Satu Bahasa

KOLONISASI ATAS BAHASA INDONESIA

Tri Umi Sumartyarini

Film–film Indonesia dengan judul menggunakan bahasa asing kian marak. Agaknya, hal ini menjadi tren baru. Sebut saja film Love is Cinta, In The Name of Love, Eiffel I’m in Love, dan yang terakhir sedang beredar di bioskop-bioskop adalah film Get Married yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini berkisah tentang perebutan cinta. Tiga orang yang bersahabat, yang berebut mendapatkan cinta Mae yang diperankan Nirina Zubir.

Tidak ada hubungannya penggunaan judul bahasa asing dengan substansi film. Mengapa harus menggunakan bahasa asing? Apa bedanya seandainya film tersebut dengan judul “ Yuk Kawin ” atau “Kawin”.

Gejala di atas menunjukkan telah terjadi kolonisasi atas bahasa Indonesia. Kalau dulu kolonisasi berarti bangsa Indonesia berhadapan dengan senapan dan meriam, sekarang ini kolonisasi berbentuk ekspansi pasar. Ekspansi pasar dan membanjirnya produk-produk industri dunia pertama ke dunia ke tiga. Industri tadi bersifat seragam. Penyeragaman biasa dilihat dari cara berpakaian, makanan, model rambut, apa saja, bahkan budi bahasa. Kata-kata juga mengalami banjir kata-kata. Maksudnya, bahasa asing yang banjir masuk ke dalam bahasa Indonesia (P.M. Laksono, 2001).

Proses inilah yang sedang melanda kalangan kaum muda. Kalau diperhatikan, banyak judul-judul sinetron ataupun dialog-dialog yang sesekali menggunakan  bahasa Inggris seperti acara MTV yang ditayangkan stasiun televisi Global TV.

Bangsa Indonesia seperti kehilangan identitas. Nasionalisme bangsa yang dibangun para pendahulu akan sia-sia. Pemuda lebih bangga menggunakan segala yang berbau barat dengan mengesampingkan esensi. Pemuda sudah tidak bangga lagi menggunakan bahasa Indonesia yang telah disumpahkan oleh pemuda-pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928.

Kalau hal tersebut berlanjut bukan tidak mungkin jika nantinya lagu-lagu seperti Rasa Sayange atau yang lain akan diklaim oleh negara tetangga tanpa penyesalan dari kaum muda kita. Bahkan, bisa saja tanah air dan bangsa  ini direnggut oleh negara lain jika generasi Indonesia sudah tidak memiliki kebanggaan lagi dan tidak memelihara nasionalisme.

Pada momen Sumpah Pemuda ini sudah sepantasnya kita melawan kolonisasi atas bahasa Indonesia. Esensi suatu bangsa yaitu menempati satu wilayah dan yang terpenting merasa senasib dan seperjuangan (Ong Hok Ham). Mari menjadi satu tanah air, bangsa, dan satu bahasa.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 24, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. pakar bahasa masa depan..salut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: