Hari Ibu

Pagi-pagi menyalakan TV liat acara Dasyat hari ini ada Potret lagi nyanyi Lagu Bunda. Hemmm, ini liriknya :

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Nada-nada yang indah
S’lalu terurai darimu
Tangisan nakal bibirku
Tak ‘ kan jadi deritamu

Tangan halus dan suci
T’lah menangkap tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘ kan selalu ada di dalam hatiku

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘ kan selalu ada di dalam hatiku

Melelehlah air mataku, langsung teringat ibuku di rumah.

Perempuan tangguh yang selalu mengingatkan aku untuk menjadi perempuan tangguh. Perempuan yang pernah terbelenggu adat untuk segera menikah dan melupakan impian untuk belajarnya dulu, selalu berharap aku tak mengalami nasib yang sama dengannya. Dia yang membuatku tidak bisa untuk tidak melakukan yang terbaik. Janji pada dirinya sendiri untuk memberi kelima anak-anaknya bekal pendidikan yang cukup diwujudkannya dengan mengorbankan kepentingan pribadinya, membuatku malu jika tidak berusaha maksimal. Untuk semua yang kulakukan.

Aku tahu, TV JVC hitam putih 14 inch yang disimpan hingga aku lulus kuliah tahun 2006 itu bukan lagi harta berharga lagi. Tapi kau bertahan dengan TV yang tidak sedap lagi dipandang mata. Pandangan mata yang menggabur karena usia menghalangimu membaca buku, majalah, dan koran seperti yang selama ini kau sukai, tak kau hiraukan. Bertahun-tahun lamanya Bunda. Bukan karena Bapak tak mampu membelikan kaca mata. Bukan! Lebih karena kemampuan itu kau persembahkan untuk impian menguliahkan kami, anak-anakmu.

Saat tetangga sibuk membenahi rumah, dalam sederhana kau bertahan dnegan triplek untuk dinding dan menutup frame kaca depan rumah. Sejak kecil begitu, kau memimpikan rumah berkaca. Namun tidak berubah hingga aku, anak terakhirmu, mengenakan toga. Toga yang kata bapak membuatnya menjadi “Bapak tergagah sedunia”. Berapa impianmu yang tertunda untuk kami Bunda?

Perempuan yang oleh bapakku selalu dimanja dan disayang layaknya poreselin mahal itu tidak pernah sekalipun membentakku. Suaranya halus, sehalus perasaannya. Aku ingat hanya sekali kami bertengkar sepanjang hidup kami. Karena kami sama-sama kecewa. Tapi itupun berlalu bersama waktu. Dan maafkanlah anakmu atas kelancangan itu.

Bunda, materi apapun takkan menebus kasih sayangmu. Cintaku padamupun takkan sebanding dengan cintamu padaku. Doa-doaku takkah bias melampaui doamu untukku. Akan kulakukan hal yang sama pada cucumu kelak……….

Bunda I Love You, I Do

Puput Puji Lestari – 21 Desember 2008

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 22, 2008, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: