pasar bebas.

Kapitalisme tradisional (kapitalisme laissez-faire) berpendapat bahwa seluruh struktur kekebasan dibangun di atas kekayaan individu. Hal ini akan hancur jika harta kekayaan individu dibatasi, atau bila sistem pasar bebas dicampuri pemerintah.

Kapitalisme modern, setelah tahun 1930-an,  ditandai empat hal. Pertama, sebagian besar kekayaan dimiliki individu. Kedua, sedikit sekali batasan terhadap pengumpulan harta kekayaan. Ketiga, pengaturan perekonomian oleh pemerintah. Keempat, adanya bantuan dan pensiun yang dibiayai pemerintah.

Dalam kapitalisme modern, peran pemerintah dimungkinkan secara luas di bidang ekonomi sepanjang dipandang perlu untuk menjamin agar persaingan dilaksanakan dengan sehat dan demi memungkinkan yang kalah tidak kelaparan.

Kapitalisme hanya mungkin hidup dalam sistem yang menghargai kebebasan dan persamaan. Karenanya, kapitalisme hanya tumbuh dalam iklim liberalisme, kebebasan individu,  dan demokrasi. Jangan heran manakala Amerika berjualan demokrasi dan liberalisme di seluruh pelosok dunia untuk memasarkan ideologi kapitalisme.

Dalam suasana seperti itulah informasi menerobos masuk dalam celah yang dahulu tak terbayangkan. Informasi menelusup batas-batas fisik teritorial negara. Melalui 3 hasil teknologi yang menakjubkan yaitu hand phone, internet, dan televisi (baca: hit) menyebarkan informasi yang merasuk wilayah sangat pribadi yaitu keluarga.

Informasi tidak memaksa  dengan cara kekerasan, tetapi dengan meng-hegemoni. Seolah-olah masyarakat dan individulah yang sangat membutuhkan seribu satu pesan informasi. Banyak kalangan mensyukurinya sebagai wujud kebebasan dan hak mendapatkan informasi seluas-luasnya.

 

Peran Ibu

DALAM tingkat kemakmuran yang semakin membaik batas kepemilikan dan pemakaian hit merambah hampir di segala usia. Dari mulai anak-anak hingga usia yang tak terbatas. Beberapa saat lalu ditayangkan di televisi tentang iklan pemakaian internet di sekolah-sekolah di Indonesia.

Yang patut diwaspadai adalah manakala yang merasuk ke wilayah keluarga dan individu berwujud informasi negatif, sesuatu yang tidak layak dikonsumsi oleh batas usia semestinya.  Foto-foto bugil disimpan dan dipertukarkan di hp anak-anak kita yang masih lugu. Tayangan kekerasan fisik dan kata-kata disuguhkan hampir setiap hari di televisi. Film, gambar, atau cerita sensual dan seronok dengan mudahnya diakses melalui internet.  

            Para produsen informasi tidak terlalu peduli pada dampak yang ditimbulkankan karena mereka hanya memperhitungkan keuntungan ekonomi bagi diri sendiri. Sangat mungkin segala informasi yang bersifat negatif sengaja diproduksi dan diperjualbelikan oleh negara atau individu untuk menggoyang sekaligus meruntuhkan suatu negara atau individu lain. Penguasa informasi adalah penguasa dunia.

Keluarga, dengan anggota di dalamnya, memiliki setidaknya dua peran dalam berkehidupan bermasyarakat yaitu wilayah domestik dan publik. Wilayah domestik mencakup kegiatan yang ada dalam rumah, seperti mengasuh serta membesarkan anak, menyiapkan makan, mencuci, atau lainnya. Wilayah publik adalah wilayah ke luar dari dunia rumah seperti mencari nafkah atau peran-peran dalam bermasyarakat. Wilayah domestik biasanya dibebankan kepada perempuan dan publik dilaksanakan  lelaki.

Pada masa pemerintahan Soeharto pernah dikumandangkan peran ganda wanita. Wanita selain sebagai ibu rumah tangga juga memiliki peran membantu perekonomian keluarga demi meningkatkan kesejahteraan. Perempuan Indonesia yang pada umumnya mukim di wilayah domestik  ke luar dari zona tadi dan masuk di wilayah publik. Para lelaki menjadi disokong oleh peran ganda wanita ini.

            Perdebatan yang acap muncul di media lebih berfokus pada setuju tidaknya atau penting tidaknya atas peran ganda wanita. Sebagian besar perempuan Indonesia meninggalkan atau “menelantarkan” wilayah domestik karena dorongan meningkatkan taraf hidup. Sebagian lainnya, karena tingkat pendidikan yang tinggi, terdorong oleh kesadaran mendalam tentang perlunya memperluas kehadiran perempuan di wilayah publik, termasuk ekonomi, sebagai sebuah eksistensi.

            Sikap ini makin lama makin meluas. Bahkan, penguasaan wilayah publik dan ekonomi oleh perempuan dianggap jauh lebih penting dan mulia. Karenanya, perempuan yang mengasuh anak, rumah tangga, dapur, cucian, dianggap lebih rendah atau tidak modern dibanding mereka yang bekerja di kantor atau instansi. Semakin banyaklah para wanita hijrah ke wilayah publik dan “melalaikan” yang domestik.

 

Membagi dan Menggeser Peran

LELAKI, di lain pihak, tetap anggun berada di koloni yang sejak dulu dirajai, wilayah publik. Lalu, siapakah yang menjaga pertahanan wilayah domestik, nilai-nilai moral dalam keluarga ketika hp, televisi, internet dengan informasi yang bersifat negatif  menguasai?

Jika perempuan merambah wilayah publik bukanlah perihal lebih penting atau lebih bergengsi. Hal itu selayaknya lebih didasari oleh faktor pilihan. Artinya, mereka yang dengan sadar atau tidak tetap menjaga wilayah domestik rumah tangga adalah sama mulianya dengan mereka yang bekerja mencari nafkah.

Membesarkan dan menjaga nilai-nilai keluarga dan moral anak adalah sama berharganya dengan mencari penghasilan. Tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.  Jika perempuan meninggalkan atau tidak peran ibu, sudah selayaknya lelaki memiliki kewajiban juga untuk masuk dan menjaga wilayah domestik rumah tangga.

Inilah yang disebut berbagi peran. Publik maupun domestik merupakan wilayah yang sama pentingnya. Jika para bapak ikut membantu, bahkan menggantikan peran ibu, adalah sama mulianya dengan mereka yang bekerja mencari nafkah. Menjaga pertahanan wilayah domestik adalah bekerja juga. Bukanlah aib manakala lelaki bergeser peran untuk membantu dan menggantikan dalam mengasuh, momong, anak-anak.

            Mungkin dirasakan janggal dan menjengkelkan dalam budaya patriaki yang menjunjung dan meninggikan lelaki. Menjaga pertahanan keluarga, membendung hal-hal negatif, menumbuhkan segala yang positif adalah tugas mulia bagi bapak dan ibu.

 

*****

           

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP PGRI

Semarang. e_mail harjitoian@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 31, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: