BAJU DAN TUBUH

 CELANA SIMPANG LIMA

Muhajir Arrosyid

 

Minggu, aku selalu bangun pagi-pagi. Setelah Sholat Subuh tanpa do’a, aku lajukan motor menuju Simpang Lima Semarang. Dari kos menuju tempat tujuan membutuhkan waktu tidak lebih dari sepuluh menit. Aku parkir di Masjid Baiturrahman. Zikir masih terdengar dari dalam masjid. Aku parkir di halaman Masjid Baiturrahman kerena aman sekaligus murah, hanya seribu rupiah.

Simpang Lima masih sepi. Sebagian pedagang mempersiapkan dagangannya, sebagian yang lain masih ngorok di antara dagangan tertutup plastik. Mereka sudah datang dan menjajakan dagangannya mulai kemarin sore dan akan mengkutnya lagi nanti pukul sembilan. Apa yang dapat dinikmati di Simpang Lima?

Semakin meninggalkan subuh, Simpang Lima semakin ramai, jadilah Simpang Lima penuh sesak. Orang-orang berdempet-dempetan mengelilingi lapangan. Ada banyak alasan minggu pagi ke Simpang Lima. Setiap orang memiliki alasan masing-masing. Keluarga muda yang memiliki anak kecil bisa mengajak anaknya mengelilingi Semarang mengunakan andong. Remaja naik motor mengelilingi lapangan, remaji yang diboncengkan memeluk dari belakang. Setelah puas berputar-puutar, mereka parkirkan motor ikut rombongan tawaf mengelilingi lapangan sambil melihat-lihat barang-barang yang dijajakan. Sesekali menawar, dari kaset bekas, VCD bajakan, mainan, sampai meja dan keranjang pakaian kotor ada di sana.

Bagi orang sepertiku, yang belum masuk golongan keluarga dan tidak lagi dapat dikatakan remaja, kenikmatan yang dapat aku raih adalah memperhatikan semuanya. Aku suka mencari buku-buku bekas, majalah bekas. Ada juga buku-buku yang sedang laris manis karya Andrea Hirata dan Kang Abik. Dijamin harganya terjangkau, tentu karena bajakan. Yang ingin menikmati buku itu tapi eman-eman modal, beli saja di Simpang Lima. Sedikit tawar menawar, ‘Kena deh’…

Keasyikanku adalah memperhatikan semuanya. Memperhatikan para pedagang menata barang dagangannya. Memperhatikan penjual dan pembeli tawar menawar, keluarga bahagia menumpang andong dengan anak-anaknya.

Dari sekian banyak hal yang menarik perhatian, rupanya harus aku akui celana yang paling menarik perhatianku. Bukan celana yang dipajang para pedagang, bukan pula celana dalam yang dijajakan dengan harga sepuluh ribu tiga, tapi celana-celana pendek yang berjalan bersama pemakainya. Celana pendek ini demikian indah membalut paha-paha gadis dan gadis plus, maksudnya gadis dengan umur plus. Mereka asyik saja melenggang tanpa risih. Aku yakin tidak hanya aku yang mencuri-curi pandang. Aku juga yakin si pemilik paha juga sadar pahanya jadi santapan para mata.

Pacar lelaki yang menggandengnya apakah tidak cemburu? Ibu yang menggandeng gadis pemakai celana apakah tidak risih anaknya dinikmati secara gratis? Kalau aku yang punya pacar pemakai celana begitu, aku cemburu. Tapi pada kenyataannya pacar mereka cuek aja, paha pacar mereka dipelototi banyak orang, atau malah bangga. Atau mereka memiliki pikiran memperlihatkan paha sebagian dari shodaqoh.

Pakean dikenakan atas dasar keindahan. Orang-orang dulu bilang, ‘ajining rogo ono ing busono’. Mungkin mereka beranggapan tubuhnya akan bernilai tinggi jika memakai celana pendek yang memperlihatkan paha bagian atas.

Bagian paha yang sekarang diperlihatkan itu dulu adalah bagian yang diintip-intip. Bagian yang paling ingin dilihat. Kenapa diintip-intip? Karena bagian ini adalah bagian yang memiliki magnet. Berhubung muka, tumit, rambut, kaki sudah tidak menarik lagi, maka paha dibuka sebagai senjata pamungkas. Saya membayangkan kalau paha juga sudah kehilangan daya tariknya, maka beberapa tahun yang akan datang akan kita saksikan di Simpang Lima terlihat gadis-gadis hanya memakai celana dalam. Jika bagian itu sudah kehilangan daya tarik, maka, jangan diteruskan.

Kalau orang-orang sudah tidak mau berpakaian, ini berbahaya. Stabilitas nasional akan terganggu. Ekonomi macet. Pabrik kain dan garmen tutup, butik, toko kain, dan toko pakaian tutup. Jutaan buruh dan karyawan kena PHK. Macetlah roda pemerintahan, lapangan kerja masih terbatas masih lagi ditambah PHK.

Maka untuk menghindari itu semua dibuatlah Undang-undang harus pakai baju, UU harus menutup seluruh anggota badan.

Terjadi pro-kontra tentang Undang-undang baju ini, untuk sementara yang menang adalah yang pro. Yang pro berdalih tubuh harus ditutup karena mengakibatkan tindak kriminal di mana-mana, membuka-buka tubuh bukanlah budaya kita. Mereka memprakarsa pembuatan Undang-undang sebagai cara cepat menutup tubuh-tubuh menjelang bugil di Simpang Lima. Cepat dan instant adalah teman dekat, terlalu banyak makan mi instant tidak baik untuk kesehatan. Demikian juga dengan menutup tubuh remaja-remaji secara instant juga tidak baik untuk kesehatan Negara.

Baju adalah produk kebudayaan, selayaknya dijawab dengan pendekatan kebudayaan. Mengatasi masalah tanpa kekerasan. Sampai ketemu lagi di Simpang Lima.

 

Muhajir Arrosyid – Penulis Cerita Pendek dari Demak

 

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 22, 2008, in buku harian. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Hehe
    wah wah
    pahanya disangkain paha ayam tU,djual aja 1 2rbu,hehe

  2. pantasan abis subuh lupa doa, ternyata ingin cepat2 bertemu paha, hahaha…

  3. Wehhh, perasaanmu tambha peka saja Kang. Tulisannya menyentuh. Rasanya seperti aku yang kau pikirkan begitu. Ditelanjangi secara gratis, puihhhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: