25 Mei 2008

KRENTEG
Muhajir Arrosyid
Meniti Demak dari waktu ke waktu dari saat pertama kali tanah ini ditinggali hingga menemukan peradabannya 504 tahun silam singga saat ini eranya otonomi daerah di mana Demak menjadi bagian dari Republik Indonesia kita patut bertanya sampai mana kita berjalan dan apa yang hendaknya kita lakukan?
Kejayaan pemerintahan Islam di tanah Jawa dan Demak sebagai pusat penyebarannya memang tidak berlangsung lama. Paling tidak jika dibandingkan dengan kejayaan kerajaan kerajaan Hindhu-Budha. Setelah itu kejayaan Islam porak poranda oleh kekuatan modern yaitu kekuatan barat melalui penjajahan Belanda. Namun dari kejayaan yang hanya sebentar yang di mulai dari Demak ini mampu mengubah seluruh pri-kehidupan masyarakat hingga saat ini. Meskipun pengaruh peradapan sebelumnya masih ber-aroma.
Era penjajahan berlanjut menuju era revolusi. Kaum revolusi yang memiliki visi untuk menyatukan Nusantara dengan Pancasila memenangkan pertarungan. Setelah itu Demak menjadi bagian dari kesatuan Indonesia . Tidak hanya Demak, Yogyakarta, Solo, Aceh yang sebelumnya memiliki sistem pemerintahan sendiri, memiliki peredapan sendiri bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia .
Impian seluruh rakyat mengenai bangsa termasuk rakyat Demak adalah bangsa Indonesia yang memiliki wilayah dari sabang sampai maraukai, yang memiliki bahasa kesatuan bahasa Indonesia , yang memiliki ibu kota Jakarta .
Sayangnya kemudian Indonesia selanjutnya hanya identik dengan Jakarta . Semua diukur dengan takaran Jakarta . Orang di anggap telah sukses kalau sudah dapat menakhlukkan Jakarta . Pembangunan hanya dilakukan di Jakarta . Orang Demak yang merasa orang Indonesia tadi, yang juga ikut ditarik pajak kalau mau dikatakan berhasil juga harus juga pergi ke Jakarta . Demikian pula seni dan seniman. Seniaman Demak dianggap jago kalau sudah nampang di media Jakarta . Kalau yang hanya berkesenian di Demak maka hanya di anggap sebagai penonton.
Demak sejak saat itu seperti hilang tidak memiliki identitas kecuali Masjid Agung dan makam Kanjeng Sunan Kalijogo. Demak melebur menjadi Indonesia yang Jakarta tadi. Sampai logat bicara anak-anak sekolahanya pun berdialek Jakarta , “ Begitu Loh, Capek Deh”
Saat ini era otonomi daerah. Setiap daerah ditutut berkembang, berpacu saling mengungguli dengan daerah lain. Puisi ini adalah semacam krenteg (niatan) masyarakat Demak untuk bangkit kembali menjadi pusat. Mari, pusat kita kembalikan lagi ke Demak.
Sampai mana kita berjalan dan apa yang hendaknya kita lakukan? Jawabnya, kita baru memulai lagi. Yang perlu kita lakukan adalah mempertegas identitas. Selanjutnya menghadirkan infrastruktur layaknya sebuah kota berperadaban. Tidak harus ada Mall, cukup ada gedung kesenian, toko buku, penerbitan, media komunikasi, sarana pendidikan. Kesemua harus berkarakter Demak.. Saat ini pendidikan, toko buku, dan gedung kesenian kita masih ndompleng Semarang . Media juga harus berkarakter Demak yang tidak harus ada salam tempel di setiap liputan. Dirgahanyu Demak
Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 25, 2008, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: