Perempuan Jawa

TRAGEDI REMAJA PEREMPUAN JAWA

Muhajir Arrosyid

 

Hingga hari ini media masih sibuk memberitakan tentang Lutfiana Ulfa, bocah perempuan umur 12 tahun asal Ambarawa Semarang yang dinikahi oleh Pujiono Cahyo Widianto atau lebih di kenal dengan sebutan Syeh Puji, laki-laki umur 43 tahun.

            Pernikahan antara Syeh Puji dan Ulfa dapat dipastikan bukan atas kehendak Ulfa pribadi. Pernikahan tersebut pastilah kehendak Suroso ayah Ulfa. Di zaman Hak Asasi Manusia, termasuk hak anak di junjung tinggi, masih banyak terjadi pemaksaan oleh orang tua terhadap anak.

             Pemaksaan orang tua terhadap jodoh anak banyak muncul dalam teks lagu Campursari. Teks lagu diproduksi sebagai representasi, ekpresi masyarakat di mana teks tersebut di ciptakan.

            Pemaksaan kehendak terhadap anak prihal pemilihan jodoh muncul pada teks lagu campursari dengan judul; Tragedi Tali Kutang.

Berikut bait pertama lagu tersebut; // Dek mbiyen wis tak tukokke// Wujud tali sak kutange// Saikine lhakok ngilang sak slirane// Lungo menyang ngendi tanpo pamit ra ngabari//  Opo kowe lali marang aku iki// Nadyan regane nem ewu iku wujud katresnanku// Jare kowe melu aku la kok mlayu// Opo kurang larang, pungkasane kowe ilang// Ning endi aku goleki tali kutang //

Dalam bahasa Indonesia demikianlah terjemahannya; //Dulu sudah aku belikan// Berwujud tali beserta BH nya// Sekarang malah menghilang sekaligus orangnya// Pergi kemanakah kau, tanpa pamit, tanpa kabar// Apa kau lupa kepadaku// Walaupun harganya hanya enam ribu// Inilah bukti cintaku// Katanya kau ikut aku, kok malah lari// Apa kurang mahal//Akhirnya kau menghilang// Di mana aku mencari tali BH//

Bait pertama lagu yang telah tersaji di atas dilantunkan oleh laki-laki. Bait pertama tersebut bercerita tentang seorang laki-laki yang ditinggal pergi oleh kekasih perempuannya. Padahal sang laki-laki sudah membelikan tali sekaligus BH-nya. Tali BH atau tali kutang sebagai tanda cinta terdengar mengada-ada. Namun sebenarnya makna tali kutang adalah bahwa sang lelaki sudah mengadakan acara tunangan. Tali kutang adalah wakil dari pakean sepengadek,  pakean lengkap dari sepatu sampai pakean dalam sebagai syarat orang Jawa melaksanakan upacara tunangan. Tragedi Tali Kutang menceritakan tentang seorang laki-laki yang ditinggal kekasih perempuannya setelah melaksanakan tunangan.

Kenapa sang perempuan meninggalkan sang lali-laki? Hal ini juga ditanyakan oleh sang laki-laki. // Opo kurang larang, pungkasane kowe ilang// Ning endi aku goleki tali kutang //

Yang dalam bahasa Indonesianya demikian; //Apa kurang mahal//Akhirnya kau menghilang//

Bait berikutnya adalah jawaban oleh kekasih perempuan kenapa dia meningalkan kekasih laki-lakinya; // Iki mas taline tak kundurake mergo bapak ra ngeparengake// Aku dijodokke malah karo prio seje// Wis cukup mung semene wae// Duh kangmas andum basuki// Aku ora bakal lali// Yen gusti ngeparengake mesti bali.

Demikian dalam bahasa Indonesianya; // Mas, ini tali kutang aku kembalikan karena bapak tidak membolehkan// Aku dijodohkan dengan lelaki lain// Sudah cukup sampai sini saja// Duh kangmas tercinta// Aku tidak mungkin lupa// Jika Tuhan menghendaki, pasti akan kembali sediakala//

Mengembalikan tali BH maksudnya adalah mengembalikan pakean sakpengadek  dan tukon , uang yang diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan di saat tunangan. Banyaknya uang yang di berikan adalah ukuran bobot seseorang. Mengembalikan pakean sakpengadek dan tukon artinya menghentikan hubungan dan membatalkan semua perjanjian yang telah disepakati dalam tunangan.

Ungkapan yang menyatakan pemaksaan oleh orang tua dari pihak perempuan yang berlanjut pada kandasnya hubungan sepasang kekasih juga muncul dalam teks lagu campursari yang berjudul Sepur Argo Lawu.

Berikut kutipan lagu yang menyatakan hal tersebut; //Kreta-kreta dwipangga// Berhenti mampir di Yokja// Bukannya aku tak cinta// Karna di marah oleh bapak saya//

Prihal jodoh, orang Jawa menganut falsafah bibit, bebet, dan bobot. Arti bibit adalah asal-usul, keturunan.

Bebet memiliki makna keluarga, lingkungan.

Yang ketiga adalah bobot yang memiliki makna nilai pribadi termasuk kepribadian, pendidikan, pekerjaan.

Pertimbangan bobot ini muncul dalam bait selanjutnya; // Kereta api argo anggrek// Tampan manis tidak jelek// Sepore Argo bromo// Pilihane bapak wong sing sugih donya//

Ketiga hal inilah yang menjadi pertimbangan orangtua  memilihkan jodoh anak-anaknya. Karena pertimbangan inilah seringkali terjadi perbedaan nilai antara pihak anak dan pihak orang tua. Seringkali orangtua sudah memilihkan jodoh untuk anaknya sesuai dengan pertimbangan yang telah dia ukur.

Konsep lain selain bebet, bibit, bobot yang mendasari dan menjadi bahan pertimbangan pemilihan jodoh dalam masyarakat Jawa adalah primbon/weton atau nilai hari. Sepasang kekasih sudah berhubungan lama tidak akan direstui kalau ternyata setelah dihitung wetonnya tidak cocok.

Menurut Mujahirin Thohir (2007) masyarakat desa mengenal Wong  Pinter. Dikalangan warga masyarakat, suatu tindakan ritual yang memuat sejumlah kehendak tertentu harus atas pertimbangan Wong Pinter. Ada tiga orang yang masuk kategori Wong Pinter  mereka adalah pengujub, kiai, dan dukun.

Wong Pinter memiliki pedoman pengambilan keputusan seperti hari di laksanakannya sebuah acara perkawinan. Masyarakat juga meminta pertimbangan Wong Pinter untuk menghitung neptu, untuk memutuskan jadi tidaknya sebuah hubungan berlanjut ke jenjang perkawinan.

Kasus dalam teks lagu campursari di atas sedikit berbeda dengan kasus Ulfa. Baik Tragedi Tali Kutang maupun Sepur Argo Lawu mengambarkan remaja perempuan yang pasrah terhadap kehendak orang tua tetapi terungakap pula adanya sikap menentang atau tidak setuju dengan sikap orang tua yang memaksanya. Kasus Ulya seperti tampak di media, Ulfa samasekali tidak melakukan perlawanan. Ulfa seakan tidak keberatan dengan perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya.

Kepasrahan Ulfa terhadap bujukan orangtuanya dimungkinkan karena Ulfa masih terlampau kecil dan belum memiliki pengetahuan dan pengalaman. Ulfa menganggap perjodohan itu sebagai kewajaran. Karena kurangnya pengalaman, sebagai anak Ulfa wajib dilindungi.

 

Muhajir Arrosyid. Penulis Cerita Pendek Dari Demak

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 20, 2008, in Opini. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Dasyat Jir. Tulisan kamu kali ini dasyat sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: