BERTANDANG KE RUMAH SAHABAT

Puput Puji Lestari

Hari ini aku bertandang ke rumah sahabat lamaku, Kustiah di Cilebut Bogor. Di rumahnya yang cantik, akhirnya aku bertemu suaminya Hasyim yang juga sahabat lamaku. Sudah hampir empat tahun tak bertemu dia.

OK, satu jam pertama aku diserangnya dengan pertanyaan kapan aku menikah. “Masak dari lelaki sedunia ini nggak ada yang sesuai denganmu?” aku hanya tersenyum. Pertanyaan lain menggodaku, “Atau karena dari banyaknya lelaki tidak ada yang naksir kamu?”. Ups, aku langsung bereaksi. “Cukup membicarakan tentangku, aku akan menikah tahun ini!” hehehe, setelah itu aku tertawa sendiri, dengan siapa?????

Then, mereka disibukkan dengan agenda mempercantik rumah mereka. Memasang kasa anti nyamuk. Aku, sebagai tamu memilih mengambil satu buku di rak, dan membiarkan mereka berdua memasang kasa anti nyamuk.   Membaca sambil memperhatikan mereka berdebat ini itu. Geli, sekali rasanya. Rumah itu tiba-tiba menjadi ramai meski hanya dengan suara mereka. Duduk di teras sambil mebaca buku, sesekali kustiah memastikan aku memakan cemilan yang disiapkan untukku.

“Aduh ini pakunya rusak, Ma”

“Hiiihhhh ngeluh aja, nih paku gantinya. Lho mas pasangnya paku nggak pakai kertas buat landasan?”

“Oh iya ya, lupa. Carikan dong,”

“Aih dasar tukang amatiran. Nih kertasnya. Yang bagus ya, yang rapi,’’

“Iya bos,  pegangin ni kursinya. Pasti bikin rapi buat kamu,”

Waahhh pokoknya celoteh mereka ada saja sepanjang sore. Lantas aku berfikir, inikah bahagianya membenahi rumah yang dicicil selama 10 tahun. Pasangan yang barun menikah dua tahun lalu itu bahagia menikmati liburan. Ah tiba-tiba aku iri, kapan giliranku tiba? Pasti aka nada masanya.

Selepas Magrib, mereka sempat membenahi satu lagi kain kasa. Tapi kuintrerupsi karena aku ingin melihat usaha jagung dan roti bakar Kustiah sebelum kembali ke rumah. Penggemar novel Perempuan Berkalung Surban itu bergegas mengambil jilbab. Dan kami berjalan beriringan, sama seperti kegemaran kami dulu. Berjalan cepat, menuju dagangan kaki limanya. Aku terharu, teringat saat aku bertanya kenapa HP kamu diganti lebih jelek? “Kujual untuk modal buka warung roti bakar dan jagung bakar. Untuk menyewa lahan pada preman juga.” Saat itu aku tak member komentar, hanya mengangguk berarti paham. Padahal sejatinya, kagumku pada perempuan  yang mengganggumi Kartini ini bertambah.

Warung itu tiga bulan yang lalu baru buka. Yang menunggu adalah dua orang anak asuh Kustiah dan Hasyim. Mereka mengajak  dua anak tetangganya di desa  yang tidak meneruskan sekolah SMA.  Atas jasa seorang kolega dua anak lelaki itu bisa bergabung dengan  SMA terbuka gratis di daerah Tebet. Bukan Kustiah jika tidak mengambil inisiatif untuk mengatasi bertambahnya kebutuhan logistik harian di rumahnya. Dijualha HP-nya, untuk modal buka usaha. Dan dua anaknya yang menjalankan usaha tersebut.

Tapi sungguh bukan hanya untuk menjamin dapur tetap ngepul. Saat menunggui Kustiah berjualan bersama dua anaknya, aku tahu dia sedang memberi proses  belajar berusaha pada anaknya. Menjadi wirausaha, bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Memberi harga diri, dengan memberi pilihan bahwa dua anaknya tak sekedar hidup menumpang. Mereka bersama-sama berusaha. Aku sendiri tidak bisa melakukan hal yang sama dengan Kustiah. Anak asuhku, jika boleh dibilang, aku memanjakannya. Bukan hanya biaya pendidikan, bahkan untuk beberapa hal yang belum dipikirkannya aku sudah siapkan.  Ya, aku tahu ini salah.

Kustiah memang hobi bicara (cerewet, J red). Pada dua anaknya, demikian pula dia. Memberitahu bahkan hingga berkali-kali. “Abang tukang ojek itu rotinya ini. Belum bayar ya, Rp 3.500.” belum lima menit dia mengulangnya.  Lagi, lagi, dan lagi. Anaknya menoleh padaku lalu tersenyum. Hampir jam 8 malam, saat kereta terakhir ke arah Manggarai tepat berangkat. Aku harus bergegas. Senyuman itu kubalas dengan ungkapan kecil. “Pada saatnya, kau akan menjadi lelaki tangguh,” jawabku atas senyuman anak Kustiah.

“Kok bisa mb,”

“Karena kamu ditempa dengan keras, maka masa depan akan menyapamu dengan lembut. Bersabarlah pada proses, kau akan tahu Kustiah menyayangimu.”

Jagung dan roti bakar yang disiapkan Kustiah sudah selesesai dibungkus. Aku pamitan. Sambil mencium Ibu muda yang ingin segera hamil itu kukatakan “Jangan terlalu keras pada mereka. Hidup mereka sudah diluar kenyamanan anak-anak normal,”  dia hanya tersenyum.

Kuputuskan berangkat pulang malam ini, menampik tawaran menginap meskipun aku sudah bawa ganti dan peralatan mandi. Sampai di rumah kukirim SMS. “Tiah, aku sudah sampai rumah. Maaf, aku tak tega memisahkanmu dari suami J jadi ngak nginep…. Biar aku cepat dapat keponakan.” Terkirim, diterima!!!

Jakarta, 2 Januari 2009

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 15, 2009, in buku harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. tri umi sumartyarini

    hoho, selalu memberi inspirasi kakak-kakakku ini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: