Edisi NO. 15 TH. VI, NOVEMBER 1997 – APRIL 1998

erereMERENUNGKAN PERADABAN WANITA
Wanita adalah makhluk ” misterius ” begitulah salah satu ungkapan kebanyakan pria yang mulai tertarik membedah wacana tentang wanita dan kewanitaan. Berangkat dari situlah kiranya baik pembicaraan maupun perbincangan mulai layak untuk diselami. Diskursus tentang makhluk yang bernama wanita ini memang nampaknya akan tetap aktual sepanjang peradaban sejarah umat manusia di Jagad raya ini. Hal ini terprediksi karena kemisteriusannya (wanita) itulah yang menyebabkan tetap aktual dan ” merangsang ” untuk diketengahkan.
Bukan fenomena perbincangan baru sebenarnya, pada saat isu gender dimunculkan sebagai term perbincangan dan pembicaraan, Bahkan fenomena pembicaraan tersebut cukup mengundang banyak pro dan kontra sehingga memunculkan kejenuhan dan kebosanan, apalagi dalam diskursus pemikiran modernis yang semakin mengglobal. Berangkat dari isu gender muncul pula sederetan isu-isu yang berbicara seputar peradaban wanita.
Permasalahan yang bersifat intern (permasalahan personal wanita itu sendiri) maupun yang berkaitan dengan lingkungannya. Yaitu permasalahan global seperti
ekonomi, sosial, budaya politik dan masih banyak lagi. Di antara permasalahan wanita itu adalah, dengan konteks kependudukan (sensus penduduk) dan pembangunan disegala sektor baik formal maupun informal. Isu persoalan di atas sebagai reaksi terhadap program penurunan angka kelahiran. Pada awalnya, program kependudukan memperhilungkan reproduksi perempuan sebagai sarana pengendalian kelahiran untuk mengejar target demografis tertentu. Dalam hal ini perempuan dihadapkan pada metode kontrasepsi terlepas ia sebagai subjek maupun objek dalam perlakuannya. Sedangkan dalam pelaksanaannya perempuan lebih banyak tidak diberi kesempatan tawar menawar dalam sistem reproduksinya. Untuk mencapai kesehatan reproduksi, perempuan mutlak membutuhkan seks sehat.
Itu salah satu garnbaran peradaban yang menjadi fenomena sepanjang kesejarahan umat manusia. Banyak Pakar yang “concern” dibidang ini. Untuk itu “The Question are” apakah kita termasuk orang yang “concern” terhadap permasalahan wanita dan peradabannya ? atau akan membiarkan permasalahan demi permasalahan lenyap dengan sendirinya. Redaksi. Editorial majalah Vokal edisi NO. 15 TH. VI, NOVEMBER 1997 – APRIL 1998

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 2, 2008, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: