Sastra dan Perempuan

Perempuan Di Titik Nol [1]:

PADA MULA DAN AKHIRNYA ADALAH KELAMIN

——————————————————————————————————-

Muhajir Arrosyid

Sinopsis

Novel Perempuan di Titik Nol adalah novel terjemahan Karya Nawal el Saadawi dari judul asli Woman at Point Zero. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia pertama kali oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1989. Novel ini menurut penulisnya adalah hasil observasi terhadap Firdaus, tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah seorang perempuan yang akan mendapat hukuman mati.. Firdaus dalam perjalanan hidupnya mengalami belbagai pengalaman dan konflik dengan lingkungannya.

Firdaus sudah mengalami penganiayaan baik dari segi fisik maupun mental oleh seorang lelaki yang dikenalnya sebagai ayah. Sesungguhnya, tak cuma Firdaus yang mendapat perlakuan buruk dari sosok lelaki itu. Ibunya pun tak pernah bernasib lebih baik darinya.

Ketika ayah dan ibunya meninggal, Firdaus kemudian diasuh oleh pamannya. Meski bersikap lebih lembut daripada ayahnya, toh sang paman tak melewatkan kesempatan untuk melakukan perudungan seksual terhadapnya.

Dalam masa ini, Firdaus dikirim pamannya ke sekolah menengah. Di sini, ia hampir mengenal cinta tapi tidak dari lawan jenis, melainkan dari seorang guru perempuan. Lulus dari sekolah menengah dengan nilai terbaik, Firdaus malah dinikahkan oleh seorang pria tua yang kaya raya, tetapi sangat pelit, oleh paman dan bibinya. Apa boleh buat, Firdaus harus melayani lelaki yang wajahnya penuh bisul itu walau dengan setengah hati. Namun, lama-kelamaan, Firdaus pun tak tahan dan kemudian melarikan diri.

Berikutnya, ia bertemu Bayoumi, seorang lelaki yang awalnya tampak baik. Belakangan, Bayoumi inilah yang membawa Firdaus pada sebuah profesi yang disebut pelacur. Karena kembali dijajah lelaki, Firdaus pun melarikan diri lagi. Kali ini, ia bertemu seorang perempuan cantik yang ternyata tak lebih dari seorang germo. Namun, berkat perempuan ini, Firdaus mengetahui ia memiliki harga tinggi.

Jalan hidup membawa Firdaus menjadi seorang pelacur mandiri berharga. Ia bisa membeli apa pun juga yang ia inginkan. Ia bisa berdandan secantik mungkin. Dan, yang paling penting, ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Toh, nasib baik belum juga bersahabat dengannya. Firdaus yang sempat beralih profesi sebagai pegawai kantor dan kemudian kembali ke dunia pelacuran karena patah hati harus berhadapan dengan kesombongan lelaki. Seorang germo memaksa Firdaus bekerja untuknya. Ternyata, pengalaman hidupnya yang pahit telah mengubah Firdaus menjadi perempuan yang tak lagi mau diinjak-injak kaum pria. Ia memilih untuk membunuh sang germo dan menyerahkan diri ke penjara.

Perempuan di Titik Nol Sebagai karya Sastra

Sampai sekarang dirasa belum terjadi keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Ketidakseimbangan tersebut dapat dilihat dari masih adanya angapan bahwa perempuan memiliki keterbatasan dari segi fisik dan mental yang kemudian berpengaruh pada segi pembagian peran dan perlakuan dalam masyarakat. Karena anggapan adanya keterbatasan tersebut maka perempuan dianggap tidak layak menempati posisi tertentu.

Hal inilah yang mendorong kalangan orang yang selanjutnya disebut feminis memperjuangkan hak-hak perempuan. Karena perempuan adalah manusia maka perjuangan perempauan adalah perjuangan kemanusian juga. Perjuangan tersebut dilakukan dengan cara melawan segala bentuk penindasan terhadap perempuan. Penindasan terhadap perempuan ini telah demikian membudaya sehinga dianggap sebagai kewajaran. Novel “Perempuan di Titik Nol” kiranya adalah salah satu bentuk perlawanan Nawal El Saadawi terhadap keseweang-wenangan masyarakat terhadap perempuan.

Sastrawan dengan kemampuan intutifnya biasanya telah melakuakan banyak hal dibanding inteliektual dan komponen lainnya sebagai respon atas kondisi yang timpang. Karya sastra memiliki kemampuan menghadirkan mitos baru dalam masyarakat, menghadirkan pandangan baru tentang baik buruk, salah dan benar.

Kita bisa ambil contoh novel Siti Nurbahaya, Salah Asuhan, atau Romeo dan Zuliet. Novel-novel tersebut mengambarkan bahwa tradisi masa lalu berupa kawin paksa, penghargaan hak bicara kepada kaum muda adalah buruk dan menimbulkan targedi cinta yang amat memilukan. Maka tradisi lama ini harus diperbaharui dengan tradisi baru yang lebih baik. Sastrawan melalui sastranya menuntun prilaku, pandangan pembacanya secara halus dan kemudian pembaca membenarkan pandangan sastrawan tanpa paksaan.

Prof. Dr. Siti Chamamah[2] Soeratno menyampaikan. menurutnya sastra adalah refleksi sebuah masyarakat, sastra adalah sarana komonikasi. Sebagai contoh sekelompok di mahasiswa di Yokya yang sama – sama selesai membaca karanya Emha Ainun Najib yang berjudul Slilit Sang Kyai, salah seorang mahasiswa tertarik sebuah bunga mekar disebuah pagar dan ingin memetiknya. Sebelum dia sampai memetik seorang temannya berkata “Hai ingat slilit sang Kyai” mahasiswa yang tadi berkeinginan untuk memetik bunga di pagar tadi mengurungkan niatnya dan berkata “ Oh iya – ya slilit sang Kyai.” Di situ dapat di lihat karya sastra demikian mudahnya mengubah sebuah prilaku.

Kiranya Nawal El Saadawi lewat karyanya Perempuan di Titik Nol ini menganggap bahwa pembedaan peran dan perlakuan terhadap kaum perempuan ini tidak adil maka melalui novel ini Nawal ingin menghadirkan mitos baru tentang hubungan laki-laki dan perempuan yang lebih baik.

Di Indonesia kita mengenal RA. Kartini. Lewat R. A Kartini kita membaca “ Habis Gelap Terbitlah Terang.” Dalam kumpulan surat R.A Kartini tersebut kita dapat menagkap bahwa zaman ketika perempuan diperlakukan tidak adil adalah zaman gelap dan diharapkan akan segera berlalu dan datanglah zaman baru, zaman yang lebih terang di mana perempuan lebih mendapat kesempatan terutama kesempatan pendidikan.

Firdaus yang anak jalanan perempuan

Di halaman 65 dalam novel ini diceritakan Firdaus keluar rumah. Setelah lulus dari SMP dan berumur 18 tahun dia di nikahkan oleh pamannya dengan Syekh Mahmoud seorang tua yang berumur 60 tahun. Syakh Mahmoud ini walaupun kaya namun pelit. Firdaus melarikan diri dari rumah karena tidak mendapatkan rasa aman. Penganiayaan dari segi fisik seringkali dia alami hingga membuat muka memar di pipinya dan darah keluar dari hidungnya. Pernah dia pulang ke rumah pamannya namun oleh istri pamannya dia di usir dan di suruh kembali kepada anak suaminya yang renta itu.

Inilah mula perjalanan Firdaus turun kejalan. Pertama kali dia bertemu laki-laki yang pada mulanya baik. Namanya Bayomi. Oleh Bayomi Firdaus yang belia di sururuh tinggal satu rumah menempati kamar yang dia kontrak. Pelecehan seksual oleh Bayomi dilakukan di tempat ini. Ternayta tidak haya oleh Bayomi, teman Bayomi juga ikut menikmati tubuh Firdaus ini sampai Firdaus melarikan diri.

Bertemulah Firdaus dengan mucikari namanya Sharifa. Oleh Sharifa ini Firdaus dikenalkan tentang dunia pelacuran. Firdaus tahu bahwa tubuhnya memiliki harga. Karena adanya konflik antara dirinya dan Fawzi pacar Sharifa maka Firdaus kembali melarikan diri. Di jalan dia diajak oleh orang masuk mobil dan di bawa ke hotel. Setelah melakukan persetubuhan Firdaus di tinggali uang sepuluh pon.

Dalam halaman 98. Firdaus memulai menjadi pelacur. Dia meminda bayaran 20 pon sekali tidur.

Firdaus dapat dibandingkan dengan anak jalanan di Indonesia. Menurut UU Perlindungan Anak no 12 tahun 2003 anak adalah manusia yang berumur 18 tahun termasuk yang masih dalam kandungan. Banyak anak perempuan terpaksa turun ke jalan karena beberapa alasan.

Disamping faktor ekonomi keluarga yang rendah, adanya anggapan bahwa anak perempuan harus mengalah dengan saudara laki-lakinya serta lebih banyak berkorban untuk keluarga, merupakan faktor pendorong anak perempuan banyak turun ke jalan. Penelitian di atas menunjukkan bahwa sebagian besar (41,9%) anak perempuan turun ke jalanan untuk membantu menambah pendapatan orang tua baik atas kesadaran sendiri maupun disuruh orang tua. (Wahju Budi Santoso, 2006)

Hasil penelitian Depsos melapurkan anak jalanan perempuan telah melakukan hubungan seks berumur antara 10-18 tahun, berhubungan dengan sesama teman, bertempat di bangunan-bangunan kosong, gerbong kereta api, dengan pasangan tetap atau berganti pasangan. Perilaku tersebut bukan untuk mencari uang, melainkan karena kehidupan yang bebas. Pada saat berganti-ganti, pasangannyapun orang yang tidak jauh dengannya; sudah lama dikenal dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bebas, mereka masih juga tidak asal berganti pasangan.

Dengan kehidupan seksual seperti itu, mau tidak mau mereka sangat rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS), suatu penyakit yang berisiko tinggi terhadap kesehatan reproduksi, berpengaruh buruk baik pada dirinya sendiri maupun keluarganya keluarganya kelak. Kebutuhan mereka Hidup di jalanan bukanlah pilihan bagi siapapun, tak terkecuali bagi anak perempuan.

Firdaus yang Feminis

Novel ini diawali dan diakhiri masalah kelamin. Kelamin laki-laki yang menginginkan kelamin perempuan. Firdaus sedemikian menderita dari awal juga karena diantara selakangannya terdapat kelamin perempuan. Karena keperempannannya itu Firdaus diperlakukan beda oleh orangtuanya, mendapat pelecehan seksual oleh pamannya sendiri yang tadinya tampak baik dan seterusnya hingga dia harus membunuh seorang germo yang memperdagangkannya.

Dalam kasus ini kita dapat melihat sosok seperti Firdaus yakin bahwa dia patut menerima perlakuan yang sama dengan para lelaki. Namun, Firdaus tak pernah berani untuk memperjuangkan haknya di dalam masyarakat.

Firdaus menggunakan kepasifan sebagai senjata perlawanan. Firdaus lebih memilih untuk diam dan mempertahankan harga dirinya sebagai bentuk perlawanan. Termasuk kepasifannya menerima hukuman mati membuat para pembaca lebih menghargai dirinya.

“Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan.” . Pernyataan tersebut merupakan bentuk perlawanan Firdaus terhadap kaum lelaki. Lagi-lagi ia menggencarkan serangan terhadap kaum lelaki melalui kepasifannya.

Nampaknya, kepasifan yang ditunjukkan Firdaus cukup menggelisahkan kaum lelaki. Ia mengijinkan kaum lelaki memiliki tubuhnya, namun, ia menjamin bahwa para lelaki takkan pernah mampu membuatnya bereaksi, gemetar, atau merasakan nikmat atau sakit. Perbuatan Firdaus ini membuahkan hasil yang memuaskan, ia merasa dirinya menang atas para lelaki yang berusaha membuatnya merasakan kenikmatan. “Saya belajar untuk melawan dengan cara bersikap pasif, untuk menjaga keutuhan diri tanpa memberikan apa-apa.” . Inilah yang dilakukan Firdaus sebagai bukti perlawanannya terhadap kaum lelaki. Kepasifannya merupakan suatu bentuk perlawanan, suatu kemampuan yang aneh untuk tidak merasakan kenikmatan ataupun sakit, tidak membiarkan sehelai rambutpun di atas kepala, atau pada tubuhnya bergerak. Ia berhasil menunjukkan eksistensinya melalui kepasifannya.

“Setiap kali saya memungut selembar surat kabar dengan gambar salah seorang di antara mereka di dalamnya, saya akan meludahinya.” . Inilah yang dilakukan Firdaus sebagai lambang perlawanannya terhadap kaum lelaki.

Nawal el-Saadawi berusaha menggambarkan betapa sulitnya keadaan seorang perempuan yang ingin berusaha memperjuangkan haknya. Ia juga ingin mengatakan bahwa ketidakberanian perempuan memperjuangkan haknya hanya akan membuat perempuan menyesal di kemudian hari.

Ketimpangan berupa perlakuan tidak adil kepada perempuan terjadi desekeliling kita. Untuk menghilangkan tindak ketidak adilan tersebut apa yangkiranya dapat dilakukan. Firdaus dan kebayakan perempaun melakukannya dengan kepasifan. Dan ternyata kepasifan yang dijadikan senjata oleh Firdaus tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Kepasifan tersebut hanya berhasil mempertahankan harga dirinya. Namun perlakuan dan hak-haknya di masyarakat selalu terabaikan oleh berbagai pihak terutama para lelaki. Firdaus yang selalu berusaha mempertahankan diri melalui kepasifannya harus mengakhiri hidupnya tanpa memperoleh keadilan yang pantas bagi dirinya.

Membandingkannya dengan Kartini

Fiminisme adalah usaha untuk memperjuangkan hak-hak perempuan baik yang dilakukan oleh perempuan itu sendiri maupun oleh laki-laki. Maka sering kita dengar feminis laki-laki.

Dalam dunia sastra muncul pula teori yang khusus mengkaji tentang sastra feminis. Karya sastra dapat dikatakan karya feminis manakala dalam karya tersebut terdapat pembelaan dan perjuangan bagi perempuan. Karya sastra tentang perempuan yang tokohnya tidak memperjuangkan sosok perempuan maka karya itu tidak dapat disebut sastra yang beraliran feminis.

Kartini hidup pada tahun 1879 – 1904. Kondisi perempuan di masa Kartini hanya dihargai setara harta. Budaya Jawa pada waktu itu menata seorang perempuan yang baik, terhormat harus dipingit pada umur tertentu. Demikian pula dengan pendidikan, tidak ada kesempatan bagi perempuan untuk sekolah lebih dari sekolah rendah.

Firdaus dan Kartini sama-sama berjuang melawan kesewenag-wenagan yang dilakukan kepada perempuan. Namun dengan cara yang berbeda. Kartini melakukannya dengan melakukan peningkatan pemberdayaan melalui pendidikan bagi kaum perempuan sedang Firdaus melawan dengan kepasifan. Perbadaan cara perlawanan ini dimungkinkan karena perbedaan kondisi, waktu, tempat antara Kartini dan Firdaus. Firdaus bernasip sama sakali tidak mendapat perlindungan dan harus turun ke jalan dan Kartini lahir sebagai anak bupati walaupun dari seorang selir.

Membandingkannya dengan Pariyem

Pariyem dalam Pengakuan Pariyem, dunia batin seorang wanita jawa, karya Linus yang diterbitkan pertama kali tahun 1981 ini bercerita tentang nasip perempuan Jawa. Dia adalah seorang pembantu rumah tangga yang mendapat perlakuan seksual oleh majikannya.

Apa bedanya dengan Firdaus. Pariyem tidak marah, dan tidak benci terhadap nDoro yang mengahamilinya. Bahkan Pariyem malah menikmatinya. Perbedaan respon atas perilaku seksual antara Pariyem dan Firdaus ini di mungkinkan karena pendidikan. Firdaus berkenalan dengan buku-buku saat sekolah di SMP. Bahkan Firdaus tercatat sebagai siswa terpandai karena ketekunannya membaca buku ini. Pengetahuan yang dimiliki Firdaus menumbuhkan ego di dalam dirinya.

Membandingkannya dengan Shinta, Dedes, Nyai Ontosoroh. dan Gadis Pantai.

Apakah Shinta dalam cerita Ramayana melawan?

Shinta dalam cerita ramayana melakukan pati obong karena kesuciannya diragukan. Dia membakar diri ke tengah kobaran api sebagai pembuktian kepada suami dan rakyatnya bahwa dia sama sekali tidak tersentuh oleh Rahwana. Bembakaran diri yang dilakukan oleh Shinta kalau dianggap sebagai perlawanan berarti dia feminis. Jika pembakaran diri tersebut ats dasar dorongan aturan struktur masyarakat berarti dia putus asa.

Apakah dedes melawan?

Dedes dalam certa Arok Dedes adalah anak seorang Brahmana yang di culik Tunggul Ametung seorang penguasa dari kaum Satria. Mulanya Dedes tidak dapat menerima perlakuakn tersebut. Satu minggu di dalam istana Dedes tidak berhenti menagis.

Pada akhirnya Dedes membuat siasat. Kecintaan Tunggul Ametung terhadapnya dia manfaatkan. Dia memminta segala sesuatu yang dia ingini kepada tunggul Ametung. Serta kemudian menjadi telik sandi Arok, kekasihnya untuk mengulingkan kekuasaan Tunggul Ametung. Akhirnya Tunggul Ametung tumbang dalam pertempuran melawan Arok. Dan Dedes menjadi permaisuri. Dedes mlawan dengan memanfaatkan cinta buta Tunggul Ametung. Namun yang dia bela bukan hak perempuan. Dia membela dirinya dan kepentingannya sendiri.

Apakah Nyai Ontosoroh melawan?

Nyai Ontosorah dalam novel Bumi Manusia karya Pamoenya Nanata Toer adalah seorang gadis yang mulanya dari desa yang dengan paksaan diperistri oleh sorang menir dari Belanda. Mula-mula karena orang desa dia tidak tau bagaimna hidup gaya Eropa. Mula-mula dia diajari tatacara hidup Eropa oleh suaminya. Dari mulai cara makan, mandi sampai membaca. Sampai akhirnya dia mampu mengatur administrasi perusahaan dan dapat berkomunikasi dengan banyak bahasa. Pada saat suaminya terjangkit penyakit dia hadir sebagai pengantinya. Apakah Nyai Ontosoroh dapatdikatakan Feminis? Sikapnya menunjukkan kepada masyarakat baik Belanda dan pribumi pada waktu itu bahwa seorang pribumi bahkan juga permpuan yang selama ini di anggap tidak mampu ternyata kalau diberi kesempatan dan diberi pendidikan ternyata mampu juga. Apakah Gadis Pantai melawan? Kita tulis lain kali saja ya?


[1]. Novel Karya Nawal el Sadaawi.

[2] Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakara.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 24, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Dear HANI,,,
    besok-besok aku kirim resensiku ya “Beriman Tanpa Rasa Takut” nya Irshad Manji. tokoh feminis muslimah abad 21. thanks

  1. Ping-balik: 2010 in review « KARYA ANAK KAMPUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: