Film Indonesia dan Logika Dangkal

TENTANG FILM ASYIK TERUS SAMPAI MAMPUS ATAWA D.O. DROP OUT

Muhajir Arrosyid

Kepada yang terhormat produser Ram Punjabi, Sutradara Winaldita E. Melalatoa, artis Titi Kamal, Ben Joshua, dr Boyke, Dimas Aditya, Sarah Sechan, dan semua yang terlibat dalam film D.O. Droup Out.
Sebelumnya saya ucapkan selamat karena Anda semua telah sukses merampungkan film ini. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas beredarnya film ini di masyarakat. Sebagai orang yang sama sekali belum pernah menggarap film dan terlibat dalam dunia perfileman secara langsung, saya menghargai segala kemampuan yang dicurahkan, baik itu kameramen, penata musik, penulis naskah, penata kostum, ekting, sampai konsumsi untuk mendukung film ini.
Saya telah menonton film yang Anda prakarsai dari sebuah CD asli yang saya beli. Ada banyak alasan saya membeli CD film ini. Pertama karena bintangnya salah satunya bintang Idola saya, bintang yang membuat saya terkagum dalam Ada Apa dengan Cinta? Titi Kamal namanya. Ada juga dr Boyke, dokter yang kita kenal selalu memberikan wejangan-wejangan sek, agar tidak membosankan dan pasangan selalu bergairah di ranjang. Kata dr Boyke yang selalu terkenang-kenang dalam ingatan saya, “ kecil itu tidak masalah, yang terpenting adalah perasaan.” Saya terhibur dengan apa yang selalu dikampanyekan dr Boyke karena milik saya juga kecil.
Tidak meragukan lagi karena film ini diproduseri oleh orang yang kita kenal pembuat film berkwalitas tinggi, masyarakat Indonesia harus berterima kasih dengannya, siapa lagi jika bukan Ram Punjabi.
Tapi maaf, belum ada sepuluh menit film ini saya putar, saya tidak tahan dan ingin segera mematikannya. Pasti Om Ram Punjabi segera bilang begini; “Kalau lho kagak suka nonton film ini juga kagak ape-ape, emang gua pikirin, masih banyak orang selain elo yang mau nonton.” Tidak kok Om Ram, tidak. Saya akan tetap bertahan menontonnya sampai film ini selesai, lagi-lagi karena film ini garapan Om Ram sekaligus di bintangi Den Ayu Titi Kamal.
Tulisan ini ke bawah adalah sebab-sebab saya ingin segara mematikan film ini.
Film produksi MVP picture ini dalam kepingan CD nya terdapat tulisan Sex Education atau dalam bahasa kita di maksudnya pendidikan sek. Melalui film ini mungkin MVP picture ingin menjadi semacam sekolah, atau semacam guru yang memberikan pelajaran sek yang benar bagi penontonnya.
Film ini di buka dengan suasana oreientasi mahasiswa baru atau lebih di kenal dengan istilah perploncoan. Seorang mahasiswa yang namanya Jemmy yang diperankan oleh Ben Joshoa masuk kuliah jurusan psikologi. Sampai kemudian dia menjadi senior dan gantian memplonco yuniornya. Sementara yuniornya sudah pada lulus, Si Jemmy ini masih asyik nongrong di kampus. Sampailah waktu-waktu D.O mendekat, Jemmy sudah di ambang akhir D.O., dia di semester ke tujuh belas.
Selain Jemmy tokoh yang cukup menonjol adalah Lea yang diperankan oleh Titi Kamal. Problem Lea di tampakkan melalui percakapan antara Lea dengan adiknya yang namanya Asry. Asry menunjukkan perut hamilnya kepada Lea. Asry dengan tenang mempertunjukkan perutnya, tanpa rasa penyesalan, terlihat bahagia, karena kata Asry kepada Lea ini strategi. Ini strategi agas Asry dapat di nikahkan dengan segara tanpa menunggu sang kakak yang sudah berumur dua puluh enam dan sudah jadi dosen tapi pacarpun belum punya. Adegan inilah pertama kali niat saya mematikan film ini muncul.
Lea punya alasan kenapa dia sampai hari ini belum punya pacar, tidak bisa bergaul dengan cowok. Kepada Jemmy pada sebuah kesempatan Lea memberi penjelasan, katanya itu karena didikan orang tua. Dari kecil orang tua melarangnya untuk pacaran, orang tua melarangnya untuk dekat-dekat dengan laki-laki, orang tuanya menyuhnya untuk konsentrasi belajar dan belajar. Keberhasilan dalam akademik dapat diraih oleh Lea, dia dapat menjadi dosen. Tapi, sekarang adiknya hamil karena Lea tidak punya calon, oleh orang tuanya “Lea juga yang disalahkan?” Lea membela diri.
Film ini banyak mengambil setting di kampus dan kos. Tapi sayangnya, kegiatan mahasiswa yang berkutat dengan buku dan ilmu sangat minim. Mahasiswa hanya digambarkan sebagai maniak sek. Baik di kos maupun di kampus yang menjadi pembicaraan tidak lain masalah sek. Mahasiswa diperlihatkan selalu membeli VCD porno, membeli obat kuat agar tahan lama, sampai sek bebas di dalam kos. Bahkan ibu kos yang di perankan oleh Sarah Sechan juga perempuan penggoda yang hobinya merayu anak-anak kos.
Dialog yang tidak nyambung dan terkesan memaksa adalah dialog di dalam perpustakaan. Saat Jemmy berbicara dengan temannya yang dalam film ini dipanggil banci, tiba-tiba tanpa alur sebab akibat Jemmy berbicara tentang sek, posisi yang paling tepat, sampai bagaimana merangsang pasangan. Ternyata dialog itu didengar oleh Lea dan akhirnya Lea menjerit.
Keputusan Lea untuk bekerja sama dengan Jemmy dengan saling membantu juga terkesan aneh. Lea akan membantu Jemmy menyelesaikan kuliah, dan Lea meminta bantuan Jemmy untuk mengajari prihal sek. Keanehannya adalah masalah yang di hadapi Lea adalah karena dia tidak bisa bergaul dengan lawan jenis, tapi kenapa mencari solusinya masalah sek?
Keanehan yang kedua adalah Lea adalah dosen psikologi, masak dosen psikologi mengalami problem demikian? Bukankah masalah seperti itu harusnya sudah selesai bagi mahasiswa psikologi di semester awal?
Menjelang akhir film ini menampilkan dr Murjoko yang diperankan oleh dr Boyke dipecat sebagai dosen karena terbukti telah melakukan pelecehan seksual. Padahal dalam film itu belum terjadi pelecehan seksual oleh dr Murjoko terhadap Lea. Kalaupun dr. Murjoko layak di kelurkan dari posisi dosen itu karena dia telah melecehkan akademik atas janjinya kepada Jemmy bahwa Jemmy akan segera lulus kalau dapat membantu dr Murjoko mendapatkan Lea menjadi istri kedua.
Ponsel Jemmy telah dicuri Germo, teman sekosnya. Dengan ponsel itu Germo mengatur pertemuan antara dr. Murjoko dengan Lea di sebuah kamar hotel. Lea berhasil meloloskan diri dari cengkraman dr. Murjoko. Tapi karena peristiwa itu, Lea jadi salah sangka dengan Jemmy. Setahu Lea yang menyuruhnya ke kamar hotel adalah Jemmy dan hendak menjualnya kepada dr. Murjoko. Sialnya, yang menerangkan kesalahpahaman Lea dengan Jemmy adalah dr. Murjoko, itu karena Lea telah memberi tip-tip kepada istri dr. Murjoko agar membuat revolusi bercinta dan berhasil. Kenapa penerang kesalahpahaman bahwa Germo-lah yang menjadi otak adalah dr. Murjoko. Sedang sepengetahuan dr. Murjoko saja yang mengatur pertemuannya di hotel adalah Jemmy. Gimana dong?
Logika sederhana. Itulah penyakit yang diderita film ini dan film-film Indonesia lainnya. Panggil Aku Dick, sebuah film yang di bintangi bintang hebat Tora Sudiro, Lima Bidadari yang di bintangi Sandra Dewi juga menderita penyakit yang sama. Untuk Lima Lima Bidadari, film besutan Alip Santosa malah terkesan seperti film anak-anak semacam film Power Renjers.
Sebagai sekolahan, sebagai guru sek film ini bukan guru yang baik. Pesan yang baik harusnya disampaikan dengan cara yang baik pula, yang natural, dan utuh sebagai cerita.

Muhajir Arrosyid – Penulis Cerita Pendek dari Demak

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 2, 2009, in Film/Sinetron. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. mungkin mereka kekurangan ide cerita.
    sampeyan bisa mulai menulis cerita untuk tawarkan menjadi film

  2. “Sebagai sekolahan, sebagai guru sek film ini bukan guru yang baik. Pesan yang baik harusnya disampaikan dengan cara yang baik pula, yang natural, dan utuh sebagai cerita.”

    Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: