Cerpen Demak 3

TAMU
_____________________________________________________________
Muhajir Arrosyid
D
ua Minggu lagi keluarga Sud akan kedatangan tamu istimewa kolega Bapak dari sebrang. Selama Sud menjadi anggota keluarga ini sudah banyak tamu berkunjung, tapi tidak pernah satupun yang membuat geger seperti sekarang.
Bagaimana tidak istimewa, karena tamu itu Bapak berencana menyembelih kerbau satu-satunya milik keluarga dan membangun taman. Sud senang dengan apa yang dilakukan Bapak, “Toh aku tetep kebagian daging kerbau nanti,” pikir Sud.
“Tidak setiap hari ia bertamu, tidak setiap minggu, tidak setiap bulan. Dalam hidup kita hanya sekali ini dia bertamu” Maka menurut Bapak wajar jika untuk menyambutnya lantai rumah yang tadinya tanah diganti kramik.
“Tamu itukan raja, menyambutnya juga harus seperti menyambut raja, memperlakukannya harus seperti memperlakukan raja,” tambah Bapak.
Sud jadi bertanya-tanya sebenarnya kenapa Bapak melakukan tamu yang satu ini sedemikian rupa. Apakah tamu Bapak itu orang yang dulu pernah berjasa terhadap kelangsungan hidup Bapak?
Tidak mungkin orang melakukan sesuatu tanpa sebab, orang melakukan sesuatu pasti terkait dengan kejadian sebelumnya. Bapak sedemikian antusias menyambut tamu ini pasti juga ada kejadian, peristiwa yang melatar belakangi.
“Kata Bapak tamu itu raja, dan harus disambut selayaknya raja. Kalau tamu itu raja, yang kedatangan tamu apa? Abdi raja? Kalau setiap hari kedatangan tamu maka setiap hari kedatangan raja dan setiap hari menjadi abdi.” Sud masih duduk melamun memikirkan Bapak.
Sekarang ini cari pekerjaan susah, apa mungkin tamu Bapak ini adalah seorang pejabat tinggi yang bisa mengangkat seseorang menjadi pegawai negeri? Bapak berharap Sud dan Lung kakaknya bisa diangkat menjadi pegawai negeri.
“Sud, Lung berapapun akan aku bayar kalau kau bisa lolos pegawai negeri,” kata Bapak kepada Sud suatu hari.
Bagi Bapak menjadi pegawai negeri itu segala-galanya. Menurut Bapak pegawai negeri lebih tenang, terjamin, dan lebih dihargai di masyarakat. “Pensiunya itu lho Sud.” Kata Bapak.
Memang demikianlah masyarakat di kampung Sud. Kami sekolah, menyekolahkan anak, giat ke sawah bahkan menjual sawah dengan satu tujuan menjadi pegawai negeri. Dan mungkin tamu yang akan datang dua minggu besuk adalah pejabat tinggi.
Keyakinan Sud bertambah kuat kalau tamu yang datang adalah pejabat tinggi setelah Bapak bilang begini: semoga saja setelah kedatangannya kehidupan kita bisa lebih baik, drajat keluarga ini bisa lebih tinggi.
Namun dugaan Sud tentang tamu itu berubah. Sud memikir ulang setelah pada suatu pagi sambil meminum kopi menunggu antri mandi Bapak bilang begini: hujan kan sudah lama tidak turun, ini berpengaruh pada hasil tanam kita, berpengaruh pula dengan penghasilan kita, berpengaruh pula dengan sekolahmu, dan berakibat bisa tidaknya kamu menjadi pegawai negeri. Kamu tahukan tidak ada sesuatu gratis di dunia ini. Semua harus di bayar, semua harus di tukar dengan nilai yang seimbang, semua harus pula ada tawar-menawar.
Sud berfikir keras, apa yang sebenarnya di maksud Bapak dengan ucapannya barusan, ada tawar-menawar, ada nilai yang seimbang, ada hujan, ada hasil panen, ada pegawai negeri. Sud semakin bingung dan tidak bisa memperkirakan siapa tamu yang akan datang beberapa hari yang akan datang itu.
Tadi Bapak bicara tentang hujan, memang hasil tanam sangat tergantung dengan air. Pengairan di kampung Sud kurang lancar dan tergantung dari hujan. Hujan kadang lama sekali tidak datang seperti saat ini berpengaruh dengan masa tanam mundur dan hasil panen kurang sempurna.
Terlalu banyak hujan juga tidak bagus. Pada suatu ketika padi di sawah Sud tinggal menunggu panen sekitar satu minggu lagi, tapi karena hujan deras beruntun selama tiga hari tanpa henti terjadilah banjir. Kami tidak jadi memanen.
Sud kali ini menduga kalau tamu yang akan datang adalah suhu atau semacam pawang hujan ampuh yang bisa mendatangkan dan mencegah datangnya hujan, mengatur turun tidaknya hujan sesuai yang dikehendaki.
……
Sud, Lung, dan Ibu belum menganal calon tamu itu, belum pernah datang sebelumnya. Kami menanggapi kedatangan tamu ini dengan pandangan, rasa dan sikap berbeda. Kalau Bapak menyambut dengan perasaan suka, tidak demikian dengan Lung. Lung benci, marah, dan jijik.
Lain lagi dengan Ibu, Ibu kelihatan lebih tenang. Menurutnya kita memang harus menghormati tamu, namun dia juga agak kurang sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Bapak. Menurutnya berlebihan. Uang tabungan yang dikumpulkan menahun habis hanya untuk menyambut tamu.
Lung tidak begitu senang dengan kedatangan tamu itu karena merasa Bapak terlalu berlebihan. Sudah satu tahun ini Lung minta sepeda motor. Katanya teman – temannya se-kampung sudah punya motor. Dia bahkan sempat mogok ke sawah gara – gara Bapak tak kunjung membelikkannya motor.
“ Aku dulu melamar ibumu jalan kaki.”
“ Tapi Sun cantik pak!” jawab Lung
“ Kamu pikir ibumu tidak cantik! Dia wanita tercantik se-kecamatan!” Ibu yang mendengar percakapan itu dari dapur tersipu.
“ Tapi sekarang jamannya lain. Bapak dulu saingannya seimbang, sama – sama jalan kaki.” Lung membela diri.
Bapak diam saja tidak menaggapi. Lung Jengkel dan dengan suara keras berkata “Aku minta bagian warisan sekarang!”
Bapak Sud menjawab dengan suara lebih keras “ Siapa yang mau memberimu warisan!”
Sud dan Ibu takut dengan peristiwa yang terjadi, takut kalau sampai perkelaian terjadi. Mereka sama – sama bertubuh kekar. Meskipun sudah renta tubuh Bapak terlihat berotot. Sud berlari mengambil sabit yang tergantung di tiang dan dekat pada posisi Lung, Ibu mengambil cangkul yang berada di belakang Bapak dan melarikannya menjauh. Yang ditakutkan tidak terjadi. Kakak Sud menunduk, balik badan menuju kamar. Anehnya sejak itu Lung malah mau kembali ke sawah.
Bapak terbaring di kamar dan terdengar mendengkur. Kami sekeluarga berembug di balai – balai depan rumah. Kami membicarakan prihal kepala keluarga kami yang sedang sakit. Kami berkesimpulan perilaku – perilaku aneh Bapak karena usia yang menua dan sakit yang diderita.
Dari kemarin malam kami bergantian menungui Bapak. Bapak juga tidak mau di bawa ke dokter. Subuh, Bapak meminta seisi rumah kumpul. Kucing kesayangan Bapak juga diminta untuk mendengarkan Bapak.
“Kerbau, jago, kambing kau dengar aku dari situkan?” Suara Bapak serak membuka percakapan. “Sudah kumpul semua?” kami mengangguk. Bapak menyuruh Sud untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan kami.
“Lung!” Bapak memanggil, dan Lung mendekat.
“Kau datang ke rumahnya Sun itu, kau temui Bapaknya kau lamar dia. Laki – laki kok tidak berani!.” Lung mengangguk.
“Sud!” Sud dipanggil dan sambil menggendong kucing mendekat. Bapak sambil mengelus- elus kepala kucing berpesan agar tidak lupa memberi makan kucing. Setelah itu yang di panggil Ibu, Bapak meminta Ibu mendekatkan telinganya. Bapak berbisik ditelinga Ibu selanjutnya mencium kening dan pipi Ibu. Ibu membalas mencium kening dan pipi Bapak dan tersenyum kecil.
“ Tolong sambut tamu kita besok dengan baik. Aku sudah bicara dengan kerbau, dia bersedia di sembelih. Ibu, masaklah masakan yang paling leyat yang bisa kau masak. Dia harus tahu aku punya istri cantik dan pintar. Jualah sawah yang di pinggir kali untuk menutup hutang. Sisa sawah yang lain terserah kalian!”
Ternyata itu adalah wejangan Bapak yang terakhir. Paginya pada upacara pemakaman. Tenda teratak didirikan, kerbau di sembelih dimasak langsung oleh ibu dan dihidangkan. Pelayat datang dari penjuru jalan. Bapak sudah mempersiapkan penyambutannya dari jauh hari dengan berbagai persiapan. Mengkramik lantai, membuat taman dan lain sebagainya. Setelah acara pemakaman usai ada ular juga kami suguhi hidangan. Lalat juga kami suguhi hidangan. Kupu – kupu hinggap di kaca ruang tamu juga kami suguhi hidangan sereka adalah tamu kami. Tamu keluarga kami.

Demak 14 Maret 2008

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 25, 2008, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: