Sumpah Pemuda

 Kita Bisa Bersama

  • Oleh Harjito & Muhajir Arrosyid

 Sabtu, 27 Oktober 2007  WACANA SUARA MERDEKA

SESUATU yang besar dibangun dari yang kecil. Kesadaran itulah, yang menjadi landasan berkumpulnya para pemuda untuk menyelenggarakan kongres kedua, 28 Oktober 1928. Para pemuda itu adalah kelompok-kelompok pergerakan dari seluruh pelosok Tanah Air.

Didorong oleh keinginan untuk bersama menjadi satu bangsa, kelompok-kelompok tersebut bukan menjadi alasan untuk bercerai berai, melainkan sebaliknya berkumpul menjadi satu kekuatan yang diperhitungkan.

Kongres Sumpah Pemuda itu dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda, dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Mohammad Yamin mengurai tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan/ kehendak (Ensiklopedia Indonesia).

Merefleksikan peristiwa Sumpah Pemuda yang mengaku satu nusa, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, kita seperti mendengar suara dari kubur mereka bahwa “Kita bisa bersama”. Tulisan ini hendak menempatkan ide Mohammad Yamin dalam konteks kekinian.

Bahasa Perekat

Bangsa yang arif adalah bangsa yang tidak lupa dan mau belajar dari sejarahnya. Sumpah Pemuda, peristiwa tragedi amuk seperti G30S PKI atau Peristiwa Semanggi, adalah contoh sejarah yang patut diketahui dan menjadi bahan evaluasi.

Generasi muda yang tidak tahu sejarah akan menjadi generasi yang tidak sopan. Mereka tidak dapat menghargai karya orang-orang sebelumnya; tidak mengetahui asal-usulnya, sehingga mudah terpengaruh karena tidak tahu siapa yang harus ditiru dan dianut.

Mengait tentang bahasa, pada saat tertentu bahasa dijadikan sebagai wahana perlawanan. Di kurun yang berbeda, bahasa digunakan sebagai sarana perekat bangsa, pemersatu bangsa.

Menurut Shiraisi (1997), wacana perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda pada masa pergerakan nasional dalam sejarah Indonesia diekspresikan dalam wujud surat kabar, rapat, sarekat pekerja, pemogokan, partai, novel, nyanyian, sandiwara, dan revolusi.

Pergerakan tersebut merupakan upaya mencari bentuk kesadaran politik baru yang dapat disebut sebagai kesadaran akan identitas atau kesadaran nasional atas diri masyarakat Bumi Putra.

Segala penerbitan dalam bahasa Hindia -selebaran, majalah, surat kabar, termasuk novel- berusaha melahirkan dan menumbuhkan suatu bahasa nasional guna membentuk suatu komunitas atau masyarakat lain dari masyarakat kolonial (Tsuchiya, 1986).

Rasanya cita-cita itu sangat sulit tercapai jika setiap kelompok mendahulukan kepentingannya, sehubungan dengan beraneka ragamnya kebudayaan kelompok-kelompok di Indonesia.

Pada tataran itulah, peran penting bahasa. Bahasa berfungsi sebagai perekat bangsa. Jika pada masa penjajahan bahasa Indonesia sebagai sarana perlawanan, maka pada konteks kemudian bahasa Indonesia justru mampu mempersatukan kembali keretakan-keretakan yang terjadi. Bahasa Indonesia selayaknya dipercaya sebagai sarana masyarakat untuk merasakan senasib dan seperjuangan.

Kehendak

Bagaimana dalam situasi kini? Jika mau berefleksi diri, pangkal segala masalah di negeri kita adalah menurunnya kualitas mental penghuninya. Mental yang cenderung mengeruk, merampas, dan ingin memiliki (menguasai) secara pribadi.

Perilaku yang menyertai mental rendah tersebut antara lain seperti terorisme yang tiada henti, penebangan hutan, korupsi, dan rendahnya pelayanan publik. Pelayanan publik yang rendah dapat dilihat dari banyaknya kasus kecelakaan. Pesawat terbang jatuh, kereta api anjlok, atau kapal tenggelam karena berlebihan muatan. Kasus perilaku rendah lain adalah penyalahgunaan narkoba.

Perilaku-perilaku yang dijadikan contoh tersebut dapat disembuhkan dengan mengubah mental. Mental ideal yang semestinya dikembangkan yaitu mental mau berkorban sebagaimana mental para penggagas kebangsaan negeri ini. Jika para penggagas dan pendiri bangsa ini dahulu mau berkorban untuk bisa bersama, mengapa kita dalam situasi ekonomi, teknologi, dan kebebasan yang berlebih justru menjauh dari kebersamaan? Kita mestinya bisa bersama!

Kami yakin, kita bisa bersama dan kita memiliki kehendak untuk bersama. Pengertian “kita bisa bersama” adalah dengan mengakui keberagaman yang memang melekat dalam budaya dan bangsa Indonesia. Artinya, bersama dengan tidak meniadakan keberagaman, baik keragaman budaya maupun bangsa.

Bersama dalam mencapai kesejahteraan. Bersama dalam mewujudkan tujuan negara Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.(68)

— Drs Harjito MHum, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Semarang, Muhajir Arrosyid SPd, pengelola Jurnal Dimensi Pendidikan Semarang

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 31, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: