PNS

MENGAPA HARUS PEGAWAI NEGERI?

Muhajir Arrosyid

 

Pertanyaan diatas di tujukan kepada mereka yang memiliki keinginan menjadi pegawai negeri. Pertanyaan yang muncul setelah pertanyaan itu adalah apakah tidak ada pekerjaan lain?, apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih menarik?. Atau apa ? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin kita paparkan pada baris-baris setelah ini.

            Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih sangat diminati oleh sebagian besar tenaga kerja Indonesia, hal ini dapat di lihat dari tes pendaftaran calan PNS yang selalu tidak seimbang antara pegawai yang dibutuhkan dengan pendaftar. Tumbuhnya minat dan ketertarikan para lulusan perguruan tinggi menjadi pegawai negeri karena memang lembaga perguruan tinggi hanya menyiapkan mahasiswanya bekerja di sektor formal seperti pegawai bank, dosen, dan pegawai negeri.

Kurang lebih empat juta (4 juta) pemuda di seluruh negeri ini mengikuti tes seleksi secara serempak pada tanggal 24 November 2004 yang baru lalu, masih ribuan lain yang tidak lulus seleksi. Untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) memperebutkan kurang lebih tiga ratus ribu (300.000) lowongan pekerjaan di berbagai kota, provinsi, kantor pemerintah & instansi, dengan tuntutan latar belakang serta tingkat pendidikan yang luar biasa variatif. Dari lulusan Teknik Mesin sampai dengan Ekonomi, dari Planologi sampai dengan Kesehatan, dari lulusan SMU sampai Sarjana.

Secara rata-rata satu lowongan pekerjaan diperebutkan oleh 13 orang pelamar, namun konon ada lowongan-lowongan tertentu yang diperebutkan oleh lebih dari 200 orang pelamar. Jumlah pelamar yang demikian banyak dengan rasio yang begitu tinggi (1 :13) paling tidak menggambarkan dua hal yakni, 1) Lowongan pekerjaan di negara kita masih sangat langka; 2) Menjadi pekerja, apalagi sebagai PNS masih menjadi pilihan utama para lulusan pendidikan di negeri ini. (Pikiran Rakyat)

            Kita berfikiran kalau pegawai negeri akan lebih sejahtera, terjamin masa tuanya, karena pensiunnya, dan fasilitas-fasilitas lain yang dapat dinikmati. Kenyatannya saat ini adalah kesempatan menjadi pegawai negeri semakin sempit.

Menurut Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN), Taufik Effendi, Jumlah pegawai negeri sipil (PNS) yang kini sekitar 3,7 juta orang diperkirakan akan dikurangi hingga 2 juta orang pada tahun 2014.  Pada tahun 2007 diperkirakan sekitar 100.000 PNS akan mengalami pensiun dan menurut rencana hanya akan dilakukan perekrutan sekitar 300.000 orang PNS baru saja.(Kompas)

 

Apakah kita ingin menjadi benalu?

Pegawai negeri diangkat untuk membantu tugas-tugas negara melayani masyarakat. Oleh pemerintah orade baru dan mungkin juga sekarang pegawai negeri diangkat dan di fungsikan sekaligus menjadi komoditi politik dan perangkat politik. Artinya pengangkatan pegawai negeri sebagai alat melanggengkan kekuasaan, semakin banyak pegawai yang diangkat semakin cepat mesin politik bergerak..

Orientasi kerja dalam birokrasi pemerintah saat ini umumnya birokrasi hanya menjadi “penampungan” atau tempat yang hanya menjadi “jaring pengaman” semata. Dalam arti, tak ada tantangan, dan tatkala memasuki administrasi pegawai sipil, yang terpikirkan adalah hanya bekerja rutin, mendapat gaji rutin, kenaikan gaji dan tunjangan, serta jaminan saat pensiun.

Fenomena ini sebenarnya sudah mengalami perubahan di beberapa negara. Birokrasi kini lebih dituntut berorientasi “hasil.” Sehingga mau tidak mau komposisi birokrasi dan mekanisme rekruitmen disesuaikan dengan sasaran dan tujuan yang hendak dicapai. Misalnya, dalam perencanaan pembangunan ada sebuah proyek besar dalam bidang kesehatan maupun pembangunan infrastruktur, maka yang harus dihitung adalah berapa lama proyek tersebut akan berjalan, berapa staff yang diperlukan, dan siapa yang akan bertanggung jawab. Rekruitmen akan disesuaikan dengan kebutuhan proyek.

            Feisal Tamin, ketika itu menjabat Menneg PAN, mengatakan, hanya 60% PNS yang bekerja efektif dan selebihnya bisa dikatakan kurang produktif. Padahal mereka digaji setiap bulan dan anggaran untuk gaji PNS setiap tahun triliunan rupiah. Bagaimana itu bisa terjadi? Tentu kesalahan sejak proses perekrutan di samping belum adanya ketegasan dan kejelasan kebijakan mengenai hal ini.

 

Tentang Pensiunan

Menurut Taufik Effendi, sekarang ini jumlah pensiunan PNS mencapai tidak kurang empat juta orang. Untuk dana pensiun itu pemerintah harus menganggarkan hampir Rp 6 triliun. Ke depan beban itu akan bertambah banyak sedangkan di sisi lain kemampuan anggaran makin terbatas.

 

Masihkah Kita Bermimpi Menjadi PNS?

Masihkah kita masih ingin menjadi PNS? Jutaan orang yang gagal menjadi PNS, apakah kita harus menunggu seumur hidup menjadi PNS?. Mari mulai menengok ke sekeliling kita. Kenalilah keahlian dan kekuatan yang kita miliki. Jangan merasa tidak memiliki keahlian dan kelebihan. Karena bila perasaan seperti itu ada, kalian memang tidak pantas menjadi pegawai negeri yang harus melayani masyarakat. Salah-salah kalian yang harus dilayani oleh masyarakat. Tentukanlah cita-cita kalian dan mulailah dengan langkah terkecil untuk bisa menghidupi diri sendiri menjadi pemuda yang mandiri.

Bila pemerintah setiap tahun bisa memobilisasi dana murni dari masyarakat sebesar Rp 120 miliar bahkan lebih, maka akan banyak pengusaha berskala mikro dan kecil yang bisa tertolong. Mereka sering mengalami kesulitan modal kerja yang jumlahnya tidak besar, namun tidak memiliki akses ke sumber-sumber dana. Dengan dana sejumlah itu saja, sudah puluhan bahkan mungkin ratusan pengusaha mikro dan kecil bisa dikembangkan. Mengembangkan usaha mereka berarti membuka kesempatan kerja bagi angkatan kerja.

Kewirausahaan atau entrepreneurship perlu lebih diperhatikan di dalam sistem pendidikan di negara kita. Bukan hanya pengetahuan kewirausahaan yang diberikan sebagai materi pendidikan, namun lebih menitikberatkan pembentukan watak dan semangat berwirausaha.Semoga bertambah banyak pemuda di negara ini berlomba-lomba untuk menciptakan lowongan kerja, ketimbang berlomba dalam antrean memperebutkan posisi menjadi pegawai.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 31, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: