Menggambar Bulan dalam Gendongan

MENGGAMBAR BULAN DALAM GENDONGAN
Muhajir Arrosyid
“Sedang mengambar apa? O…menggambar pohon. Ini ranting, ini daun, ini. dahan, ini akar. Tapi pohon apa? Fis, yang jelas dong itu pohon apa? Pohon kelapa ? Masak ada pohon kepala berdahan dan beranting. Apa itu pohon kelapa yang dikawinkan sama pohon mangga? Gambarmu ngaco.”
Fis tetap serius mengambar. Dia suka menggambar, di manapun, dengan media apapun. Di dinding kamar, di jembatan, di sekolah. Semua dipenuhi gambar Fis. Ada saja yang digambarnya. Pernah suatu kali dia menggambar kapal terbang berkepala kerbau, pernah dia menggambar ikan pakai kaca mata, pernah dia mengambar kambing bisa terbang. Entah apa yang ada di kepala bocah lelaki umur enam tahun ini, dia hanya diam, tak pernah bercerita, karena memang dia tuna wicara. Gambar-gambarnya adalah ceritanya. Apa yang dia ceritakan tidak ada yang tahu dan tidak ada yang mau tahu maksudnya.
Kotor, hal inilah yang membuat para penduduk marah. Gambar Fis dianggap mengotori kampung. Pada kali pertama Fis diingatkan agar tidak menggambar disembarang tempat. Fis tidak mematuhi larangan tersebut. Dia tetap menggambar di jembatan, di mushola, di gardu, di dinding rumah-rumah penduduk.
Sampai pada suatu ketika Om Burhan marah besar karena Fis mengambar di dinding rumah Om Burhan. Sampai membawa golok untuk menakut-nakuti Fis. Sejak itulah Fis tidak pernah kelihatan menggambar.
Mulai saat itu pula Fis dilarang mengambil kapur tulis sisa guru mengajar di kelas.
…………..
Fis, lelaki kecil itu bertubuh mungil hitam tanah, jarang mandi. Dengan kaos tak pernah dicuci. Rambut kriting kumal, kudis rata di siku tangan dan lutut kaki. Fis tinggal bersama bapaknya. Ibunya yang juga tuna wicara pergi entah kemana. Tempat tinggal Fis lebih tepat dibilang kandang kerbau, atau kandang sapi, atau bahkan boleh dibilang sarang tikus.
Aku kembali memperhatikan gambar Fis
“Itu apalagi, tali?, buat apa?” dia meneruskan gambarnya, oh, pohon berbuah manusia. Oh…. bukan, orang bunuh diri di pohon. Aku tahu, seorang bocah menggantungkan diri di atas pohon.
Dia asyik mengambar. Di atas kertas putih itu Fis terus mencoret dengan potlotnya. Semakin jelas gambar itu, di sana ada bulan dan bintang. Mega putih berarak, dan gambar Fis terasa mencekam. Aku mengantuk dan melangkah pulang, masuk kamar.
Aku kenal sejak dia lahir, tetangga dekat. Dia sudah seperti anakku sendiri. Pariji, bapak Fis baru umur belasan, belum pantas menjadi bapak. Seorang lelaki mengurus anak sendiri tentu kerepotan.
………..
Sudah satu minggu ini gambar-gambar fis tidak tampak, rumah-rumah dicat rapi, jembatan juga demikian. Kampung itu jadi rapi dan bersih. Fis tidak lagi dapat menggambar, dilarang menggambar, Fis tidak lagi dapat cerita.
Dinding rumah Fis sudah penuh gambar. Persediaan kapur tulis yang dia ambil dari sisa bu guru mengajar di sekolah juga habis. Fis tidak lagi boleh mengambil. Setiap pagi yang dilakukan Fis jalan-jalan ke sawah mencari belalang, dan mencari ikan di kali.
Siang itu sehabis mencari belalang, Fis mampir di sekolahan. Ia berdiri di pintu melihat anak-anak seusianya menggambar di atas kertas memakai potlot. Fis di pinggir pintu kelas berdiri memperhatikan seisi kelas. Dinding kelas retak di pojok, atap internit juga sama, lantai kelas pecah dan berdebu, meja kursi reot. Anak-anak kesana-kemari saling meminjam pewarna, penggaris, jangka. Seorang guru muda duduk di depan meja sambil membaca buku, ditangannya memegang sepotong kapur tulis.
Fis masih di situ sampai bel istirahat berbunyi dan pelajaran selesai. Guru muda itu menghampirinya, menyerahkan sepotong kapur tulis untuk Fis sebelum melangkah menuju kantor.
Fis memegang erat kapur tulis tersebut, erat sekali. Ia berlari pulang ke rumahnya. Dia tampak menangis.
Keesokan harinya di dinding rumah guru muda yang kemarin memberi sebaris kapur kepada Fis terdapat gambar dari kapur tulis putih. Gambar mirip gambar guru muda yang sedang mengendong bulan sambil terbang. Guru muda itu memperhatikan sebentar, tersenyum dan melangkah menuju sekolah.
Di pengumuman pegawai negeri mengumumkan bahwa guru muda tersebut lolos sebagai pegawai negeri. Ini adalah pengalamannya ikut tes pertama baginya dan langsung diterima. Padahal teman-temannya sesama guru rata-rata daftar lima kali baru di terima. Bahkan ada yang sepuluh kali belum juga di terima.
Hal tentang gambar si Fis ini dia ceritakan kepada teman-teman guru di sekolah. Ada guru yang mengartikan bahwa gambar itu adalah sebuah do’a Fis untuk guru tersebut. Setelah itu tersiar kabar bahwa Fis adalah anak yang membawa peruntungan. Setelah itu orang-orang kampung juga mengaku-ngaku dulu setelah rumahnya digambari oleh Fis juga dapat peruntungan.
Om Burhan yang dulu marah-marah karena merasa dirugikan juga ikut cerita, dulu setelah rumahnya digambari oleh Fis, anak Om Burhan yang sakit kronis sembuh.
Setelah kabar itu tersebar, orang-orang datang kepada Fis, selain membawa gula kopi, kadang beras, dan minyak goreng mereka membawa selembar kertas, potlot, dan satu bungkus kapur tulis. Mereka berharap dapat membawa pulang gambar Fis, kalau sampai mendapat gambar Fis akan segera dibawa ke orang pintar untuk dapat di terjemahkan.
Tapi tidak tahu kenapa sekarang Fis jarang mau menggambar, satu minggu hanya mau menggambar di kertas para tamu paling tiga kali, di dinding penduduk seminggu sekali.
Minggu kemarin rumah yang digambari Fis dapat undian mobil, minggu kemarinnya rumah seorang perawan tua setelah di dinding rumahnya digambari Fis paginya dilamar jejaka kaya ganteng lagi.
“Minggu ini Fis belum mengambar ya?”Tanya seorang penduduk.
“Belum”
Setiap malam para penduduk berdebar, kalau-kalau malam ini Fis mengambar di didinding rumahnya, Fis juga tidak mau diawasi. Pernah pada suatu kali dia tidak jadi mengambar karena tahu ada yang menguntit dari belakang.
Para penduduk juga tidak tahu ciri-ciri rumah yang akan digambar oleh Fis. Pernah pada awal-awal Fis mengambar, para penduduk mencirikan, yang akan di datangi oleh Fis adalah yang dindingya tidak di cat, tapi ternyata tidak, ciri tersebut salah. Beberapa hari setelahnya Fis mengambar di dinding bagus milik orang kaya.
Munggu ini Fis tidak mengambar di dinding. Orang-orang kampung resah. Mereka juga saling tanya satu sama lain. Kenapa Fis tidak mau lagi mengambar? Tapi minggu berikutnya Fis mengambar lagi. Kali ini dia mengambar tidak jelas apa bentuknya, coretan-coretan yang tidak ada maknanya, orang pintar dikampung itu juga tidak bisa menerjemahkannya. Orang yang rumahnya di gambar oleh Fis lama menunggu keberuntungan apa yang akan diperoleh. Sampai orang itu lelah menunggu dan lupa.
Tiba-tiba di kampung penuh gambar, di dinding-dinding rumah penduduk, di gardu semua penuh gambar rata tak tersisa, gambar-gambar tersebut berebut tempat sampai saling tumpuk.
Diketahui ternyata itu bukan gambar Fis. Itu gambar bocah lain. Tidak dapat lagi dibedakan mana gambar Fis, mana gambar anak lain.
Banyak anak-anak juga pingin seperti Fis. Dia semacam idola, ditiru setiap geraknya, dari cara jalan hingga cara berpakaian. Jalan ke mana-mana dengan sepotong kapur di tangan, menggambar aneh-aneh di luar pemahaman orang umum.
Sore itu jingga, seperti kanfas yang telah diberi warna oleh para pelukis, seandainya Fis bisa mengambar di sana pasti dia akan mengambar di jingga itu, dia bisa cerita kepada dunia tentang dunianya.
Setiap orang akan menerjemahkannya sesuaai dengan pandangan masing-masing. Seluruh negeri akan mendapatkan peruntungannya. Burung-burung pulang kesarang, ternak, kerbau, sapi, babi, kambing itik, kucing dan ayam pulang ke kandang. Jingga itu hilang diganti bulan. Awan putih pelan berarak dari timur ke barat. Dari jarak sekitar dua ratus meter aku lihat sebuah pohon.
Pohon itu seperti magnet yang memaksa kakiku menuju ke arahnya dengan segera. Aku sibakkan ilalang tinggi. Pohon aneh. terdapat tali menjulur dari dahan, mega putih berarak pelan. Di atasnya bulan. Gerakan kakiku semakin cepat. Langkah berhenti persis di bawah pohon itu, nafasku terengah. Nanar mataku menyaksikan tali menghubungkan antara dahan dan leber Fis. Ada bulan dan bintang, mega putih berarak.
Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 25, 2008, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: