Alternatif

MENGGUNAKAN BATU BARA DAN TANAMAN JARAK PAGAR

Oleh: Hernawan, S. Pd

Persoalan energi menjadi persoalan internasional terkait sumber cadangan yang menipis. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional pun turut meroket. Subsidi dialihkan, konsumsi dikurangi, kebijakan konversi, merupakan sejumlah langkah yang telah ditempuh pemerintah. Lantas, masyarakat harus bersikap bagaimana. Adakah energi alternatif yang dapat diperbarui yang mampu memenuhi

kebutuhan dasar maupun dunia industri.

Akibat pengurangan subsidi BBM maka harganya mengalami penyesuaian atau naik. Lantas persediaan minyak nasional pun semakin berkurang. Sedangkan kebutuhan tidak dapat dikurangi seiring jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan persediaan minyak. Terlebih kalangan industri dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM berpengaruh besar pada biaya produksi yang membengkak. Untuk mengurangi biaya produksi dalam mengoperasikan mesin yang sebelumnya menggunakan solar dan minyak tanah harus diganti dengan energi alternatif.

Para pelaku industri mau tidak mau harus memeras otak dalam mengatasi masalah kenaikan dan kelangkaan bahan bakar. Penggunaan batu bara menjadi alternatif terbaik menjawab tantangan usaha ataupun kebutuhan rumah tangga sekarang ini. Pada dasarnya batu bara telah lama digunakan perusahaan tekstil. Sebut saja Lokatex Pekalongan sejak awal berdiri kurang lebih lima belas tahun silam telah memanfaatkan batu bara untuk mengoperasikan mesin produksi kain. Dengan menggunakan batu bara meskipun harga bahan bakar naik namun tidak berpengaruh besar terhadap biaya produksi. Paling tidak biaya yang seharusnya untuk solar dan minyak tanah dapat tersalurkan ke pos lain seperti gaji buruh dan pos-pos pengeluaran lainnya.

Cadangan minyak bumi nasional dalam dua belas tahun ke depan mengalami krisis. Maka dunia industri sudah harus memulai beralih pada bahan bakar alternatif. Dengan mendasarkan perhitungan efisiensi, batu bara terbukti efisien. Perbandingan biaya operasional antara solar sebelum kenaikan (dengan harga Rp. 2.500) dengan batu bara berbanding 1:4,5. Kalau dihitung dengan harga setelah kenaikan Rp. 4.300/liter maka perbandingannya menjadi 1:9. Perbandingan penggunaannya sebelum ada kenaikan setiap satu liter solar berbanding dengan 1,5 kg batu bara. Saat itu, harga satu liter solar industri Rp. 2.500,- sedangkan batu bara hanya sekitar Rp. 400/kg. Jika satu liter solar dengan harga Rp. 2.500 dapat menghasilkan 8.700 kalori, sedangkan batu bara dengan harga Rp. 400 mampu menghasilkan 6.000 kalori. Itu artinya, kalau dinilai harga setiap kalori untuk solar Rp. 0,87,- sedangkan batu bara hanya Rp. 0,066. Jika dihitung dari satuan kalori, harga solar bisa 4,5 kali lipat dibandingkan dengan batu bara. Karena kenaikan solar dua kali lipat, berarti perbandingannya mencapai 1:9.

Tentunya langkah Lokatex patut dijadikan model oleh perusahaan-perusahaan lain. Agar perekonomian nasional berjalan stabil di tengah kenaikan BBM maka perlu langkah bijak pemerintah dalam menyosialisasikan penggunaan batu bara sebagai alternatif cerdas dan murah pengganti bahan bakar.

Selain penggunaan batu bara sebagai pengganti BBM masih ada minyak murni dari buah jarak (jatropha curcas). Penemuan baru minyak jarak dapat mengganti solar. Dari hasil uji coba, perusahaan Pura Group menggunakan minyak jarak untuk mobil diesel pada Hyundai dan Toyota dengan jarak tempuh Kudus-Bali pergi pulang. Kisaran harga alat bantu pemasangan minyak jarak pun relatif murah Rp. 1 juta/unit. Alat Bantu tersebut berfungsi agar viskositas tertentu untuk ukuran mesin diesel dapat lebih cepat tercapai. Sebenarnya minyak jarak murni bisa langsung digunakan. Namun tanpa alat bantu saat mencapai jarak 6.000 km bisa timbul masalah. Kendala pemanfaatan minyak jarak terletak pada pengolahan yang masih harus didatangkan dari India.

Apabila mesin operasional pada pabrik industri menggunakan bahan bakar batu bara dan mesin diesel menggunakan minyak jarak maka biaya operasionl perusahaan dapat terkurangi. Dampak yang ditimbulkan tentu tidak kecil. Biaya-biaya lain seperti upah buruh dan kesejahteraannya tidak terpengaruh adanya kenaikan harga BBM yang sering naik dan langka. Pada akhirnya iklim perekonomian nasional berjalan kondusif dan membawa kesejahteraan seluruh masyarakat.

Kemauan politik

Manfaat jarak pagar telah dikenal masyarakat tradisional Indonesia beratus tahun silam. Masyarakat Sasak di Lombok menggunakan untuk penerangan. Masa penjajahan Jepang, minyak jarak menjadi sumber penerangan masyarakat dan pelumas meriam. Kini, potensi besar jarak pagar diarahkan sebagai sumber energi terbarukan.

Ekspedisi Minyak Jarak Murni oleh ITB dan National Geographic Indonesia, Juli 2007, sebagai bahan bakar kendaraan telah membuka peluang pengembangan selanjutnya. Minyak jarak sebagai campuran solar sudah dikembangkan.

Proyek percontohan pabrik pun sudah ada. Namun, yang paling dibutuhkan justru tidak muncul kemauan politik dan keberpihakan pemerintah. Catatan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC) IPB menyebutkan, dari target lahan jarak 1,5 juta hektar tahun 2010, tahun 2008 baru 120.000 hektar (8 persen) terealisasi.

Penantian akan pengembangan minyak jarak pagar di Indonesia justru dijawab dengan kehebohan pengembangan bahan bakar air (blue energy). Penelitian “rahasia” yang diharapkan menjadi terobosan saat harga BBM melejit, ternyata nol besar. Hal itu mencerminkan bahwa para pengambil kebijakan di negeri ini maunya serba instant.

Melihat kondisi demikian, masih ada harapan menangguk keuntungan finansial dengan memilih usaha perkebunan jarak pagar. Akan tetapi, ketersediaan bibit unggul dan terjaminnya pasar yang sering kali tidak memihak petani atau pekebun lokal. Mudah-mudahan kemauan politik dari pemerintah dengan menyiapkan seperangkat kebijakan yang mengatur regulasi bibit, perawatan, dan terutama distribusi hasil panen. Jangan sampai harapan sudah terlanjur membumbung tinggi berubah menjadi perasaan kecilik akibat tidak lakunya hasil tanaman jarak pagar. Semoga!

Guru SMP St. Bellarminus

Jl. Tegalsari VIII/26 Semarang

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 6, 2009, in Opini. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. ….Andaikan kendaraan bermotor pakai bahan batu bara….

  2. a remarkable idea,,,inilah pendapat pakar ekonomi dan konsultan UKM,,he,he

  3. nice post…🙂

    salam kenal…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: