Lesehan

rini

VALENTINE PRIHATIN

Tri Umi Sumartyarini

Malam itu hujan ngiyes. Langit mencurahkan air ke bumi. Tidak begitu deras, juga tidak begitu gerimis. Yah…lumayan membuat badan gemetar kedinginan. Namun, hujan tidak menyurutkan langkah para pengunjung menuju warung lesehan Yu Warni demi meneguk secangkir kopi atau jahe hangat.

Lek Pardi, Lek Darso, dan Lek Parjo sedari tadi tampak menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Secara berbarengan. Cara memandangnya juga bukan dengan gaya lihat yang biasa. Kalo orang Jawa bilang nganti kamitenggengen. Yu Warni yang sedang asyik ngaduk kopi pahit pesanan mereka bertiga sampai geleng-geleng kepala.

”Hoooiii…Kang! ini kopinya sudah jadi. Kalian itu kenapa to? Kok seperti kebo dicucuk hidungnya. Ada motor ke kanan, ikut noleh kanan. Ada motor lari ke kiri, ikut noleh ke kiri?”

Lek Pardi terkekeh. Sudah tidak kamitenggengen lagi seperti tadi. Lebih tertarik pada uap kopi yang ngebul, ngobrak-ngabrik batang hidungnya yang besar seperti hidung penyanyi legendaris, Benyamin.

”Wue..ke..ke..matur suwun kopinya yu, ternyata sudah datang. Kita itu lagi gumun lihat pasangan muda-mudi yang pake pakaian serba pink, jambon, dan merah muda. Ini sindrom apa ya yu? Dulu jaman nom-noman saya tidak ada yang pakai pakaian bisa seragam seperti itu. Ketemu telo saja sudah bejo kemayangan. Apalagi bisa pakai pakaian bagus-bagus seperti mereka.”

”Wah..pancen ora gaul sampeyan. Ini kan bulan Februari. Tanggal 14 nanti mereka merayakan valentine day. Hari kasih sayang. Hari di mana orang-orang mencurahkan kasih sayang sama orang-orang yang dikasihi,” kata Yu Warni.

”Oohh..,” trio lelaki itu manggut-manggut.

”Sebentar..sebentar..hari kasih sayang? Lah apa hubungannya dengan pakaian jambon-jambon itu. Kenapa tidak pake merah, kuning, hijau? Kan lebih ramai dan warna-warni. Kayak lampu bang jo! He..he..he. Trus tadi kok mereka bawa kembang, kado, coklat, bungkusan, itu buat apa to yu?” Lek Darso mulai angkat bicara sambil nyruput kopi hangatnya.

”Huh..,” Yu Warni menghela napas. ”Nah begini ini ngomong sama orang yang tidak pernah nonton radio mendengarkan tipi. Susah. Dasar..manusia ketinggalan informasi. Jambon itu identik dengan hati yang artinya kasih sayang alias cinta, kalo dibahasainggriskan itu love…,” Ia letakkan tangan di dadanya sambil nyengir mengucapkan lafadz ”lev”, difasih-fasihkan.

”Interupsi..interupsi yu! Yang bener itu mendengarkan radio, menonton tipi!,” Lek Parjo angkat bicara, tidak mau ketinggalan perbincangan asyik ini.

”Halah yang penting kan aku lebih pinter, lebih tahu dari kalian. Lha kalau kado, bungkusan, bunga, coklat itu sebagai ekspresi kasih sayang mereka. Barang-barang itu nantinya dipersembahkan kepada orang-orang yang mereka sayangi, contohnya teman sekelas, tetangga, sahabat, adik, kakak, kakek, nenek, atau pacarnya.”

Vicky, salah satu pengunjung lain warung lesehan ini, sebenarnya sedari tadi mendengarkan obrolan mereka. Ia hanya cengar-cengir mendengarkan cerita empat serangkai itu.

”Eh…nak Vicky. Kamu itu kan termasuk kaum muda yang pasti paham masalah valentine itu? Gimana? Pacarnya sudah disiapkan bunga sama cokelat belum?,” Lek Darso menyenggol lengan Vicky yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya.

”Ah..Lek Darso ini bisa saja. Saya belum punya pacar,” jawab Vicky yang sedang menikmati pisang bakar keju coklat dan secangkir capuccino hangat.

Keempat serangkai itu menanggapi ekspresi dengan mimik berbeda-beda. Lek Darso berdehem halus,Yu Warni cuma menjap-menjep, Lek Pardi cengar-cengir, cuma Lek Parjo saja yang berani berekspresi dengan kata-kata, ”Ndak percaya saya. Ndak..ndak mungkin. Nak Vicky itu kan ganteng, mahasiswa, aktivis, sebentar lagi mau lulus jadi sarjana. Jadi Pak guru. Jelas sudah punya cong-congan buat istrinya nanti. Perempuan mana yang mau nolak kamu?”

Vicky hanya tersenyum simpul. ”Ah..lek Parjo bisa saja. Siapalah saya ini. Jodoh itu nanti ada saatnya sendiri. Kebetulan saja sekarang sedang sendiri. Belum ada yang cocok.”

Hujan berganti dengan gerimis. Air yang tercurah dari langit tidak sebanyak tadi. Namun hembusan angin masih membuat gigi gemeletuk, bibir gemetaran, dingin. Keempat serangkai itu hanya diam. Entah malas atau menunggu kata-kata kelanjutan dari sang mahasiswa sebuah institut keguruan dan pendidikan itu.

”Ada tujuan hidup yang lebih penting dari pada sekedar merayakan valentine yang tidak jelas arah budayanya itu, Lek, Yu. Saat ini kita masih makan dari beras, kedelai, garam, bawang yang semuanya masih impor! Di emperan toko seperti sekarang ini, sebentar lagi diserbu anak jalanan, pengemis, gelandangan menata tempat tidur mereka dengan koran atau kardus lusuh. Anak-anak, bahkan adik-adik kita belum menikmati gedung sekolah yang layak. Angka kekerasan dalam rumah tangga, trafikking manusia, kasus perkosaan masih meningkat setiap tahun. Korban bencana gempa, banjir, lumpur masih menunggu untuk ditangani. Para pejabat kita menganggap korupsi atau kenaikan gaji yang tinggi adalah tindakan biasa dan tak perlu dipermasalahkan. Atau Keegoisan sekelompok jamaah yang menghalalkan darah manusia hanya karena berbeda keyakinan darinya. Masih banyak lagi masalah-masalah bangsa yang harus dituntaskan. Itu terjadi di sekitar kita. Di depan mata kita, Lek, Yu!”

Angin masuk melalui tenda warung lesehan. Mereka masih terdiam. Entah apa yang ada di benak mereka.

”Sayang, masalah-masalah seperti ini yang tidak generasi muda pahami. Kapitalisme membutakan mereka. Korban-korban tirani itulah yang seharusnya mereka beri kasih sayang yang sebenarnya,” Vicky terdiam. Dia berkata-kata agak sedikit emosi.

Satu nada sms masuk. Vicky mengalihkanpandang pada hp. Membuka sms yang baru saja menelusup menyampaikan pesan: ”Vick, tlng siap2. Sbntr lg kami jmpt ke rmhmu. Krban lmpur Lpindo besk mngadkn dmo bsr-besran trkait penyaluran dana ganti rugi yang tdk knjng diberikn. Kamu mendmpingi advokasi merka. Sudh disiapkn tim.”

”Maaf, Lek,Yu. Saya harus pergi sekarang,” seperti tak peduli pada apa yang telah ia ucapkan tadi. Vicky beranjak dari tempat duduknya. Keluar dari tenda. Menghidupkan mesin motor dan menembus gerimis yang berubah menjadi hujan lebat lagi.

Empat sekawan itu hanya terdiam, melongo, mencerna kata-kata, mencerna masalah-masalah yang baru saja disampaikan Vicky.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 27, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. apik, sip! OK tapi ndak pake banget….

  2. hmmmm…..romantis, kritis, idealis, ga narsis dll. mau dong jadi pacarnya vicky. eh ga boleh ding, aku kan udah pny pcar. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: