Sumur

KERINGNYA SUMUR KAMI

Cerpen R. Hernawan

Tiga lokal kamar mandi berderet. Dua kakus menambah deretan. Di antara keduanya terdapat sumur. Orang-orang mandi bergantian. Tiga puluh timba masing-masing bagi yang hendak mandi. Lima orang lelaki setengah baya antre di depan pintu kakus. Anak-anak bercengkerama memercik-mercikkan air. Masih dengan kepolosannya meriuhkan sore di kampung itu.

Sepuluh tahun silam orang-orang bahu-membahu membangun kamar mandi dan kakus. Tempat mereka membersihkan badan. Menggali tanah sampai berwujud sumur. Mencuci pakaian, perabot dapur, dan setahun sekali usus hewan kurban mampir di sana. Sumur yang menopang hidup. Tanpa kenal lelah mengeluarkan air.

Kamar mandi yang dulu kokoh kini mulai rapuh. Atap sudah bocor. Daun-daun banyak tergenang ke kolam. Kakus pun sudah sering mampet. Orang-orang malas menguras kakus. Mereka kini tidak menimba dengan ember. Pompa buatan Jepang tertambat di sisi sumur. Bibir sumur tidak lagi licin. Tertutup rapat beton semen. Anak-anak enggan meneriakkan gundah gulana ke lubang sumur.

Angina kencang meluluhlantakkan atap kamar mandi dan kakus. Beruntung, tembok tidak turut roboh. Hanya retak-retak. Orang-orang hanya mengeluh mengapa bisa terjadi. Memprotes Tuhan yang meniupkan angin. Syahdan, mereka mandi dan berak tanpa atap. Kalau burung walet dan sriti punya birahi mungkin tempat itu penuh sarang. Sayang keduanya lebih suka terbang menikmati alam tenang. Membuat sarang di tempat sunyi.

Untuk kedua kalinya angin kencang melanda kampung itu. Tembok kamar mandi dan kakus runtuh separuh. Ketinggian tembok berkurang. Ketebalan menipis sejangka bentangan antara ibu jari dan kelingking. Orang-orang tetap acuh tak acuh seolah tidak terjadi apa-apa. Tetap mandi sepuasnya. Masih bisa ngobrol berita selebritis. Pompa buatan Jepang meraung-raung mengisi bak mandi. Menuruti kemalasan kaum miskin bertingkah hedonis.

Sang lurah, Sanusi, nyaman dengan kondisi kamar mandi dan kakus miliknya. Sumur berlogo PDAM melunturkan perhatian yang dulu dicurahkan untuk warga. Orang-orang berkali-kali datangi Pak Basori, ketua RT agar menyampaikan kepada lurah. Menjelang masa berkuasanya purna, dia asyik menyiapkan hari-hari tua. Perintah membangun kamar mandi dan kakus belum juga turun.

Pak RT, kapan lurah merehab pemandian ini?” Ucap Saman lantang. Suara pengiring berkumandang melanjutkan. Ya, kapan nih. Kapan.

Sabar, bapak-bapak. Ibu-ibu. Sabar. Sudah saya sampaikan apa yang kalian bicarakan tempo hari. Saya juga tidak tega kalian mandi dan berak dengan tempat semacam ini. Pak lurah bilang menunggu rekapitulasi pengeluaran bulan lalu. Masih banyak tugas yang belum terselesaikan. Proyek jembatan masih belum tuntas. Beliau masih banyak urusan. Jadi saya mohon bapak-bapak dan ibu-ibu bersabar lagi.

*****

Dua bulan menjelang Sanusi lengser dari jabatannya sebagai lurah orang-orang sudah diributkan tentang siapa yang bakal mencalonkan diri menjadi lurah baru. Para makelar suara mulai sibuk bergerilya mengobral janji calon yang dijagokan. Nafas-nafas dusta berhembus ke seluruh penjuru desa. Orang-orang punya tambahan bahan ngobrol di luar gosip selebritis. Desas-desus siapa saja yang maju dalam pencalonan lurah menjadi buah bibir menggeser rating gosip selebritis.

Masa pendaftaran calon lurah dibuka. Calon yang maju sebagai kandidat yakni Broto, Sulaiman, Damanhuri, dan Endang. Yang disebut terakhir ini satu-satunya figur perempuan yang percaya diri memperjuangkan hak-hak perempuan. Tim sukses dari masing-masing calon melakukan pendekatan ke warga. Pendekatan yang digunakan macam-macam, keluarga; agama; maupun latar belakang pekerjaan. Tim sukses dari calon satu menjelek-jelekkan calon yang lain.

Kamar mandi dan kakus menjadi komoditas politik yang paling laku. Tidak heran jika keempat kandidat menghubungkan kampanyenya dengan perbaikan sarana kesehatan yang satu itu. Lain orang tentu lain pula kebiasaan dan wataknya. Begitu juga masing-masing dari mereka menyiasati dengan cara yang berbeda untuk memenangkan pemilihan lurah nanti. Tentunya latar belakang pendidikan, ekonomi dan klan turut memengaruhi cara para kandidat dalam berkampanye. Di benak para kandidat dan kaki tangannya hanya ada satu kata: menang!

Broto dan Damanhuri dulu dikenal sebagai preman. Keduanya menguasai puluhan copet pasar. Seiring berjalannya waktu mereka menginsyafi kemunkaran yang membawa mereka di balik jeruji penjara. Setelah dibebaskan mereka kembali ke sanak keluarga. Menjalani kehidupan sebagaimana orang pada umumnya. Masyarakat tidak lagi mengenal mereka yang preman. Sampai pada akhirnya keduanya mencalonkan diri menjadi lurah.

Broto yang asli kampung itu merasa paling layak menjadi lurah baru. Dalam setiap kampanye ia selalu menggunakan slogan “lurah pribumi pilihan rakyat sejati”, sebagai senjata ampuh mempropaganda masyarakat. Broto menganggap hal itu dapat menutup lembaran hitam masa lalunya. Tidak sedikit orang yang membenarkan slogan itu. Tidak terkecuali pengguna pemandian umum. Mereka berseloroh:

Kapan lagi kita punya lurah asli sini”, ujar Saman.

Betul itu”, yang lainnya menimpali.

Kita usul saja kepada Broto agar merehab pemandian ini”, kalau dia benar-benar minta dukungan. Ucap orang yang baru saja selesai mandi.

Damanhuri tidak kalah strategi. Mengetahui masyarakatnya senang hiburan ia menggelar konser dangdut beberapa kali. Tidak hanya itu di sela-sela penyanyi mendendangkan lagu Damanhuri menyempatkan berorasi sekenanya. Ia pun membagikan door prize. Tak ayal masyarakat menyambut gembira. Terutama para pemuda tongkrongan yang bertahun-tahun tidak mendapat izin menggelar hiburan dangdut. Mereka pun menilai:

Wah, kalau Damanhuri yang jadi lurah bakalan seperti dulu lagi”, kata salah satu pemuda.

Mudah-mudahan saja ucapanmu benar.” Pemuda yang lain mengamini.

Berbeda dengan Broto dan Damanhuri, Sulaiman berangkat dari latar belakang pribadi taat agama. Ia dikenal baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Hanya saja kurang disenangi pemuda tongkrongan. Pada awalnya ia enggan mencalonkan diri dengan alasan bukan penduduk asli. Garis keluarga tidak terhubung di antara masyarakat di kampung itu. Namun berkat dorongan tokoh agama dan masyarakat Sulaiman tidak mampu menolak aspirasi mereka.

Para jama’ah pengajian bersuka hati mendengar Sulaiman menjadi kandidat calon lurah. Harapan meluncur dari mereka:

Saya risih dengan pemuda yang suka mabuk,” kata seorang ibu setengah baya.

Saya yakin Sulaiman mampu memberantas kemunkaran di kampung ini,” yang satunya semangat.

Yang satunya lagi menambahi: “Kita sama-sama berdo’a agar Tuhan meridloi.”

Satu-satunya kandidat perempuan, Endang, menggunakan pendekatan emansipasi wanita. Kontan saja ibu-ibu muda dan remaja putri yang terhimpun dalam PKK mendukung sepenuh hati atas majunya Endang pada pemilihan lurah. Setiap kali acara PKK ia gunakan kesempatan menyampaikan: jangan lupa pilih saya sebagai lurah baru yang memperhatikan hak-hak perempuan.

Seminggu sebelum pemungutan suara, tanda gambar masing-masing calon diundi. Broto mendapat padi, Sulaiman jagung, Damanhuri ketela dan Endang kelapa. Masyarakat semakin yakin akan pilihan dan harapannya masing-masing. Harapan terbesar setelah pemilihan nanti yakni rehabilitasi pemandian umum.

Tiba kini waktu pemungutan suara. Keempat calon lurah duduk di kursi yang dipasang berjejer. Pemilih mendatangi tempat pencoblosan ada yang sendiri-sendiri dan rombongan. Setelah selesai pemungutan suara para calon kembali ke rumahnya masing-masing diiringi pendukung.

Penghitungan suara disaksikan pengunjung dari seluruh penjuru kampung. Mereka merubung tempat penghitungan suara layaknya menyaksikan pertunjukan topeng monyet. Melingkar menutup batas arena pemilihan. Kejar-mengejar perolehan suara antara Damanhuri dan Sulaiman berlangsung ketat. Sedangkan Endang dan Broto tertinggal jauh. Terdengar di pengeras suara: Jagung, ketela, jagung, ketela, jagung, beberapa kali baru kemudian kelapa, padi, hanya sesekali saja sebagai suara menyelingi perolehan antara jagung dan ketela.

Kira-kira tinggal seratus surat suara yang tersisa di kotak suara, Damanhuri dengan ketelanya tertinggal dua ratus angka perolehan suara jagungnya Sulaiman. Melihat kekalahan pihak Damanhuri yang sudah di depan mata, para pendukungnya menyusun strategi kerusuhan agar penghitungan kacau. Pemuda tongkrongan yang disiapkan mengobrak-abrik tempat penghitungan suara. Papan pencatat perolehan suara dirobohkan, dirusak menggunakan clurit. Kotak suara dimuntahkan. Surat suara dibakar. Orang-orang yang menyaksikan lari ketakutan. Penghitungan suara berakhir.

Sore itu menjadi kelabu. Kampung sunyi senyap. Hujan badai melanda. Keesokan harinya masyarakat digemparkan berita pemandian roboh rata dengan tanah. Sumur juga demikian. Musim kemarau pun tiba. Orang-orang masih menggunakan sumur namun dengan timba serta kedalaman yang menyusahkan. Di tengah-tengah kemarau itu sumur mengering. Pada saat yang sama pemerintah kabupaten mengumumkan bahwa pemilihan lurah tidak sah dan akan ada pemilihan ulang pada waktu yang belum dapat ditentukan.

Januari 2006

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 6, 2009, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: