Cerita Pendek Fidaniar

SEINDAH ANYELIR SEHARUM MELATI

Cerita Pendek: Fidaniar

Sebuah kamar berukuran 3×4 meter, bercat putih bersih, di dalamnya seorang gadis kecil berumur delapan tahun tengah terbujur tak sadarkan diri. Sebotol infus tergantung di sisi kiri ranjang pasien. Selang kecil terpasang manis di hidungnya. Sudah satu minggu ini, Anyelir bermalam di hotel orang-orang sakit ini. Makin  hari tubuhnya makin kurus saja. Rasa lelah dan bosan menggelayut pada diriku. Ya! Aku sangat lelah harus bolak-balik dari tempat kerja ke Rumah Sakit tiap hari. Kalaupun pulang ke rumah, itu hanya untuk mengganti pakaian dan mencuci pakaian. Semua rasa lelah menjadi bosan.

Ini bukanlah kali pertama Anyelir masuk Rumah Sakit. Entah yang keberapa juga aku sudah lupa. Adikku yang satu ini memang langganan pasien Rumah Sakit. Penyakit paru-parulah yang membuatnya kehilangan kebahagiaan masa kecilnya. Uang gajiku hampir selalu tak bersisa untuk membiayai sakit Anyelir. Ah, andai saja Tuhan dapat memindahkan penyakit Anyelir ke tubuhku. Aku sangat menyayangi dan aku sangat takut kehilangannya.

“ Mel, makan dulu.” Ucap Ibu padaku seraya menyodorkan sebuah bungkusan, dari aromanya sepertinya nasi gudeg kesukaanku.

“ Nanti saja bu, setelah sholat Maghrib. Melati belum lapar. “ tolakku sopan.

“ Ya sudah, Ibu taruh di atas meja ya. Ibu pulang sebentar ya, Mel. Ibu mau melihat Soka apa dia baik-baik saja di rumah. Kamu jangan tinggalkan Anyelir, nanti kalau dia bangun.”

Kugeser posisi dudukku dengan menyilangkan kaki kananku menumpang kaki kiriku.

“ Bu, sebaiknya malam ini ibu istirahat dulu di rumah. Kasihan Soka selalu sendirian. Memang sih dia sudah kelas 3 SMP, tapi dia kan juga butuh perhatian Ibu. Anyelir biar Melati yang tunggu.”

Tampak wajah tua ibu berpikir sejenak.

“ Ya sudah, besok pagi-pagi sekali Ibu ke sini biar kamu bisa pulang dan siap-siap kerja.”

Aku hanya mengangguk mendengar perkataan Ibu. Ibu langsung pulang setelah aku mencium tangannya. Kasihan Ibu, seharusnya di usianya yang menginjak kepala empat beliau dapat menjalani hidup dengan tenang. Apalagi setelah bapak meninggal dua tahuin lalu seolah cobaan hidup terus menguji kesabaran kami. Harta warisan peninggalan bapak lama-lama semakin berkurang saja nilai nominalnya.

Gaji Ibu sebagai seorang guru SD, tak cukup untuk makan sehari-hari dan untuk membiayai sekolah kedua adikku. Sejak lulus SMA, enam bulan yang lalu, aku bekerja menjadi kasir di sebuah supermarket. Malam harinya aku teruskan menjadi operator di salah satu tempat karaoke di kota Atlas ini.

“ Mbak Mel….” Rintih Anyelir memanggil namaku. Rupanya dia sudah bangun.

“ Sudah bangun dek, haus ya. Ini minum dulu. “ sambil kusodorkan segelas susu, ku salurkan sedotan dari gelas ke mulut Anyelir. Kulihat hanya dua teguk saja aliran susu itu lewat kerongkongan adikku.

“ Ibu mana mbak? “

“ Ibu baru keluar sebentar. Nanti juga ke sini lagi. Kalau kamu butuh sesuatu bilang sama mbak aja. “ Ucapku bohong agar Anyelir tidak merengek.

“ Mbak…tadi Anyelir mimpi ketemu sama bapak.” Aku tersentak kaget mendengar ucapan Anyelir. Bagaimana tidak? bukankah kalau bermimpi ketemu dengan orang yang sudah meninggal berarti umur si pemimpi itu tidak lama lagi?

Betapa malang nasib adikku ini. Andai saja aku bisa menggantikannya. Namun, tetap saja semua sudah ditakdirkan oleh-Nya.

“ Bapak bilang sama Anyelir kalau Anyelir harus bertahan melawan penyakit ini. Bapak juga bilang kalau bapak itu sayang sekali sama Mbak Melati.” Lanjut Anyelir tanpa satu kata jawaban  pun dari mulutku. Aku tak mampu mengeluarkan suara karena sudah pasti suara yang aku keluarkan pastilah terdengar sengau dan bergetar menahan tangis.

Seperti tertetes embun pagi. Hatiku sejuk seketika. Bapak bilang kalau sayang sama aku? Oh, aku rindu sekali. Bapak adalah sosok idolaku. Sifatnya yang tak mau menyerah itulah yang membuatku senantiasa ingin setegar seperti bapak.

Dulu saat bapak masih bekerja di sebuah perusahaan jasa dan menduduki jabatan penting, hidup kami berkecukupan bahkan berlebih mungkin, hingga perusahaan tempat bapak bekerja yang akhirnya bangkrut. Bapak tidak mengenal rasa putus asa. Beliau bekerja keras untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Dari yang bekerja sebagai karyawan di sebuah percetakan hingga menjadi sopir taxi pernah ditekuninya. Jadi, tidak begitu terasa perubahan hidup kami. Dari kecil kami sebagi anak-anaknya memang tidak pernah diajarkan untuk hidup konsumtif.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on November 14, 2008, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: