Kau dan Firdaus

DI MATAKU KAU LEBIH CANTIK DARI FIRDAUS
(Sebuah jawaban untuk kekasihku, Hujan)
Muhajir Arrosyid

Tulisan ini adalah darah yang mengombak menghancurkan tebing-tebing, adalah air tumpah dari langit menguyur genting-genting.
Tulisan ini adalah seruling pengembala di atas kerbau, menghibur diri. Tulisan ini adalah gejolak rasa antara cinta, amarah, harga diri, dan pertangung jawaban.

Perempuan di Titik Nol. Sebuah novel yang di tulis oleh Nawal El Sadawi menceritakan seorang tokoh bernama Firdaus. Tokoh yang jalan hidupnya terkondisikan oleh budaya yang berpihak pada laki-laki. Nasib Firdaus tak libih dari dekapan menuju dekapan yang lain oleh laki-laki. Pertama kali adalah teman sepermainannya di pematang sawah, kemudian pamannya sendiri yang menggrayangi pahanya sambil membaca kitab-kitab. Nasibnya berlanjut kepelukan seorang renta dengan bisul dijanggut. Dia lari dan menjadilah pelacur…………….)
Novel karya feminis mesir yang juga dokter ini di Indonesia telah di gubah menjadi sebuah naskah monolog dan juga telah dipentaskan berkali-laki dengan pemain yang juga berbeda-beda. Oleh penulis novel, Firdaus digambarkan cantik dengan mata tajam dengan bentuk tubuh yang juga menarik, mungkin penulis memberi kesan kewajaran kalau si tokoh di sukai banyak orang.
Sutradara monolog juga selalu meng-interpretasi Firdaus dengan memilih artis cantik (menurut padangan umum; putih, tinggi, hidung mancung, rambut lurus). Pementasan itu entah dengan maksud apa, mungkin untuk mengabarkan penderitaan Firdaus agar peristiwa demikian tidak terulang.
Siang itu menjelang dhuhur. Terjadilah percakapan canda denganmu tentang Firdaus ini. Sebenarnya aku hanya gojek, seperti gojek-gojek yang biasa terjadi di antara percakapan-percakapan kita, (aku mengejekmu, atau sebaliknya).
Sampai keluar kalimat-lakimat dari mulutku “Bagamana kalau kita garap pementasana monolog? Tapi kamu tidak mungkin berperan sebagai Firdaus ya?”
Kontan raut mukamu berubah dan kau marah-marah. Kita berdebat.
Kau tidak terima dangan apa yang aku utarakan, dan sebenarnya aku memakluminya. Aku juga sadar, sudah kelewat bicara sehingga menyinggung perasaanmu. Tapi kau marah-marah terus dan aku juga harus mempertahankan diri.
“Penagkapanku Firdaus tidak cantik-cantik amat, menurutku Nawal mengambarkan Firdaus sewajarnya. Orang mesir memang sudah trahnya cantik. ” katamu.
Mulai ini perdebatan sudah semakin tidak bermutu. Sudah tidak nyambung dengan perdebatan awal. Kau menuduhku sama dengan laki-laki lain yang menganggap cantik dengan konstruksi sosial yang telah dibentuk oleh berbagai hal, termasuk iklan misalnya.
Dan aku membela diri “ Karena penonton pementasan monolog adalah masyarakat umum, maka sutradara juga harus menyuguhkan pementasan dari kacamata umum. Masyarakat umum berpendapat cantik seperti apa, maka sutradara menyuguhkan seperti yang dibayangkan masyarakat. Ini atas dasar komunikasi antara sutradara dan penonton. Biar nyambung”
Aku sebagai sutradara harus mengikuti pendapat umum tentang cantik. Sebagai pribadi kaulah yang paling cantik. Aku dapat melihat kecantikan mu secara pribadi, yang masyarakat umum tidak melihatnya. Cantik yang pasaran akan bernasib seperti Firdaus, membuat laki-laki (kecuali aku) matanya jelalatan.
Aku tahu kau tersinggung berat. Apalagi sebelumnya kau rakus membaca buku-buku feminisme dari banyak penulis, mengikuti diskusi-diskusi tentang feminisme, rutin membeli jurnal Perempuan dan Srintil.
Ngambeklah kau sampai sore. Tidak bisa diajak cakap. Aku pikir-pikir ini karena percakapan tadi atau karena janji baksoku yang belum terlunasi. Apapun itu, aku mencoba sabar, mencari cara melerai agar senyum kembali muncul dari bibirmu.
Saat kau tidur kau menyuruhku, mempersilahkanku pulang terlebih dulu. Katamu kau masih ngantuk. Aku pikir tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan begini. Paing-paing keras-keras. Aku tidak mau terbawa alur keras. Saat kau keras maka aku akan melunak. Biarlah dibilang kalah.
Saat akan pulang menuju motor, kau berhenti duduk di sebuah kersi. Katamu menunggu jam yang sudah kau tentukan. Kau membaca poster tua yang sudah kadaluarsa. Meng-koyak kertas-kertas di dinding. Aku tahu kau kecewa. Sampailah kau angkat kaki menuju motor dan aku melihatmu sampai kau belok dan tidak tampak lagi.
Habis magrib kau telpun. Aku sambut dengan ucapan “Ada apa kekasih.” Selanjutnya permintaan maafku atas peristiwa tadi. Bukan atas pengakuan kesalahan yang aku lakukan, lebih karena ingin meredakan suasana. Tapi lagi-lagi dialog kaku. Bagaimna cara mencairkan suasana, pikirku. Kau tutup telpun dengan paksa.
18.32.00 terkirim SMS darimu; kalau kamu ketemu warnet mampirlah, aku kirim email buat kamu. Aku jawab; aku akan segera ke warnet.
20.15.28 terkirim SMS darimu; SMS aku.
Aku balas; ada apa kau hari ini sayang?
20.19.12 terkirim lagi SMS darimu; Buku itu sudah aku sobek-sobek. Tadi siang aku sedikit terkejut. Kau ucapkan kata-kata itu. Meskipun kau menganggapnya tidak serius. Aku kau banding-bandingkan. Apa hakmu? Aku kecewa, aku meras direndahkan.
Buku itu kau sibek-sobek? Sebenarnya aku putus asa dan meledak saat membaca SMS ini. Tapi perasaan ini aku tekan sedemikian rupa agar tidak tampak dalam kata-kata. Aku harus merendah, biarpun dibilang kalah.
Aku jawab; Ya Sudah, kalau maaf juga tidak kau hirau.
20.22.10 SMS darimu; Lha kamu mau apa?
Aku jawab, aku akan menghitamkan kamar. Kau SMS lagi, tidak ada hubungannya dengan peristiwa ini.
Setelah itu tidak aku hirau SMS darimu. Aku ingin menentramkan diri. Aku tidak ingin terus bertengkar. Lelah.
20.33.53 ; Aku benci kamu!
Tidak aku jawab.
20.46.08. SMS bernada ancaman darimu;Tidak jawab SMSku? Berarti kau menunggu sesuatu yang lebih buruk terjadi.
Tidak aku jawab, karena menjawab juga tidak ada artinya, pikirku. Kau akan membalasnya dengan lebih ketus.
20.46.08. SMS tidak kalah kerasnya; Selamat tinngal. It’s last SMS. Terima kasih.
Tidak juga aku jawab.
Kalut aku masuk warnet, Ada satu pesan darimu ; Dulu salah satu yang menjadi ketertarikanku sama kamu, karena kamu memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang lain. tapi ternyata aku salah. bullshit!!! kamu sama saja. keraguanku bertambah 20 %. Bukan karena aku sedih tidak dibilang “cantik”. Kamu yang mengajarkanku feminisme, tapi ternyata kamu tidak lebih paham dari yang kamu ajarkan. Sama saja dengan tong kosong!!!!!
***
Apa maksudmu? Kau ingin melihat aku kalah, merangkak-rangkak menyesal dan minta ampun, mencium kakimu? Apakah itu yang kau ingini. Kau ingin melihatku seperti kere yang menangis merenungi nasib?

Sebegitu mudahnya kau bilang selamat tinggal? Sedemikian salahnya aku tiada kau maafkan? Aku sedih sekaligus marah. Aku bayangkan ini benar-benar terjadi. Kita tiada lagi membagi senyum, membagi cerita, membagi keluh kesah. Tiada lagi berboncengan ke mana-mana, naik gunung, dan bermain perahu di laut.
21.12.20. Aku kirim SMS; dalam perjalanan pulang, ada apa?
21.12.22. SMS darimu; Aku sayang kamu, tapi kamu sering membuatku jengkel. Hik hik.
Hik-hik, dalam SMS itu entah menangis entah tertawa, aku tidak tahu. Aku gembira dengan SMS yang terakhir ini. Meskipun agak jengkel juga karena emosiku telah terkuras.
Aku masih seperti dulu. Jangan berubah memandangku meskipun 20%. Apalagi menganggapku omong kosong. Bulsiit. Dan sampah serapah itu. Sekali lagi aku katakan ini hanya masalah sudut pandang bukan prinsip seperti yang kau yakini; Agar terjadi komunikasi antara menonton dan maksud sutradara, maka sutradara harus mengunakan kacamata penonton dalam hal cantik. Untuk mendidik penonton ada cara yang lain lagi yang akan kita diskusikan berikutnya. Itu kalau kau mau. Dan tidak perlu dengan bentak-bentak dan sumpah serapah tentu!
Aku sayang kamu……………………………) Semarang 07 September 2008

Tulisan ini adalah mawar yang dihadiahkan kepada seorang kekasih, adalah kecupan kening dengan tatapan mata bening.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 8, 2008, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. dasyat, aku selalu cemburu pada kalian berdua.

  2. Salam,
    Sungguh saya merasa terkejut membaca tulisan ini. Betapa obrolan yang ringan itu berubah menjadi berat. Jadi batu. Sama-sama keras.
    Saya habis pikir: kenapa bisa seperti itu?
    bukan maksud masuk ke tengah-tengah persoalan. Mungkin, saya atau kita atau siapapun bisa berbeda menafsir: apa itu ide, imaji, dan realita.
    Lalu, apa ada yang lebih baik daripada komunikasi untuk meluruskannya?
    “Komunikasi!”
    Ya, komunikasi….Itu saran dari kalian berdua kepada saya yang selalu kuingat.
    Saya rasa masa kritis itu telah lewat, telah kembali seperti semula. ada senyum, canda tawa, ada cerita.
    Salam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: