Cerpen Demak 1

CERITA PENDEK:

DI ATAS TUMPUKAN JERAMI

_____________________________________________________________

Muhajir Arrosyid

S

aat sore yang gerimis Mbak Ana datang ke rumah Lat. Mbak Ana minta dibuatkan stelan baju untuk lebaran besok. Waktu itu Mbak Ana memakai sepatu tinggi, memakai celana jins, memakai kaus ketat lengan mepet ketiak, rambut basah, bibir merah.

Di hadapan Lat sekarang berdiri tubuh yang sering dibicarakan para pemuda. Para pemuda membicarakan pantatnya, memperkirakan ukuran dadanya, besar kecilnya paha. Sekedar mencari pembenaran, layakkah dia selingkuh?

Nama lengkapnya Ianah. Waktu masih sekolah di SD dia dipanggil Nah tapi setelah lulus diterima bekerja di pabrik dia memilih dipangil dengan sebutan Ana. Saat naik panggung jadi biduan dia tenar dengan nama Ana Marisa. Walaupun sudah punya anak satu yang sudah sekolah di kelas 6 SD dia masih kelihatan cantik, dengan bentuk tubuh asyik.

Ia dituduh selingkuh dengan beberapa pemuda kampung sebelah. Karenanya sejak enam bulan ini Mbak Ana dicerai suaminya. Dari obrolan di gardu oleh para pemuda itu katanya Mbak Ana melakukan penyelewengan di atas tumpukan jerami.

Meski agak grogi Lat harus melakukannya juga. Dia mengambil alat pengukur. Mencari tahu berapa lingkar dada, lingkar perut, lingkar pantat, lingkar paha. Tinggi kaki, panjang lengan untuk membuat baju dengan hasil maksimal.

Mbak Ana pulang. Beberapa kali Lat mencoba kembali konsentrasi kepada pekerjaan. Dia terganggu dengan tubuh yang tadi dihadapannya. Aroma parfumnya menggoda. Akhirnya Lat duduk, dia melamun. Dia berfikir benarkah Mbak Ana selingkuh. Tubuh dihadapannya tadi membuat setiap lelaki mau tak mau harus memalingkan muka melihatnya walau sebentar.

Lat duduk menutup mata membayangkan tubuh yang barusan di hadapannya berada di atas tumpukan jerami.

Namun Lat membantah pikirannya tadi. Lat berfikir perselingkuhan bisa terjadi oleh siapapun dengan pakaian jenis apapun. Mungkin kebiasaan berpakaian adalah salah satu sebab, tapi terjadinya perselingkuhan pada orang yang berpakaian yang katanya lebih beradab akan ada penyebab lain.

Lat membayangkan seandainya pada suatu ketika nanti saat dia sudah beristri melihat istrinya bersenggama di ranjang dengan orang lain. Kalau di situ ada bom Lat akan mengebomnya hidup-hidup, kalau di situ ada panah Lat akan memanah mereka, seandainya ada parang Lat akan membacok mereka. Jadi Kang Uned, mantan suami Mbak Ana, cukup adil dengan hanya menceraikan Mbak Ana, karena membunuh memang bukan haknya.

Mbak Ana belum bisa dibilang tua, masih cantik, masih punya gairah tapi harus tersingkir, dipandang miring, berpapasan dengan orang harus merunduk. Dia dicap sebagai perempuan tukang selingkuh.

Setelah dicerai suaminya Mbak Ana pulang ke rumah orang tuanya, hidup bersama ibunya yang janda, anaknya ikut dia. Dua bulan setelah perceraian itu Mbak Ana baru berani keluar rumah, dia mulai mengikuti pengajian, perkumpulan karang taruna.

Sekarang orang tahunya Mbak Ana semacam itu, buruk di mata masyarakat. Apakah masyarakat masih mau menerimanya? Meskipun dia berusaha bangkit, berusaha kembali ke masyarakat, kembali menyapa, ingin kembali biasa.

Mbak Ana adalah salah satu penyayi dalam group dangdut. Lagu yang dinyanyikan Mbak Ana biasanya lagu-lagu dengan irama lembut seperti Lingsir Wengi, Ngidam Sari, Ketaman Asmoro. Dia membawakannya dengan sedikit gerakan. Wajah sendunya sesekali tertutup rambutnya yang terurai. Pakaian yang dia kenakan biasanya warna hitam dengan gaun bawahan panjang dan atasan kemben. Dia dielu saat di atas panggung dan dicibir setelah turun dari panggung.

Lat adalah bujang tua. Sebenarnya dia tampan namun kurang memiliki keberanian. Umurnya semakin hari mendekati empat puluh dan belum ada tanda – tanda mau menikah. Karena itu oleh teman dan tetangganya dia diejek. Mereka mencela Lat bahwa dia tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Ibunya juga selalu saja menyindir disetiap kesempatan perihal nikah ini.

Disela- sela menjahit yang dilakukan Lat adalah membaca koran, membolak – balik halaman kontak jodoh. Lat belum pernah coba- coba sekalipun mengirim surat kepada redaksi kontak jodoh sebagai reaksi atas ketertarikan kepada sesama pencari jodoh. Dari syarat-syarat setiap perempuan yang muncul dalam kontak jodoh itu dirinya ada satu dua syarat yang tidak masuk kategori. Misalnya, yang didamba bujang atau duda umur minimal 35 tahun dan umur Lat lebih dari 35 tahun. Ada lagi semua syarat Lat telah memenuhi namun kerena pendidikan disyaratkan minimal S1 lagi – lagi Lat tidak memenuhi.

Lat ingin secepatnya melihat baju yang dia bikin menyatu dengan tubuh Mbak Ana, menambah keayuannya. Akhir-akhir ini yang ada di mata, di pikir Lat selalu saja Mbak Ana. Dia jadi membayangkan seandainya bersanding dengan Mbak Ana, Jalan bareng, bercakap-cakap sambil bergurau-gurauan. Sampailah Lat berfikir tentang bagaimana seandainya Lat menyunting Mbak Ana sebagai istri?

Kemudian Lat berfikir bahwa bisa saja perselingkuhan itu tidak pernah terjadi. Lat curiga, menurutnya Kang Uned sudah punya kekasih lain. Lantas membuat cerita bahwa istrinya selingkuh dan selanjutnya dapat menceraikannya. Atau perselingkuhan tersebut benar terjadi namun atas usaha Kang Uned bagaimana supaya sang istri selingkuh, menjebak istilahnya. Setelah mempergokinya kemudian dapat kawin lagi dengan kekasih baru.

Segala kemungkinan bisa terjadi, orang kadang licik, curang, demi meraih keinginan. Mereka tidak peduli orang lain jatuh, dikucilkan, dan tersingkir.

Mbak Ana masih muda. Entah kenapa setelah kelahiran Tik, anak satu-satunya, dia tidak melahirkan lagi. Ini memperkuat kemungkinan Mbak Ana tidak selingkuh, bahkan ada kemungkinan Kang Uned dan Mbak Ana pisah ranjang setelah kelahiran Tik. Lat jadi merasa tidak rela kalau Mbak Ana dihina.

Bagaimana kira-kira reaksi Ibunya saat dia mengutarakan akan mengawini Mbak Ana? Bagaimana reaksi tetangganya? Dia harus berani menanggung resiko itu, resiko dicela. Memperistri biduan yang tukang selingkuh.

Lat kali ini berketetapan. Karena hidup ini miliknya dia harus mengambil keputusan. Kalaupun nanti ada apa-apa itu bagian dari resiko dan dia akan mempertanggungjawabkannya. Kegagalan adalah hal paling buruk namun setidaknya sebagai pengalaman tidak ternilai harganya. Nanti saat Mbak Ana datang mengambil jahitan, Lat akan mengutarakan niatnya.

Tibalah hari itu Mbak Ana datang dengan rambut terurai, sandal berhak tinggi, celana selutut dan atasan kaos tak berkerah dan berlengan satu siku. Lat tidak mampu menyusun rayuan untuk memulai obrolan.

Di meja tergeletak kartu undangan pernikahan, Lat memungut dan membukannya. “Satu minggu setelah lebaran nanti Kang Uned menyelengarakan pesta pernikahannya dengan istri barunya? Katanya dia mempersunting gadis tetangga desa ya? Orkes dangdut kenamaan katanya akan diundang untuk meramaikan pesta? Mbak Ana kapan menyusul?”

Mbak Ana hanya tersenyum. “ Nyusul, siapa yang mau Kang?”

Lat garuk-garuk kepala, kakinya gemetar, tangannya menggaruk-garuk kepala.

“ Ada apa kang?”

Lat tidak menjawab, dia sedikit tersenyum dan tangannya diusap-usapkan pada lutut.

“Apa Kang Sulat mau nikah sama saya?” Tanya Mbak Ana. Lat tersenyum dan melompat sebelum kemudian sadar dan dapat mengendalikan kegembiraan.

“Kau mau sama saya?” Tanya Lat.

“Kang Sulat mau sama saya?” Mbak Ana balik tanya.

“Kamu dulu!”

Mbak Ana mengangguk “Aku mau”

“Aku juga ingin,” jawab Lat. Mereka tersenyum dan setelahnya tertawa.

“Kau yakin?” tanya Mbak Ana.

“Yakin!” jawab Lat mantap.

“Mana bajuku?”

“Sebentar,” jawab Lat. Lat memanggil suruhannya untuk mengambilkan baju pesanan Mbak Ana di atas lemari.

“Dimana?” teriak dari dalam, suara suruhan.

“Itu lho di atas tumpukan jerami.”

“Tumpukan jerami yang mana?” suruhannya tanya lagi.

“Maaf itu lho di atas lemari”

Wajah Mbak Ana yang tadinya riang berubah sendu. Buru-buru dia berdiri membalik badan berlari keluar rumah tanpa pamit.

Lat mengejar. Sambil berjalan sedikit berlari Lat dan Mbak Ana bercakap.

Demak, 2 April 2008

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 25, 2008, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: