Kilas Buku 2

KOELI DAN EKONOMI KAPITALIS
Sejarah perburuhan sama tuanya dengan sejarah muncul dan berkembangnya sistem ekonomi kapitalis di Hindia Belanda

Judul Buku
Kesenjangan Buruh Majikan, Penguasa, Koeli, dan Pengusaha:
Industri Timah Belitung, 1852-1940
Penulis
Erwiza Erman
Kata Pengantar
Dr. Thee Kian Wie
Penernit
Pustaka Sinar Harapan
Cetakan
Pertama 1995
Halaman
192 hal

Sejak dimulainya politik ekonomi kapitalis – merkantil negara – negara Eropa, yang berdampak pada perebutan wilayah – wilayah subsistem – produktif ekonomi, seperti munculnya perang dunia, dan diberlakukannya politik pintu terbuka oleh pemerintah kolonial Belauda tahun 1800-an maka rekayasa sosial untuk mendukung praktek ekonomi negara kapitalis tersebut dijalankan.
Karakter dari kipitalis-merkantil tersebut selain saling memperebutkan wilayah jajahan ekonomi dengan peperangan, juga sangat bergantung sekali pada faktor tenaga kerja (hal. 21), sang koeli, yang diarahkan untuk menggali bahan – bahan mentah. Inilah yang kemudian menjadi perhatian penulis dalam buku ini, yaitu pola serta praktek rekrutmen tenaga kerja pada waktu itu juga operasional organisasi perburuhan (hal. 22-24) yang dibingkai hukum makro kapitalisme.
Istilah koeli sendiri tak berbeda dengan buruh, harfiah koeli adalah kontekstual dengan kondisi jaman itu, dan dalam prakteknya sama dengan buruh yaitu “orang yang disewa” atau orang yang memberikan tenaganya, dan bagi penulis sendiri hal ini untuk mempertahankan kekhususan istilah tersebut dalam perspektif sejarah (hal. 24 dan 31-32). Tindakan memobilisasi tenaga kerja merupakan sub -bagian dari sistem kapitalis waktu itu, ini menciptakan sentra-sentra perdagangan koeli, contohnya pusat perdagangan koeli di Singapura. Cara mendapatkan koeli pun menjadi satu profesi.
Dalam buku ini yang representatif adalah disodorkannya data historis tentang eksistensi koeli Cina dalam sistem ekonomi kolonial. Memang keberadaan koeli atau tenaga kerja Cina bukan hanya di pertambangan timah Belitung, terjadi juga di Riau untuk usaha penebangan hutan (Erwiza Erman : 1994), kemudian penambangan emas di Kalimantan Barat (Harlem Siahaan ; 1995) serta penambangan timah di Bangka (Erwiza Erman ;
1995). Koeli Cina dinilai lebih mempunyai militansi kerja, kecakapan dan ketrampilan, ini bermanfaat bagi pengusaha untuk mendapatkan basil yang banyak.
Untuk mendapatkan koeli Cina diatur sebuah lembaga yang didirikan di Singapura dan Penang yang bernama Kantor Protektorat Cina. Kantor ini bertugas untuk mengurus segala masalah administrasi tenaga kerja. Untuk Belitung sendiri, sebagai implikasi dari persaingan mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas dan murah maka ditempuh dua jalur, yaitu pertama, merekrut langsung tenaga kerja Cina dari negeri leluhurnya dengan menugaskan pedagang – pedagang tenaga kerja maupun pejabat administratif perusahaan timah untuk melakukannya, kedua denan memberika fasilitas kepada koeli Cina untuk pulang libur ke tanah leluhurnya, untuk kembali kemudian dengan membawa tenaga kerja baru.
Organisasi dan Kehidupan Koeli
Sistem pengorganisasian yang dilakukan untuk tenaga – tenaga kerja tersebut intinya agar menentramkan proses produksi serta dapat menghasilkan out-put yang melimpah bagi pengusaha. Di samping itu m e t o d e ; organisasinya sederhana sesuai dengan I; pengetahuan organisasi jaman nu aan pemerintah kolonial banyak mengadaptasi pengorganisiran dari Ciira. Sistem kongsi merupakah teknik pengaturan tenaga kerja secara umum yang dipakai. Di dalam kongsi perusahaan hanya berperan sebagai pembeli timah, teknis dilapangan diatur oleh kepala tambang yang merupakan perwakilan dari pemilik saham.
Hubungan keuntungan antara kongsi dengan perusahaan dengan hitungan tahunan di mana perusahaan membeli beberapa pikul timah dengan dikurangi uang panjar dan barang -barang kebutuhan pokok koeli yang telah diberikan lebih dulu oleh perusahaan.
Dalam kongsi sendiri posisi koeli sangatlah lemah, ketentuan upah serta peraturan kerja diatur secara otoritatif oleh kepala kongsi, dan ini dilakukan lisan belaka. Tarik menarik untuk mengelola tambang timah terjadi juga antara perusahaan dengan pemerintah sebagai pemegang policy politik. Satu hal pokok yang mendorong pemerintah untuk mendominasi pertambangan adalah implikasi dari perkembangan politk imperialisme modern. Ini tentu saja mendapat lentangan dari pihak perusahaan yang merasa establish modal dapat terganggu, maka lewat perdebatan panjang akhirnya diambil jalan tengah perusahaan akan memberi keuntungan lebih besar pada pemerintah sebesar 62,5 persen (hal. 84). Hal ini menimbulkan masa transisi dalam kerja praktis pertambangan dan menyebabkan hasil tambang menurun.
Untuk mengatasinya, pemerintah merubah sistem organisasi buruh lari kongsi ke sistem kuota (quan-um stelsel) yang menyuntik dinamika kerja buruh lewat premi. Kemudian sistem kerjanya melalui nekanisme numpang, yang secara eformis memberi kesempatan buruh tambang untuk menjadi pemilik saham serta menjadi kepala lumpang.
Secara sepintas terlihat pemerintah berusaha lebih mempopulerkan eksistensi koeli dalam proses produksi, seperti dengan dibuatnya Koeli Ordonnantie litahun 1896 yang mengatur hubungan dengan lebih rasional antara buruh dan majikan. Kemudian juga dalam beberapa kertas laporan. Kerja lapangan ditunjukkan bahwa kondisi koeli di Belitung lebih bagus daripada daerah lain seperti di Bangka. Contohnya, Hoetink, seorang Inspektur Perburuhan di Deli menulis laporan tentang buruh Belitung,
“… Bagi seseorang yang bersimpati dengan Cina, suatu kunjungan ke Billiton Maatschappij merupakan penyegaran, mengingat dimana-mana kuli Cina digambarkan sebagai binatang, pengisap candu dan hina, di sini tidak hanya barang-barang mereka yang bagus ….. tetapi juga jarak antara majikan dan kuli tidak sebesar seperti di tempat lain ….. saya telah meninggalkan Belitung dengan kesan bahwa sekarang di mana pun penambang Cina semestinya memiliki apa yang dinginkannya …” (hal. 19).
|Laporan-laporan tekstual tersebut kontradiktif kemudian dengan data yang diungkapkan oleh para buruh serta kejadian mogok di tahun 1928 (hal. 139). Para koeli yang masuk dalam numpang diusahakan untuk selalu terjerat utang kepada kepala numpang agar ikatan Tcontrak kerja terus berjalan, caranya adalah dengan mengintimidasikan, atau memaksa para koeli untuk ikut berjudi dengan ancaman kehilangan pekerjaan kalau menolak (hal. 139 – 140).
Dalam hal kesejahteraan buruh, secara umum dapat dicermati dari isi tuntutan mogok para koeli bulan September 1928 dengan melibatkan 1.000 orang koeli. Isi tuntutannya berkisar pada masalah upah, jaminan kesehatan, makanan dan soal pengawasan polisi pemerintah. Ternyata, kuantitas kematian koeli di Belitung berangkali minim dikarenakan politik pemulangan koeli-koeli yang diidentifikasi tak produktif lagi oleh pemerintah ke negara asalnya, dan menurut Erwiza ini belum dilacak kemudian berapa koeli yang meninggal dan terlantar di negeri mereka. Tentang makananpun ternyata kontradiktif dengan apa yang dilaporkan oleh petugas lapangan kolonial, dan koeli menuntut diberikannya makanan bersih dan busuk tidak boleh keluar. Selain itu kebijakan premipun tidak boleh dinikmati koeli, upah dan premi kebanyakan dipotong oleh kepala numpang. Terakhir pengawasan polisi pemerintah sangat represif bagi koeli, mereka menjadi alat pemaksa penguasa untuk mengeksploitir koeli.
Aksi pemogokan ini dituduh oleh pemerintah kolonial sebagai pengejawantahan dari ideologi komunisme yang merasuk ke koeli Cina. Ini dibantah oleh Erwiza, karena secara faktual aksi mogok tersebut merupakan saluran keresahan sosial, selain itu juga tuntutan yang dicantumkan adalah hak koeli berhubungan dengan kesejahteraan sebagai manusia (hal.’142).
Sejarah Ekonomi Kapitalis.
Buku yang terdiri dari lima bab ini, dapat memberikan catatan historis tentang perkembangan ekonomi kapitalis kolonial khususnya dalam industri tambang timah di Belitung. Didahului oleh bab pendahuluan yang mengungkap tentang motivasi ilmiah penulisan buku ini. Kemudian pada bab kedua dituturkan tentang kondisi intern pulau Belitung dan politik kolonial. Berlanjut pada bab ketiga yang menceritakan mengenai maju mundurnya sistem pengorganisasian koeli, bab keempat membahas koeli secara khusus dari pola rekrutmen sampai kehidupan sosialnya. Terakhir bab kelima merupakan kesimpulan umum dari penulis.
Jarang ada studi sejarah yang mengkhususkan pembicaraan ilmiahnya pada masalah tumbuh kembangnya industri kolonial dengan basis ekonomi kapitalis-merkantilnya. Seperti yang diungkapkan Dr. Thee Kian Wie pada pengantar buku ini, pengkajian tentang sejarah ekonomi Indonesia merupakan barang yang langka (hal. 6-8).
Kajian tentang sejarah perburuhan apalagi menyangkut tentang koeli etnik Cina menarik di antara perkembangan isu ras yang meloncat ke hal ekonomis, di mana sering dikatakan ras Cina adalah penghisap ekonomi, tapi dalam sejarahnya mereka juga adalah koeli-koeli dalam sistem kapitalisme kolonial. Artinya, sistem ekonomi kapitalis tak mengenai ras untuk berkembang dan menggemukakan kepentingan ekonominya. Juga studi sejarah perburuhan ini dapat dijadikan perbandingan, dan sangat relevan, dengan kondisi perburuhan saat ini, karena sistem ekonomi maupun sistem perburuhan sekarang diciptakan secara historis oleh sistem perburuhan dan ekonomi waktu dulu. Tak bisa diputus kemudian pemahamannya bahwa itu adalah kolonial, sekarang adalah kemerdekaan, harus dianalisa keterkaitan hukum pokok ekonominya. Maka, buku ini merupakan sebuah bacaan menarik saat kondisi buruh sekarang mengalami gejolak lewat kencangnya aksi pemogokan. *

Peresensi :
Nurul Qoiriah. Di muat dalam majalah mahasiswa Vokal IKIP PGRI Semarang. Edisi No 15 TH. VI, November 1997-April 1998.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 2, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Thank so much for reading my book. I hope useful

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: