Komentar

KOMENTAR

Tri umi sumartyarini

Komentar, menurut kamus yang ada dalam otak saya mempunyai arti tafsiran, tanggapan, omongan, analisis sebagai timbal balik atas apa yang akan maupun sudah terjadi. Sedangkan komentator adalah orang yang melontarkan tanggapan, omongan, dan analisis tersebut.

Kalau masih repot menerjemahkan kata-kata saya di atas, Anda boleh menafsirkannya sebagai ajang-ajang pencarian bakat di tivi-tivi itu sebagai gambaran umumnya. Setiap hari setiap malam anda bisa menyaksikan para komentator melontarkan komentar sampai mulutnya berbusa-busa.

Agaknya komentar menjadi syndrom yang sedang diderita hampir semua pengusaha industri pertelevisian. Yang dikomentari dari hal-hal yang serius sampai yang tidak bermutu sekalipun.

Komentar, boleh-boleh saja. Lihat-lihat konteksnya. Asal membangun. Berbagai komentar yang dilemparkan di televisi itu menggeser makna “kritik membangun”. Kebenaran menjadi hal mutlak bagi satu orang saja alias komentator. Segala hal dikomentari, dikritik bahkan sampai ke hal yang privasi. Kita tidak diberi ruang lagi untuk berkarya menurut yang kita suka.

Bayangkan, anak kecil bernyanyi saja dikomentari habis-habisan. Dari kualitas vokal yang masih belum matang sampai penampilan yang terlalu tomboi mereka komentari. Setelah itu, pada akhir acara, semua peserta diberi nilai merah atau biru. Nilai biru berarti bagus, sedangkan yang sial dapatnya nilai merah. Seperti sekolah saja!

Padahal, mendidik anak itu kan pada prinsipnya membebaskan, membiarkan mereka memilih apa yang disukai dan diminati. Setelah mereka tahu apa yang mereka sukai, biarkan mereka mengeksplorasi diri. Tidak perlu banyak dikomentari.

Kalau menurut konsep pendidikan ala sekolah alternatif SLTP Qaryah Thayyibah, komentar itu tidak diperlukan. Yang terpenting anak, dapat mengembangkan bakat sesuai apa yang dikehendaki hatinya. Kalau suka bahasa Inggris, mereka dibiarkan belajar sampai otak dan matamya pedih menjelajahi buku-buku bahasa Inggris. Kalau mereka suka internetan, ya dibiarkan saja mereka internetan sampai puas. Tidak ada larangan. Tapi, sedari awal mereka juga sudah ditunjukkan mana hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Semua berjalan tanpa komentar, menghujat atau menyanjung-nyanjung yang keterlaluan.

Hasilnya? Karena suka browsing di internet, SLTP yang berada di dusun terpencil Salatiga itu bisa dikenal di seluruh dunia. Salah satu siswanya mengikuti lomba penulisan essay dalam bahasa Inggris. Lawan-lawannya dalam lomba pun tidak main-main. Dari mahasiswa sampai profesor dan dokter mengikuti lomba. Siswa yang lain malah sudah bisa menerjemahkan buku bahasa Inggris tentang Che Guevara. Sebentar lagi akan diterbitkan. Kita, sampai mana?

Ada satu acara lagi yang menyajikan komentar berlebihan. Namanya Supermama Seleb Show. Hampir setiap malam kita disuguhi acara penuh komentar ini. Sang madam, alias Ivan Gunawan, sering sekali melontarkan komentar tentang pakaian yang dipakai para peserta lomba. Ungkapan ga matching, terlalu besar, make up terlalu tebal, terlalu sempit, kurang macho, kurang feminin kerap meluncur dari bibir sosok ini. Dia tidak pernah bercermin pada dirinya sendiri. Sebenarnya yang kurang macho atau feminin peserta atau dirinya sendiri?

Jangan komentar!

Nah, gejala inilah yang paling berbahaya. Bisanya hanya komentar. Tidak pernah diikuti dengan kompetensi yang ada pada dirinya sendiri. Maka, pepatah Jawa yang arif pun ikut komentar atas fenomena ini. Aja rumangsa bisa, ning bisaa rumangsa (jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa). Tidak tahu secara pasti apa arti kata-kata ini. Namun, kalau menurut tafsiran yang ada dalam otak saya, menjadi manusia itu jangan sombong.

Kalau aplikasi dalam kehidupan sehari-hari begini; kadang kita sebal dikomentari teman yang punya tubuh langsing. Melihat badan kita yang agak sedikit berlebih, mendadak teman kita jadi komentator, “Ih, kamu kok gendut, langsingin dikit dong badan kamu.” Atau komentar yang lebih menyakitkan seperti ini, “Ih Hp kamu jadul banget, ganti dong seperti yang aku punya ini. Ada kameranya, ada MP3nya ada blue toothnya.”

Komentar, akan memicu kesombongan. Karena merasa sudah bisa, maka sewenang-wenang saja melontarkan komentar yang belum tentu pas di telinga yang dikomentari. Tidak jarang, komentar ditafsirkan sebagai cemoohan atau hinaan. akibatnya, bisa berujung pada perselisihan dan pertengkaran.

Selain itu, komentar mengarahkan kita pada satu kebenaran saja. Kita tidak diberi “ruang lain” oleh sang komentator. Kadang oarng yang mempunyai keputusan melewati batas komentar yang dianggap benar, harus menghadapi rintangan. Dicemooh, dipandang sebelah mata atau di dicap miring dianggap sebagi balasan yang setimpal.

Potensi yang ada pada diri kita tidak harus tergantung pada komentar orang lain. Yang terpenting tetap memacu potensi yang ada dalam diri. Kita gali sedalam-dalamnya. Bersikap arif dan rendah diri tanpa banyak komentar akan lebih dihargai banyak orang. Wah, saya kok jadi banyak berkomentar seperti ini ya? Jadi, jangan komentar! Titik.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 27, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: