Sastra Demak

SASTRA DEMAK MASA KINI

————————————————————————————————————

Muhajir Arrosyid

Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Otonomi daerah menuntut daerah jeli melihat potensi-potensi daerah untuk dapat mengangkat tingkat kesejahteraan daerah.

Kesejahteraan adalah pemenuhan kebutuhan masyarakat berupa pangan, papan, pendidikan, dan rohaniah. Selama ini yang dianggap sebagai potensi untuk memenuhi kesejahteraan adalah sesuatu hal yang berpengaruh langsung dengan nilai ekonomi seperti pertanian, kelautan, pariwisata, dan industri. Potensi kesenian masuk dalam kategori pariwisata. Sastra dianngap tidak memiliki peran sehingga belum pernah digarap.

Dalam sejarahnya sastra memiliki peran yang dominan dalam pri kehidupan masyarakat Demak. Sastra memiliki fungsi sebagai sarana penyampai gagasan oleh para wali yang dikenal sebagai walisembilan kepada masyarakat. Sastra juga berfungsi menanamkan nilai-nilai secara halus, menciptakan mitos-mitos baru, pandangan hidup baru.

Secara tidak langsung sastra juga akan berpengaruh terhadap etos kerja masyarakat, falsafah hidup masyarakat, dan segala tata nilai masyarakat.

Kita dapat melihat Demak dulu dengan membaca karya sastranya. Demak dalam sejarah peradabannya memiliki pujangga-pujangga handal yang menggunakan sastra sebagai media terbentuknya masyarakat yang berbudi pekerti, mengatur masyarakat secara halus melalui cerita-cerita, lakon-lokon pewayangan dan tembang-tembang.

Salah satu contoh temabang ilir-ilir yang sampai sekarang masih populer di telinga kita: // lir-ilir, lir-ilir tandure wus semilir // tak ijo royo royo dak sengguh temanten anyar// cah angon cah angon penekna blimbing kuwi// lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodod ira// dodod ira dodod ira kumitir bedah ing pinggir// dondomana jumetana kanggo seba mengko sore// mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane// ya suraka…. surak//.

Kurang lebih dalam bahasa Indonesia seperti ini : //Lihatlah kini waktu menanam bibit semai telah datang, begitu hijau segar laksana pengantin baru// Wahai anak gembala tolong panjatkan pohon (petik) blimbing walau licin tolong panjatkan untuk bebersih baju kebesaranmu// Baju kebesaranmu telah terkoyak jadi jahitlah tambal kembali untuk bertahta sore hari ini// Selagi terang bulan selagi luas tempatnya, dan bersoraklah gembira ….//

Makna dari tembang ini kurang lebih mengambarkan ajakan Sunan Ampel kepada masyarakat untuk melaksanakan sholat lima waktu. (Blimbing yang bergigir lima dapat dimaknakan sholat lima waktu dan dapat pula ditafsir sebagai rukun Islam). Dan ajakan berjuang sekuat tenaga untuk meraihnya guna membersihkan iman kita selagi waktu dan tempat masih tersedia. Setelah kita meraihnya dan bergembiralah.

Kitab-kitab yang terbit pada zaman peradaban Demak antara lain; Suluk Sunan Bonang; Suluk Sukarsa; Suluk Malang Sumirang; Koja-Kojahan; Niti Sruti. Ajaran Sunan Bonang terdapat dalam Suluk Wijil yang berisi tentang ilmu kesempurnaan hidup. Karya Sunan Drajat adalah Tembang Pangkur. Adapun Sunan Kalijaga menyumbang dengan karyanya antara lain; Gamelan Nagawilaga; Gamelan Guntur Madu; Gamelan Nyai Sekati; Wayang Kulit Purwo; Tembang Dhandanggulo; dan Syair-syair puji-pujian pesantren. Sunan Giri menciptakan Cublek-cublek suweng; tembang Asmaradana; tembang pocong. Sunan kudus hadir dengan karyanya yaitu tembang Maskumambang dan tembang Mijil. Sunan Muria hadir dengan karyanya yaitu tembang Simon; tembang Kinanthi. (Purwadi.2005)

Sastra Demak kini

Kita dapat melihat Demak sekarang dengan membaca karya sastra masyarakatnya. Selain sebagai media penyampai gagasan sastra ternyata dapat memiliki fungsi untuk membaca kondisi dan spirit masyarakat pada zamannya. Dalam kumpulan puisi dan geguritan Demak kinasih 504 lilin cinta untukmu, sebuah kumpulan puisi yang disusun dan dibukukan oleh Dewan Kesenian Demak (DKD) dari seluruh komponen masyarakat Demak pada tahun 2007. Kita dapat melihat bagaimana keadaan Demak dan masyarakat Demak menyikapi keadaaan tersebut.

Ramatyan Sarjono dalam pengantar buku tersebut mengutarakan bahwa dalam usia Demak yang sudah lebih dari lima abad masih menjadi obyek olok – olok dari warga sekitamya.

Hal ini tergambar dalam puisi Arum dalam buku ini ;” ndemak ? ono apane …. / Adus, ngumbahi, ngising …./ Kabeh kok dilakoni ning kali / Kemproh ….// Kau mendengar apa kata mereka ??? / Mereka menghina kita …// .

Yang bahasa Indonesianya kurang lebih demikian: Demak ada apanya? Mandi, mencuci, buang hajat….// Semua kok di laksanakan di kali// Kemroh…..// Kau mendengar apa kata mereka ??? / Mereka menghina kita …// .

Dalam puisi lain yang ditulis oleh Fastabiq Hidayatullah terterara hal yang mengambarkan kondisi prilaku masyarakat Demak seperti yang tertuang dalam potongan puisi berikut: Mekong, Sebuah nama ironis // Mepe bokong, kata nenek// Yang duduk di sebelahku // Saat melongok ke jendela// Di dalam bus yang kami tumpangi //.

Sastra Demak kini mampu menunjukkan kepada kita kondisi prilaku masyarakat Demak.

Demak dalam era otonomi daerah sekarang ini agar setara dengan daerah lain dan tidak lagi menjadi olok-olok daerah sekitar menurut ketua teater Rakit Demak Sutikno Smd (2008), membutuhkan orang-orang sejati. Mereka adalah guru sejati, pemimpin sejati, abdi sejati, pewarta sejati.

Hadirlah pula seniman dan sastrawan sejati. Seniman dan sastrawan yang mampu memotifasi masyarakat nelayan, petani pemimpin untuk dapat memiliki spirit membangun, bekerja karas, dan berdisiplin tinggi.

Muhajir Arrosyid, SPd. Penulis Cerita Pendek dari Demak. Editor IKIP PGRI Semarang Press IKIP PGRI Semarang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 23, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: