Anak Pertama

 untitled4

MIMPIKI DARI KAMPUNG

Judul : Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami

Penulis : Muhajir Arrosyid

Penerbit: Kontak Media

Tebal: 100 Halaman

Tulisan ini adalah hantaran kepada teman dan sahabatku untuk anak rohaniku. Meminjam istilah yang digunakan oleh Pramudiya Ananta Toer bahwa buku adalah anak-anak rohani dan mereka akan mengalami nasibnya masing-masing. Maka aku persilahkan lahir anak pertamaku dan kau akan memiliki nasibmu sendiri.

Buku ini, kumpulan Cerita Pendek “ Di Atas Tumpukan Jerami ini adalah mimpi yang setiap lelap hinggap. Mimpi dari pertama kali rasaku bersentuhan dengan keindahan kata.

Buku ini bermula dari cerita tentang seorang bocah.

Bermula pada seorang bocah berdiri di atas panggung, di hadapannya ratusan orang duduk dan berdiri. “Aku, Buah karya Chairil Anwar,” bocah itu mulai melafalkan sebuah puisi.

Selesai membaca puisi hadirin bertepuk tangan. Seorang ibu menghampirinya menggendongnya mengajaknya pergi.

Acara itu adalah acara khafalah akhirsanah. Serangkaian perhelatan yang diselengarakan di bulan ruwah. Dan pagi itu adalah puncak acara. Dalam acara itu akan dibagikan hadiah untuk pemenang lomba. Si bocah gemetar pada detik-detik pembacaan puisi itu, terperanjat lagi menyaksikan orang banyak dengan seksama memperhatikannya. Dia selamat sampai puisi itu selesai, dan bungah setelah orang-orang memberi tepuk tangan.

Sejak acara itu, tepuk tangan adalah candu bagi bocah kecil. Dia selalu mencari saat-saat membacakan puisi di depan khalayak. Setiap kali ada koran atau majalah, yang dicarinya adalah rubrik puisi. Puisi yang bagus dipotongnya dan dikliping. Buku dan pelajaran yang paling dia suka adalah pelajaran bahasa Indonesia. Karena dalam buku Bahasa Indonesia biasanya terdapat puisi, dan pada jam pelajaran Bahasa Indonesia kadang para siswa diberi kesempatan membaca puisi.

Bocah itu bukan tergolong bocah pemberani. Setiap kali ibu gurunya dulu di SD Tegowanu 3 menawarkan, “Siapa yang mau membaca puisi di depan kelas?” Dia hanya berharap-harap cemas, “Semoga aku yang ditunjuk”. Dia akan kecewa jika yang ditunjuk siswa lain. Dia akan gembira dan membaca dengan penuh kesungguhan jika kesempatan itu datang, dan dia menikmati tepuk tangan itu.

Di kampungnya, panggung semakin sempit. Khaflahakhirsanah diselengarakan setahun sekali, itupun tidak setiap penyelengaraan dia ditunjuk baca puisi. Kelas juga semakin jarang menyediakan waktu untuknya membacakan puisi. Tapi dia terlanjur cinta terhadap puisi. Di kamar, di ladang, di pereng kali, di gubuk tengah sawah, di belakang sekolah saat rehat, di pemakaman, dia membaca puisi. Kadang dia ikut larut sampai berteriak keras dan tertawa tidak sadar orang lain memperhatikannya. Kadang dia larut dalam tangis ngilu ikut irama puisi itu.

Lama-lama dia dapat menikmati puisi, dan membaca puisi tidak sekedar mengharap tepuk tangan.

Saat kelas tiga SD adalah saat ia mulai menulis puisi sendiri. Waktu itu dia merasakan kehilangan yang amat sangat. Seorang teman bermainnya namanya Sugeng meninggal karena sakit setelah beberapa hari menginap di rumah sakit. Dia masih ingat sebait puisi pertamanya “ Sugeng pulang dengan ambulan// Kami menyambutnya dengan riang// Sugeng pulang// Sugeng pulang// ternyata Sugeng pulang ke rumah Tuhan//.

Kelas lima SD listrik masuk desa. Peristiwa ini juga dicatatnya dalam puisi. // Hei kau bulan dapat saingan.//Hai bintang-bintang kau turun di pinggir-pinggir jalan//.

Dengan puisi dia mencatat segala peristiwa, kesediahan dan kegembiraan. Ada juga puisinya tentang baju dan sepatu rombeng, itu karena dia suka meminta dibelikan baju dan sepatu robeng. Dia menulis juga tentang jalannya yang selalu becek.

Pada upacara Khaflahakhirsanah sekitar lima tahun berikutnya dia terkejut karena dipanggil untuk menerima hadiah. Dia tidak merasa menang apapun. Dia dipanggil setelah pembacaan peringkat tiga, kelas tiga madrasah yang bapaknya adalah kepala sekolah. Dia sebagai juara harapan. Dia ambil hadiah itu yang ternyata terdiri dari tiga buku, satu bullpen. Dia menangis di belakang masjid.

Bocah itu berfikir lagi tentang kebanggaan. Sekarang ini dia bukanlah bocah yang membanggakan. Dia ‘maksud’ dengan pemberian hadiah oleh bapaknya. Bapaknya mengharapkannya dia dapat peringkat dan membanggakan.

Peristiwa itu menjadi tulisan yang lebih panjang dibanding tulisan-tulisan yang pernah dia tulis.

Tulisan yang lebih panjang lagi dia tulis pada saat di kelas dua Madrasah Tsanawiah. Saat lulus SD dia bilang dengan ibunya. “Ibu aku ingin melanjutkan sekolah yang pelajarannya hanya menggambar, kesenian, Bahasa Indonesia. Aku ingin melanjutkan sekolah yang tidak ada matematikanya.”

Kata ibunya tidak ada sekolahan yang seperti dia inginkan. Masuklah dia di sekolah pada umumnya. Jadilah dia siswa bodoh yang selalu saja dapat rengking dua puluh ke atas dari tigapuluh siswa.

Datanglah Om Maskuri, adik dari ibunya membantu membimbing. Sebenarnya dia ogah-ogahan. Namun melihat kesunguhan Om Maskuri memberinya tambahan belajar, dia jadi ikut semangat belajar. Om Maskuri memberikannya janji, jika nanti dia bisa rengking sepuluh besar dia akan dibelikan sepatu baru ber merk terkenal yang biasa diiklankan di TV.

Dia seperti kuda dicambuk. Setiap hari dia melototi buku-buku. Bukan sepatu barunya yang ingin dia raih, dia hanya ingin membalas kesunguhan dengan kesunguhan. Yang ada dalam benaknya waktu itu adalah, Omnya waktu itu bekerja sebagai TU di sekolah, penghasilannya tidak seberapa, mau memberinya hadiah sebuah sepatu yang harganya pasti mahal.

Dia layu dan tidak bangun seminggu setelah menerima raport dan rengkingnya tetap saja duapuluh tujuh.

Bocah bodoh itu saya ternyata teman. Melalui buku ini, bocah itu ingin bercerita. Tentang hal-hal yang dia lihat dan dia rasakan. Selamat membaca.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 2, 2009, in Buku. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Hajir yang cerdas,,
    Selalu ada yang menarik dari tiap kata yang kau tulis. Hingga tak sadar, selalu ada tawa dan senyum saat membaca tulisanmu,,Selamat berkarya.

  2. Wah, ceritanya kok mirip2 pengalaman saya ya? Bedanya, saya ga bisa bikin puisi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: