Feminisme Sastra

SASTRA UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

________________________________________________________________________

Sebenarnya karya sastra di Indonesia sampai sekarang tidak memberi tempat atau bahkan mungkin melecehkan kaum perempuan. Setidaknya sastra tidak menempatkan perempuan dalam kesejajaran dengan laki – laki. Itu bisa terjadi karena pengarang karya sastra di Indonesia masih di dominasi kaum laki – laki. Yang tentu dengan kelelaki – lakiannya itu dia punya semacam rim berfikir yang masih condong kepada kaumnya kaum laki – laki. Bisa saja karena sang pengarang perempuan yang ada belum berani memberontak terhadap rong – rongan sastrawan laki – laki. Dengan demikian sastra juga memperkosa keperempuanan.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, M.A guru besar sastra UNDIP sebagai moderator dalam Kuliah perdana Program Magister Ilmu Susastra Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. Kuliah perdana ini dilangsungkan pada tanggal 5 Maret 2008 pukul 09.00 – 12.00 WIB di Auditorium gedung Pascasarjana UNDIP. Hadir menyampaikan kuliahnya Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno yang membawakan tema ‘Sastra dan Pemberdayaan Perempuan.”

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno menyampaikan bahwa beberapa sastrawan seperti Rendra, Pramoedya Ananta Toer pernah di cekal karena karyanya dianggap menganggu stabilitas. Dengan begitu dapat ditangkap bahwa sastra menjadi sesuatu yang menakutkan, itu artinya sastra penting dan diperhitungkan. Di situ sastra dianggap penting namun berbahaya, padahal sastra bisa saja penting tapi bermanfaat, sastra juga dapat digunakan sebagai alat pemberdayaan perempuan.

Steriotip

Karya sastra selama ini masih memberikan steriotip tertentu kepada kaum perempuan. Sebagai missal novel yang berjudul Buldoser, dalam novel tersebut diceritakan adanya penggusuran di sebuah kampung. Ibu – ibu marah dan berdemonstrasi. Mereka menelanjangi diri. Seorang pegawai pemerintahan datang dan berkata. “ Jangan emosional begitu dong bu, pakai akal,” di situ di gambarkan seorang perempuan adalah emosional.

Masih dalam novel yang sama ada dialog seorang cucu dengan neneknya. Sang nenek membujuk cucunya untuk tinggal di rumahnya karena rumah tempat tinggal sang cucu di gusur dan sang cucu bilang “ Oke, tapi nenek tidak boleh cerewet ya?” di situ tertanam bahwa seorang perempuan memiliki sifat cerewat. Apakah sebenarnya demikian?

Contoh lain misalnya adalah novel – novel yang diangkat dalam film dan sinetron. Masih terdapat perempuan emosional, kenapa yang ditampilkan emosional hanya perempuan dan bukan laki – laki? Apakah tidak ada laki – laki emosional? Ini akibat budaya patriarkis yang di kenalkan pada anak sejak kecil. Misalnya, seorang anak laki – laki terjatuh dan menangis orang tuanya menegur. “ Anak laki – laki kok menangis, seperti anak perempan saja ” dan kalimat tersebut terdengar dari usia yang sangat kecil dan terbawa sampai besar.

Kita dapat melihat lagi dalam karya sastra, pengunaan kata hakim kalau hakim tersebut perempuan maka di tambah hakim perempuan. Di situ terkandung pesan bahwa hakim hanya layak untuk laki – laki, kalau perempuan ada yang jadi hakim maka diberi label hakim perempuan. Ini juga berlanjut pada banyak kata lain misalnya polisi perempuan, perempuan penulis, dokter perempuan dan masih banyak lagi.

Melayani, izin, bantu

Coba kita perhatikan ketika kita membaca novel Ayat – Ayat Cinta yang sekarang sedang di filmkan dan laris manis. Kata melayani, Izin, dan bantu. Kata ‘melayani’ hanya untuk perempuan dan laki – laki adalah dilayani, tidak ada muncul kata saling melayani. Ini adalah konsep tradisi. Kata ‘izin’ hanya dari laki – laki dan yang meminta izin hanya dari perempuan.

Demikian pula kata ‘bantu’ hanya muncul untuk perempuan oleh kaum laki – laki. Sebagai contoh ada sebuah adegan seorang suami istri yang sama – sama jadi dosen pulang dari mengajar. Sesampai di rumah yang ribut mempersiapkan air hangat, makan malam pasti perempuan. Saat itu minyak goreng habis dan dia bilang kepada suaminya “Mas tolong tunggui kompornya ya, minyak gorengnya habis,” disitu dapat dilihat perempuan tidak membantu suaminya ketika melakukan kerja memasak karena itu sudah merupakan tugas semestinya. Sedangkan ketika dia mau beli minyak goreng dan meninggalkan kompor dia meminta bantu suaminya untuk menungui, karena memasak bukanlah tugas sang suami atau laki – laki.

Perempuan adalah jenis warga masyarakat manusia yang yang memiliki jenis kelamin tertentu. Selama ini orang tidak melihat perbedaan manusia dari jenis laki – laki dan perempuan. Kita menganggap laki – laki dan perempuan itu sama. Namun dalam karya sastra terlihat perempuan tidak diperhatikan. Kenapa demikian? Karena pengarangnya banyak laki – laki. Kenapa pengarang banyak yang laki – laki, karena yang banyak mendapat kesempatan menjadi pengarang adalah laki – laki.

Sastra adalah refleksi sebuah masyarakat, sastra adalah sarana komonikasi. Sebagai contoh sekelompok di mahasiswa di Jokya yang sama – sama selesai membaca karanya Emha Ainun Najib yang berjudul slilit sang Kyai, salah seorang mahasiswa tertarik sebuah bunga mekar disebuah pagar dan ingin memetiknya. Sebelum dia sampai memetik seorang temannya berkata “Hai ingat slilit sang Kyai” mahasiswa yang tadi berkeinginan untuk memetik bunga di pagar tadi mengurungkan niatnya dan berkata “ Oh iya – ya slilit sang Kyai.” Di situ dapat di lihat karya sastra demikian mudahnya mengubah sebuah prilaku. Kita berharap juga kepada sastra ke depan juga memiliki fungsi untuk memberdayakan perempuan.

Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, M.A. menutup acara dengan sebuah harapan ke depan mempersiapkan karya sastra yang lebih memberi bobot kepada kaum perempuan. (Muhajir Arrosyid)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 24, 2008, in Berita. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: