Republik Artis

REPUBLIK ARTIS

Muhajir Arrosyid

Televisi hadir di hadapan kita hampir 24 jam penuh sehari. Menayangkan berbagai program seperti sinetron, infotaiment, iklan, kuis, reality show yang kesemuanya menghadirkan sosok artis.

Artis dengan segala aktivitasnya dari urusan memilih pakean dalam sampai kematinnya di hadirkan seolah olah penting. Kita di suguhi kabar yang sebenarnya bukan urusan kita. Karena kabar itu selalu hadir disekeliling kita maka menjadi serasa dekat, kabar tersebut seolah menjadi masalah kita juga yang patut kita urusi dan kita pikirkan.

Kita menjadi lebih tahu masalah yang dihadapi artis dibanding dengan masalah yang kita hadapi sendiri. Masyarakat oleh televisi diajak memikirkan hal hal yang jauh dari urusan urusan pribadinya. Untuk pelajar misalnya, apa pentingnya bagi mereka mengetahui tetek bengek prihal artis, apakah ada hubungannya dengan mata pelajaran esok hari? Untuk petani, pemberitaan tentang artis sedemikian detail apakah berpengaruh pada hasil panen?

Serba artis

Saat ini ada 11 stasiun teleisi. 10 stasiun televisi swasta, 1 stasiun televisi milik negara. Masih di tambah TV lokal.

Pengamatan yang dilakukan penulis selama satu minggu mulai tanggal 18 24 Februari 2008 menunjukkan dalam kurun satu minggu televisi menayangkan 34 judul sinetron, dan menghabiskan 125. 30 jam tayang. Sinetron itu tertayang dalam stasiun televisi SCTV 6 judul sinetron 32 jam seminggu, RCTI 10 judul sinetron 40.30 jam seminggu, ANTV 3 judul sinetron 3 jam seminggu, TPI 4 judul sinetron 19.30 jam seminggu, TVRI 4 judul sinetron 3.30 jam seminggu. INDOSIAR 4 judul sinetron 18. jam seminggu, Trans TV 3 judul sinetron 9 jam seminggu.

Untuk infotaiment dalam satu minggu terdapat 35 program infotaiment dan menghabiskan 78.30 jam. Program infotaiment itu tertayang dalam stasiun televisi SCTV 8 infotaiment 12 jam seminggu, RCTI 5 program infotaiment 16.30 jam seminggu, ANTV 2 judul program infotaiment 3.30 jam seminggu, INDOSIAR 4 program infotaiment 7. jam seminggu, Trans 7 , 2 program infotaiment 7 jam seminggu, Global TV 5 program infotaiment 8.30 jam seminggu, TV One 4 program infotaiment 7 jam seminggu, Tran TV 4 program infotaiment 17 jam seminggu.

Selain hadir di sinetron dan infotaiment artis hadir pula dalam iklan. Seperti penuturan Seto Mulyadi, ketua komnas perlindungan anak dalam sebuah acara talk show, sesuai dengan penelitian yang dilakukan awal 2007 porsi iklan dalam televisi mecapai 39 persen.

Dari data di atas kita dapat memperkirakan sekian kali dalam sehari sosok artis tertangkap mata, pikir, dan rasa kita. Karena setiap artis dimungkinkan main di 3 4 judul sinetron, setiap artis diberitakan berulang dalam kasus yang sama di program infotaiment berbeda setiap harinya, setiap artis membintangi sekian iklan maka kita melihat wajah artis secara berulang setiap hari.

Menjadi obsesi

Ada beberapa akibat dari penayangan artis yang berulang. Akibat pertama adalah terjadinya anggapan khalayak bahwa artis adalah sosok yang sangat penting. Artis di tempatkan pada posisi tinggi melebihi status sosial seorang guru, petani, dan pejabat pemerintahan.

Kemudian artis menjadi obsesi dan cita cita sebagian besar generasi muda. Generasi muda menganggap artis adalah profesi menjajikan di banding guru, polisi, bahkan dokter.

Saat ini televisi seakan berlomba menyelenggarakan program seleksi pencarian bakat. Setelah sukses dengan Indonesian Idol, RCTI menggelar Idola Cilik. TPI menggelar KDI, Dangdut Mania, dan Dangdut Mania Dadakan. Indosiar, dulu, menggelar AFI dan AFI Junior. Audisi Indonesian Idol 2008 dilakukan di 15 kota. Tahun ini, pencarian peserta audisi bahkan dilakukan ke sekolah-sekolah, markas tentara, hingga warung internet. (Kompas, 07 April 200 8)

Membanjirnya generasi muda mengikuti program seleksi pencarian bakat dapat menjadi indikasi bahwa cita-cita generasi kita banyak yang ingin menjadi artis.

Akibat kedua adalah artis menjadi standar mode. Sekian jam oleh televisi, kita ditunjukkan bagaimana artis tersenyum, berjalan, berbicara, berpakaian. Kita di tunjukkan bentuk rumah, kamar tidur, dan ruang tamu. Patokan di masyarakat kemudian adalah seseorang dikatakan cantik kalau mirip artis. Seseorang dikatakan rumahnya bagus kalau rumahnya seperti rumah artis. Seseorang berbicaranya bagus kalau logatnya mirip dengan logat artis. Seseorang dikatakan keren kalau pakeannya sama dengan apa yang dikenakan artis.

Akibat yang lian adalah artis menjadi standar nilai. Prilaku yang baik, yang benar, yang wajar adalah prilaku yang biasa di lakukan artis. Maka tidak heran kalau ada ujar-ujaran ‘Ubahlah prilaku generasi dengan mengubah prilaku artisnya.’ Tidak lagi ‘ Guru kencing berdiri murid kencing berlari.’ Kenapa demikian? Karena yang menjadi cermin tidak lagi guru tapi artis.

Bagaimana kondisi artis yang sekarang menjadi obsesi, standar mode, standar nilai anak-anak kita. Baru-baru ini kita mendengar berita seorang artis tertangkap karena kedapatan membawa sabu-sabu, rumah tangga artis kisruh. Berita semacam ini berulangkali terdengar dari tahun ke tahun tidak ada perbaikan. Iklaskah kita menerima anak-anak kita meniru prilaku seperti itu? Mari waspada, mendampingi anak-anak kita, mengajak diskusi secara sehat. Agar mereka selamat. Karena mereka adalah pewaris negeri ini, penyambung semangat kemerdekaan. Kita berharap di tangan mereka negeri ini sentosa sejahtera.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 24, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: