Hidayah

CAMPUR TANGAN ALLAH ITU NYATA

Puput Puji Lestari

Masa kecilku kuhabiskan dengan banyak kegiatan dari pagi hingga malam. Sekolah, membungkus tempe, ke sawah, mengaji, belajar, dan tentu bermain. Sejak kecil aku suka sekali begadang, sulit tidur karena sebelum tidur selalu membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupku kelak. Bebicara pada diri sendiri tentang mimpi.

Aku terlahir bukan dari keluarga agamis. Islam kukenal dari masjid di belakang rumahku. Yang kuingat, ibuku selalu menyuruhku mengaji ke masjid dan sholat bersama-sama. Aku juga tahu ibuku hanya sholat beberapa kali dalam setahun. Sholat id.

Bapakku adalah seorang pegawai kereta api yang jadwal kerjanya 24 jam. Artinya siang malam harus siap untuk bekerja. Karena lokasinya jauh dari rumah kami, Doplang.

Bapak lebih sering mengabiskan waktu di Stasiun Cepu. Jika ibuku sholat beberapa kali dalam setahun, dan bersedia menemani anak-anaknya puasa, bapakku tidak sama sekali.

Waktu kecil, sering timbul pertanyaan dalam hatiku, kenapa orangtuaku menyuruh aku mengaji dan sholat ke masjid jika mereka sendiri tidak melaksakannya. Aku tidak pernah menanyakannya. Aku menikmati hari-hariku. Karena di rumah tidak akan ada yang marah jika aku tidak sholat atau mengaji. Saat yang menyenangkan saat itu.

Pernah suatu hari raya Idul Fitri, aku dan Ibu sholat id di lapangan. Ketika menengok ke kanan, aku melihat Bapak pulang dari sawah dan berjalan pulang. Aku juga tidak bertanya pada Ibu kenapa Bapak tidak ikut Sholat Id. Hanya dalam hatiku aku merasa malu. Malu karena Bapak tidak ikut bergabung kami di deretan Sholat Id hari itu. Tapi memang Bapak adalah lelaki pekerja keras, jika tidak sedang bekerja di stasiun bapak mengerjakan sawahnya.

Dalam malam, aku bertanya Siapa Allah? Kenapa aku harus menaatiNYA, sedang orangtuaku tidak? Hari bergulir hingga SMP. Aku tak semangat lagi membaca huruf arab yang konon katanya disebut sebagai kitab Suci Al Qur’an. Aku protes, kenapa aku membaca huruf yang tidak kupahami maknanya? Guru ngajiku selalu bilang “Membaca saja kita sudah dapat pahala.’’ Aku tidak puas, aku kecewa.

Tidak boleh, aku tidak boleh membaca tanpa tahu maknanya. Lalu kutabungkan uangku. Tujuannya adalah membeli Al Quran terjemah. Setelah cukup aku berangkat ke Cepu bersama sahabatku, Nurul. Waktu itu dia ingin membeli kaset Siti Nurhaliza yang lagunya “Betapa Kucinta Padamu”. Naik bis kami ke Cepu. Lantas aku membeli Al Qur’an terjemah. Harganya Rp 19.000 aku ingat betul itu. Biru tua sampulnya.

Setiap malam menjelang tidur, aku membaca artinya. Adakalanya aku mengacak setiap membuka halaman. Entahlah, aku begitu mudah tersentuh oleh kata-kata indah yang terangkum dalam sampul biru tua itu. Sering menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa kata-kata indah itu tercipta? Dari buku-buku perpus yang kubaca, tak ada satupun yang bisa kusandingkan dengan makna-makna Al Quran itu. Bahkan biarpun maknanya menggambarkan sejarah, aku tetap suka. Aku menikmatinya tanpa bosan.

Buaian kata-kata indah itu menawan hatiku. Amat sangat!!! Aku menstruasi sejak kelas 2 SMP, artinya aku sudah akhir baliq, semestinya berjilbab. Kuutarakan maksudku untuk menutup aurat, Bapakku tak setuju. Ah biarlah.

Awal SMA aku meminta lagi, tapi Bapak tetap tak mengijinkan. Bapak khawatir orang akan menyangka anak perempuannya gundul atau tak punya daun telinga sehingga harus ditutup. Aku juga tak protes.

Hari-hari di sekolah SMA adalah hari yang sangat menyenangkan. Sholat dhuha menjadi kebiasaan, apalagi dhuhur dan ashar berjamaah di sekolah, aku suka sekali. Aku mulai peduli jika orangtuaku tidak sholat.

Aku protes selulus SMA, bapak tidak mengizinkanku berjilbab. Aku tak peduli. Dengan baju seadanya dan mengandalkan jaket, aku menutup aurat. Kakak perempuanku, Mbak Pur tidak melarang. Kuingat dia mengatakan “Jika keputusan sudah diambil harus bisa mempertanggungjawabkannya.’’

Protesku berlanjut ketika aku tidak lulus SPMB. Aku marah pada ibuku, yang kutuding tidak mau sholat dan mendoakanku. Sehingga aku gagal. Tak kusangka pernyataanku memicu debat panas. “Aku orangtuamu selalu mendoakan. Apa perlunya aku mengatakan bahwa aku mendoakanmu?’’ Tak mau kalah aku katakan doa itu harus dengan sholat. Ibuku berang, marah. Aku tak mau berhenti, kuteruskan mendebat jawaban ibu.

Kakak lelakiku, Mas Budi, mendamaikan kami. Tak berhasil, pembicaraan melebar. “Aku kuatir jika tak bisa mendoakan ibu kelak, aku kuatir jika aku mati lebih dulu. Siapa yang akan mendoakanmu, ibu?’’ suara ibuku tertambah tinggi, “Kamu pengin aku mati lebih dulu?” Aku menangis, kakakku menangis, ibuku melotot. Selesai, pamanku datang ke rumah karena mendengarkan pertengkaran kami. Diam semua.

Tahun-tahun selanjutnya kuhabiskan untuk kuliah di Semarang. Setiap malam aku berdoa supaya Allah membuka pintu hidayah. Setiap sholat tahajud kukirimkan Alfatehah untuk mereka. Menangis lagi. Mengulang tangisan yang sama seperti dulu. Tak bersolusi.

Hingga pada suatu malam kutemukan cerita Nabi Muhammad yang memohon supaya pamannya Abu Tholib diberi hidayah di Al Qur’an. Allah tak mengabulkannya, bahkan hingga ajal menjemput sang paman. Hidayah itu rahasia Allah, tak ada campur tangan hamba di dalamNYA. Hancur hatiku, tumpah seluruh tangisku.

“Gusti, sangkang paringe dumadi. Jika Muhammad saja tak kau penuhi pintanya kenapa aku harus menangis? Punya hak apa aku menuntutMU? Sekarang kutegarkan hati, dan kupandang Engkau dengan berani. Tuhan, jika memang takdirku harus menerima orangtuaku kafir, maka kuatkan aku menerima semua takdirMU dengan ikhlas.” Setiap tahajud aku tak lagi menangis. Aku tegar menerimanya.

Teman laki-lakiku (dulu) ingin pulang bersamaku ke Doplang. Kami naik motor Semarang-Doplang. Sampai di rumah tidak kudapati bapakku. Kupikir sedang bekerja. Hingga sore, pamanku bertanya. “Sudah menjenguk bapak ke kantor polisi Cepu?” Hah, syok. Ada apa dengan bapakku?

Kebakaran kereta pengangkut minyak karena pengendara mobil yang lalai. http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0509/24/utama/2073755.htm dan http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/25/nas01.htm ternyata berhubungan dengan bapakku. Salah satu petugas yang bertangung jawab pada perjalanan kereta itu adalah pria kekar yang dulu suka memboncengkanku dengan sepeda. Yang sampai sekarang tetap setia pada sepedanya itu. Meskipun sudah ada motor untuknya sendiri.

Bergegas kuajak teman lelakiku ke Cepu. Menemui bapakku. Ah syukurlah, cuma dimintai keterangan. Sementara tidak boleh pergi, tinggal di samping mushola Polsek Cepu. Lelaki paruh baya itu kutemui dalam duduknya yang tenang. Sebelum pulang memintaku membelikan rokok, air mineral, dan marning. Untuk teman ngobrol katanya. Memang Bapak tak sendiri, ada tujuh orang kawannya. Semua ditunggui istri dan anak. Pria tegar itu tak mengijinkanku berlama-lama di sana. Juga tak mengijinkan satu orang keluarganya mendampingi, termasuk Ibu. “Sudah ada pengacara dari kantor, tenanglah.” Gumam Bapak mencoba menenangkan perasaanku yang galau.

Aku tak menjenguknya lagi, karena di Semarang aku punya tanggungan kerja. Bergantian kakak dan ibuku menjenguk Bapak. Kami berkabar lewat telepon saja. Seminggu sudah, Bapak pulang. Ah lega, murni kesalahan pengendara mobil. Bukan kelalaian pekerja kereta.

HP ku berdering, SMS dari Mas Budi. Masih kuingat jelas kata-katanya, dan takkan pernah kulupa. “Dik nek bali tumbas baju koko, sarung, dan peci ya”. Seminggu sebelum puasa kiranya waktu itu. Aku tak sabar membalas sms, kutelepon.

“Halo, Mas buat siapa? Bukannya baju kok buatmu udah banyak?”

“Buat Bapak,” singkat jawab mas Budi. Aku lemas, takjub, heran, cemas, entahlah.

“Buat Bapak?” tanyaku menyakinkan.

“Iya, sepulang dari kantor polisi Bapak sholat. Katanya minta dibelikan baju koko”

“Alhamdulillah. Ya ya kubelikan. Sabtu besuk aku pulang.”

Tutttttttttttttttttttttttttttttttttt………………………. Telepon kumatikan.

Aku tak ingat untuk sujud syukur. Aku menangis terharu di depan kosku. Kututup bantal. Allah, campur tanganMU itu nyata,” Aku menangis lagi, sholat tarawih pertama di masjid belakang rumahku. Bapak berdiri tepat di depanku.

Jakarta, 27 Oktober 2008

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Oktober 28, 2008, in buku harian. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. habis kata, syukur. terima kasih……

  2. habis kata, syukur. terima kasih.

  3. Thanks, energi belajarku……

  4. tulisan yang memikat,,

  5. kita tidak akan pernah tahu kapan pintu hidayah akan dibuka (entah sudah atau belum),,,hanya Tuhan yang tahu. Dan kita yang mengusahakannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: