PEREMPUAN REKLAME

PEREMPUAN DAN BURUNG BEO, ENJOY AJA LAGI?

——————————————————————————————Muhajir Arrosyid

 

Dari Simpang Lima Semarang ke arah barat melewati jalan pahlawan, kita akan menyaksikan bangunan berbentuk kerucut. Di bagian atas kerucut itu terdapat lambang pemerintah Kota Semarang, di bagian bawah terdapat kolam dengan air mancur mengelilinginya, di antaranya terdapat reklame dengan ukuran yang cukup besar. Reklame inilah yang mendapat perhatian penulis.

Gambar pada reklame ini adalah seorang perempuan berbaju warna pink berkepala seekor burung dengan paruh hitam besar, berbulu putih, dan berjambul kuning. Tepat di depan paruh ada tulisan “ Di mana? Ngapain? Sama Siapa?” di bagian depan dada perempuan itu terdapat tulisan “ Pacar posesif, enjoy aja lagi?” di bagian paling bawah terdapat tulisan “ Merokok dapat mengakibatkan gangguan kehamilan, kangker, serangan jantung………” sampai selesai.

            Sesuai pengamatan yang dilakukan penulis, reklame tersebut juga terdapat di tempat lain di antaranya; di depan pasar Gayamsari, di perempatan jalan Mbangkong, dan di perempatan jalan Gajah Mada. Sudah sekitar dua bulan reklame tersebut terpasang.

            Apa pesan yang akan di sampaikan oleh iklan produk rokok itu dengan menampilkan gambar demikian?

Possesif

Terlebih dahulu penulis akan membahas prihal kata yang dominan dalam reklame ini, “posesif”. Istilah posesif  berasal dari kata kerja, “to possess”, yang berarti memiliki. Jadi, orang yang posesif adalah orang yang “memiliki” atau lebih tepat lagi, menguasai orang lain. Posesif dilatarbelakangi oleh sebuah ketakutan, kecemasan akan kehilangan orang terdekatnya. Atau bisa jadi karena pengalaman buruk masa lalu maupun latar belakang keluarga.

Kecenderunan orang posesif memiliki ciri-ciri sebagai berikut; pertama total dalam memberikan perhatian.

Kedua, posesif muncul dari perasaan cinta yang berlebihan, sehingga seseorang bertingkah tidak rasional. Ia akan mengontrol pasangannya sedemikian rupa. Pasangannya tidak diijinkan untuk berhubungan dengan orang lain atau melakukan aktivitas tanpa sepengetahuannya.

Ketiga, seseorang yang memiliki sikap posesif biasanya membutuhkan pengakuan eksistensi serta perhatian lebih. Sikap tersebut bisa muncul dari rasa tidak percaya diri. Ketika tidak mendapatkan perhatian yang diinginkan atau merasa diabaikan, seseorang yang memiliki sikap posesif akan bertingkah uring-uringan. Ia akan berlaku sedemikian rupa untuk menarik perhatian pasangannya. Tahap berikutnya, ia akan mendikte pasangannya untuk berlaku seperti apa yang diinginkan dan melarang apa yang tidak ia kehendaki. (Kustiah, 2008)

Orang yang memiliki sifat posesif adalah orang yang cenderung irasional dan emosional.

Perempuan dan burung beo

Dalam reklame tersebut sifat posesif di simbulkan dengan hadirnya burung beo. Burung beo dikenal sebagai burung yang pandai berbicara dan cerewet. Dalam reklame tersebut yang disamakan dengan burung beo adalah perempuan, hal ini dapat dilihat dari tubuh berkepala beo dalam iklan tersebut adalah tubuh perempuan ditandai dengan terdapatnya panyudara di bawah leher dan terbungkus baju pink.  

Reklame ini menjadi salah satu bentuk solialisasi pelabelan atas perempuan, bahwa perempuan adalah manusia yang memiliki sifat posesif. Sosialisasi seperti iklan ini ikut membentuk kesan bahwa sifat posesif seolah-olah hanya dimiliki orang yang memiliki jenis kelamin perempuan, atau setidaknya dikesankan perempuan lebih posesif dari pada laki-laki.

Pada mulanya pelabelan terhadap perempuan ataupun laki-laki seolah-olah sederhana dan tidak menimbulkan masalah. Padahal, pelabelan terhadap jenis kelamin tertentu dan dalam hal ini perempuan berakibat besar terhadap perempuan. Pelabelan itu akan menentukan posisi, perlakuan, kebijakan terhadap perempuan.

Misalnya saja, anggapan bahwa perempuan berdandan untuk menarik perhatian lawan jenis, berkibat pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan. Jika ada tindak pelecehan seksual ataupun pemerkosaan terhadap perempuan maka yang dipersalahkan oleh masyarakat adalah pihak perempuan. Kasus seperti ini terlihat dalam peristiwa Dewi Persik beberapa waktu lalu saat dia mendapat perlakuan pelecehan seksual.

            Anggapan bahwa perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin serta tidak cocok menjadi pemimpin rumah tangga berakibat semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab perempuan. Perempuan dengan anggapan ini memiliki beban kerja yang banyak dan waktu kerja yang lebih panjang. Belum lagi dengan perempuan yang nyambi  bekerja di luar sebagai buruh pabrik misalnya.

Pelabelan perempuan memiliki sifat posesif akan berakibat anggapan bahwa perempuan irasional dan emosional. Kemudian akan menimbulkan kesepakatan masyarakat; perempuan tidak bisa memimpin, berlanjut pada anggapan bahwa perempuan tidak penting dan selayaknya diperlakukan seperti (hewan) burung beo.

Entah apa pesan yang ingin disampaikan pihak pemasang iklan. Tapi, yang jelas secara tidak langsung iklan ini sangat merugikan pihak perempuan.

Kepada pemerintah, pemasang iklan, dan masyarakat harap jeli dalam melihat masalah yang seolah remeh namun sebenarnya penting ini. 

 

Muhajir Arrosyid, Editor IKIP PGRI Semarang Press IKIP PGRI Semarang. Penulis Cerita Pendek dari Demak

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Oktober 8, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. iklan memang kadang aneh, tapi kebanyakan dari semua iklan di seluruh dunia memang di buat aneh. supaya laku, selain aneh juga harus Logis…meong…

  2. saya perhatikan beberapa kali iklan la memang sembrono. salah satunya iklan “possesive” ini. kesembronoannya ia tampilkan pula dalam iklan yang bertajuk “bersakit sakit dahulu enjoy aja kemudian”. pada iklan tersebut divisualisasikan seorang anak memakai kalung bertuliskan kalimat tersebut dan beberapa helai jengkol juga cabe merah. dalam iklan tersebut seolah-olah la setuju dengan aksi perploncoan. perploncoan tidak jarang menimbulkan sikap meremehkan yunior. senior yang berkuasa, yunior selalu yang salah. tidak heran aksi kekerasan masih banyak kita dapati di berbagai sekolah karena pemahaman ini. untuk rokok la, lain kali harus lebih hati2 membuat iklan. dalam sehari kita menonton iklan lebih dari sepuluh kali. takutny hal yang disampaikan dalam iklan akan mengakar dalam pikiran penonton dan menjadi semacam ideologi. blaik…

  3. rokok LA memang kacau! apa perlu kita demo, agar reklame itu diturunkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: