Alex Komang

LEBIH BAIK TERUS BERKARYA

Wawancara Kustiah dengan Alex Komang

kPertanyaan buat Alex Komang

ALEX Komang bukan nama asing di dunia teater dan film Indonesia , tapi namanya kini nyaris tak terdengar. Ke mana gerangan  Pemeran Utama Pria terbaik dalam film Doea Tanda Mata arahan sutradara Teguh Karya ini? Rupanya peraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1985 ini sekarang sibuk belajar filsafat. “Tidak untuk mengejar master, tapi untuk belajar lebih banyak hal,” ujarnya malam itu.

Perbincangan dengannya pada malam pekan lalu di Teater Populer tak tak sekadar membahas kegandrungan baru Alex, juga tentang perkembangan dunia perfilman kontemporer. Menurut penggemar sastra dan teater ini, dunia perfilman harus diisi bukan hanya oleh popularitas dan tren saja, melainkan juga kematangan akting dan isi film itu sendiri. Berikut ini petikan dari perbincangan itu.

Lama tak muncul, ke mana saja Anda?

Saat ini saya sedang serius belajar filsafat di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta . Mencari ilmu, agar tercerahkan dan tidak bodoh dalam membaca setiap persoalan hidup. Saya tidak ingin jika ada seseorang atau suatu kelompok mengeluarkan pernyataan atau doktrin tentang suatu agama saya menelan mentah-mentah tanpa mengetahui kebenarannya atau kritis menyikapinya. Terlepas dari itu, saya memang lagi senang belajar.

Tak tertarik dunia perfilman lagi?

Tetap. Saya tidak meninggalkan aktivitas lama. Saya masih setia  mengikuti perkembangan film. Setia dengan film tidak berarti harus ikut di dalamnya. Jika ditanya bagaimana perkembangan film saat ini saya bisa menjawabnya. Tapi, kini saya lagi senang belajar, maka jadilah saya masuk universitas.

Bagaimana  perkembangan film saat ini?

Kita harus optimistis. Ternyata di antara kekelaman dunia  pertelevisian ada kemajuan pesat (di dunia perfilman-Red). Muncul sineas-sineas muda. Sineas perempuan juga tak ikut ketinggalan. Ya, idealnya, baik semua, mendidik semua, tapi kenyataannya kan tidak bisa begitu. Saya tidak mengatakan dunia perfilman dan pertelevisian buruk semua. Cuma kita perlu melihat dengan cermat siapa saja yang akan bertahan lama dengan kemampuannya. Siapa yang berkualifikasi, maka dia yang tidak akan pernah tenggelam. Publik yang akan menilainya.

Bagaimana tentang kontroversi BPPN (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional-Red)?  Beberapa sineas muda menganggapnya tidak berkontribusi banyak bagi perfilman kita?

Saya dapat telepon dari beberapa kawan tentang BPPN. Saya pikir pemerintah tidak seharusnya mengintervensi kreativitas anak muda. Biarkan yang muda-muda belajar dan mengaktualisasikan gagasan-gagasannya. Harus dipisahkan apa saja yang seharusnya di bawah pengawasan pemerintah dan apa yang tidak. Saya tahu di jajaran BPPN banyak seniorsenior perfilman. Ada Bang Deddy Mizwar, ada Bang Slamet Raharjo dan banyak senior lainnya. Tapi, bagi saya, berkreasi tetap dilakukan tanpa harus merasa terganggu kebijakan ini dan itu. Seharusnya memang ada wilayah di mana kaum muda dibebaskan berkreativitas. Baik buruknya film itu sangat subyektif. Saya tidak yakin film si A bagus jika dilombakan dengan juri si A. Atau film si A jelek jika difestivalkan dengan juri si B.

Berarti seorang juri itu banyak berpengaruh di luar bidang penjurian?

Benar. Tidak bebas nilai. Pasti ada unsur x. Taruhlah film Ekskul yang sutradaranya banyak menuai cercaan. Yang katanya filmnya jelek kok menang lah, yang tidak bagus lah. Itu kan namanya pembunuhan karakter. Yang begitu itu yang sebenarnya tidak boleh. Mana ada sutradara atau pekerja film meminta-minta supaya di menangkan dalam festival film. Yang ada tuh bagaimana mereka bisa berkreasi. Tidak bisa kita melakukan penolakan atas hasil karya orang lain. Menang kalah itu kan biasa. Lebih baik terus berkarya. Jadilah aktor, aktris atau pekerja film yang baik. Tidak perlu meremehkan, mencerca apalagi melakukan penolakan terhadap karya orang lain. Meski itu juga merupakan pilihan sikap. Sama seperti saat saya memutuskan harus belajar filsafat dan kenapa mesti diambil di universitas itu. Semua pilhan tentunya punya alasan.

Aktor atau aktris yang bagus itu seperti apa?

Yang selalu mau belajar. Memiliki keinginan untuk maju dengan cara bekerja keras. Biasanya orang-orang seperti inilah yang populer di masyarakat. Masyarakat kita kan semakin cerdas menilai mana aktor dan aktris yang hebat.

Realitas aktor dan aktris kita saat ini?

Bagus. Saya lihat banyak pendatang baru yang menunjukkan  kebolehannya. Memiliki potensi menjadi orang besar. Tapi, sayangnya tidak semua. Banyak juga yang hanya mengandalkan popularitasnya.

Tapi, secara umum saya acungi jempol pada aktris-aktor kita saat ini. Mereka luar biasa. Saya juga lihat banyak di antara mereka yang keinginan belajarnya tinggi. Jika saja emua aktris aktor kita seperti itu, kan hebat.

Siapa yang menginspirasi Anda terjun ke dunia film?

Bapak saya. Figur pertama yang saya contoh ya bapak saya. Tidak jauh-jauh. Yang lain-lainnya ya mendukung, menambah referensi hidup saya dalam menentukan pilihan. Misal, saya diajak Bang Teguh Karya belajar seni teater. Lalu saya menekuninya. Saya banyak belajar dari beliau. Kemudian yang lain-lainnya adalah efek dari apa yang saya kerjakan.

Siapa aktor-aktris yang dikagumi dan kapan Anda muncul lagi di perfilman?

Tentu para senior saya yang sampai sekarang namanya masih dikenal masyarakat. Yang total berkarya. Teguh Karya, Slamet Raharjo, Deddy Mizmar. Mereka orang-orang hebat yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dicapainya. Karya adalah orientasi hidupnya. Bukan ingin berkompetisi atau ingin populer. Saya tidak menganggap yang lain-lainnya jelek. Tapi, itu tadi, masyarakat dan alamlah yang akan menyeleksinya. Soal muncul di film, tunggu saja. Sekarang saya fokus belajar dulu. Untuk maju itu banyak caranya. Apakah itu aktif di perfilman, terus terlihat di televisi atau belajar giat seperti yang saat ini saya lakoni. Kustiah

Biodata

Nama : Syaiful Nuha/Alex Komang

Lahir : Jepara, Jawa Tengah, 17 September 1961.

Agama : Islam

Alamat Rumah : Pejaten Elite, Jl. Amil II/ 4, Pejaten Barat, Jakarta Selatan.

Pendidikan

  • SD 2 Pecangaan, Jepara (1973)

  • SMP Wali Songo Pecangaan, Jepara (1976)

  • SMA Wali Songo Pecangaan, Jepara (1979)

  • Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, jurusan filsafat.

Karier

Aktor teater, antara lain bersama Teater Koma dalam lakon Opera Primadona (2000), Aktor film di bawah arahan sutradara Teguh Karya, antara lain Secangkir Kopi Pahit (1984), Doea Tanda Mata (1985), Ibunda (1986), Pacar Ketinggalan Kereta (1988), _ Bermain sinetron, antara lain dalam Bila Esok Tiba (1997), Bingkisan untuk Presiden (2000), Cinta Terhalang Tembok (2002), dan lain-lain.

Penghargaan

Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 1985, sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik untuk film Doea Tanda Mata dan lain-lainnya

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 1, 2008, in Tokoh Kita. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Kapan mas Alex main film lagi, pemirsa dah rindu…

  2. buat mas alex komang semoga sukses selalu,panjang umur dan dimurahkhn rizkinya amiiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: