REFLEKSI AKHIR TAHUN

MENJADI PEMENANG

Muhajir Arrosyid

Di antara batas akhir tahun 1429 menuju awal tahun 1430 Hijriah ini di desaku dan sebagian desa lain se Kabupaten Demak sedang dilaksanakan pemilihan kepala desa atau di singkat PILKADES. Hiruk pikuk dukung mendukung ramai. Tempelan foto tampang tersebar di mana-mana. Satu keluarga bisa saling mendiamkan untuk semantara demi keperluan ini. Sang kakak menjadi gapit, pendukung dan membagikan uang saku dari salah satu calan, sang adik bisa saja menjadi gapit calan yang lain. Malam sebelum pencoblosan, warga tidak tidur, menunggu serangan fajar.

Serangan fajar adalah uang dari calon untuk membeli suara pemilih yang biasanya dilakukan fajar-fajar. Sebenarnya bermain uang begini tidak boleh, tapi sudah menjadi rahasia umum, calon satu dengan calan yang lain juga saling mengetahui. Uang yang diberikan dari hanya lima ribu rupiah hingga seratus rupiah lebih. Biasanya, calon yang modalnya paling banyak inilah nanti yang terpilih menjadi kepala desa, meskipin ada juga yang menyumbang sedikit tapi terpilih, kasus seperti ini langka.

Menjadi pemenang adalah gengsi. Maka berapapun uangnya akan dikeluarkan, kalau perlu cari pinjaman sana-sini. Kalah adalah tanggungan malu yang tidak habis-habisnya. Maka calon tidak segan menjual mobil hingga rumah. Mereka para calon tidak menghitung penghasilan yang nanti diterima ketika menjadi kepala desa mungkin saja tak sebanding.

Berhari-hari sebelum acara pemilihan, para calon menerima tamu, memberi hidangan layaknya orang mantu. Mereka memasang tenda dan membunyikan sound sistem. Pagi menuju tempat pencoblosan para calon di iring sebelum kemudian didudukkan di kursi yang telah disediakan oleh panitia. Di kursi itu sampai nanti sore penghitungan selesai mereka duduk menunggu. Saya melihat wajah wajah mereka, kadang tersenyum, kadang suntuk.

Pukul 14.00 penghitungan di mulai. Ini adalah saat panas-panasnya. Perlu menjaga mulut kalau tidak punya nyali. Menjelang magrib kita melihat siapa pemenangnya. Ada yang pinsan karena kalah, ada yang dipanggul karena menang.

Karena saya muslim, saya masih memperhatikan MUI. Tapi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan golput mungkin tidak pernah membanyangkan masalah yang saya hadapi. Sungguh, saya bingung memilih satu di antara empat calon yang ada. Dua calan adalah orang yang pernah menjabat menjadi kepala desa di periode sebelumnya dan terbukti gagal. Satu calon yang lain masih muda, masih suka marah-marah. Satu calon terakhir berbicara saja susah.

Tapi karena menurut MUI golput haram aku harus memilih di antara yang jelek-jelek ini. Tanya tetangga, mereka bilang, “ Pilih saja yang memberi uang banyak!” dan ternyata dua calon memberi uang sama banyak. Pusing toh?

Dalam PILKADES yang menang adalah uang. Para calon sebenarnya tidak ada yang layak pilih, kalaupun ada yang layak pilih tapi tidak mengelurkan uang lebih jangan harap menang. iklim demikian harus segera diubah. Bagaimana desa akan maju jika dipimpin orang-orang yang hanya tunduk kepada gengsi? Terkait dengan judul, apakah demikian pemenang sejati? Kemenangan karena uang adalah kemenangan semu.

Menjelang asyar, ada tiga SMS ucapan slamat tahun baru hijriah dari dua nomor yang tak dikenal dan satu dari Puput Puji Lestari, teman seperjuangan yang sekarang berdomisili di Jakarta. Begini SMS dari puput itu “ Ketika lazuardi menghias langit sore ini, maka datanglah tahun baru Hijriah 1930. Selamat tahun baru Hijriah, semoga semangat menuju hari esok lebih baik selalu terjaga.”

Kata ‘semangat’ dalam SMS itu mencuri perhatianku. Aku jawab SMS dari sahabatku itu dengan kalimat “Makasih, aku memang sering naik turun semangat.” Di rentetan liburan natal, tahun baru hijriah, tahun baru nasional yang aku kerjakan hanya tidur dan makan melulu. Dulu di saat sibuk mengajar, sibuk kuliah aku selalu mengandaikan waktu luang, tapi ternyata setelah adanya waktu luang aku juga seperti kerbau dalam kandang. Setiap laptop aku buka tidak ada satu katabun yang berbunyi hingga akhirnya aku tutup lagi. Sebenarnya aku hanya ingin bercerita tentang bocah pengembla kambing di tengah belantara jagung. Kenapa aku selalu ngorok dan tidak segera menyelesaikan ceritaku? Tidak lain karena hilangnya semangat, hilangnya motivasi.

Memang, semangat itu penting. Semangat menentukan berhasil tidaknya kita menggenggam sesuatu dan menjadi pemenang sejati.

Kita dapat melihat bahwa semangat mengalahkan segalanya dari tim Sepak Bola Vietnam. Dalam AFF SUZUKI CUP 2008, mereka menumbangkan tim-tim yang di atas kualitas jauuh di atasnya. Di semifinal mereka mengalahkan Singapura. Singapura yang ingin menjadi pemenang rela menyingkirkan pemain aslinya dan diganti enam pemain naturalisasi dari berbagai negara takhluk terhadap Vietnam. Di final, Thailand kalah dihadapan pendukungnya sendiri.

Sekarang ini tercatat ada tiga tim yang pernah menjuarai pila AFF yang dulu dinamakan piala tiger ini. Thailand, Singapura, dan dan terakhir Vietnam. Dan dari ketiganya kita dapat belajar, tapi yang mungkin dapat kita contoh adalah Vietnam.

Singapura tidak layak ditiru. Kemenangan Singapura tidak jauh berbeda dengan kemenangan kepala desa. Kali ini mereka kalah dengan permainan dengan hati dan semangat.

Untuk menjadi pemenang, untuk dapat mengalahkan musuh pertama kali yang harus kita lakukan adalah mengalahkan virus yang terdapat dalam diri sendiri. Virus itu dapat kita basmi dengan obat pembasmi virus jahat ber merk ‘semangat’. Mari menjadi pemenang.

Muhajir Arrosyid – Penulis cerita pendek dari Demak

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 30, 2008, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: